Sore itu Karina tersadar setelah efek alkoholnya hilang, ia terbangun sambil memegangi kepalanya yang masih terasa pusing dalam keadaan berselimut tanpa berbusana bersama seorang pria yang tak lain adalah Edward.
Ia tak percaya telah melakukannya, sampai-sampai ia mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya.
Namun, alih-alih menyesali, Karina malah tersenyum mengingat momen yang baru saja di lakukan bersama Edward.
"Benar-benar luar biasa," gumam Karina tanpa mempedulikan perasaan pria yang baru saja bertunangan dengannya.
Ia melirik ke arah Kiri, melihat pria perawakan bule itu masih terlelap. Lantas ia kembali membaringkan tubuhnya dan memeluk tubuh Edward.
Ponsel Karina kembali menyala, dengan gerakan malas ia menyambar benda pipi itu, di dapati panggilan dari Liam.
Entah sudah berapa kali pria itu menghubunginya.
Karena Liam merasa memiliki tanggung jawab besar terhadap Karina.
Wanita itu dengan malas menggulir layar ponselnya keatas, dan mendekatkan dengan telinganya.
"Ada apa, sih?" Dengan nada bentakan ia bertanya, membuat Liam tersinggung atas sikapnya, padahal ia sedang dalam proses belajar untuk mencintai Karina.
"Astaga, kalau begini caranya, bagaimana bisa cinta itu tumbuh," batin Liam seraya berdecih kesal.
"Karin, bisakah kamu bersikap sedikit lembut? Kamu ini kan seorang perempuan berkelas dan berpendidikan, tolong jaga sikap kamu terhadap aku, karena aku ini calon suamimu!" Liam memperingatkan dengan tegas, Karina memutar kedua matanya malas mendapat nasihat darinya.
"Kamu ini belum jadi apa-apa, kok sudah gila hormat!" balas Karina ketus, membuat Liam semakin muak atas ucapannya.
"Sombong sekali kamu, Karin!" bentak Liam terluka dengan kata-katanya merasa tak di hargai.
"Eh, kamu gak berhak atur-atur hidup aku. Dengar baik-baik! aku gak suka di perlakukan di bawah kamu, seolah-olah aku ini harus tunduk dan patuh padamu! Aku dan kamu ini setara, jadi aku berhak dan bebas melakukan apapun yang aku mau, karena aku bukan seorang budak. Aku ini wanita cerdas, punya karir cemerlang, dan kaya raya, gak ada seorangpun yang bisa stir aku, paham!" cerocos Karina dengan segala kesombongan yang melekat pada dirinya, Liam menggeleng dan merasa ilfeel dengan ucapannya yang terlalu pick me alias membanggakan diri sendiri seolah-olah merasa jauh lebih unggul dan tak terkalahkan, serta memposisikan dirinya selalu paling benar.
"Astaga, bagaimana bisa aku hidup bersama wanita seperti Karina," batin Liam merenung sejenak.
"Andai Mama dan Papa tahu dengan semua ini," lanjutnya, dan emosi mulai merajai, tetapi ia merasa untuk menegur pun hanya akan percuma, ia yakin Karina tak akan peduli dengan semua ucapannya.
"Hmm... Begitu ya? Ya sudah, suka-suka kamu saja!" Liam yang masih memendam kecewa mematikan obrolan sepihak, sambil menggeleng tak habis pikir atas sikap dan perkataan wanita itu.
"Ya Tuhan... " Liam menengadahkan pandanganya, mencoba menghirup udara untuk menenangkan pikiran yang kacau dan semerawut.
Karena suntuk, lelaki itu keluar dari dalam kamar, iseng jalan-jalan melewati dapur.
Disana ia melihat Riri dan Wina sedang memasak hidangan makan malam keluarga.
Diam-diam Liam memperhatikan punggung Riri yang sedang sibuk dengan tugasnya.
Wina menoleh, memergoki gerak gerik Liam, membuat lelaki itu tersenyum salah tingkah dan kemudian berlalu sebelum Riri melihatnya.
Wina menyenggol lengan Riri, gadis itu melirik sejenak.
"Ada apa, Win?" tanya Riri, Wina berbisik sangat pelan.
"Tadi Tuan muda lihatin kamu terus, loh," jawab Wina, membuat jantung Riri berdebar dengan kedua pipi yang memerah.
"Hah, lihatin aku?" Riri balik bertanya untuk memastikan, Wina mengangguk dengan senyuman aneh.
"Ehem... Ehem... Apa jangan-jangan, dia suka sama kamu," godanya, Riri balik menyenggol lengannya malu.
"Ish, apaan sih! Itu tak mungkin Win. Sangat tidak mungkin, alias mustahil!" sela Riri sambil tangannya sibuk dengan olahan masakan itu.
"Tidak ada yang tak mungkin, semuanya bisa saja terjadi, kalau Tuan muda beneran suka sama kamu, wah, beruntungnya dirimu," canda Wina dengan kekehan kecil, Riri tersenyum tipis mendengar celotehan rekannya.
Tiba-tiba, Rindy datang sembari menggebrak meja makan.
"Heh, ngobrol aja kerja kalian!" bentaknya dengan nada lantang.
Wina dan Riri langsung menjaga jarak mendapat semprot dari Rindy.
"Ish, dasar gentong!" cibir Riri dalam hati yang di tunjukan kepada Rindy.
"Dasar buntelan kentut!" batin Wina yang turut kesal terhadap seniornya itu.
...
Saat itu, setelah melayani acara makan malam Nyonya dan Tuan rumah, para Maid segera menyelesaikan tugas mereka, membereskan dan mencuci peralatan makan yang kotor.
Sesudahnya, dengan sigap dan disiplin, kelima gadis Maid itu kembali menuju kamar masing-masing, mungkin untuk beristirahat atau melakukan kegiatan lain.
Riri melepaskan seragam dan membersihkan tubuh agar merasa lebih segar setelah seharian beraktivitas. Setelah mengganti pakaian dengan piyama tidur, gadis itu mengambil ponselnya yang sepanjang hari tak terjamah karena sibuk.
Beberapa pesan dan missed call dari Kevin berderet. Riri membalas pesan pria itu dengan sopan, dan tak lama kemudian, Kevin kembali menghubunginya.
"Halo," sapanya.
"Ya," jawab Riri dari seberang telepon.
"Apa kamu ada waktu malam ini?" tanya Kevin. Riri berpikir sejenak sebelum menjawab, tahu bahwa Kevin mengajaknya bertemu sesuai dengan pesan singkat yang baru saja dikirim.
"Eh, ya, karena saya baru saja selesai bekerja, memangnya ada apa, ya?" Riri tampak was-was menunggu jawaban.
"Kita ketemuan yuk! Sekalian kita cari makan diluar, kamu mau?" tawar Kevin. Riri ragu sambil menggigit tepi bibirnya.
"Hem... " ia kembali terdiam.
"Ayolah, sebentar saja," pinta Kevin, yang sudah berusaha keras menghubunginya beberapa kali. Riri tak tega jika harus mengabaikannya.
"Ya sudah, saya bersedia," jawabnya, meski terdapat keragu-raguan yang merayap dalam hati.
"Aku jemput kamu di depan gerbang, ya."
"Iya." Riri langsung mematikan obrolan, menghela napas kasar. Dengan terpaksa, ia harus mengganti pakaian untuk memenuhi pertemuan dengan Kevin.
Ia memilih menggunakan dress yang dipadukan dengan blazer casual agar terlihat elegan.
"Biarpun aku seorang babu, tapi harus modis juga dong," gumamnya sambil menata riasan wajahnya dengan sebaik mungkin.
Setelah itu, ia mengenakan sepatu wedges agar senada dengan dress berwarna lilac yang dikenakannya, lalu menyampirkan tas kecil di pundak.
Tak butuh waktu lama, Kevin kembali menghubunginya, memberi tahu bahwa ia sudah sampai.
Dengan jantung yang berpacu cepat, Riri keluar dari kamar, menuruni anak tangga untuk mencapai lantai utama. Namun, di lantai dua, ia berpapasan dengan Liam. Lelaki itu terpesona sekaligus heran melihat Riri yang tampak terburu-buru.
"Kamu mau kemana tampil cantik seperti ini?" tanya Liam. Riri sedikit gugup.
"Sa-saya mau keluar sebentar," jawabnya aga terbata. Liam terus menyorotinya seakan menahannya untuk tidak pergi.
"Kemana dan bersama siapa?" tanyanya seperti tengah menginterogasi. Riri menelan ludah dengan kasar mendapat tatapan tajam darinya.
"Ehm... " Gadis itu kembali menggigit tepi bibirnya karena malu untuk menjawab bahwa akan pergi bersama Kevin.
"Saya mau makan malam bersama teman saya," jawab Riri. Ia tak enak terhadap Kevin karena pasti sudah lama menunggu di bawah sana.
"Oh!" Liam mengangguk, di satu sisi ia pun merasa tak memiliki hak untuk mencegah Riri.
"Ya sudah, hati-hati, kalau bisa jangan pulang terlalu malam, bahaya! Kamu ini seorang perempuan, itu akan sangat berisiko!" peringatan tegas, membuat hati Riri tersentuh akan kata-katanya yang sangat dewasa dan penuh perhatian.
Perlahan, Liam mengizinkan Riri untuk melanjutkan kegiatan malamnya. "Hati-hati ya, Riri," ucap Liam sambil membiarkan Riri pergi.
Sementara Riri melanjutkan langkahnya menuju ke bawah, Liam masuk ke dalam kamar, dan membuka pintu teras kamarnya. Ia mengintip kepergian gadis itu dari atas balkon.
Saat itu, Riri berjalan keluar dari halaman Mansion, terlihat mobil seseorang yang sedang menantikannya.
"Aku curiga, apa jangan-jangan Riri akan pergi bersama Kevin?" Liam memiliki feeling tak baik akan hal itu.
Ia kembali masuk ke dalam kamar, meraih jaket dan kunci mobil, lalu membuka pintu keluar, tampak sangat tergesa-gesa.
"Mau kemana?" tanya sang Ayah ketika berpapasan.
"Cari angin, Pah," jawab Liam tanpa ingin mengetahui pertanyaan berikutnya yang mungkin akan diajukan oleh sang Ayah.
Setibanya di luar gerbang, Riri membuka pintu mobil Kevin; lelaki itu menyambutnya dengan senyuman. Kevin masih mengenakan seragam kantor, menatap Riri dari ujung kepala hingga kaki.
"Ayo!" ajak Kevin.
Riri mengangguk, dengan hati-hati ia naik ke dalam mobil dan memasang seatbelt.
Kendaraan roda empat berwarna putih itu pun melaju dengan segera. Kevin terpana melihat penampilan Riri pada malam hari ini.
"Kita mau makan dimana?" tanya Riri. Kevin melempar senyum miring seperti tengah merencanakan sesuatu.
"Boleh juga ni cewek!" batinnya di sertai tatapan yang sulit di artikan, membuat Riri menyimpan firasat tak baik terhadap gerak-gerik Kevin terhadapnya.
...
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments