Setelah Bu Mauri mengantar suami dan putranya berangkat, wanita paruh baya itu memerintahkan 25 orang gadis untuk mendekat ke arahnya.
"Sebelumnya, terimakasih atas kesiapan kalian. Tetapi saya hanya membutuhkan 1 orang, maka dari itu saya akan mengadakan tes kecil-kecilan untuk memutuskan siapa yang terpilih," ujar wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dan segar.
"Apa tesnya, Nyonya?" tanya Rika yang sudah sangat penasaran dan tak sabar.
"Tesnya yaitu memasak sayur asam, dan saya akan seleksi kalian semua," jawab Bu Mauri dengan mantap.
Para gadis itu serentak tersenyum, merasa itu adalah masakan yang paling mudah.
"Ah, masak sayur asam, itu doang sih kecil," batin Teti dengan senyum remeh.
"Aduh, aku kan gak bisa masak," keluh Riri dalam hati dengan wajah cemas, tegang, bingung berkumpul jadi satu di atas kepalanya.
"Pasti aku gak akan terpilih. Apa aku mengundurkan diri saja, ya? Tapi, sayang sih," ucapnya membatin. Seketika tekadnya kembali bangkit tatkala mengingat gaji yang akan ia dapat.
"Astaga! Riri, belum apa-apa kok sudah nyerah saja. Hmm... Yang penting, usaha dulu aja, semangat Ri!" Riri menyemangati dirinya sendiri.
Bu Mauri memanggil kloter pertama yang berjumlah 5 orang untuk menjalani test.
Singkat cerita...
Sekarang giliran kloter 5 terakhir yang Bu Mauri panggil.
Dengan hati yang berdebar, Riri melangkah menuju ruangan mewah, dan terus berjalan menuju dapur yang juga mewah dan dilengkapi peralatan memasak serba canggih.
Kelima gadis itu berdiri di meja masing-masing, disana sudah dipersiapkan bahan dan alat-alat memasak yang dibutuhkan.
Ke lima gadis itu serentak mengenakan celemek, dan hair cup untuk membungkus rambut mereka.
"Wah, ini seperti kompetisi memasak," batin Riri yang tak yakin jika dirinya akan berhasil melalui tantangan ini.
"Bersiap ya, waktunya 30 menit dari sekarang!" ujar Rindy sang maid yang ditugaskan sebagai pengawas sekaligus pemandu.
"Tiga... Dua... Satu... Go!" teriaknya memantik semangat peserta.
Riri, dengan tangan yang gemetar, memotong sayuran satu persatu dengan potongan dadu.
"Aduh, pertamanya bagaimana ya?" Riri menggaruk kepalanya bingung, lalu ia mengingat-ingat ketika sang ibu memasak sayur asam, seketika ide muncul di kepalanya serasa terilhami.
Dengan gerakan gesit, ia mulai meracik bumbu dan lain sebagainya.
30 menit berlalu, para peserta mengangkat kedua tangan mereka, pertanda waktu telah selesai. Riri merasa ragu-ragu tentang hasil masakannya yang mungkin tidak akan enak.
"Sudah selesai, semua!" teriak Rindy, memperingatkan kelima peserta. Bu Mauri bersiap untuk mencicipi hidangan masing-masing.
Bu Mauri berjalan ke tiap meja, dimulai dari meja Teti. Ia menyendok sayur buatan Teti dan mencicipinya kemudian mengangguk-anggukan kepala.
Setelah itu, ia melanjutkan mencicipi hasil masakan peserta kedua dan seterusnya, sampai berhenti di meja Riri.
Kedua pipi Riri memerah ketika Nyonya besar itu mulai menyendoki sayuran buatannya dan memasukan ke dalam mulut secara perlahan.
Awalnya, ia menunjukkan reaksi aneh, membuat Riri tegang dengan kedua mata membelalak tajam, takut jika rasa masakannya terasa aneh.
Namun, selanjutnya Bu Mauri memberikan reaksi berbeda, tersenyum sambil mengangkat satu jempolnya.
"Ini masakan yang paling enak di antara peserta lain, luar biasa! Kamu hebat!" pujinya dengan tulus kepada Riri. Gadis itu merasa sangat terhormat mendapat pujian langsung dari calon majikannya.
Lantas, semua orang langsung bertepuk tangan untuk Riri, kecuali Teti.
"Loh, kok dia yang terpilih, sih? Padahal kan masakanku ini enak," batin Teti, lalu ia mencicipinya sendiri.
"Cih! Astaga, kok bisa asin gini, ya?" Teti heran dengan hasil masakannya sendiri yang terlalu asin dan justru rasanya sangat aneh.
...
Bu Mauri mengumpulkan para gadis itu, lalu memberikan pengumuman.
"Dengan berat hati, saya harus menyampaikan ini kepada kalian," ujar wanita paruh baya itu, membuat jantung para gadis berdebar. Masing-masing berharap terpilih.
"Saya memilih Riri Riana," ucap Bu Mauri dengan lantang, membuat Riri seakan tak percaya, tersenyum haru karena terpilih.
"Wah, selamat ya, Ri," ucap Rika. Riri mengangguk lalu merangkul teman barunya itu.
Bu Mauri segera menyudahi semuanya, meminta maaf kepada peserta yang tak terpilih. Mereka menerima dengan lapang dada.
"Hmm.. mungkin bukan rejeki kita," ujar Maya kepada yang lain. Ke-24 gadis itu meninggalkan Mansion mewah, terkecuali Riri.
Sejenak, ia memberi tahu Ninu, sang kakak.
"Kak, aku terpilih," kata Riri, membuat Ninu mengucap rasa syukur.
"Selamat ya Ri, semoga kamu betah, kerja yang benar ya," ujar Ninu memberikan motivasi dan semangat kepada sang adik.
Setelah perpisahan, Riri kembali menghadap Bu Mauri. Wanita paruh baya itu memandu Riri, memperkenalkan keempat maid yang merupakan senior Riri.
"Selamat datang dan bergabung dengan kami," ucap keempatnya secara serentak. Mereka mengenakan seragam resmi yang diberikan oleh Bu Mauri, serta name tag layaknya pekerja kantoran. Meski begitu, seragam yang mereka kenakan tidak membatasi pergerakan mereka ketika bekerja.
"Ini sih Babu elit," batin Riri dengan senyum merekah.
Bu Mauri menunjukkan kamar untuknya. "Nah, ini tempat istirahatmu, silahkan!" Wanita paruh baya itu mempersilahkan Riri untuk menaruh tas dan mengganti pakaian.
"Wow, ini kamarnya besar dan mewah. Sekelas babu aja kamarnya mirip kamar istana." gadis itu terkagum-kagum, duduk di kasur yang empuk sampai tubuhnya terpantul berkali-kali.
"Ih, nyaman banget, beda sama kasur yang ada di kamarku yang sering di masukin tikus, hahaha," batin Riri, menikmati suasana dengan memutar-mutar tubuhnya dan meloncat-loncat kesana-kemari.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka, kehadiran seseorang membuat Riri salah tingkah.
"Riri, kamu sudah ganti pakaianmu?" tanya Rindy sang senior dengan senyum sinis.
"Hehe... Iya aku sampai lupa, habisnya ini kamarnya mewah sekali, seperti hotel berbintang," ungkap Riri.
"Tidak usah norak deh! Cepatlah! Kamu sudah dinantikan nyonya!" perintahnya, Riri mengangguk, kemudian Rindy kembali menutup pintu.
Gadis itu dengan cepat mengganti pakaiannya dengan seragam putih dipadu warna hitam dan rok sebatas lutut. Rambut panjangnya diikat ke belakang.
"Terlihat seperti seorang pelayan restoran atau hotel berbintang," batin Riri saat menatap pantulan dirinya di depan cermin.
"Jadi babu ternyata tidak terlalu buruk," lanjutnya. Ia memotret diri sendiri di depan cermin, dengan bangga mempostingnya di status WhatsApp, memamerkan bahwa dirinya sudah bekerja.
Tak lama kemudian, ia menerima komentar.
"Keren Ri, kamu kerja di hotel mana?" tanya salah satu teman di kontaknya yang mengira Riri bekerja di tempat mewah dan berkelas.
Dengan langkah tegas, ia keluar untuk kembali menemui nyonya besar.
"Saya sudah siap, Nyonya," ujarnya. Bu Mauri tersenyum melihat penampilan maid barunya.
"Bagus." Wanita paruh baya itu mengangkat jempol memuji kecantikan Riri.
"Apa tugas pertama saya, Nyonya?" tanya Riri.
"Kemari!" Bu Mauri menggenggam tangan Riri dan membawanya ke suatu ruangan. Di sana terdapat beberapa rangkaian perawatan tubuh dan juga make-up.
"Kamu duduk!" titahnya. Riri menuruti saja.
Wanita paruh baya itu meraih dagu Riri dan mengamati kulit wajahnya yang sehat.
"Kamu cocok jadi ikon produk skincare kami, kulit kamu putih, halus, dan kenyal." Ia mengusap kulit wajah Riri.
Lalu Bu Mauri memperlihatkan beberapa botol skin care, wadah make-up, dan serangkaian perawatan kulit lainnya kepada Riri.
Lantas, ia menjelaskan beberapa fungsinya, karena ia merupakan salah satu pemilik produk tersebut.
Wanita paruh baya itu mulai mendandani Riri.
"Ini aman kan? Gak akan buat muka saya jerawatan?" tanya Riri dengan suara gemetar, takut jika menyinggung perasaan sang majikan.
"Kamu tenang saja, karena produk skincare dan make-up produksi kami terbuat dari bahan alami, tentunya aman," jawab Bu Mauri, karena ia pun memakainya, terlihat kulit wajah dan tubuhnya yang putih, glowing, serta sehat.
Riri tersenyum saat Bu Mauri usai mendandani, terlihat jauh lebih cantik.
"Ini seperti bukan saya," ungkap Riri yang pangling melihat dirinya sendiri dengan make-up tersebut.
Lalu, Bu Mauri mempersiapkan beberapa gaun dan dress cantik, meminta Riri untuk menjadi salah satu model, kemudian ia memotretnya.
Lama-lama Riri merasa lelah terus-menerus berganti pakaian. Namun, ia tak lantas mengeluh karena pikir ini adalah bagian dari pekerjaan.
"Mama... " seru Tomi yang saat itu baru pulang sekolah, menemui sang Ibu.
"Ma, aku ada PR Matematika, terus besok ulangan," keluhnya dengan wajah ditekuk.
"Ya kamu belajar dong, Nak!" kata sang Ibu, Tomi merengek.
"Temani aku belajar!"
"Astaga Tomi, Mama sibuk," tolak Bu Mauri. Tomi memperlihatkan tugas Matematika yang rumit di hadapan sang ibu.
"Ma, ajari aku!" pinta bocah laki-laki itu, Bu Mauri ikut bingung karena ia juga harus mengurusi bisnisnya meski berada di rumah.
Riri mengamati deretan angka-angka di buku besar yang Tomi genggam.
"Ini sih mudah," ujar Riri.
"Ri, kamu bisa kan ajari Tomi mengerjakan PR-nya?" pinta Bu Mauri. Riri mengangguk.
"Dengan senang hati, Nyonya," jawab gadis tersebut penuh ceria.
Lalu ia mengajari Tomi dengan penuh keseriusan.
...
Sore harinya...
"Bi, temani aku main layangan yuk!" pinta Tomi, Riri mengangguk, karena Tomi tak diizinkan main keluar rumah, Bu Mauri dan Pak Leo takut jika putra bungsunya gaul dengan sembarang orang di luaran sana.
Bocah laki-laki itu meminta Riri untuk membentangkan layangan, mereka sedang berada di halaman Mansion yang luas dan mewah.
Gadis itu terus berjalan mundur sambil menggenggam layangan dengan kedua tangannya.
"Terus! Terus!" teriak Tomi meng-intruksi, tak sengaja kaki Riri menginjak kerikil, ia hampir terjatuh.
Namun, dengan cepat, seseorang meraih tubuhnya, hingga Riri jatuh kedalam pelukan Liam yang baru saja kembali dari perusahaan.
Merek saling bertukar pandangan dalam posisi itu.
...
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments
Mama ella
semangat terus update cerita nya othor..udh aku kirimin bunga💪
2024-01-19
3