Rindy memotret kebersamaan Riri dan Liam secara diam-diam, dan berniat untuk mengirimkan kepada Karian.
"Biar tahu rasa dia!" Rindy tertawa puas dalam hati, begitu juga dengan Ima dan Nia; mereka tidak suka melihat keakraban di antara Riri dan putra majikan mereka.
"Cuaca sangat terik, jadi ayo kita masuk ke rumah!" ajak Liam dengan tegas dan penuh perhatian kepada Riri dan Tomi.
"Kalian saja, aku masih ingin bermain," tolak Tomi yang hendak melanjutkan menerbangkan layangan.
"Ya sudah, tapi main di sini saja ya, jangan sampai ke luar gerbang!" peringatkan Liam serius kepada sang Adik. Tomi mengangguk patuh.
"Kak..." panggil bocah laki-laki itu. Liam menghentikan langkah sejenak dan menoleh sebagai respon.
"Mama kemana?" tanya Tomi sambil menyipitkan mata karena teriknya cuaca pada siang itu.
"Tadi Mama pergi ke butik," jawab Liam. Tomi cukup puas dengan jawabannya.
Liam melangkah bersama Riri menuju ke dalam, lalu pria itu mendudukkan bokongnya di atas sofa.
"Tuan, saya permisi," pamit Riri yang hendak melanjutkan tugasnya di belakang.
"Tunggu!" cegah Liam, gadis itu terdiam sesaat untuk mengetahui apa keperluan Liam.
"Tolong buatkan saya kopi, ya!" perintah Liam. Riri mengangguk.
"Baiklah, Tuan, tunggu sebentar!" Gadis itu bergegas melangkah ke arah dapur, meraih cangkir, dan menuangkan satu sendok kopi hitam dengan gula rendah kalori.
Setelah kopi nikmat itu tersaji, ia menaruhnya di atas nampan, membawanya dengan hati-hati menuju ruang tamu tempat Liam bersantai. "Silahkan, Tuan!" Riri merendahkan tubuhnya, menaruh nampan, dan mengangkat cangkir dengan penuh kehati-hatian di atas meja.
"Terimakasih," ucap Liam dengan sopan.
"Sama-sama, Tuan," balas Riri, lalu bangkit dan hendak kembali ke belakang. Dengan cepat, Liam mendapatkan tangannya, membuat Riri kembali canggung.
"Kemari! Duduklah di sini!" Liam menepuk sofa di sebelahnya, Riri tampak tegang dan ragu.
"Tapi, Tuan, pekerjaan saya banyak di belakang," ujar Riri dengan suara putus-putus.
"Perintahku juga termasuk tugasmu, bukan?" Liam melempar senyuman menawan, membuat Riri sulit untuk menghindarinya.
Dengan langkah pelan, gadis itu bergerak, dan mendudukkan bokongnya di atas sofa empuk tepat di sebelah Liam. Kecanggungan semakin merajai perasaan Riri, Liam yang memperhatikannya tersenyum kembali.
"Hei, tidak usah tegang seperti itu," tegur Liam. Riri tertunduk dan mengangguk, disertai senyum hangat.
Liam meraih dan mengangkat cangkir itu, lalu menyeruput kopi secara perlahan karena masih panas.
"Aku suka kopi buatanmu, takarannya pas," puji Liam. Kedua pipi gadis itu memerah.
"Terimakasih, Tuan," ucapnya sambil menatap meja, terlihat malu.
"Hei, ngapain sih lihat ke bawah terus? Ada apa di bawah sana? Kecoa?" canda Liam, sambil tersenyum. Riri terkekeh kecil, merespon rasa malunya.
Pandangan Liam tetap terfokus pada Riri, mata mereka saling bertemu di tengah momen hening di antara keduanya. Saat itulah, Bu Mauri tiba, membawa sejumlah barang.
"Riri..." panggil wanita paruh baya itu, suaranya tak mungkin diabaikan oleh Riri.
"Ya, Nyonya." Riri mendekat, mengambil inisiatif untuk membantu membawa barang-barang yang dibawa Bu Mauri, pastinya berisi beberapa potong pakaian yang akan dipasarkan secara online.
"Tugasmu seperti biasa," ujarnya. Riri mengangguk patuh, meskipun di dalam hatinya ragu untuk menjalani tugasnya sebagai model busana untuk pakaian-pakaian tersebut, karena baginya menjadi sesuatu yang merepotkan harus bergonta ganti pakaian.
"Alamak!" batin Riri, menyadari bahwa tak ada pilihan selain menjalani pekerjaan yang sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari di Mansion sebagai seorang Maid, terkadang tugas yang di berikan pun beragam.
Sementara itu, Liam dengan cepat mengganti pakaian menjadi lebih santai, menuju ruang kerja Bu Mauri.
"Ma..." serunya, membuka pintu sedikit.
"Ada apa?" tanya Bu Mauri, tengah sibuk mengatur sesi pemotretan yang akan dilakukan.
Ruang kerjanya terlihat berantakan dengan beberapa helai pakaian dan monitor yang terabaikan.
"Aku boleh membantu disini kan, Ma?" tawar Liam.
"Lebih baik kamu istirahat saja!" tolak Bu Mauri, khawatir akan kondisi Liam yang baru saja pulih dari alergi.
"Tidak apa-apa, Ma! Aku hanya butuh sedikit kesibukan, oke?" pintanya penuh harap. Setelah berpikir sejenak, Bu Mauri mengangguk, mengabulkan permintaan Liam.
"Baiklah! Kamu yang memotret Riri, bisa kan?" tanya Bu Mauri, seraya memberikan kamera besar SLR kepada Liam.
"Tentu saja aku bisa. Bagiku, pekerjaan fotografi itu mudah," jawabnya dengan senyum lebar.
Riri keluar dari ruang ganti, terlihat cantik dan anggun dalam dress hijau setinggi lutut. Ia terkejut melihat Liam yang sedang mengatur kamera, begitu juga dengan Liam yang tak bisa mengabaikan pesona keanggunan Riri.
"Eh, Tuan Muda," sapa Riri dengan canggung dan malu-malu.
"Ayo, Ri, kita mulai," ajak Liam yang sudah siap dengan kameranya.
Riri berdiri tepat di depan Liam, berpose sebaik mungkin. Sementara itu, Bu Mauri berdiri dengan kedua tangan dilipat di dada, menyaksikan sesi pemotretan Riri yang sedang berlangsung. Terkadang, ia memberikan arahan agar gayanya terlihat sempurna.
Liam mulai memotret Riri dengan penuh antusiasme. Dia memberikan arahan lembut tentang pose yang sesuai, dan Riri berusaha menangkap setiap instruksinya dengan penuh percaya diri.
"Tahan... Ya, seperti itu. Oke. satu... Dua... Tiga." Liam memberi intruksi.
Bu Mauri, sambil berdiri di samping, memberikan sentuhan-sentuhan terakhir untuk memastikan setiap detil terlihat sempurna.
***
Sementara di tempat lain...
Karina tengah bersenang-senang di sebuah ruangan mewah apartemen milik temannya.
Di sana, ia berkenalan dengan Edward, seorang pria blasteran Eropa yang memiliki bentuk tubuh tinggi, kekar, iris mata biru, dan rambut pirang.
"Wah, ini cowok tipe aku banget," batin Karina dengan senyum tipis saat menjabat tangan Edward; tatapan mereka langsung terlihat akrab.
Bahkan Karina melupakan jika dirinya sudah bertunangan dengan Liam, yakni pria yang satu etnis dengannya, karena ia lebih menyukai gaya barat, hingga memilih tipe pria barat dibandingkan Asia.
Saat itu, Karina bersama kawan-kawannya sedang menikmati minuman beralkohol.
Ia duduk bersama Edward, lelaki bule itu dengan berani melingkarkan tangannya di bahu Karina, dan wanita itu balas menyandarkan kepalanya dengan manja di bahu bidang milik Edward.
Belaian itu terus merayap; lelaki itu dengan berani mengusap dan meremas bukit kembar milik Karina. Namun, tampaknya wanita itu sangat menikmati sentuhan-sentuhan nakal Edward terhadapnya yang seharusnya tahu batasan adat ketimuran.
Alih-alih marah, ia malah semakin tergugah.
Karina mengangkat wajahnya, hingga keduanya saling bertukar pandangan.
Edward dengan berani menautkan bibirnya secara agresif, seraya memainkan lidahnya.
Karina membuka mulutnya untuk memudahkan Edward mengeksplor mulutnya menggunakan gerakan lidah yang membuat hasrat Karina bangkit tak tertahankan.
"Let's play, Baby," bisik Edward di sela keadaan mabuknya. Karina mengangguk, ia pun tak bisa menolaknya.
Robin berada di antara mereka. Edward berbisik padanya, Robin paham apa kebutuhan lelaki ini. Ia memandu Karina dan Edward ke dalam sebuah kamar.
Tanpa ragu, Karina masuk bersama Edward ke dalam kamar mewah milik temannya itu.
"Ayo kita lakukan!" ajak Edward, sambil membaringkan tubuh Karina di atas tempat tidur.
Mereka kembali melakukan percumbuan yang semakin lama semakin memanas, sehingga sama-sama tak dapat menahan nafsu lebih lama.
Dua manusia berbeda jenis ke lamin itu bergulat dalam keintiman dan kenikmatan, sampai-sampai Karina mengabaikan panggilan telpon dari Liam.
***
Di tempat berbeda...
Liam menghela nafas panjang, melepaskan napasnya perlahan setelah menyelesaikan tugas membantu ibunya. Dia memandang layar ponselnya yang tetap sunyi, tanpa panggilan masuk dari Karina.
"Kemana dia?" gumam Liam, jari-jarinya yang gelisah bermain-main dengan sebatang rokok. Dengan cemas, ia membawa korek api ke ujung rokok dan menyulutnya. Api kecil berkobar, menyinari wajahnya yang penuh kekhawatiran.
Firasat buruk menyerang relung hatinya, dan kecemasan mulai merayap saat ia bertanya-tanya tentang keberadaan calon istrinya yang entah kemana.
Meski belum sepenuhnya mencintai Karina, namun tekadnya tak tergoyahkan untuk mematuhi perjodohan ini.
"Aku harap dia baik-baik saja," bisik Liam, matanya terus terpaku pada layar ponsel. Satu senyum singkat terulur saat ia mengingat keceriaan dan kecantikan Riri yang begitu alami membuat dadanya berdebar.
"Kenapa aku terus terusan memikirkannya?" tanya Liam pada dirinya sendiri, mencoba meresapi perasaannya yang tak tentu arah.
Mungkin ini hanya perasaan sesaat, tapi ia berkomitmen untuk mencurahkan cintanya kepada Karina, tidak kepada gadis lain.
Apakah Liam akan mengetahui skandal Karina bersama pria lain?
...
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments