Dengan rasa gugup, Riri meminta izin pada Liam, "Maaf Tuan, bolehkah saya keluar sebentar untuk mengangkat telepon?"
"Angkat saja di sini, tidak perlu pergi jauh," pinta Liam. Kata-katanya membuat jantung Riri kembali berdebar kencang.
"Tapi, Tuan..." ucap Riri terhenti ketika Liam memberikan isyarat agar Riri langsung menjawab telepon di hadapannya.
Riri mengangguk, dan dengan hati-hati ia mulai menggulir layar ponselnya ke atas.
"Halo," sapanya kepada lawan bicara di seberang sana.
"Hai, cantik," sambut suara pria di seberang, membuat Riri menelan ludah dengan gerakan kasar, tegang menjawab ucapan pria tersebut.
"Kamu lagi gak sibuk, kan?" tanya pria tersebut.
"Eh, maaf, saya masih sibuk. Mungkin lebih baik kita bicara nanti," ucapnya cepat, mematikan obrolan dan membuat Liam penasaran.
"Siapa yang tadi menelpon?" tanya Liam yang masih berbaring di ranjang rumah sakit.
"Ehm... Yang tadi itu Pak Kevin," jawab Riri. Liam mengangkat sebelah alisnya, tidak menyangka karyawan seperti Kevin berani menggoda seorang maid yang bekerja di kediamannya.
"Maksudmu, Kevin karyawanku?" tanya Liam kembali, Riri mengangguk perlahan.
"Bisa-bisanya dia menelepon saat jam sibuk seperti ini. Menyebalkan. Awas kamu, Kevin!" batin Liam kesal atas perilaku Kevin yang tidak disiplin selama jam kerja.
"Tuan," panggil Riri, Liam yang sedang diam terpaku merespon dengan lirikan.
"Ya?"
"Maaf, Tuan tidak sempat makan tadi. Sebaiknya Tuan makan sekarang," usulnya. Liam hanya tersenyum, lalu mengangguk karena perutnya sudah keroncongan.
"Tunggu sebentar ya, saya akan minta makanan kepada petugas," izin Riri.
"Ya, silakan," jawab Liam.
Tak butuh waktu lama, Riri kembali bersama seorang petugas pengantar makanan sambil membawa trolley makanan.
"Permisi," kata petugas itu saat membuka pintu. Liam tersenyum tulus kepadanya.
Petugas tersebut memberikan makanan di wadah khusus untuk pasien, ia letakkan di atas nakas sebelah ranjang.
"Silahkan!" ucapnya, Liam membalas tersenyum sambil mengangguk dengan penuh keramahan.
"Terima kasih," jawab lelaki tampan tersebut.
Riri yang sedang berdiri di pinggir ranjang Liam, jemarinya bergerak meraih piring tersebut dengan hati-hati, mulai menyuapi Liam secara perlahan.
"Duduklah!" perintah lelaki itu agar Riri duduk di tepi ranjang, gadis itu mulai mendaratkan bokongnya dengan posisi menghadap ke arah Liam, lalu mulai menyuapi dengan sangat hati-hati.
Liam terus mengamati wajah Riri seakan tanpa berkedip. Gadis itu, dengan tangan gemetar, terus menyuapinya. Tiba-tiba, tangan Liam menangkap jemari Riri dan mengelusnya dengan lembut. Tatapan mata lelaki itu begitu intens.
Liam mengusapkan telapak tangan Riri di pipinya, dan Riri merasakan betapa halus dan mulus kulit wajah pria ini. Tentu saja, karena keluarga Liam pendiri perusahaan skin care, jelas seluruh wajah dan tubuhnya terawat sempurna, meski ia seorang pria.
Riri terus tertunduk dengan kedua pipi yang sudah memerah seperti buah cherry.
Liam menatap Riri dan bertanya dengan suara yang lirih, "Kenapa, hem?"
Riri menggeleng, tangan gemetar saat menyuapi makanan ke mulut pria tampan yang ada di depannya.
"Cukup!" Liam membentangkan jari tangan. Riri mengerti, ia meletakan piring pasien di atas nakas, lalu menyodorkan gelas air minum kepada Liam.
"Terimakasih," ucapnya.
Riri hendak bangkit, tapi Liam kembali meraih tangan gadis itu untuk menahannya.
"Duduklah dulu, aku ingin bertanya sesuatu padamu," pinta Liam. Riri mengangguk patuh, siap mendengarkan apa yang akan di sampaikan oleh sang majikan.
"Sejak kapan kamu dekat dengan Kevin?" tanya Liam dengan tatapan tajam. Riri gugup, mencari jawaban.
"Sejak acara pertunangan Tuan kemarin," jawabnya lirih.
Liam memberi peringatan, "Sebaiknya kamu hati-hati terhadap Kevin."
Suaranya tegas, tanpa melanjutkan, namun menyiratkan perhatian yang dalam tanpa mengungkapkan perasaannya secara langsung.
Di tengah obrolan antara Liam dan Riri, Bu Mauri tiba-tiba kembali datang untuk memantau keadaan putranya. Dengan senyum, wanita paruh baya itu melihat kondisi Liam yang jauh lebih baik dari sebelumnya.
"Ma, aku sudah tidak apa-apa, dan sebaiknya aku pulang saja," pintanya. Bu Mauri mendekat, memeriksa kulit Liam yang tak lagi memerah.
"Kamu yakin kalau kamu sudah membaik?" tanya Bu Mauri serius.
Liam mengangguk, "Ya, sebaiknya aku langsung bekerja saja."
Namun, Bu Mauri menentang, "Hari ini kamu istirahat dulu di rumah!" ia Khawatir akan kondisi Liam, lelaki itu akhirnya setuju dengan usul sang ibu.
"Hmm, baiklah." Liam kemudian menanyakan hal yang mengganjal di hatinya, "Ma, bagaimana kondisi Tomi?"
Bu Mauri tersenyum, "Adikmu baik-baik saja, dia hanya pusing biasa. Jadi, kamu tak usah khawatir. Fokus saja pada kondisimu saat ini," ujarnya. Wanita paruh baya itu melirik Riri yang diam mematung di belakangnya.
"Riri, sebaiknya kamu pulang terlebih dulu!" usirnya. Riri mengangguk dan tertunduk.
"Baiklah," ucap Riri patuh, matanya melirik wajah Liam yang sedari tadi memperhatikannya diam-diam.
"Hati-hati," pesan Liam. Riri membalas dengan senyuman dan berpamitan.
Riri melangkah keluar dari ruang perawatan Liam dan segera memesan taksi online untuk mengantar pulang ke Mansion.
***
Sesampai di sana, langkahnya penuh kehati-hatian, menahan emosi terhadap Rindy yang diduga terlibat dalam meracuni Liam dengan makanan pedas.
Tatapan intimidasi dari Rindy, Nia, dan Ima menyambut kedatangan Riri.
"Bagaimana keadaan Tuan muda?" Rindy bertanya dengan wajah sinis.
"Kamu memang jahat, Ri!" seru Nia, mencoba menyalahkan Riri.
"Seharusnya kamu dipecat!" tambah Ima, komentar sumbang terus berdatangan dari ketiga pembantu itu, membuat Riri semakin tak tahan.
"Diam kalian semua!" bentak Riri, kelelahan dengan drama mereka.
"Aw, ada yang ngamuk!" ledek Nia dengan nada menyebalkan.
"Penjahat ngaku, penjara penuh!" sindir Rindy. Riri menargetkan Rindy sebagai biang masalah dan dengan berani mendorong kedua bahunya.
"Ini semua gara-gara perbuatan kamu, Mbak Rindy!" tuduh Riri.
Wanita bertubuh tambun itu hendak membalas, hampir memukul Riri, tetapi Tomi datang dengan cepat, menghentikan tindakan kasar itu.
"Bi Rindy, jangan lakukan itu terhadap Bi Riri!" teriak Tomi berupaya membela Riri dari amukan seniornya.
Rindy menghela napas untuk meredakan emosi, tetapi tatapannya masih penuh ancaman terhadap gadis tersebut.
"Awas kamu, ya!" ancamnya pada Riri, lalu ketiga pembantu itu pergi meninggalkan Riri dan Tomi.
"Bibi gak apa-apa, kan?" tanya Tomi dengan perhatian. Riri menggeleng.
"Tidak apa-apa, Den Tomi," jawab Riri, membuat bocah itu merasa lega.
"Lalu, bagaimana dengan keadaan Den Tomi? Bukankah Mama Aden tadi bilang, kalau Den Tomi pingsan?" Riri khawatir, Tomi menggeleng dengan senyum lebar.
"Aku tidak apa-apa, kok sekarang," jawabnya ceria, menuntun lengan Riri.
"Bi, temani aku main layangan yuk!" ajaknya. Riri mengangguk, mengikuti langkah Tomi menuju ke halaman Mansion.
Di sana, Tomi menerbangkan layangannya, dan tiba-tiba, layangan itu tersangkut di atas pohon mangga. Bibir Tomi langsung mengerucut.
"Yah, layangannya nyangkut," keluhnya. Riri, yang terampil memanjat pohon, tanpa takut, ia berusaha mengambil layangan tersebut.
"Bi, hati-hati!" teriak Tomi dari bawah. Riri terus memanjat dengan gesit, dan akhirnya berhasil mengambil layangan milik Tomi, tetapi naas ia tiba-tiba kehilangan keseimbangan yang membuatnya terjun bebas dari atas pohon yang lumayan tinggi.
"Aaa...." Riri berteriak, beruntungnya, Liam yang saat itu baru saja tiba, secara reflek berhasil menangkap tubuh Riri dalam pangkuannya.
Mereka saling bertukar pandangan dalam posisi yang tak terduga.
"Tu-Tuan muda," ucap Riri dengan suara lirih menggambarkan rasa malu dan keterkejutan.
Liam tersenyum, memastikan Riri aman dalam pelukan dan pangkuannya. "Kamu baik-baik saja?" tanyanya dengan nada khawatir, lalu menurunkan Riri dengan hati-hati.
Riri mengangguk, wajahnya sedikit merah. "I-Iya, terima kasih, Tuan muda," jawabnya sambil mencoba merapikan diri.
Tomi yang berada di bawah menatap dengan penuh kekaguman.
"Wah keren sekali, adegan ini mirip seperti di film super hero!" serunya, menggambarkan kagumnya pada sang Kakak dalam upaya cepat menyelamatkan Riri.
"Kenapa kamu memanjat pohon begitu? Kan bahaya," tegur Liam sambil memandang Riri dengan tatapan tajam, membuat gadis itu kembali tertunduk.
"Maaf, Tuan, tapi tadi saya ingin mengambil layangan Den Tomi yang nyangkut di atas pohon," jawab Riri, tapi Liam hanya menggeleng.
"Astaga, hanya karena layangan yang harganya tak seberapa, kamu rela mengorbankan keselamatanmu. Jangan mengulangi lagi, mengerti?" tegur Liam dengan tegas, menyampaikan peringatan agar Riri tidak melakukan tindakan ekstrem yang dapat membahayakan dirinya.
Riri merasa sedikit malu karena mendapat teguran, tetapi dalam pandangan Liam, ada kepedulian yang mendalam. Ia mencoba menenangkan Riri, "Aku hanya ingin kamu selalu aman dan tidak mengorbankan dirimu untuk hal-hal kecil seperti itu."
Sementara itu, Tomi yang mendengarkan pembicaraan mereka membuatnya merasa bersalah.
"Maaf, Bibi. Gara-gara layanganku seharusnya Bibi tak usah melakukan itu," ucapnya dengan wajah menyesal.
Riri tersenyum dan menyentuh lembut kepala Tomi, "Tidak apa-apa, Den Tomi. Ini hanya kesalahpahaman kecil. Yang terpenting, sekarang kita semua baik-baik saja."
Sementara itu, Rindy memperhatikan mereka dari pintu utama, dengan tatapan sinis ia membisiki kedua rekannya.
...
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments