Riri keluar dari pintu lift khusus karyawan, dan berpapasan dengan Karina yang baru saja keluar dari ruangan Liam.
Ia memperhatikan Karina dengan penuh kekaguman, sementara Karina berjalan dengan pandangan lurus ke depan, sama sekali acuh sehingga tak memperhatikan orang di sekitarnya, termasuk Riri yang hendak menemui Liam.
Riri kebingungan berada di sana, matanya mengedar ke setiap arah.
"Duh, dimana ruangan Tuan muda?"
Tak lama, ia berpapasan dengan seorang petugas kebersihan yang tengah menyapu, ia berdiri di dekatnya.
"Maaf, Mas, kalau ruangannya Pak Liam di sebelah mana, ya?" tanya Riri kepada seorang petugas kebersihan tersebut.
Office Boy itu diam sesaat lalu menjawab, "Lurus saja, nanti ketemu pintu, nah di sanalah ruangannya," tunjuk Rey kepada Riri.
Gadis itu mengangguk, wajahnya terlihat tegang.
"Terimakasih, Mas," ucapnya, lalu melanjutkan langkah kakinya.
Ia berpapasan dengan beberapa karyawan dan karyawati di sana. Mayoritas melayangkan tatapan sinis ke arah Riri, sementara karyawan pria memberikan tatapan goda.
"Manisnya," puji Kevin sambil melirik ke arah Riri, membuat gadis itu risih. Ia mempercepat langkahnya agar segera sampai di ruangan Liam.
Tak butuh waktu lama, ia berdiri di depan pintu dengan keringat dingin menitik di kening dan telapak tangannya yang terasa dingin. Ia mulai menyentuh handle pintu dan menggerakkannya, lupa untuk mengetuk terlebih dahulu karena gugup.
Kehadiran Riri membuat Liam terperanjat dan membelalak tajam.
"Kamu!" sentaknya, memandang geram ke arah Riri yang tertunduk sambil menenteng kantong makanan.
"Kenapa tak ketuk pintu dulu? Tak sopan!" Liam bangkit dari duduknya, Riri masih bergeming di posisi itu.
"Duh, maaf Tuan, saya benar-benar lupa." Riri menutup pintunya kembali, lalu mengetuk, hal itu membuat Liam menggeleng tak habis pikir dengan tingkah aneh Maid barunya tersebut.
"Masuk!" sahut Liam, Riri lalu membuka pintunya lagi sambil melempar senyum aneh. Terpampang pemandangan ruangan pribadi Liam yang sangat mewah dan modern.
"Kenapa harus seperti itu?" Liam berkaca pinggang, Riri masih tersenyum lebar.
"Kan tadi Tuan suruh saya harus ketuk pintunya dulu," jawab Riri, wajahnya masih terlihat tegang dan merah.
"Ck!" Liam menepuk keningnya, bingung dengan tingkah laku Riri.
"Ya sudah, ngapain kamu kemari?" tanya Liam dengan nada ketus, Riri memperlihatkan kantong berisi kotak makanan untuknya.
"Mau mengantarkan ini."
"Taruh!" Liam menunjuk meja, Riri paham. Ia langsung melangkah ke arah sofa dan meletakkan bungkusan makanan tersebut di atas meja.
"Tuan, kalau begitu, saya mau kembali ke Mansion," pamitnya, hendak berlalu.
"Tunggu dulu!" Liam mencegah, membuat Riri berhenti tepat di depannya.
"Buka bungkus makanan itu!" perintahnya. Riri mengangguk dengan jantung yang berdebar kencang.
Ia kembali menuju meja, lalu membuka bungkusan tersebut, mengeluarkan kotak makanan, dan menyajikannya. Liam terus memperhatikan gerak geriknya dengan seksama.
"Siapa yang memasak hidangan itu?"
"Saya, Tuan." Riri menunjuk dirinya sendiri, Liam mengangkat satu alisnya ke atas.
"Kelihatannya enak." Lelaki itu mengangguk-anggukan kepala, lalu ia duduk di sofa dan melambai ke arah Riri yang masih berdiri di depannya.
"Kemari!" panggilnya. Gadis itu melangkah perlahan.
"Duduklah!" Liam menepuk-nepuk sofa di sebelahnya.
Riri terlihat canggung dan ragu, karena merasa tak pantas duduk di sebelah majikannya.
"Saya duduk di sebelah Tuan, begitu?" tanya Riri malu dan ragu takut jika salah menafsirkan gestur lelaki itu.
Liam mengangguk dengan wajah datar.
"Cepatlah!" desaknya.
Riri dengan segera mendaratkan bokongnya di atas sofa, tepat sebelah Liam. Ia benar-benar dibuat tegang saat itu.
"Kenapa wajahnya seperti itu? Rileks saja, aku tak akan berbuat macam-macam terhadapmu," goda Liam, lalu ia mencicipi hasil masakan Riri, kemudian mengangguk.
"Masakanmu boleh juga," pujinya, membuat Riri bersusah payah mengulum senyum.
Liam meraih potongan kentang goreng, mencocol ke dalam sambal dengan ekspresi serius.
Tanpa memberikan pertanyaan terlebih dulu tentang level pedasnya kepada Riri, ia memasukkan potongan itu ke dalam mulut.
Ia terdiam sesaat merasakan betapa nikmatnya makanan itu, namun seiring waktu, mulai terjadi reaksi. Bibir Liam mulai merekah, mata sedikit membulat serta mengeluarkan bulir bening, dan ia mulai mengibas-ngibaskan bibirnya.
"Hah... Hah... Hah..." Terengah-engah, Liam berusaha menahan sensasi pedas yang menghantam mulutnya.
Riri melihatnya dengan gelisah dan segera mengambilkan air minum.
Langsung menuju dispenser di sudut ruangan, Riri menuangkan air putih hangat ke dalam gelas.
"Maaf, Tuan. Ayo diminum." Ia menyodorkan gelas kepada Liam, yang meneguknya dengan wajah kesakitan. Namun, air hangat justru membuat rasa pedas semakin terasa.
"Hah... Hah... Hah... Kenapa kamu kasih saya air hangat, huh?" Liam semakin tersiksa, dan Riri bingung.
"Biasanya kalau minum air hangat rasa pedasnya akan mereda," usul Riri. Tapi Liam menggeleng.
"Cepat ambilkan air dingin!" perintahnya. Riri mengangguk patuh, segera memberikan air dingin yang diminta Liam.
"Ini, Tuan."
Liam dengan cepat meneguk air dingin hingga habis, tetapi wajahnya masih mencerminkan kepedasan.
Tidak tahan lagi, ia menarik lengan Riri, menempatkan gadis itu di pelukannya, dan dengan spontan, memberikan ciuman di bibir Riri, seolah-olah mencoba meredakan sensasi pedas yang masih menyiksa.
Riri terkejut dengan tindakan tiba-tiba Liam. Wajahnya memerah, dan matanya membulat kaget. Liam, sementara itu, merasa sedikit lega setelah ciumannya, seakan-akan menciptakan distraksi dari rasa pedas yang belum mereda sepenuhnya.
"Tu-tuan, kenapa Anda melakukan itu?" Riri bertanya, wajahnya masih memancarkan kebingungan, dengan kedua pipi yang memerah.
"Kupikir dengan berciuman bisa meredakan rasa pedas di mulutku," jawab Liam sambil tersenyum lebar seakan tanpa rasa bersalah.
"Tapi Tuan, Anda telah mencuri ciuman pertama saya." Riri merasa bibirnya telah ternoda oleh Liam, dan lelaki itu berkilah.
"Salahmu sendiri, kenapa kamu memberikan saya makanan pedas?" Liam berkata dengan nada santai, sambil tersenyum penuh penyesalan.
Riri menggeleng. "Maaf Tuan, saya tidak tahu kalau Tuan tak bisa makan makanan pedas." Jawabnya sambil terus menunduk, memijat lembut bibirnya yang masih merasakan sensasi ciuman Liam barusan.
"Kenapa, huh? Ingin merasakannya lagi?" tawar Liam, sedikit mendekatkan bibirnya ke arah Riri. Gadis itu menggeleng, jantungnya berdegup kencang dan semakin kencang lagi.
"Tidak, Tuan," jawab Riri dengan suara yang sangat pelan dan lembut.
Mereka terdiam sesaat, sementara Liam terus memandangi wajah Riri yang terlihat salah tingkah.
"Aduh, mimpi apa aku semalam?" batin Riri, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar.
"Masuklah!" sahut Liam, seseorang membuka pintu yang ternyata adalah sekretaris Liam, hal itu menjadi kesempatan bagi Riri.
"Tuan, saya permisi."
Meski Liam belum mengizinkannya, Riri melenggang pergi dengan langkah cepat.
Di sepanjang jalannya, ia terus memutar kejadian barusan.
"Astaga, kenapa Tuan muda melakukan itu?" Riri menggigit bibir bawahnya, masih merasakan bibir Liam menempel disana.
"Ah, mikir apa sih aku ini!" Ia mencoba menepis, saking tidak fokus ia sampai bertubrukan dengan Kevin.
"Aaah... " Riri dan Kevin berteriak serentak.
"Maaf." Gadis itu menunduk penuh rasa bersalah bercampur malu. Namun, Kevin memberi reaksi berbeda, ia memberikan senyuman pada Riri, seperi tertarik padanya pada pandangan pertama.
"Ehem..." Kevin berdehem, Riri kembali tertunduk.
"Siapa nama kamu?" tanya lelaki itu. Riri ragu untuk menjawab.
"Hei," serunya, membuat wajah Riri terangkat dan memerah.
"Maaf Pak, tapi saya buru-buru." Saat ia hendak pergi, Kevin tiba-tiba menarik tangannya. Namun, Liam hadir di belakang mereka dan mendorong Kevin dengan kasar.
"Apa yang kamu lakukan? Jangan coba-coba menggodanya!" bentak Liam dengan tegas pada karyawannya tersebut. Riri mencoba tak berpihak pada keduanya, ia terkesan membuang muka.
"Maaf, saya permisi," ucapnya, lalu bergegas pergi, sementara Kevin jadi bahan kemarahan Liam.
Setelah insiden tersebut, suasana di kantor Liam menjadi tegang. Kevin memandang Liam dengan tatapan kesal sambil membenarkan posisinya.
"Maafkan saya, Pak Liam. Saya tidak bermaksud seperti itu," kata Kevin dengan nada yang canggung.
Liam menatapnya tajam. "Ini bukan waktu yang tepat untuk lelucon semacam itu. Fokuslah pada pekerjaanmu."
"Iya Pak, saya sekali lagi minta maaf," ucapnya penuh penyesalan, tetapi masih tak bisa menepis bayangan wajah Riri yang berhasil memikat hatinya.
"Kembali ke ruangan mu!" titah Liam, Kevin mengangguk dan berlalu dari hadapannya.
Sementara itu, Riri terus berjalan menuju pintu keluar. Hatinya terasa berdebar dan ia berusaha menghindari konflik antara dua lelaki tersebut.
Namun, sebelum Riri berhasil keluar dari gedung perusahaan, Liam memanggilnya dengan nada yang tajam.
"Riri, tunggu sebentar!"
Dengan ragu, Riri berhenti dan memalingkan wajahnya ke arah Liam.
"Ya, ada apa, Tuan?"
Liam mendekatinya dengan langkah-langkah yang mantap. "Kamu tidak apa-apa?"
Riri mengangguk cepat. "Ya, Tuan. Maafkan saya jika kehadiran saya membuat masalah."
Liam menghela nafas.
"Kamu tak bersalah. Tapi mulai sekarang, beri tahu saya jika ada yang mengganggumu di sini atau dimanapun."
Riri mengangguk pelan tanpa berani menatap wajah lelaki itu.
...
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments