Liam terkesima saat menatap wajah Riri secara dekat, begitu juga dengan Riri, kedua manik indahnya seketika langsung terbuka lebar saat memandangi ketampanan putra majikannya.
Tak lama, Liam melepaskan pelukan dengan cepat, dan Riri langsung menunduk, pipinya terlihat memerah.
"Maafkan saya, Tuan Muda," ucap Riri dengan suara pelan. Liam, dengan ekspresi tegas, berdiri tanpa menunjukkan keramahan, membiarkan gadis itu merasa canggung di hari pertamanya bekerja.
"Hemm..." jawab pria tampan tersebut, lalu berjalan pergi tanpa sepatah kata pun. Riri mengelus dada, merasa bersalah karena kecerobohannya di hadapan Liam.
Namun, Tomi teriak dari kejauhan, "Bi... " suara bocah laki-laki itu menarik perhatian Riri.
"Iya Den," sahutnya sambil meraih layangan yang terjatuh, gadis itu kembali ke tugas semula, yakni membantu Tomi menerbangkan layangannya.
Sementara, Liam, saat merebahkan tubuh di atas sofa, mencoba mengingat wajah Riri yang tampak tidak asing. "Sepertinya aku pernah melihatnya, tapi di mana ya?" batin Liam sambil merenung.
Bu Mauri tiba-tiba muncul, ia duduk di sebelah Liam bertanya, "Liam, apa yang sedang kamu pikirkan?"
Lelaki itu menggelengkan kepala, mencoba menyembunyikan perasaannya di hadapan sang ibu.
"Tidak memikirkan apa-apa kok," jawabnya, tetapi Bu Mauri merasakan ada sesuatu yang disembunyikan oleh putranya.
"Kamu tak usah pusing, semua persiapan pertunanganmu dengan Karina sudah diatur. Semuanya akan berjalan lancar," kata Bu Mauri, mengubah pembicaraan ke topik pertunangan Liam.
Liam, mencoba menghindari pembahasan, beranjak dan naik ke lantai 2 menggunakan lift khusus yang tidak dapat digunakan oleh maid.
Setelah sampai di kamar, lelaki itu melempar tas kantor dan jas dengan kesal. Tubuhnya merebah dengan ekspresi murung, pandangan lurus menatap langit-langit rumah yang berlatar putih tanpa cela.
"Bagaimana bisa aku bertunangan dengan wanita yang sama sekali tak aku cintai?" gumamnya, suara bergetar. Ia menghela napas dalam.
"Hidupku seperti terpenjara. Aku tak bahagia dengan semua ini, semuanya serba diatur! Seperti burung yang hidup dalam sangkar emas," keluhnya, menggambarkan ketidakbahagiaan yang terpendam.
Pemandangan ini menggambarkan suasana yang gelap dan penuh konflik di dalam pikiran Liam, menunjukkan ketidakpuasan dengan kehidupan yang diatur oleh orangtuanya.
Tak lama kemudian, Liam bangkit dari rebahannya, meraih ponsel, dan membuka status milik siapa saja di aplikasi WhatsApp, termasuk status sang Ibu yang tampak berderet membuat rasa penasaran.
Kedua matanya membelalak tatkala melihat potret Riri yang berpose mengenakan gaun dan dress cantik yang sedang dipromosikan oleh sang Ibu sebagai pemilik butik ternama.
Refleks, Liam tersenyum melihat foto Riri, mengamati dengan seksama setiap pose yang ditampilkan.
"Dia cantik dan sangat photogenic," gumam Liam sambil tersenyum.
Namun, pikirannya segera tersadarkan saat ia mengingat bahwa Riri hanyalah seorang maid dengan status sosial yang berbeda.
Liam mengusap kasar wajah serta rambutnya, lalu menaruh kembali ponsel di atas nakas.
Dengan langkah mantap, ia membuka pintu kamar untuk menemui sang Ibu. Namun, begitu membuka pintu sedikit saja, suara senandung Riri yang sedang membersihkan guci-guci kecil dan perabotan lain memenuhi telinganya.
"La... La... La..."
Liam mengintip ke luar, tiba-tiba Riri berbalik dan memergokinya. Sontak, mereka terkejut secara bersamaan.
"Aaa..." teriak Riri kaget, sementara Liam segera menutup pintu kembali secara spontan.
Rindy yang mendengar suara teriakan langsung menghampiri Riri dengan ekspresi tegas.
"Ngapain kamu pakai teriak-teriak segala?" tanya Rindy tanpa ramah.
Riri menggeleng, "Hehe... Tidak apa-apa, tadi saya kaget karena ada kecoa lewat," kata Riri mencari alasan.
Liam, yang berdiri di balik pintu, mendengar ucapan Riri, lalu menggerutu, "Sembarangan, masa aku dikatain kecoa!"
Rindy menatap Maid baru itu dengan tajam, seolah ingin menelannya hidup-hidup.
"Mana ada kecoa di rumah ini! Seumur-umur saya bekerja, saya tidak pernah menemukan serangga menjijikan itu di sini! Jangan cari-cari alasan ya kamu!" peringatannya tegas, lalu Rindy pergi dari hadapan Riri.
Riri tampak kesal atas sikap sombong seniornya itu.
"Hu... Lagaknya sudah seperti nyonya besar saja! Perasaan, Bu Mauri gak galak deh, kok si nenek lampir itu yang berasa jadi nyonya disini!" gumam Riri penuh amarah, bibirnya tampan mengerucut.
Liam kembali membuka pintu dan muncul di hadapan Riri secara tiba-tiba.
"Astaga, Tuan Muda." gadis itu mengelus dada karena terkejut luar biasa, Liam melayangkan tatapan sinis padanya sebelum berlalu menemui sang ibu.
Beberapa menit kemudian...
Riri tampaknya masih sibuk membersihkan debu-debu halus menggunakan kemoceng sambil berjalan mundur tak teratur.
Tanpa sengaja, pundaknya menubruk dada Liam yang hendak kembali menuju ke kamarnya.
"Aah..." Riri berteriak pelan, menoleh, dan langsung tertunduk hormat di hadapan lelaki tersebut.
"Maafkan saya, Tuan Muda. Saya tidak sengaja," ucap Riri. Liam hanya memutar matanya malas sebagai tanggapan, lalu berjalan melewati gadis itu tanpa berucap sepatah kata pun, meninggalkan Riri yang kebingungan.
"Ganteng-ganteng kok jutek," batin Riri yang masih berkutat dengan pekerjaannya.
Tak lama kemudian, Liam kembali keluar dari dalam kamar, kali ini sambil membawa laptop dan berkas-berkas kerjanya, lagi dan lagi ia berjalan melewati Riri.
Sikapnya yang aneh menimbulkan tanda tanya di benak gadis itu.
"Dari tadi perasan, bolak-balik, bolak-balik, kaya di sengaja deh, maksudnya apa, coba? Mau tebar pesona, gitu? Mau mengakui kalau dia ganteng? Hahah... Aku tahu diri kok, aku tak akan mungkin naksir Tuan muda," batin Riri, sambil bercanda dengan dirinya sendiri.
***
Singkat cerita...
Tak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Riri menyudahi aktivitasnya, ia dipersilahkan untuk beristirahat ke kamar.
Gadis itu melepas seluruh seragamnya, lalu bergegas untuk mandi. Kamar tersebut memiliki kamar mandi tersendiri. Semua peralatan mandi sudah tersedia dengan lengkap di sana.
Riri tersenyum lebar, melihat sebuah bathtub mewah yang tak dia dapatkan di rumahnya.
"Hihihi... Hore... Aku bisa berendam," batinnya. Lantas, ia segera menyalakan keran air panas dan air dingin secara bersamaan, menciptakan air hangat untuk merendam tubuhnya.
Kemudian, ia menuangkan sabun cair beraroma buah-buahan. Sambil tertawa ceria, ia mulai menjalankan ritual penyegaran tubuh.
Ia memainkan busa, merasakan aroma keharuman melingkupinya.
"Kalau di rumah, biasanya pakai jolang buat rendam baju, hahaha... Enak ya jadi orang kaya," gumam Riri, sehingga ia ingin berlama-lama membenamkan tubuhnya di sana.
Setelah puas berendam di bathtub, Riri keluar dari kamar mandi dengan wajah yang berseri-seri. Ia mengenakan piyama yang nyaman dan melangkah ke tempat tidur yang empuk.
karena suntuk, Riri iseng membersihkan debu-debu halus menggunakan kemoceng di kamarnya yang terletak di lantai 3 Mansion.
Lalu, ia melangkah ke arah jendela yang menghadap ke luar dan menyibak tirai, di mana pandangannya menangkap seorang pedagang nasi goreng yang tengah mendorong gerobak di area komplek.
"Wah ada tukang nasi goreng, kebetulan perutku sedang lapar, beli ah!" gumam Riri dengan antusias sambil memegangi perutnya yang sudah keroncongan.
Meskipun di Mansion menyediakan berbagai makanan lezat, hasrat untuk mencoba sesuatu yang berbeda membuat dirinya bergegas turun tangga, terlebih ia tak memiliki wewenang untuk meminta di luar jatahnya.
Riri melintasi salah satu ruangan dan melihat Liam yang sedang fokus dengan tugasnya, tetapi ia mencoba untuk berpura-pura tak melihat. Namun, Suara bariton Liam memanggil perhatiannya.
"Heh, mau kemana kamu?" tanya Liam, membuat Riri menghentikan langkah sejenak dan menoleh secara terpaksa.
"Hehe... Mau beli nasi goreng di luar, Tuan," jawabnya dengan senyum malu.
Liam memanggilnya kembali mendekat dan dengan suara datar bertanya, "Kamu lapar?"
"Iya, Tuan," jawab Riri setelah ragu sejenak.
Tanpa banyak bicara, Liam membimbingnya menuju ke dapur.
Riri melihat dengan heran ketika Liam memulai memasak nasi goreng spesial dengan keahliannya sendiri.
"Biar saya saja, Tuan," usul Riri saat melihat Liam sibuk di dapur. Namun, Liam mencegahnya.
"Tetap disitu!"
Saat Riri duduk di kursi meja makan, Liam dengan hati-hati mulai menyajikan nasi goreng spesial yang baru saja dimasaknya, tercium aroma yang membuat perutnya semakin bertambah lapar.
Wajah Riri terpana melihat kepiawaian Liam dalam mengolah bahan-bahan menjadi hidangan yang lezat.
"Anda hebat, Tuan," puji Riri dengan penuh kagum.
Liam hanya menjawab singkat, "Belajar dari pengalaman."
Keduanya duduk di meja makan, dan suasana terasa canggung. Liam memutuskan untuk memecah keheningan.
"Jangan ragu untuk meminta makanan jika kamu lapar, baik di dalam maupun di luar jatahmu. Mansion ini punya segalanya," ujar Liam tanpa melihat langsung ke arah Riri.
"Terima kasih, Tuan. Saya akan ingat itu," jawab Riri dengan senyuman tulus.
Mereka melanjutkan makan dengan relatif hening, hanya suara sendok dan garpu yang bersentuhan dengan piring.
Riri merasa agak gugup duduk di meja makan bersama majikannya yang tampan.
Setelah selesai makan, gadis itu ingin membersihkan meja beserta peralatan makan yang kotor, tetapi Liam dengan tegas menghentikannya, "Biarkan saja, aku yang akan membersihkan semua ini."
Riri merasa agak tidak nyaman, tetapi Liam bersikeras.
Setelah selesai membersihkan, Liam menuju ke ruangan semula dan kembali fokus pada pekerjaannya yang belum selesai.
Riri pun hendak kembali ke kamar untuk beristirahat. Namun, sebelum menaiki tangga, ia menoleh sejenak ke arah Liam.
"Terima kasih lagi, Tuan. Saya akan berusaha bekerja sebaik mungkin di sini," ucap Riri penuh rasa hormat.
Liam hanya mengangguk sekali, dan Riri pun naik ke lantai 3 dengan segera.
Meskipun masih bingung dengan sikap Liam yang kadang tegas, kadang ramah, Riri merasa beruntung telah mendapatkan pekerjaan di Mansion ini.
Ia berharap bisa beradaptasi dengan baik dan memberikan yang terbaik.
Malam pun tiba, dan Riri merenung di dalam kamarnya. Kejadian hari itu menjadi memori pertama dalam perjalanan barunya sebagai maid di Mansion yang mewah.
...
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments