Kejadian tak terduga

Liam melirik jam dinding, menunjukkan hampir pukul 12 tengah malam. Dengan langkah berat, ia menutup laptop dan meninggalkan meja kerja. Meski tubuhnya terasa lelah, tetapi matanya tetap terjaga.

Lelaki berwajah tampan itu tiba di dalam kamar. Dengan perlahan, ia merebahkan tubuh di atas tempat tidur sambil membantali kepala dengan kedua telapak tangan.

Tatapannya memandang langit-langit kamar, dan tiba-tiba, bayangan senyuman Riri muncul di pikirannya. Tanpa disadari, Liam ikut tersenyum.

"Astaga, kenapa aku malah teringat pada maid baru itu?" gumamnya, mencoba mengusir pemikiran yang tak terduga.

Ia berusaha untuk memejamkan mata, tetapi bayangan Riri terus menghantui pikiran. Akhirnya, dengan nafas panjang, ia kembali membuka mata.

"Tuhan!" pekiknya. "Mungkin aku harus berdoa dulu." Liam merasa bingung dengan perasaannya sendiri.

...

Di tempat lain, Riri tidur dalam posisi menyamping. Meski matanya setengah terpejam, pikirannya masih penuh dengan ingatan tentang kebaikan Liam yang telah memasak nasi goreng lezat untuknya.

"Aduh, Riri, tolong jangan terlalu kege'eran! Mungkin Tuan muda lapar, jadi sekalian dia buatkan untukmu juga." Riri berbicara sendiri, berusaha mengatasi perasaannya yang tergerak oleh kebaikan Liam.

Meski sedikit sulit, ia memaksa untuk segera tidur.

...

Singkat waktu, tepat pukul 5 pagi, gadis itu kembali terbangun dengan suasana hati yang riang.

Ia membenahi tempat tidurnya dengan rapih, lalu bergerak menuju kamar mandi.

Tak butuh waktu lama, ia segera berpakaian mengenakan seragam, dan memasang nametag, sehabis itu merias sedikit wajahnya agar tak terlihat pucat. "Semangat!" Riri bercermin dan berbicara dengan diri sendiri.

Ia melangkah keluar dari dalam kamar, menuruni anak tangga menuju lantai 1, lalu bergabung dengan ke 4 maid lainnya.

Rindy sebagai kepala Maid, ia memimpin tugas-tugas kepada anak buahnya.

"Wina dan Nia, kalian bertugas membuat hidangan sarapan, sedangkan Ima dan kamu anak baru!" tunjuknya dengan tegas kepada Riri, membuat gadis itu sedikit terperanjat.

"Eh, ehmm. I.. iya Mbak," sahut Riri sebagai respon.

"Kalian berdua bertugas untuk bersih-bersih dan beres-beres! Paham semuanya!" ucap Rindy penuh penekanan dan ketegasan.

Ke-4 gadis Maid itu dengan tubuh tegap membalas serentak, "paham!"

"Ya sudah, sekarang kalian mulai bekerja!" perintahnya. Riri berjalan bersama rekan barunya Ima.

Tampaknya, Ima sedikit sinis terhadap Riri berencana untuk mengerjainya.

"Ri, kamu beres-beres dan bersih-bersih di kamar Tuan muda gih!" perintah gadis berambut pendek itu pada Riri yang masih awam.

Padahal selama ini Liam tak pernah meminta Maid untuk membersihkan atau membereskan kamar pribadinya, ia selalu melakukannya sendiri, karena di dalam kamarnya terdapat beberapa benda berharga yang tak boleh di lihat apa lagi di sentuh oleh siapapun, termasuk kedua orangtua dan sang adik.

Ia tak suka jika perkakas dan peralatan yang ada di dalam kamarnya sedikit bergeser atau berubah dari posisinya, jika itu sampai terjadi maka ia akan sangat marah.

Riri mengangguk sebagai tanggapan, membawa alat kebersihan, dan dengan ragu bergerak menuju kamar Liam. Dengan hati-hati, ia mengetuk pintu.

"Permisi," serunya lirih, tetapi senyap tak ada jawaban, membuat Riri mengetuk lagi.

"Permisi Tuan, saya ingin membersihkan kamar Tuan." Tanpa jawaban, dengan hati yang berdebar, tangan kecil itu menyentuh gagang pintu yang dingin. Riri membuka pintu perlahan dan mengintip dengan satu mata yang tertutup.

"Tidak ada orang." Riri memeriksa seluruh ruangan, lalu dengan berani memasuki kamar dan mulai membereskan berkas, buku, dan barang-barang yang tak berada di tempatnya.

"Wow, kamar Tuan muda sangat berantakan." Tangan Riri bergerak gesit, merapikan barang-barang dan tempat tidur yang kacau, lalu memulai menyapu. Sementara ia membersihkan, seketika merasa kesal karena banyak puntung rokok berserakan di bawah lantai.

Setelah bekerja keras, kamar itu menjadi bersih, rapi, dan harum.

Riri tersenyum puas meski lelah dan berkeringat. Tiba-tiba, suara bariton terdengar dari belakang. Liam baru keluar dari kamar mandi, tubuhnya hanya terlilit handuk di bawah pusar.

"Ehem..." Suara beratnya membuat Riri menoleh, dan karena kebiasaannya kaget, ia menjerit.

"Aaa...!"

Terlebih lantai masih sedikit basah setelah di pel. Reflek, kakinya tergelincir, tangannya tak sengaja menarik handuk Liam, hampir saja tubuh lelaki itu menimpanya.

Namun, dengan cepat, kedua tangan Liam berhasil menahan tubuhnya agar tidak mengenai Riri secara langsung.

Naas, handuk lelaki itu terbuka, membuat Riri langsung menutup mata, berusaha melindungi pandangannya dari hal yang mengerikan.

"Tu... Tuan, tutup itu!" tunjuk Riri ke arah bawah sembari menutup mata, dengan wajah yang memerah, Liam kembali melilitkan handuk itu untuk menutupi ranah pribadinya meski Riri tak sengaja sudah melihat benda tersebut.

"Bangun!" Liam menarik lengan Riri, kini keduanya berdiri saling menghadap. Aroma maskulin di tubuh lelaki itu menguar memanjakan indra penciuman Riri.

"Kenapa kamu berani menginjakan kaki di kamarku, hah?" Liam menatap tajam pada Riri, membuat gadis itu tertunduk seakan tak paham, karena ia berpikir ini memang sudah tugasnya.

"Saya berinisiatif, Tuan," ucap Riri, membuat kedua mata Liam terbuka lebar penuh amarah.

Alih-alih mendapat pujian darinya justru Riri melanggar aturan tak tertulis dari Liam.

"Apakah Rindy tidak memberitahu padamu bahwa aku tidak mengizinkan siapapun masuk ke dalam kamarku!" Suara Liam terdengar jelas di telinga Riri, membuat gadis itu memejamkan kedua matanya kembali.

"Oh, begitu, saya tidak tahu soal itu, Tuan. Saya minta maaf." Riri menunduk hormat berkali-kali sebagai bentuk permintaan maafnya.

"Kalau begitu, saya permisi!" gadis itu hendak berlalu. Namun, secara spontan Liam menarik lengannya, hingga tubuh Riri berada lebih dekat.

"Apa lagi, Tuan?" ucapnya terbata sambil menelan saliva dalam-dalam untuk membasahi kerongkongannya yang sudah mengering saat mendapat tatapan tajam dari Liam.

Jantung Riri semakin berdebar tak menentu.

"Karena kamu sudah berani masuk ke dalam kamarku, maka..." Liam tidak melanjutkan perkataannya, Riri mengatupkan bibir rapat ketika wajah Liam semakin mendekat. Namun, tiba-tiba terdengar seruan dari luar kamar.

"Sayang..."

"Iya sebentar!" sahut Liam dari dalam, tampak kebingungan.

"Heh, cepat sembunyi di kamar mandi, dan jangan keluar sebelum aku keluar terlebih dulu!" perintahnya, Riri celingukan, dengan cepat ia berlari menuju kamar mandi dan mengunci diri disana. Sementara Liam, membuka pintu kamar untuk merespon panggilan Karina, calon tunangannya.

"Sebentar, aku mau berpakaian dulu!" ia kembali menutup pintu, dan segera mengenakan pakaian kantor.

"Cepat sedikit, ya!" teriak Karina mendesak, Liam mendengus kesal karena pikirnya wanita itu terlalu banyak mengatur.

"Dasar!" Gerutu Liam menahan emosi, sesudah memastikan berpakaian dengan rapih, ia keluar sambil menenteng tas kantornya.

Karina dengan cepat, menggandeng lengan calon tunangannya tersebut, dan mereka turun ke lantai satu menggunakan lift.

Sementara itu, karena sudah tak mendengar suara, Riri memberanikan diri keluar dari dalam kamar mandi, kemudian bergerak melangkah keluar kamar, lalu menutup pintunya kembali.

Ia masih teringat kejadian mendebarkan barusan, irama detak jantungnya masih terdengar, sambil membayangkan wajah Liam.

"Aduh, sumpah lemes deh aku jadinya." Riri berkali-kali mengusap dadanya, lantas ia turun ke lantai satu dengan perasaan tak karuan.

Di ruang makan, ia menatap anggota keluarga itu sedang menyantap hidangan sarapan pagi yang disiapkan oleh Wina dan Nia.

Pandangan Riri tertuju pada sosok wanita cantik, modis, dan seksi yang duduk di sebelah Liam.

Seketika ia tersenyum kagum dengan kecantikan Karina yang terlihat memukau dan luar biasa.

"Oh, jadi itu tunangan Tuan muda," batin Riri. "Weleh-weleh, bening betul ey. Beda jauh sama diriku yang dekil dan pulkadot seperti ini," sambungnya membandingkan Karina dengan dirinya seperti langit dan bumi.

"Benar-benar pasangan yang serasi." Riri terus mengamati kebersamaan mereka, seperti mendukung pasangan tersebut.

Liam mengangkat wajahnya, menatap kehadiran Riri dari jarak beberapa langkah, lantas ia tiba-tiba memberikan senyum tipis padanya, membuat Karina ikut memandang Riri. Namun, dengan tatapan sinis.

"Itu Maid baru?" Karina menyoroti wajah kedua orangtua Liam meminta jawaban.

"Ya, dia baru sehari disini," jawab Bu Mauri, sementara Pak Leo terlihat sangat acuh dan dingin.

"Oh!" Karina mengangguk, lalu bergelayut manja pada Liam, membuat lelaki itu merasa risih dan tak nyaman atas perlakuannya.

Tomi yang baru saja menghabiskan segelas susu berteriak memanggil, "Bi... Sini!" sambil melambaikan tangan ke arah Riri, membuat gadis itu mendekat untuk menanyakan apa keperluan Tomi.

"Nanti sore temani aku main layangan lagi ya," pintanya, Riri tersenyum dan mengangguk.

"Siap Den," jawab gadis tersebut, sedangkan Karina menatap penampilan Riri dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan keangkuhannya, lalu menyandarkan kepala di bahu Liam seakan bangga memperlihatkan kebersamaan mereka di hadapan Maid.

...

Bersambung...

Episodes
1 Melamar kerja
2 Babu Elit
3 Tuan Muda tampan
4 Kejadian tak terduga
5 Sorotan sinis
6 Ciuman gara-gara sambal
7 Tercebur
8 Hukuman
9 Bully
10 Insiden di acara pertunangan
11 Perhatian kecil
12 Fitnah
13 Kiss
14 Merawat Tuan Muda
15 Skandal Karina
16 Salting
17 Menyelamatkan Riri
18 Datang bulan
19 Mimpi indah
20 Cewek bar-bar
21 Di pecat
22 Mendadak menikah
23 Izin menginap
24 First Day To Be My Wife
25 Bertemu Mantan
26 Mandi bareng
27 Secret Wife
28 Kembali ke Mansion
29 Cemburu
30 Liburan
31 Villa Lembang
32 Kissing
33 Masih liburan
34 Unboxing
35 Pengganggu
36 Heartache
37 Annoyed
38 Ujian Pernikahan
39 Mendiamkan
40 Paksaan
41 Kenikmatan singkat
42 Tidur bersama
43 Dicurigai
44 Gaun pengantin
45 Pengganggu
46 Surprise
47 Penemuan mengejutkan
48 Hoarding Disorder
49 Mencari bukti
50 Noda lipstik
51 Menonton
52 Terbongkar
53 Malam penuh gairah
54 Pregnant?
55 Pembatalan Kontrak Kerjasama
56 Mimpi buruk
57 Kekecewaan
58 Rencana untuk pergi
59 Aku Pergi
60 Kehilangan
61 Siapa yang bertengkar?
62 Mencari Pekerjaan
63 Semakin dekat
64 Terungkap
65 Hampir saja
66 Mengikuti
67 67
68 68
69 69
70 70
71 71
72 72
73 73
74 74
75 75
76 76
77 77. Pernikahan
78 78
79 79
80 80
81 81
82 82
83 83
84 84
85 85
86 86
87 87
88 88
89 89
90 90
91 91
92 92
93 93
94 Ch 94
95 95
96 96
97 97
98 98
99 99
100 100
101 101
102 102
103 103
104 104
105 105
106 106
107 107
Episodes

Updated 107 Episodes

1
Melamar kerja
2
Babu Elit
3
Tuan Muda tampan
4
Kejadian tak terduga
5
Sorotan sinis
6
Ciuman gara-gara sambal
7
Tercebur
8
Hukuman
9
Bully
10
Insiden di acara pertunangan
11
Perhatian kecil
12
Fitnah
13
Kiss
14
Merawat Tuan Muda
15
Skandal Karina
16
Salting
17
Menyelamatkan Riri
18
Datang bulan
19
Mimpi indah
20
Cewek bar-bar
21
Di pecat
22
Mendadak menikah
23
Izin menginap
24
First Day To Be My Wife
25
Bertemu Mantan
26
Mandi bareng
27
Secret Wife
28
Kembali ke Mansion
29
Cemburu
30
Liburan
31
Villa Lembang
32
Kissing
33
Masih liburan
34
Unboxing
35
Pengganggu
36
Heartache
37
Annoyed
38
Ujian Pernikahan
39
Mendiamkan
40
Paksaan
41
Kenikmatan singkat
42
Tidur bersama
43
Dicurigai
44
Gaun pengantin
45
Pengganggu
46
Surprise
47
Penemuan mengejutkan
48
Hoarding Disorder
49
Mencari bukti
50
Noda lipstik
51
Menonton
52
Terbongkar
53
Malam penuh gairah
54
Pregnant?
55
Pembatalan Kontrak Kerjasama
56
Mimpi buruk
57
Kekecewaan
58
Rencana untuk pergi
59
Aku Pergi
60
Kehilangan
61
Siapa yang bertengkar?
62
Mencari Pekerjaan
63
Semakin dekat
64
Terungkap
65
Hampir saja
66
Mengikuti
67
67
68
68
69
69
70
70
71
71
72
72
73
73
74
74
75
75
76
76
77
77. Pernikahan
78
78
79
79
80
80
81
81
82
82
83
83
84
84
85
85
86
86
87
87
88
88
89
89
90
90
91
91
92
92
93
93
94
Ch 94
95
95
96
96
97
97
98
98
99
99
100
100
101
101
102
102
103
103
104
104
105
105
106
106
107
107

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!