"Eugh!" Karina mendesis kesal, berusaha bangkit meski pinggang dan bokongnya terasa kesakitan akibat terjatuh di posisi tersebut.
Liam telah kehilangan kesabaran atas perilaku wanita itu. Dengan langkah cepat, ia bergegas keluar dan membuka pintu unit apartemen Karina.
Awalnya, Liam merasa kesulitan membuka pintu, namun dengan sekuat tenaga, akhirnya pintu itu berhasil terbuka.
"Liam, tunggu!" teriak Karina, tetapi Liam sudah pergi meninggalkan dirinya sendirian.
Sepanjang jalan menuju ke basement, Liam menggerutu penuh amarah terhadap perilaku calon tunangannya itu.
"Kok dia agresif sekali?" Tak habis pikir dengan tindakan berani Karina. Karena sebenarnya, Liam tidak menyukai wanita yang berprilaku agresif dan mendominasi. Karina bukanlah wanita yang sesuai dengan kriteria yang selama ini ia cari. Namun, demi berbakti kepada kedua orangtuanya, ia harus tetap menerima perjodohan ini.
Menghela napas kasar, Liam masuk ke dalam mobil dan memposisikan diri senyaman mungkin.
Kendaraan roda empat itu segera meluncur menuju Mansion.
Tak ada ketenangan di wajahnya, beberapa bayangan mengerikan muncul, mempertanyakan kelanjutan hubungannya dengan Karina yang selalu membuatnya merasa tidak nyaman.
"Ya Tuhan, aku harus bagaimana?" Sambil memijat pangkal hidungnya, Liam berpikir keras, berharap ini hanyalah mimpi buruk semata.
Beberapa saat kemudian, ia tiba di Mansion, memarkir mobilnya di dalam garasi, lalu keluar.
Dari jarak beberapa langkah di halaman belakang, ia mendengar suara ribut-ribut. Dengan rasa penasaran, ia mendekat untuk mengetahui apa yang sedang terjadi.
"Gosok tuh sebelah sana, cepat!" teriak Rindy memerintah Riri, yang tampak kesulitan menggosok dan membersihkan kolam renang untuk dikuras.
Rindy, sebagai senior, terlihat tega mengembankan tugas berat kepada Riri, yang harus melakukannya seorang diri. Ima dan Nia, malah asyik menertawakan kesengsaraan rekannya.
Sedangkan Wina, meski merasa iba, tidak bisa berbuat banyak untuk membantu Riri atas ancaman Rindy dan dua rekannya.
"Aduh, pinggangku sakit," keluh Riri, kedua matanya mengeluarkan air sambil menyeka keringat yang mengalir deras di dahi dan pelipisnya. Wajahnya pucat, dan ia terlihat sangat lelah.
"Jangan manja! Cepatlah!" bentak Rindy. Riri kesal, tetapi ia harus menyelesaikan tugas ini.
Meskipun seharusnya tugas ini dikerjakan bersama oleh kelima orang tersebut, Rindy mencari kesempatan untuk mengerjai Riri seorang diri.
Melihat kejadian itu, kedua mata Liam membelalak tajam, dan lengannya terkepal sempurna. Dengan langkah cepat, ia muncul di hadapan para gadis Maid tersebut.
"Apa yang kalian lakukan, huh? Kenapa kalian membiarkan Riri mengerjakannya seorang diri?" bentak Liam penuh amarah dengan suara lantang terhadap keempat gadis tersebut. Mereka langsung tertunduk di hadapannya.
"Ampun Tuan, Anda hanya salah paham. Kami melakukan ini karena sedang menghukumnya," terang Rindy berkilah, begitu juga ketiga rekannya.
"Apa? Menghukum? Memangnya, kesalahan apa yang dia perbuat sampai kalian tega menghukumnya seperti ini!" Liam berkaca pinggang. Mendapat interogasi dari Liam, semuanya tidak bisa menjawab karena gugup.
Tiba-tiba, Riri tergeletak pingsan, suara benturan kepalanya dengan lantai kolam renang terdengar jelas. Dengan reflek, Liam menoleh dan beranjak turun ke kolam yang tak berisi air tersebut, lalu memangku tubuh Riri ala gaya bridal untuk menolongnya.
"Awas kalian, persoalan kalian belum berakhir!" ancam Liam kepada ke 4 gadis Maid itu sambil membawa Riri masuk, lalu membawa ke dalam kamarnya, dan membaringkan tubuh lemah itu di atas tempat tidur.
Tampaknya orang-orang di rumah sudah tertidur semua, tetapi Liam masih berada di dalam kamar Riri, menggenggam tangannya yang terasa dingin.
Lantas, ia mengambil air hangat, minyak kayu putih, serta makanan untuknya.
Tak beberapa lama kemudian, Riri mulai mengerjapkan kedua matanya, samar melihat wajah tampan Liam berada di jarak yang sangat dekat. Lelaki itu sedang membalur telapak kaki Riri dengan minyak kayu putih.
"Tu-Tuan... " serunya dengan suara lirih dan pelan, ia mencoba bangkit dari berbaringnya.
"Sudah, kamu tiduran saja," larang Liam, tetapi Riri menggeleng merasa tak enak di layani oleh majikannya.
"Jangan lakukan ini, Tuan!" Riri memberikan gestur agar Liam menghentikan aksinya saat masih membalur dan memijat kaki Riri.
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin membantumu, tadi kamu pingsan," ujar Liam dengan lembut. Riri menggeleng dengan tegas.
"Jangan, Tuan! Saya ini hanya seorang pembantu. Sebaiknya Tuan istirahat saja, saya bisa menangani dan mengurus diri sendiri. Saya minta maaf sudah merepotkan." Riri bangkit dari tempat tidur, duduk di tepinya sambil merasakan tubuh yang sakit, kepala pusing, dan lemah.
Liam tersenyum lalu menyodorkan segelas air minum untuknya.
"Ayo, minumlah!"
Riri menerima dengan tangan gemetar, dan Liam memperhatikan wajahnya sedari tadi.
"Kenapa mereka berani memerintah mu seorang diri?" tanya Liam penuh emosi. Riri tak ingin membuat perkara, lantas mencoba menutupi kejahatan rekan-rekannya. Ia mengarang cerita agar Liam tak sampai memarahi mereka.
"Maaf, Tuan, itu karena kesalahan saya sendiri. Saya awalnya menjahili Mbak Rindy, jelas dia marah sama saya dan menghukum saya atas kejahilan saya itu. Jadi, saya mohon, Tuan jangan sampai marahi Mbak Rindy atau yang lainnya." Riri mengiba dengan sangat, Liam mengangguk, namun sedikit tak yakin dengan keterangan yang diberikan Riri. Sorot matanya seakan menyimpan rahasia dan ketakutan.
"Hmmm... Ya sudah kalau begitu, lain kali kerja musti serius! Kalau sampai saya melihat kejadian serupa, saya tak akan segan-segan memberikan surat peringatan pada kalian semua tanpa ada yang dibedakan!" terang Liam. Riri mengangguk, lalu Liam menyodorkan makanan kecil untuk mengganjal perut.
"Ayo, dimakan!" perintahnya. Riri merasa sangat grogi dengan kebaikan sang majikan.
Dengan tangan gemetar, ia meraih satu potong martabak manis yang diberikan Liam.
Tak mereka sadari, diam-diam Rindy, Ima, dan Nia menguping percakapan mereka di balik pintu.
"Ya sudah, kamu makan sendiri, ya!" Liam mulai beranjak, lalu membuka pintu, dan ketiga gadis itu sontak jatuh secara bersamaan, membuat amarah Liam kembali meradang dengan tampang serius.
Amarahnya sudah mencapai ubun-ubun, dan ia memandang mereka dengan tajam.
"Apa yang sedang kalian lakukan di sini?" bentak Liam kepada Rindy, Ima, dan Nia, mereka terbelalak, mencoba mencari alasan cepat.
"Eh, kami hanya lewat, Tuan," ucap Rindy sambil berdiri dan mencubit pantat Nia dan Ima, agar ikut membenarkan ucapannya.
"Lebih baik kalian fokus pada pekerjaan kalian daripada mengintip dan berbuat kelicikan!" tegas Liam. Ia benar-benar kecewa dengan tindakan gadis-gadis itu.
Riri yang masih duduk di tepi tempat tidur hanya bisa menundukkan kepala, merasa prihatin dengan perlakuan yang mereka dapatkan.
"Ayo, pergi dari sini!" perintah Liam, dan ketiganya bergegas menuju ke arah lain.
Sementara itu, Riri mencoba memakan potongan martabak manis, meskipun tangan dan pikirannya masih gemetar. Liam kembali mendekat dan berdiri tepat di depannya, khawatir mereka akan kembali datang untuk mengganggu Riri.
"Riri, kalau mereka macam-macam, jangan ragu untuk mengatakannya padaku!" tegur Liam, Riri mengangguk sambil menelan makanan dengan susah payah karena gugup sedari tadi Liam terus memperhatikannya.
"I-iya, Tuan," jawab Riri, dan entah kenapa lelaki itu seakan ingin terus berada di dekatnya. Tanpa izin dari Riri, Liam duduk di sebelahnya, lalu memandang dengan senyuman mencoba meredakan ketegangan.
"Dimana rumahmu?" tanya Liam, memberikan kesan ramah meskipun intensitas pandangannya membuat Riri semakin gugup.
Riri menjawab setelah menelan ludah, "Rumah saya di daerah pinggiran, Tuan."
Liam mengangguk mendengar penjelasan dari Riri, sampai akhirnya, tanpa sengaja ia melontarkan pertanyaan yang lebih pribadi kepada gadis tersebut.
"Kamu sudah memiliki seorang pacar?" tanya Liam, mencoba meresapi reaksi gadis di hadapannya. Riri, dengan canggung, merespon sambil menggigit tepi bibirnya, dengan kedua pipi yang memerah.
"Ehmm... Ada sih, hanya saja hubungan kami berdua sedang tak memiliki kejelasan. Dia sudah lama tak menghubungi saya, Tuan." Riri tertunduk, membuka cerita tentang Bimo yang telah lama menghilang dari kehidupannya.
Liam, tanpa bisa menahan kekesalannya, berkomentar, "Loh, kok bisa? Bodoh sekali dia, meninggalkan perempuan secantik kamu." Ucapan itu membuat Riri semakin salah tingkah.
"Saya sama sekali tidak cantik, Tuan. Makannya dia gantung hubungan ini dan mungkin mencari perempuan yang jauh lebih menarik dari saya, karena saya tidak ada apa-apanya," keluh Riri, membagikan isi hatinya yang selama ini dipendam.
Liam mengangkat lembut dagu Riri, memandang wajahnya lebih dekat.
"Kamu ini cantik, sederhana, dan apa adanya. Hanya laki-laki bodoh yang menyia-nyiakan mu," ujar Liam, mencoba memberikan dukungan pada Riri yang terlihat sangat terpukul dengan kepergian Bimo dan mungkin untuk mengejar wanita lain.
Namun, kebersamaan mereka terputus oleh suara dari lantai 2. "Liam!" Teriakan sang ibu memanggil membuat keduanya terkejut, khawatir bahwa kebersamaan mereka diketahui oleh orang lain, apa lagi jika sampai orang rumah tahu, terlebih esok Liam akan bertunangan dengan Karina.
...
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments