Rindy memaksa Riri untuk melihat apa yang sedang terjadi dengan Liam. Gadis itu terperangah, memandangi keadaan putra majikannya. Bu Mauri menyorot ke arah Riri yang masih berdiri dengan wajah tegang.
"Riri, kemari kamu!" panggilnya dengan emosi. Riri melangkah mendekat secara perlahan dengan tubuh yang gemetar, sementara Karina menyembunyikan senyuman licik merasa menang atas ulahnya telah membuat reputasi Riri buruk di mata Bu Mauri.
Wanita paruh baya itu menegur Riri dengan tegas, "Kenapa kamu kasih cabai di makanan anak saya?"
Riri menggelengkan kepala dengan tegas.
"Saya sama sekali tak menambahkan cabai atau rasa pedas apapun di makanan Tuan muda, Nyonya," kilahnya.
Liam tampak tak berdaya, berusaha memberi isyarat agar sang ibu tidak terlalu menekan Riri.
"Ma, sudah Ma!" Liam membentangkan tangannya, tetapi Bu Mauri merasa kecewa atas perbuatan Maid tersebut.
Riri terdiam sambil menunduk, terlihat sangat terpukul. Kejadian ini membuatnya terlihat tak berdaya, padahal ia merasa tidak bersalah.
"Siapa yang berani memfitnahku?" bisik Riri dalam batin, merujuk kepada Karina atau Rindy, menyadari mereka sangat licik terhadapnya.
Tidak lama kemudian, suara sirine ambulance terdengar. Bu Mauri dan Karina menuju ke depan rumah.
"Silahkan, pasien ada di dalam," kata Bu Mauri kepada petugas medis itu.
Mereka mengangkat tubuh Liam dengan sangat hati-hati, membaringkan di atas brankar, dan memasukkannya ke dalam mobil ambulance.
Karina ikut bersama Liam untuk menutupi perbuatannya.
Bu Mauri melangkah tegas ke arah Riri, menyeret pergelangan tangan gadis itu dengan kasar.
"Kamu harus ikut! Kalau ada apa-apa, kamu harus mempertanggungjawabkan semua perbuatanmu!" Ancam Bu Mauri dengan suara lantang. Riri hampir saja menangis.
"Tapi Nyonya, saya benar-benar tak melakukannya," elak Riri. Rindy datang untuk memperkeruh keadaan.
"Alah, mana ada penjahat yang ngaku! Bawa saja Nyonya," usulnya dengan senyuman sinis.
Bu Mauri terus menyeretnya, mereka menuju garasi, lalu naik ke dalam mobil bersama-sama menuju ke rumah sakit.
...
Mobil ambulance melaju cepat di jalan raya, sampai pada akhirnya pasien tiba untuk mendapatkan penanganan dengan segera.
Sejumlah petugas dengan sigap membawa Liam ke ruang perawatan, memeriksa kondisinya yang terlihat kesulitan bernapas.
Terlihat kemerahan menyebar di kulitnya, gejala yang muncul setelah mengkonsumsi makanan pedas.
Dokter segera memeriksa riwayat alergi makanan dan mencatat dengan teliti setiap detail untuk menentukan langkah pengobatan yang tepat.
Liam terlihat gelisah, wajahnya menunjukkan rasa tak nyaman yang intens akibat reaksi alergi terhadap makanan pedas yang baru saja ia konsumsi.
Hingga akhirnya, Liam tak sadarkan diri, selang infus terpasang dengan erat di tangannya, dan selang oksigen membantu meredakan kesulitan saat ia bernapas.
Sementara itu, di sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, wajah Riri tampak penuh kekhawatiran.
"Ya Tuhan, semoga Tuan muda bisa pulih," ucapnya lirih dengan doa.
Bu Mauri, di sisi lain, terus melontarkan kata-kata pedas yang menusuk hati.
"Kamu benar-benar ceroboh dan tidak bertanggung jawab! Sudah jelas Liam tidak bisa makan makanan pedas!" ujar Bu Mauri dengan nada kesal.
Riri hanya merespons dengan anggukan, berusaha menahan diri untuk tidak menanggapi secara emosional, memahami betapa sulitnya situasi bagi wanita tersebut.
Sementara itu, Karina terlihat tenang dan acuh tak acuh menghadapi situasi Liam. Ia lebih tertarik bertukar pesan dengan teman-temannya melalui chat, bahkan merencanakan pertemuan dengan mereka daripada menjaga kondisi Liam.
"Mana sih Tante Mauri? Kok lama amat!" batin Karina penuh kegelisahan, menunggu kedatangan Bu Mauri yang mungkin bisa menggantikannya untuk menjaga Liam.
Tak berapa lama kemudian, Bu Mauri tiba bersama Riri, membuat Karina tersenyum, merencanakan untuk segera pergi.
"Untung Tante datang, Maaf Tante, aku tiba-tiba ada urusan mendesak, jadi gak bisa lama-lama menjaga Liam," ucapnya sambil memainkan ekspresi wajah sedih. Di sisi lain, matanya membelalak tajam ke arah Riri.
"Ini dia, penyebabnya. Kalau sampai terjadi apa-apa, kamu yang harus bertanggung jawab atas semuanya!" ancam Karina, sambil menunjuk Riri dengan penuh ketegasan.
Riri tak bisa banyak berkomentar, meski di hatinya tak setuju dengan tuduhan yang dilontarkan oleh Karina.
...
Setelah melontarkan kata-kata pedas pada Riri, Karina meninggalkan ruangan meskipun Bu Mauri belum memberikan izin. Tanpa terlihat ada rasa bersalah di wajahnya, Karina melangkah dengan langkah ringan di koridor rumah sakit.
Saat itu, Liam baru saja sadar. Bu Mauri dan Riri memasuki ruang perawatannya. "Liam," seru Bu Mauri mendekati putranya yang terbaring lemah.
"Sudah, Ma. Aku agak mendingan sekarang, dokter sudah memberikan obat tadi," terang Liam dengan suara lirih, sementara Riri mendekatinya dengan kepala tertunduk.
"Tuan, maafkan saya telah membuat Tuan seperti ini, tapi... Saya bersumpah, saya tidak menambahkan cabai ke dalam makanan Tuan," isak Riri dengan penuh kejujuran. Liam memperhatikan wajahnya dengan senyuman.
"Ya, aku percaya padamu. Sudahlah, masalah ini tidak perlu diperpanjang," ujar Liam bijaksana, meskipun Bu Mauri masih menatap Riri dengan curiga dan penuh emosi.
"Riri, saya jadi ragu untuk mempekerjakan mu lagi. Ternyata kamu benar-benar ceroboh dan tidak hati-hati. Kamu hampir saja membuat Liam celaka karena kelalaianmu!" ucap Bu Mauri dengan suara lantang, memenuhi ruangan. Riri hanya bisa menunduk pasrah.
Liam menggelengkan kepala, merasa bahwa ini bukan perbuatan Riri, lalu ia membelanya.
"Mama, sebaiknya tidak menekan Riri seperti ini!" bentak Liam, sementara Bu Mauri menarik napas dalam untuk meredakan emosi yang semakin tak terkendali.
"Awas kalau kamu berbuat kesalahan lagi!" peringatan tegas Bu Mauri menghantam Riri, gadis itu hanya bisa menunduk dengan lemas, penuh kepatuhan pada sang majikan.
Sementara itu, Liam merasa tidak nyaman melihat ibunya berbicara dengan kasar kepada Riri. Ia juga merasakan betapa sulitnya menjadi korban fitnah.
"Ma, ngomong-ngomong, Karina kemana?" Liam mencari-cari keberadaan wanita itu dengan pandangan gelisah.
"Tadi Karina yang mengantarmu kemari. Sekarang dia pergi, katanya ada keperluan mendesak," Bu Mauri memberikan penjelasan, dan Liam hanya mengangguk dengan wajah datar, merasa kesal karena Karina, calon istrinya, tidak ada di sana ketika dia membutuhkan dukungan.
"Keperluan apa?" Liam menanyakan lagi, tetapi Bu Mauri hanya menggeleng.
"Entahlah, dia tidak bilang. Tapi kelihatannya dia sangat terburu-buru," jawab Bu Mauri, lalu tiba-tiba ponsel di tasnya berdering.
Bu Mauri cepat mengambil telepon dan berbicara dengan seseorang.
Beberapa menit kemudian, percakapan berakhir, dan wajah Bu Mauri tampak penuh kecemasan.
"Ada apa, Ma?" Liam heran melihat ekspresi cemas ibunya.
"Mama harus menjemput Tomi sekarang. Katanya dia pingsan saat jam olahraga," jawabnya dengan mata berkaca-kaca. Liam turut syok mendengar berita tentang adiknya.
"Astaga," gumamnya.
"Ya sudah, kalau begitu Mama akan menjemput dia dulu. Kamu jaga diri, ya!" Bu Mauri mengusap punggung tangan Liam, lalu tatapannya beralih pada Riri.
"Kamu, jaga Liam dengan baik!" perintahnya tegas. Riri hanya bisa mengangguk.
"Baik, Nyonya," jawab Riri.
Sekarang, di dalam ruangan hanya tersisa Liam dan Riri, menciptakan suasana yang canggung.
Riri masih diam, tanpa berani menatap ke atas.
"Kemari!" Liam memanggilnya. Riri mengangguk pelan dan bergerak mendekat.
"Aku tahu, hanya kamu obat penawar alergiku," ujar Liam, membuat Riri bingung.
"Ma-maksud Tuan?" Riri memandang wajah Liam yang tersenyum, membuat jantungnya berpacu lebih cepat karena pesona sang majikan yang tiada duanya.
Liam menunjuk bibir Riri, dan gadis itu menunjuk bibirnya sendiri. Liam mengangguk, membuat Riri terkejut.
Tiba-tiba, Liam merengkuh tubuh Riri, sampai-sampai gadis itu membungkuk dan wajah mereka tidak berjarak.
Riri mencium aroma tubuh Liam, merasakan kenyamanan dalam posisi itu. Tak tahan, Liam menautkan bibirnya dengan Riri, menciptakan momen yang mendalam dan menggetarkan.
Deru napas dan hangatnya pelukan membangkitkan sensasi yang tak terlupakan.
Riri memejamkan kedua mata, merasakan sentuhan lembut di bibirnya yang diberikan oleh Liam, setiap getaran percumbuan yang di lakukan seakan mengalir ke dalam setiap serat tubuhnya.
Liam semakin memperdalam ciuman itu. Meskipun di sisi lain Riri berkeinginan untuk menghentikan perbuatan tersebut, sepertinya sulit untuk dihindari
Akhirnya, Liam menghentikan cumbuan dengan segera, bibirnya merekah dan memerah setelah momen berciuman yang baru saja terjadi.
"Terima kasih ya, sekarang aku merasa jauh lebih baik," ucap Liam. Riri tertunduk malu sambil memijat lembut tepi bibirnya.
"Eh, sama-sama," kata Riri, terlihat kikuk pada saat itu. Dia merasa kebingungan, mempertanyakan apakah reaksi alerginya benar-benar hilang setelah berciuman? Semua ini terasa konyol.
"Kenapa kamu melamun?" tanya Liam melihat gadis itu bergeming.
Riri menengadah untuk merespons pertanyaan darinya, dengan wajah tegang dan memerah. Liam melempar senyum kecil, yang membuat Riri semakin tergila-gila dengan pesona ketampanan sang majikan.
Tiba-tiba ponsel Riri berdering memecah kecanggungan di antara mereka, kedua matanya menatap tajam pada sebuah nama yang terpampang di layar ponsel itu.
Liam yang mengamati wajah kaget Riri, penasaran, tetapi ia belum sempat menanyakan.
Jemari gadis itu bergetar saat mengeluarkan benda pipih tersebut dari saku rompinya.
...
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments