Singkat waktu, acara pun berakhir. Riri dan keempat rekannya kembali sibuk menata beberapa piring dan gelas kotor, hingga waktu menunjukkan pukul 2 pagi.
Lalu, ketua penyelenggara menghampirinya.
"Hei kamu," tunjuknya kepada Riri, membuat gadis itu menghentikan sejenak aktivitasnya.
"Ya, Pak, saya?" tunjuk Riri pada dirinya sendiri.
"Teman-temanmu yang lain sudah pada pulang setengah jam yang lalu, kenapa kamu masih berada di sini?" tanya orang tersebut heran.
Kedua mata Riri langsung membelalak, dengan wajah tegang, tidak percaya ia sekarang hanya seorang diri.
"Loh, kok mereka gak kasih tahu aku, sih?" gumamnya. Setelah berpamitan, ia bergegas ke kamar hotel untuk merapihkan barang-barangnya.
Melihat beberapa pesan berderet dari Wina dan panggilan tak terjawab yang menanyakan keberadaan Riri.
"Astaga, terus bagaimana caranya aku kembali ke Mansion? Sedangkan ini sudah jam 2 pagi." Riri terlihat bingung, tetapi ia memutuskan untuk kembali bagaimanapun caranya.
"Ah, semoga masih ada ojek online yang beroperasi jam segini," harapnya. Setelah selesai berkemas, ia keluar dari kamar tersebut melewati koridor hotel yang temaram.
Suara bising orang-orang yang masih beres-beres terdengar dengan jelas, beberapa masih tampak sibuk, mengabaikan rasa kantuk mereka.
Riri berjalan melewati lobi, dan kini ia berada di luar yang terlihat sepi.
Ia mengedarkan pandangannya, berharap ada tempat ramai untuk menunggu ojek online.
Namun, sayang, ketika ia mengorder beberapa kali mendapat cancel dari para pengemudi ojol tersebut, karena mereka tak berani membawa penumpang di waktu yang sangat rawan seperti sekarang ini. Riri terlihat cemas seorang diri, bahkan ia merasa was-was, takut jika ada orang berniat jahat yang mendekatinya.
Menengadahkan pandangan, ia berusaha berdoa dalam hati untuk menenangkan pikiran dan meminta perlindungan kepada Tuhan.
Tak lama kemudian, mobil sport mewah tepat berhenti di sebelahnya, lalu sang pengemudi membuka kaca dan tersenyum.
"Tuan muda," sapa Riri dengan senyuman, tak menyangka Liam akan menemukannya.
Lelaki itu melambai. Riri memandang pintu mobil Liam dengan canggung, ragu apakah seharusnya ia masuk. Liam keluar dari dalam kendaraan, tindakan penuh perhatian saat ia membukakan pintu mobil untuk Riri.
"Memangnya tidak apa-apa?" Riri bertanya dengan dahi yang berkerut heran atas sikap perhatian sang majikan, di disisi lain mencoba menyembunyikan kebingungan di balik ekspresi wajahnya. Tatapan tajam Liam membuat gadis itu merasa lebih ragu.
"Sudah, masuklah!" Ajakan Liam terdengar tegas. Riri merasa tidak pantas berada di dekatnya, terlebih setelah Liam baru saja bertunangan.
"Memangnya boleh, ya?" Riri bertanya lagi dengan canggung, mencari kepastian. Liam meraih tas punggung Riri penuh kehati-hatian, memasukkannya ke dalam bagasi mobil dengan penuh perhatian.
"Udah, ayo naik!" Liam mengajaknya, memaksa Riri untuk menyingkirkan keraguan dalam dirinya. Gadis itu mengangguk pelan.
"Te-terima kasih, Tuan," ucapnya gugup sambil naik ke dalam mobil mewah itu. Riri menatap Liam dengan tangan gemetar saat memasang seatbelt.
Liam menyalakan kembali mesin mobil, kendaraan roda empat itu meluncur di tengah kegelapan malam.
"Tuan, apakah tidak masalah kalau Anda bersama saya?" tanya Riri dengan suara yang terdengar lirih, pandangannya tetap terpaku pada dashboard. Liam tersenyum.
"Loh, masalahnya dimana? Lagian, tidak baik perempuan sendirian di malam hari. Ini sudah jam 2 lebih, lho. Kamu tidak takut, apa?" Liam berbicara sambil sesekali melirik Riri di sampingnya.
"Saya hanya merasa tidak enak saja, Tuan," Riri berbisik pelan, mencoba menyembunyikan kecemasan.
"Kamu tidak perlu khawatir. Ngomong-ngomong, saya minta maaf atas perbuatan Karina saat di acara tadi." Reflek, Liam mengusap punggung tangan Riri sebagai permintaan maaf.
Detak jantung Riri mempercepat sambil menggigit tepi bibir, merasakan sentuhan telapak tangan Liam di punggung tangannya.
Keinginan untuk menjauh bertentangan dengan kenyamanan yang ia rasakan, membiarkan sentuhan Liam berlangsung lebih lama, hati dan perasaannya pun meleleh.
Aroma maskulin dari tubuh Liam meningkatkan indera Riri, membuat getaran di hati semakin terasa.
"Eh, maaf Tuan," ucap Riri sambil menarik lengannya, menghadapi ketidakpastian karena perbedaan status diantara mereka.
"Ups, sorry," kata pria tampan itu, kedua tangannya kembali memegang kemudi mobil.
"Tuan dari mana, sebenarnya?" Riri menatap lurus keluar jendela mobil.
"Aku baru pulang dari apartemen Karina. Untung saja aku melihatmu tadi," jawab Liam, sambil terus menoleh ke arah Riri dengan senyuman.
Gadis itu memejamkan mata sejenak, mengambil napas dalam untuk meredakan kecanggungan ini.
"Astaga, kenapa Tuan muda terus melihatku begitu? Kuatkan aku, Tuhan..." batin Riri yang tak bisa menahan pesona sang majikan.
"Kamu sudah ngantuk?" tanya Liam melihat gelisah di wajah Riri.
"Eh, ehmm... lumayan," jawab Riri dengan canggung, tiba-tiba Liam mengusap pucuk rambutnya dengan penuh kelembutan.
"Tidurlah kalau ngantuk. Nanti aku akan membangunkan mu jika sudah sampai," perintahnya, membuat Riri kikuk dan tak tahu harus bagaimana untuk merespons.
"Tanggung Tuan, sebentar lagi juga akan sampai," ucap Riri, kedua pipinya tampak memerah.
Liam menambah kecepatan kendaraan tersebut, membelah malam yang sunyi, hingga akhirnya mereka tiba di halaman Mansion yang luas dan megah.
Kendaraan berhenti, dan Riri melepas seat belt dengan sedikit kesulitan. Liam melihat wajahnya, lalu dengan inisiatif membantu melepas seat belt yang masih membentang di tubuh Riri.
Refleks membuat kulit tangan mereka bersentuhan, dan keduanya saling bertukar pandang selama beberapa detik dalam posisi tersebut.
"Maaf, kadang ini suka macet, aku belum sempat membetulkannya," jelas Liam. Riri hanya mengangguk, lalu membuka pintu mobil secara perlahan.
"Ehm... Tuan, terimakasih banyak," ucapnya, dan Liam merespon dengan senyuman. Ia beralih ke bagasi, mengambil tas punggung milik Riri.
"Ayo!" ajaknya sambil menenteng tas tersebut. Riri berusaha meminta tasnya kembali, tetapi Liam tetap membawakan.
"Biar, aku akan antar kamu sampai kamar, kamu pasti cape bawa tas seberat ini," kata Liam sambil berjalan di depan Riri. Lampu-lampu sudah dimatikan, dan suasana terasa sepi.
Liam berhenti sejenak, menunggu langkah Riri yang tertinggal. Saat gadis itu hendak menaiki anak tangga, dengan cepat Liam menuntun tangannya untuk masuk ke dalam lift bersama-sama.
"Tu-Tuan, saya kan seharusnya tidak boleh menggunakan lift," tolaknya, tetapi Liam memaksa agar Riri masuk hingga gadis itu patuh dan menunduk.
Riri mengikis jarak di antara mereka saat berada di dalam lift menuju lantai 3.
Lampu indikator menunjuk ke lantai 3, dan tidak lama kemudian pintu lift terbuka. Keduanya melangkah keluar, menuju depan kamar. Saat sampai di depan pintu, Liam ramah menyerahkan tas Riri.
"Ini tasmu. Beristirahatlah. Kamu tidak perlu khawatir kalau bangun telat. Nanti aku yang akan memberi tahu Papa dan Mama," ujar Liam dengan penuh perhatian, melihat wajah pucat dan kelelahan Riri. Gadis itu mengangguk.
"Tidak apa-apa, Tuan. Saya akan berusaha bangun pagi-pagi," jawab Riri, merasa tak enak. Liam menggeleng.
"Tidak! Kamu pasti sangat lelah, dan butuh istirahat yang cukup untuk memulihkan kondisi tubuhmu. Aku tidak ingin kamu jatuh sakit karena kelelahan," ujar Liam dengan perhatian, mengelus lembut pucuk kepala Riri lagi dan lagi.
"Sana, masuklah ke dalam kamarmu, dan segera tidur!" perintahnya, lalu melangkah pergi. Riri masih diam, terpaku menatap punggung Liam yang perlahan menjauh.
"Apakah Tuan muda memang baik kepada siapapun?" batin Riri heran, mencerna sikap hangat Liam padanya.
...
Pukul 5 subuh telah tiba, menandakan awal hari bagi Riri. Meskipun masih merasa lelah dan kantuk, ia bersiap-siap untuk memulai aktivitasnya. Dengan pinggang dan kepala yang terasa sakit, Riri mengusir kemalasan, membangkitkan ambisi dan semangatnya, teringat akan kebutuhan untuk bekerja keras demi mengatasi kemiskinan.
"Alamak, pinggangku," keluh gadis cantik itu, merasakan ngilu dan nyeri setelah hari yang melelahkan kemarin. Dengan tekad, ia membuka laci nakas dan mengambil minyak urut yang dibawa dari rumah.
"Duh, tubuhku rasanya dingin sekali, apa aku mau sakit, ya?" ia bergumam kecil, tetapi tidak memperlihatkan keluhan berlebihan.
Membalurkan minyak urut berwarn coklat, ia menggosok perlahan di tengkuk, pundak, dan lehernya, merasakan sensasi hangat meresap ke dalam kulit.
"Aku sebaiknya tidak mandi dulu," pikirnya. Riri beranjak, mengganti piyama tidurnya dengan seragam. Tiba-tiba, terdengar ketukan pintu dari luar.
"Riri," panggil seseorang dengan nada. Riri mengenali pemilik suara itu, membuka pintu, dan bertemu dengan Wina yang terlihat siap mengenakan pakaian di luar pekerjaan.
"Eh, kamu Win," sapanya. "Loh, kamu mau olahraga?" tanya Riri, Wina tersenyum.
"Kemarin Nyonya besar suruh, pagi ini kita di ajak senam aerobik dulu. Kamu ganti pakaian gih!" ujar Wina. Riri agak bingung.
"Oh, gitu ya," kata Riri, tanpa banyak basa-basi, ia kembali masuk ke dalam kamar, lalu mengganti pakaian dengan celana panjang berbahan kain yang nyaman untuk berolahraga, serta baju kaos tangan panjang, dengan rambut diikat ke belakang.
"Ayo!" Wina menuntun lengan Riri, saat itu pukul 6 pagi. Mereka berdua bergabung dengan beberapa Maid yang sudah berkumpul di halaman Mansion. Iringan musik menggema, dan suasana ceria tercipta.
Rindy, Ima, dan Nia, seperti biasa, melemparkan pandangan sinis pada Riri sambil berisik-bisik.
"Astaga, bau minyak urut!" cibir Rindy sambil menutup hidungnya.
"Kayak nenek-nenek saja!" sambung Nia dengan kekehan dengki.
"Dasar jompo!" seru Ima, mendorong bahu Riri dengan kasar.
Bu Mauri tiba bersama instruktur senam yang ia undang secara khusus. Semua mengambil posisi berbaris secara rapih dan menjaga jarak.
Liam baru bangun, mendengar irama musik dan melihat para gadis Maid sedang melakukan gerakan senam di bawah sana. Kedua matanya terbuka lebar ketika melihat satu orang yang berhasil memikat perhatiannya.
Senyum muncul di wajahnya saat menyaksikan para gadis Maid dengan penuh semangat melakukan senam yang energik.
Dalam keheningan pagi, tiba-tiba pintu kamar terbuka dengan kasar.
Karina, hadir secara tiba-tiba tanpa memberi tahu Liam terlebih dulu jika ia akan datang pagi ini.
Wajahnya dipenuhi kejutan dan kecewa, memasuki ruangan.
Sorot matanya menusuk, melihat Liam sedang terpaku, memandangi Riri dengan intens. Suasana terasa tegang, dan pertanyaan besar pun melayang: Bagaimana Karina akan menghadapi momen ini?
...
Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments