Tercebur

Setelah berpamitan, Riri bergegas untuk kembali menuju Mansion. Namun, entah mengapa bayangan ciuman Liam selalu menari-nari dalam ingatannya, membuat gadis itu tak konsen saat mengendarai sepeda motor, hampir saja ia menabrak orangtua saat menyebrang.

"Eee... Buset." Riri mengendalikan laju sepeda motornya yang oleng, hingga ban depannya mengenai trotoar, tubuhnya terjungkal dan tercebur lumpur, membuat seluruh tubuhnya kotor dan menghitam. "Oalah, astaga."

Nenek-nenek yang hampir tertabrak olehnya itu menghampiri dengan ekspresi kaget, beserta orang-orang yang berdatangan untuk menolong Riri dan mengevakuasi sepeda motornya.

Gadis itu sesegukan, saat berhasil keluar dari kubangan lumpur, karena saat itu jalanan sedang di perbaiki.

"Duh, apes! Apes!" isaknya, dan seorang pria membawa selang air, lalu menyemprotkan air bersih itu untuk membasuh tubuh Riri yang kotor.

Tak sedikit juga yang menertawakan keadaan Riri, hingga merekam dan menyebarkan video sampai viral.

Riri menyadari akan hal itu, ia bangkit lalu memaki 2 orang remaja yang jahil saat mengarahkan kamera posel kearahnya. "Heh, apa nih maksudnya pake ngevideo in segala?" bentaknya sambil membelalak, 2 remaja itu bukannya takut, mereka malah terkekeh melihat kemarahan Riri.

"Ada yang luka?" tanya seorang pria penuh dengan perhatian, Riri menggeleng.

"Untungnya saya tidak kenapa-napa, cuma malunya itu loh," jawab Riri sembari cengengesan menertawakan dirinya sendiri.

Lantas, ia segera menghampiri sang Nenek yang hampir tertabrak barusan. "Nek, saya minta maaf, nyaris saja saya hilang kendali." Sambil meraih tangan keriput itu lalu menciumnya penuh rasa hormat.

Nenek itu mengelus rambut Riri yang basah, dan sekujur tubuhnya juga sudah basah.

"Tidak apa-apa, lain kali hati-hati kalau bawa kendaraan," ujar sang Nenek, Riri mengangguk.

"Iya Nek, sekali lagi maafkan kesalahan saya." Riri mendekap sang Nenek, tampaknya wanita itu sangat senang dan welcome saat menerima pelukan dari Riri seperti kepada cucunya sendiri.

Semua orang terharu menyaksikan keduanya.

"Mbak, motornya sudah selesai di bersihkan." Helmi menepuk bahu Riri, dan gadis itu menoleh sambil tersenyum.

"Oh, ya, ya, terimakasih banyak ya, Mas, maaf jadi ngerepotin," kata Riri, Helmi menggeleng."Ah, tidak apa-apa, kami senang kok membantu dan menolong orang yang sedang kesusahan," ujarnya, sembari menghidupkan mesin motor Riri.

"Gak ada kerusakan, ya." Helmi mencoba menggas motor tersebut untuk uji coba, Riri mengangguk dengan hati yang lega, karena motor itu tak mengalami rusak ataupun kecacatan usai dirinya jatuh.

"Sekali lagi terimakasih, ya," ucapnya, seraya menaiki kendaraanya.

Setelah berpamitan kepada semua orang, Riri kembali melanjutkan perjalanan menuju Mansion.

Tak butuh waktu lama, ia tiba, dan kehadirannya sudah di nantikan oleh Rindy beserta yang lainnya.

Wanita itu menatap Riri penuh keheranan. "Kenapa baju kamu pada basah semua? Hujan memangnya? Perasaan, di luar lagi panas." cecar Rindy dengan pertanyaan seraya berkaca pinggang.

Sementara Nia dan Ima menertawakannya.

"Abis pulang dari dunia lain, kamu?" ledek Ima yang masih terkekeh sinis.

"Ehm... Anu, kecebur lumpur barusan," jawab Riri, tubuhnya merasa tak nyaman, ia ingin segera mengganti pakaian.

Lantas, Bu Mauri tiba-tiba muncul di belakang Riri.

"Ya Tuhan, apa yang terjadi denganmu?" Wanita paruh baya itu menyentuh pundak Riri, lantas gadis itu menceritakan peristiwa saat di jalan, membuat Bu Mauri menggelengkan kepalanya penuh dengan keprihatinan.

"Ya sudah, sebaiknya kamu segera ganti pakaianmu," perintahnya, Riri bingung. "Tapi, saya hanya ada satu seragam, Nyonya," jawab Riri, Bu Mauri tampaknya tak mempermasalahkan.

"Untuk hari ini kamu pakai baju biasa saja, karena kamu belum punya seragam cadangan," ujarnya dengan bijaksana.

Gadis itu mengangguk, lalu mencium tangan sang majikan, dan berterimakasih dengan ketulusan serta kebaikan Bu Mauri yang tak memarahinya.

Riri masih tak habis pikir dengan rentetan kejadian hari ini, terlebih ia terus mengingat ciuman itu, sampai-sampai ia tersenyum sambil memijat lembut bibirnya, merasa bibir Liam masih menempel di sana. Namun, dengan cepat ia menepis lamunan itu.

"Astaga, mikir apa sih aku ini? Ri, sadar diri napa! Kamu itu hanya babu di rumah ini, dia itu majikan kamu Ri, kamu bukan levelnya dia!" Riri merutuki dirinya sendiri, menepis bayangan tentang Liam yang terus bergelayut dalam ingatannya.

"Lagian, Tuan muda itu sebentar lagi akan bertunangan, dan calon tunangannya juga cantik, sedangkan kamu? Burik. Hahaha..." lanjutnya menertawakan diri sendiri.

"Udah ah, ngapain juga aku terus mikirin Tuan muda." Riri segera mandi dan mengganti pakaiannya yang kebasahan. Sebagai gantinya, ia memakai kaos dan celana panjang yang ia bawa dari rumah.

***

Sedangkan di tempat lain...

Saat pekerjaan selesai, tepatnya pada pukul 8 malam.

Liam mulai merapikan meja kerja dan mematikan layar komputer. Tiba-tiba, Karina datang, wanita itu baru saja pulang dari acara temannya.

Liam terkejut melihat Karina, wajahnya terlihat kusut karena terlalu lama berkutat dengan pekerjaan.

"Loh, kok kamu datang gak kabarin?" tanya Liam dengan ekspresi malas. Karina mendekati dan memeluk tangannya, lalu menempelkan dagunya di bahu Liam dengan manja.

"Aku cuma kangen," ucap Karina sambil mendekap. Liam seolah keberatan dan meloloskan diri dari pelukan Karina tanpa memberikan respons yang hangat.

"Ih, kenapa sih?" Karina mengepalkan tangannya, kesal dengan sikap Liam yang kurang ramah.

"Aku cape, aku ingin pulang, dan istirahat!" bentak Liam dengan nada tinggi.

"Cape? Kamu bilang cape? Padahal kerjamu hanya duduk sambil mantengin layar monitor, masa gitu aja bilang cape!" Karina tersenyum meremehkan, seolah-olah menganggap pekerjaan Liam enteng.

"Berani kamu ngomong begitu?" bentak Liam frustasi.

"Coba kamu ada di posisi aku dan kerjakan semua pekerjaanku! Kamu apa masih berani bilang seperti itu, menganggap pekerjaanku ini enteng! Pikir pakai otak!" Liam mendorong kepala Karina dengan telunjuknya, emosinya mencuat.

"Ih, kamu itu gak sopan banget sih! Aku ini calon tunangan kamu, otomatis calon istrimu, setidaknya kamu hargai aku!" bentak Karina dengan mata menyala amarah, tak terima dihina oleh lelaki yang akan segera menjadi tunangannya.

"Ya salahmu sendiri, makannya punya mulut itu dijaga! Kamu cantik, berpendidikan tinggi, tapi tak punya etika!" Kesabaran Liam sudah habis, dan percekcokan terjadi di ruangan mereka.

...

"Cukup, Liam! Sekarang antar aku pulang ke unit apartemenku!" pinta Karina tanpa menghiraukan ucapan lelakinya. Liam menghela napas dalam-dalam, berusaha menjaga ketenangannya di tengah amarah yang memuncak akibat keegoisan Karina.

"Baik, aku akan antar kamu pulang!" Liam menarik lengan Karina dengan kasar. Mereka keluar dari ruangan kerja dan berjalan menuju basement. Di dekat mobil, Liam membuka pintu dengan kasar.

"Cepat masuk!" Liam mendorong tubuh Karina, namun gadis itu mencubit lengan Liam dengan kencang.

"Aaah..." Liam berteriak, hampir membalas dengan pukulan pada calon tunangannya. Namun, ia berhasil menahan emosi agar tidak kehilangan kendali.

Karina terus overacting di depan lelaki tersebut, sesegukan dengan air mata yang mengalir di kedua pipinya.

"Kamu tega!" bentaknya, membuat Liam semakin pusing menghadapi sikap Karina yang terlalu berlebihan.

"Maafkan aku, sayang," ucapnya sambil menggenggam lengan Karina, sementara tangan yang lain fokus memegang kemudi.

"Kalau kamu berani sampai pukul aku, akan aku adukan kepada kedua orangtuamu!" ancam Karina. Liam memutar kedua matanya jengah.

"Ya Tuhan, cukup sudah cobaanMu ini. Batas kesabaranku hampir habis," batinnya. Meski dalam keadaan marah, ia terpaksa berpura-pura lembut pada Karina, tidak tahu sampai kapan kepura-puraan ini akan berlanjut.

...

Hingga mereka tiba di basement apartemen yang ditempati oleh Karina, Liam mengantarnya sampai depan pintu unit. Namun, saat membuka pintu, Karina tiba-tiba menarik lengan Liam dan membawanya masuk secara paksa, meski Liam berusaha menolak.

"Karin, aku harus pulang!" bentaknya, namun wanita itu menatap penuh rayu, terus memaksanya untuk ikut masuk.

"Ayo sebentar saja!" paksa Karina, setelah berhasil membujuk Liam untuk masuk, ia dengan cepat menutup pintunya.

"Apa yang kamu mau, hah?" tanya Liam tanpa sudi menatap wajah kekasihnya. Karina melorotkan tali dress di hadapan lelaki tersebut, memperlihatkan belahan bukit kembarnya yang sangat mulus dan menggoda iman.

"Ayo kita lakukan!" ajaknya, Liam tetap membuang muka.

"Aku tidak mau, karena ini belum saatnya!" tolaknya. Namun, Karina terus memaksa dengan berbagai upaya.

"Apa salahnya, sih? Kita ini kan sebentar lagi akan menikah," ujar Karina penuh godaan.

Bahkan Karina membuka dressnya, membiarkan pakaian itu meluncur melalui kaki jenjangnya sebelum akhirnya menyentuh permukaan lantai.

Kini tubuh Karina hanya tertutup oleh underwear, tanpa ragu dan malu. Ia mengalungkan kedua tangannya di leher Liam, meski Liam tetap bergeming tanpa menunjukkan tindakan agresif meskipun gadis itu terlihat sangat cantik dan mempesona.

"Karina, apa kamu sudah gila?" cibirnya, tanpa kehilangan kekuatan, Karina mencoba mencium bibirnya. Namun, Liam dengan segenap kekuatannya mendorong tubuh Karina hingga terjengkang ke belakang.

...

Bersambung...

Episodes
1 Melamar kerja
2 Babu Elit
3 Tuan Muda tampan
4 Kejadian tak terduga
5 Sorotan sinis
6 Ciuman gara-gara sambal
7 Tercebur
8 Hukuman
9 Bully
10 Insiden di acara pertunangan
11 Perhatian kecil
12 Fitnah
13 Kiss
14 Merawat Tuan Muda
15 Skandal Karina
16 Salting
17 Menyelamatkan Riri
18 Datang bulan
19 Mimpi indah
20 Cewek bar-bar
21 Di pecat
22 Mendadak menikah
23 Izin menginap
24 First Day To Be My Wife
25 Bertemu Mantan
26 Mandi bareng
27 Secret Wife
28 Kembali ke Mansion
29 Cemburu
30 Liburan
31 Villa Lembang
32 Kissing
33 Masih liburan
34 Unboxing
35 Pengganggu
36 Heartache
37 Annoyed
38 Ujian Pernikahan
39 Mendiamkan
40 Paksaan
41 Kenikmatan singkat
42 Tidur bersama
43 Dicurigai
44 Gaun pengantin
45 Pengganggu
46 Surprise
47 Penemuan mengejutkan
48 Hoarding Disorder
49 Mencari bukti
50 Noda lipstik
51 Menonton
52 Terbongkar
53 Malam penuh gairah
54 Pregnant?
55 Pembatalan Kontrak Kerjasama
56 Mimpi buruk
57 Kekecewaan
58 Rencana untuk pergi
59 Aku Pergi
60 Kehilangan
61 Siapa yang bertengkar?
62 Mencari Pekerjaan
63 Semakin dekat
64 Terungkap
65 Hampir saja
66 Mengikuti
67 67
68 68
69 69
70 70
71 71
72 72
73 73
74 74
75 75
76 76
77 77. Pernikahan
78 78
79 79
80 80
81 81
82 82
83 83
84 84
85 85
86 86
87 87
88 88
89 89
90 90
91 91
92 92
93 93
94 Ch 94
95 95
96 96
97 97
98 98
99 99
100 100
101 101
102 102
103 103
104 104
105 105
106 106
107 107
Episodes

Updated 107 Episodes

1
Melamar kerja
2
Babu Elit
3
Tuan Muda tampan
4
Kejadian tak terduga
5
Sorotan sinis
6
Ciuman gara-gara sambal
7
Tercebur
8
Hukuman
9
Bully
10
Insiden di acara pertunangan
11
Perhatian kecil
12
Fitnah
13
Kiss
14
Merawat Tuan Muda
15
Skandal Karina
16
Salting
17
Menyelamatkan Riri
18
Datang bulan
19
Mimpi indah
20
Cewek bar-bar
21
Di pecat
22
Mendadak menikah
23
Izin menginap
24
First Day To Be My Wife
25
Bertemu Mantan
26
Mandi bareng
27
Secret Wife
28
Kembali ke Mansion
29
Cemburu
30
Liburan
31
Villa Lembang
32
Kissing
33
Masih liburan
34
Unboxing
35
Pengganggu
36
Heartache
37
Annoyed
38
Ujian Pernikahan
39
Mendiamkan
40
Paksaan
41
Kenikmatan singkat
42
Tidur bersama
43
Dicurigai
44
Gaun pengantin
45
Pengganggu
46
Surprise
47
Penemuan mengejutkan
48
Hoarding Disorder
49
Mencari bukti
50
Noda lipstik
51
Menonton
52
Terbongkar
53
Malam penuh gairah
54
Pregnant?
55
Pembatalan Kontrak Kerjasama
56
Mimpi buruk
57
Kekecewaan
58
Rencana untuk pergi
59
Aku Pergi
60
Kehilangan
61
Siapa yang bertengkar?
62
Mencari Pekerjaan
63
Semakin dekat
64
Terungkap
65
Hampir saja
66
Mengikuti
67
67
68
68
69
69
70
70
71
71
72
72
73
73
74
74
75
75
76
76
77
77. Pernikahan
78
78
79
79
80
80
81
81
82
82
83
83
84
84
85
85
86
86
87
87
88
88
89
89
90
90
91
91
92
92
93
93
94
Ch 94
95
95
96
96
97
97
98
98
99
99
100
100
101
101
102
102
103
103
104
104
105
105
106
106
107
107

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!