Karina diam-diam memperhatikan Liam yang tengah tersenyum saat memandang Riri di bawah sana. Emosi gadis itu membuncah, hatinya bak terbakar api yang berkobar, kedua matanya melebar, dengan kening berkerut, serta napas yang dihirup secara kasar.
"Oh, bagus ya, senang kamu memperhatikan babu jelek itu," cibir Karina secara mengejutkan; Liam sontak menoleh ke arah wanita tersebut dengan perasaan risih.
"Kamu, untuk apa kamu datang kemari pagi-pagi?" tanya lelaki itu dengan santai seakan tak terpancing, tetap saja gejolak amarah Karina semakin naik.
"Memangnya tidak boleh, kalau aku datang menemui calon suamiku kapanpun aku mau?" mendekat ke arah Liam, dan berupaya memeluknya dari belakang. Namun, lelaki itu berupaya menghindari kontak fisik dengannya.
"Kamu tahu? Masuk ke kamar orang tanpa izin itu namanya tindakan yang tak sopan!" tegur Liam; tampak Karina tak terpengaruh sama sekali, baginya hal itu adalah biasa, toh, sebentar lagi Liam akan menjadi suaminya.
"Aku ini kan calon istrimu, jadi bebas dong kalau aku masuk ke kamar calon suamiku sesuka hati, nanti juga kita akan bersama-sama, iya, kan?" goda Karina dengan memasang wajah manja membuat Liam jengah melihatnya.
"Ngomong-ngomong, kamu kenapa belum siap-siap berangkat ke kantor?" tanya Karina seraya menjatuhkan bokongnya ke tepi tempat tidur, lalu meraih kotak rokok, mengambil satu batang, kemudian menyalakannya tepat di hadapan Liam.
"Aku sudah izin Papa untuk masuk agak siang," jawabnya dengan ekspresi datar.
Sementara lelaki itu sama sekali tak respek terhadap wanita perokok. Karina benar-benar jauh dari tipenya. Namun, apa boleh buat, mereka saat ini sudah terikat dalam pertunangan yang tak mungkin bisa untuk menghindarinya.
Liam mulai kesal, ia merebut batang rokok itu dari tangan Karina, dan mematikan dengan cara menekan ujung rokok tersebut dengan asbak.
"Aku tidak suka melihatmu menghisap rokok!" tegur Liam; Karina tetap tak terpengaruh, ia menganggap teguran Liam seperti angin lalu.
Wanita itu seakan tak patuh, ia kembali meraih batang rokok yang baru dan menyalakannya, lalu memainkan asap nikotin itu dengan penuh keasyikan seperti tengah meledek Liam yang sedang marah.
Lelaki itu menggeleng melihat tingkah laku Karina yang bandel, dan sama sekali tak mematuhi aturannya.
"Arrgh!" Liam mengacak rambut frustasi dengan keadaan ini, lantas ia hendak melangkah keluar kamar di sertai gerakan kasar.
"Terserah!" teriaknya penuh emosi; Karina hanya menanggapi dengan senyuman sinis, sambil terus menyesap sensasi asap rokok yang memenuhi ruang mulutnya.
Liam terduduk lemas di atas sofa, kasar mengusap wajah sebagai tanda ketegangan yang merebak memenuhi ruang hati, di hantui oleh bayangan buruk tentang masa depan bersama Karina jika hidup bersamanya kelak.
"Tuhan," ia bergumam pelan, mata tegang mencerminkan pikiran yang kacau.
Untuk mengusir kekacauan dalam pikiran, Liam memutuskan untuk memainkan game di ponselnya. Saat sedang asyik dengan permainan, Karina tiba-tiba kembali mendekat.
Dengan acuh tak acuh, Karina mengambil permen dari dalam tasnya, membuka, dan melemparkan kemasan permen rasa jeruk itu ke sembarang arah. Tatapan tidak setuju muncul di mata Liam.
"Pungut kembali dan buang kemasan permen itu!" tegurnya, menunjuk cangkang permen yang tergeletak di bawah lantai. Karina menaik turunkan bahu dengan enggan.
"Disini kan ada babu, ya itu tugas mereka lah," jawabnya angkuh, membuat Liam kesal. Ia menghempaskan ponselnya ke sofa, berdiri tegak di hadapan Karina yang sedang duduk santai, merasakan sensasi manis-asam permen di mulutnya.
"Cepat buang! Kamu ini jorok sekali jadi perempuan!" perintah Liam dengan suara yang tegas.
Tepat saat itu, Riri lewat di depan mereka. Karina melihat ini sebagai kesempatan.
"Heh, babu jelek!" panggilnya dengan secara tidak hormat. Riri terdiam, merasa terhina atas ucapan tunangan majikannya tersebut.
"Saya Non?" tunjuk Riri pada dirinya sendiri. Karina mengangguk dengan angkuh.
"Ya kamu lah, siapa lagi!" jawabnya dengan enteng. Meski Liam ingin membela Riri, ia memilih untuk tidak berdebat agar tidak membuat Karina cemburu dan memperkeruh masalah.
"Pungut tuh sampah!" tunjuk Karina ke bawah lantai. Riri berjongkok dan mengambil cangkang permen dengan segera, setelah itu ia kembali berdiri.
"Maaf, saya permisi," pamit gadis tersebut sambil tertunduk hormat. Karina cepat menghentikannya.
"Eit, tunggu!" Ia menarik tangan Riri dengan kuat, membuat gadis itu meringis kesakitan.
"Buatkan sarapan untuk kami berdua, oh ya, buatkan kami pasta!" perintahnya. Riri mengangguk patuh.
"Baik, Non," jawabnya.
"Dan ingat! Harus kamu yang buatkan, karena saya ingin tahu rasa masakanmu seperti apa!" tantang Karina. Riri kembali mengangguk tanpa berani mengangkat wajah.
Riri bergumam dalam hati, "cantik-cantik kok sifatnya kaya setan!"
Ia merasa bingung, antara harus kembali ke dalam kamar untuk bersih-bersih dan mengenakan seragam kerja; di satu sisi, ia sudah dinantikan oleh Karina.
"Ah, sebaiknya aku masak dulu saja." Gadis itu bergegas menuju dapur, meraih bahan-bahan masakan yang tersedia di pantry minimalis.
Mulai berkutat dengan bahan-bahan tersebut, tangannya tampak gemetar, pertanda bahwa ia sangat canggung ketika hendak memulai.
Suara peralatan masak terdengar memenuhi ruang dapur; ia kerepotan seorang diri seakan tidak memiliki banyak waktu untuk diam dan berpikir.
Sampai akhirnya ia berhasil menyajikan pasta dengan tampilan yang sangat menggugah selera.
"Ah, akhirnya beres juga," gumam Riri, merasakan kelegaan di dalam hati saat hasil masakannya terplating dengan cantik di atas piring.
Ia membawakan dua piring itu menuju meja makan keluarga; di sana, Karina sedang menantikannya sambil berdiri dengan penuh kesombongan.
"Sudah selesai, Non. Silahkan." Riri menata dua porsi pasta di atas meja makan, beserta kopi untuk Liam.
"Minuman buatku mana?" pinta Karina; Riri tampak kikuk. "Ehm... Memangnya Non mau saya buatkan apa?" tawarnya dengan sopan.
"Lemon tea, ingat! Pakai gula non kalori!" pintanya dengan nada ketus. Riri mengangguk dan mulai menyajikan pesanan untuknya.
...
Beberapa saat kemudian...
"Ini Non, silahkan." Meletakan secangkir lemon tea di atas meja dengan sangat hati-hati.
"Sana! Kamu bau keringat!" usir Karina sembari mengibaskan tangan, seakan tidak menginginkan Riri berada di dekatnya.
Karina mengedarkan pandangan, membaca situasi; setelah dirasa aman, ia meraih bubuk cabe, lalu menaburkannya pada makanan Liam, setelah itu mengaduk makan tersebut sambil tersenyum licik.
"Mampus kamu, babu jelek! Dengan ini Liam pasti ngamuk-ngamuk!" batin Karina yang tidak sabar menunggu reaksi Liam saat menyantap makanan pedas, karena ia alergi pada rasa pedas.
Tak lama kemudian, Liam tiba setelah mandi dan berpakaian kantor dengan rapih. Karina penuh perhatian, ia menyeret kursi untuk Liam duduk.
"Silahkan, sayang," titahnya. Lelaki itu duduk, dan mulai mengaduk pasta, lalu menyuapkannya ke dalam mulut. Namun, lama-kelamaan sensasi pedas itu seakan membakar mulutnya.
"Huh... Huh... Huh... Kenapa ini pedas sekali?" Liam mengibas-ngibas bibir, kulitnya kemerahan, dengan dada yang terasa sesak.
Karina yang sengaja, ia berpura-pura panik. Beranjak dan mengambilkan air minum untuknya.
Wajah dan tubuh Liam memerah, menandakan reaksi alergi yang luar biasa. Ia mengendorkan dasi dan membuka tiga anak kancing kemejanya, kesulitan menahan sensasi yang tidak tertahankan.
Bu Mauri panik melihat keadaan putranya yang tampak tersiksa.
"Ya Tuhan, Liam, kenapa bisa seperti ini?" wanita paruh baya itu sibuk menangani kondisi Liam.
"Ini semua karena perbuatan pembantu baru itu!" Karina mulai melancarkan taktik, mencoba memfitnah Riri, membuat Bu Mauri membelalak penuh amarah.
"Mah, tolong aku, Ma. Napasku sesak." Liam memegangi dada, napasnya berat dan terengah-engah.
"Tante, kita harus menelpon dokter," usul Karina, dan Bu Mauri setuju.
"Ya sudah, kamu telpon dokter, biar Liam Tante yang menangani." Bu Mauri memapah Liam, membantu duduk di atas sofa, lalu membalur dadanya dengan minyak kayu putih dan memberikan air minum untuk menetralkan rasa pedas di mulutnya.
...
Sementara itu...
Rindy mengetuk kamar Riri dengan kasar; tak lama kemudian, gadis itu membukakan pintu.
"Heh, kamu apain Tuan muda?" tanya Rindy sambil berkaca pinggang. Riri mengernyitkan dahi, heran dan tidak paham atas pertanyaan seniornya tersebut.
"Maksud Mbak Rindy?" tanya Riri. Rindy mendorong bahu Riri kasar.
"Kamu lihat sendiri! Gara-gara dia makan masakan kamu, dia sampai kepedasan dan sesak napas. Harusnya kamu tahu, dia itu alergi terhadap masakan pedas. Kalau ada apa-apa dengan Tuan muda. Siap-siap deh kamu masuk penjara!" ancam Rindy, membuat Riri menggeleng tak habis pikir.
"Apa? Tuan muda kepedesan? Padahal aku sama sekali tak menambahkan cabai atau saus ke dalam makanannya. Aku hanya menambahkan keju mozarela dan tumis sayuran serta daging ke pasta bikinanku," batin Riri dengan wajah yang tegang dan dada yang berdebar.
"Sana!" Rindy mendorong punggungnya, supaya Riri mempertanggung jawabkan perbuatannya itu.
...
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments