Diam-diam, Liam mengikuti kemana mobil Kevin melaju. Sampai akhirnya, mobil tersebut berbelok ke gapura perumahan, dan Liam masih berada di belakangnya dengan senyap.
"Loh, kok malah belok ke sini, sih, Pak?" tanya Riri dengan perasaan tak tenang, Kevin menyunggingkan satu sudut bibirnya.
"Kita ke rumahku dulu, masa dinner pakai pakaian kerja sih, kan aku menginginkan suasana romantis," jawabnya dengan santai, tetap saja Riri merasa tidak aman.
"Ya gak apa-apa kali, kan next time masih bisa." Riri menghela napas dalam mencoba berusaha untuk berpikir positif.
"Memang dirumah Pak Kevin ada siapa saja?" tanya Riri, Kevin yang masih fokus menyetir menjawab dengan penuh goda.
"Hmm... Nanti juga kamu tahu sendiri, rileks saja."
Ucapan itu berhasil membuat Riri kembali tidak tenang, sampai kendaraan itu tiba di sebuah perumahan kecil yang letaknya saling berjauhan satu sama lain dengan tetangga sekitarnya.
Perumahan itu tidak memiliki pagar, dan halamannya terbuka, dengan rerumputan yang menghiasi sekeliling. Tampaknya perumahan tersebut masih sangat baru, sehingga masih banyak hunian yang kosong, menciptakan suasana sepi dan hening di sekitarnya.
"Ayo!" ajak Kevin, Riri tampak canggung saat keluar dari dalam mobil, pandangannya melihat sekeliling dengan beberapa lampu taman yang mati.
Sementara itu, di sudut lain, Liam memarkir mobilnya, mengamati dari jarak yang tidak bisa dijangkau oleh Kevin dan Riri. Namun, kedua matanya masih mengawasi.
"Ih, kok sepi? Saya jadi takut," kata Riri, Kevin dengan berani melingkarkan lengannya di bahu Riri.
"Ayo kita ke dalam!" ajak lelaki tersebut, Riri yang merasa tidak nyaman berusaha melepas rangkulan tangan Kevin.
"Eh, kenapa? Gak usah jual mahal begitu dong, cantik," goda Kevin seraya menyentuh lembut dagu Riri membuatnya semakin gusar.
"Pak Kevin jangan seperti ini!" cegah Riri agar Kevin tidak lagi menyentuhnya secara berlebihan. Namun, lelaki itu dengan berani memaksa dan menyeret tangan Riri.
"Ayo kita masuk!" desaknya, Riri baru sadar ada yang tidak beres dengan sikap lelaki ini.
"Saya tidak mau, Pak, saya tunggu di sini saja, silahkan Bapak ganti pakaian dulu!" tolak Riri, Kevin membelalak tajam seakan tidak setuju, ia terus memaksanya.
"Ayo cepat, kita dinner di dalam saja, aku bisa memasak makanan enak untukmu!" ia terus menyeret pergelangan tangan gadis tersebut seakan hilang batas kesabarannya.
Liam semakin emosi melihat perlakuan Kevin terhadap pembantunya itu.
"Kurang ajar kamu, Kevin!" gumam Liam seraya meremas tangan penuh amarah.
Ia berlari kecil sebelum akhirnya muncul secara tiba-tiba di hadapan mereka berdua.
"Hei, hentikan perbuatanmu!" bentaknya, membuat Kevin dan Riri terperangah.
"Tu-Tuan Muda." Riri seakan diberikan keberanian secara mendadak saat mengetahui kehadiran sang majikan di tengah kesulitan yang ia hadapi.
Dengan tegas, ia melepaskan genggaman tangan Kevin dan berlari ke belakang tubuh Liam.
Lelaki itu maju dengan gagah berani sebelum akhirnya mencengkram kerah baju Kevin secara kasar tanpa ampun.
"Pak, Anda hanya salah paham, semuanya tidak seperti yang Bapak bayangkan," elak Kevin ketika Liam menatapnya dengan tajam penuh intimidasi.
"Lancang sekali kamu!" tanpa sudi mendengarkan pemaparan Kevin yang hanya berisi kebohongan, ia langsung melayangkan tinju telak di wajah lelaki tersebut, membuat Kevin terhempas sambil mengusap pipinya kesakitan ulah aksi keberanian Liam yang tak tertandingi.
Kevin terpancing, ia bangkit hendak memberikan balasan. Namun, Liam dengan cepat menangkis serangannya.
"Kamu mulai saat ini saya pecat!" tunjuk Liam pada Kevin yang sudah tampak tidak berdaya sambil meringis kesakitan.
Wajah Riri memucat melihat peristiwa ini, ketegangan tak terbantahkan di tengah situasi yang mendebarkan.
Ia melihat sudut bibir Kevin berdarah, dengan lebam di pelipisnya, ia takut jika Liam kehilangan kontrol atas emosinya, dan bisa menyebabkan sesuatu yang fatal jika itu sampai terjadi.
"Tuan, sudah!" cegah Riri ketika Liam hendak menyerang Kevin untuk yang kesekian kalinya.
"Awas kamu!" ancam Liam, Kevin mengeluarkan air mata tanpa bersuara. Mungkin bukan karena cengeng, itu air mata spontan karena rasa sakit yang ditimbulkan.
"Arrghh... " teriak Kevin menahan sensasi itu, dan mencoba bangkit.
Liam menuntun lengan Riri dan membawanya menjauh, lalu mendekat ke arah mobil yang terparkir agak jauh dari kediaman Kevin.
Dengan penuh kehangatan, Liam membukakan pintu untuk gadis itu.
"Terimakasih, Tuan." Riri naik dengan tubuh lemas, sementara Liam naik ke jok kemudi.
Kendaraan itu melaju dari tempat, menyisakan kenangan buruk di ingatan Riri yang mungkin sulit untuk di lupakan.
"Terimakasih Tuan, jika tidak ada Tuan, saya tidak tahu apa yang akan terjadi terhadap saya," isaknya, Liam meraih selembar tisu lalu menyerahkannya dengan wajah kecewa.
"Bukankah aku sudah memperingatkan mu saat di rumah sakit, berhati-hatilah terhadap Kevin, kenapa kamu tidak mematuhi ucapanku?" tanya Liam dengan nada tinggi, Riri masih sesegukan.
"Saya benar-benar lupa akan hal itu, karena saya pikir dia hanya akan mengajak makan malam di tempat ramai, eh ternyata malah mengajak kemari," cerocos Riri seraya mengusap air matanya yang mengalir deras membuat bedaknya luntur dalam sekejap hingga bintik-bintik merah di kedua pipi dan dahinya terungkap dengan jelas.
"Ya, tidak apa-apa, jadikan pelajaran untukmu, jangan mudah akrab dengan orang yang baru saja di kenal apa lagi memberanikan diri untuk pergi berdua, mengerti!" Liam memperingatkan dengan tegas sambil menoleh ke samping, ia terperangah melihat keadaan wajah Riri di balik dempulnya.
"Banyak sekali jerawat di wajahmu," ungkap Liam, Riri merasa malu dengan komentar itu, ia menunduk.
"Ya, ini gara-gara terkena uap minyak masakan," kata Riri dengan suara pelan, Liam tersenyum.
"Nanti aku akan berikan krim untuk menghilangkan jerawatmu itu. Kan, sayang sekali, karena jerawat kecantikanmu jadi tertutupi," ucap pria tersebut dengan penuh perhatian, Riri hanya mengangguk dalam hatinya merasa sangat malu, karena wajah Liam terlihat sangat mulus di bandingkan dirinya.
"Apa kamu lapar?" Liam melihat wajah Riri yang lemas dan pucat, gadis itu mengangguk lemah.
Pada akhirnya, mobil yang di kendarai mereka berbelok ke salah satu restoran siap saji untuk membeli hamburger lewat pelayanan drive-thru.
Liam menyerahkan paper bag hamburger itu pada Riri.
"Makanlah!" perintahnya, Riri menerima dan mengangguk.
"Terimakasih Tuan," ucap gadis itu, menikmati aroma hamburger yang sepertinya sangat lezat dan tak sabar untuk menyantapnya, tetapi ia canggung di hadapan Liam.
"Kenapa hanya dilihat? Ayo makan, bukankah kamu merasa lapar?" desak lelaki itu dengan penuh perhatian. Riri langsung menggigit dan mengunyah secara perlahan.
"Enak?" tanya Liam memperhatikan ekspresi wajah Riri yang tengah menikmati makanannya.
Gadis itu mengangguk, Liam mengacak lembut pucuk rambutnya gemas.
"Ya sudah, habiskan!" Liam kembali fokus memegang kemudi, sampai akhirnya mereka tiba di halaman Mansion.
Liam belum beranjak sebelum Riri menghabiskan makanannya.
Sesudahnya, lelaki itu meraih bekas paper bag hamburger dan membuangnya ke dalam tong sampah ketika mereka keluar dari dalam mobil.
Waktu saat itu sudah semakin larut, tampak keadaan Mansion sangat sepi, terkecuali Jujun yang sedang berjaga di pos.
Liam dan Riri berjalan menuju ruang utama dengan penerangan temaram, dan Liam mengajaknya untuk menggunakan lift.
Ketika di lantai 2, Liam hendak keluar mendahului, tetapi ia berpesan sebelum itu.
"Kamu tunggu di kamarmu, nanti aku menyusul kesana." Tanpa memberi keterangan lebih lanjut, Liam segera keluar, membuat jantung Riri berdebar kencang bertanya-tanya.
"Tunggu di kamarku? Untuk apa?" batinnya, hingga lampu indikator menunjukkan angka 3, dan Riri keluar dari dalam lift, melangkah menuju kamarnya.
Kejadian mendebarkan itu masih terbayang, tetapi yang lebih mendebarkan lagi adalah ucapan Liam barusan.
...
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments