Waktu berlalu dengan cepat di tengah keramaian persiapan acara nanti malam. Semua orang tampak sangat sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk acara pertunangan.
Di dapur hotel, para Maid dengan penuh semangat bekerja keras memasak hidangan lezat.
Setelah makan siang, ketua pengurus acara memutuskan untuk memberikan istirahat kepada kelima gadis Maid tersebut.
Riri dan Wina mendapat kamar yang sama untuk beristirahat. Wina, yang sudah sangat lelah, memilih untuk merebahkan tubuhnya.
"Win, beruntung sekali ya jadi Non Karina," ucap Riri, memecah keheningan. Wina, yang hampir memejamkan mata, tampak tertarik dengan topik yang diajukan oleh rekannya.
"Ya, aku rasa begitu karena mereka selevel, tapi, sering terdengar desas-desus bahwa Tuan muda dan Non Karina dijodohkan karena bisnis keluarga," papar Wina. Riri mengangguk-angguk, telinganya terbuka lebar mendengarkan penjelasan dari Wina.
"Dan, yang aku tahu, ketika Tuan dan Nyonya besar membahas Non Karina, Tuan muda suka marah-marah. Sepertinya dia terpaksa menerima perjodohan kedua orangtuanya," sambung Wina menjelaskan. Riri kaget, terpana, seolah tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Tapi, melihat mereka, sepertinya pasangan yang cocok dan serasi. Tuan muda ganteng, dan Non Karina juga cantik." Riri melamun, membayangkan wajah tampan Liam, hingga ia tersenyum sendiri.
"Iya, cantik sih cantik, tapi sifatnya nyebelin!" seru Wina, mengingat ketika Karina memerintahkan dirinya dengan umpatan kasar yang menyakitkan hati.
"Ya wajar lah, mereka punya kuasa, kita ini hanyalah seorang pembantu. Tapi, untungnya Tuan dan Nyonya besar baik sama kita," ungkap Riri, merasa bersyukur memiliki majikan yang rendah hati meski kaya raya dan memiliki segalanya.
"Sebaiknya kita istirahat, soalnya kita diberi waktu 3 jam. Nanti pasti pekerjaan kita bakal banyak," ujar Wina. Riri mengangguk dan turut merebahkan tubuhnya bersama Wina.
***
Singkat waktu...
Acara pun tiba, dan kelima gadis Maid kembali menyibukkan diri, semuanya tak ada yang diam.
Sampai tepat pada pukul 10 malam, acara pun dimulai. Riri dan beberapa Maid lainnya sejenak menghentikan tugas mereka untuk melihat Liam dan Karina yang akan memasuki ballroom.
Seorang MC memimpin jalannya acara yang tengah berlangsung.
"Baiklah, kita sambut bersama-sama... Tuan Liam Sanjaya dan Nyonya Karina Margareta," ucap seorang MC laki-laki, dan sorak sorai serta tepuk tangan memenuhi udara.
Kedua pasangan itu berjalan bersama-sama menapaki karpet merah. Karina menggandeng lengan Liam dengan mesra.
Beberapa komentar positif mengalun indah saling berbisik.
"Cocok, ya?"
"Iya, cantik dan tampan."
"Couple goals banget," ucap orang-orang, begitu juga dengan Riri yang sejak tadi mengembangkan senyum dari kejauhan melihat keduanya melangkah bersama-sama dengan penuh kekompakan.
Karina terlihat anggun di balik gaun cheongsam berwarna gold bercorak merah yang bernuansa tradisional, begitu juga dengan Liam yang mengenakan baju formal bernuansa modern menambah pesona dan ketampanan yang melekat pada dirinya.
(Ilustrasi)
Riri tak bisa berhenti berkedip melihat tiap gerakan tubuh Liam saat berjalan menuju kursi singgasananya di ujung sana.
"Astaga, Tuan muda ganteng sekali," batin Riri dengan penuh kekaguman.
Setelah menjalankan beberapa rangkaian acara dan seserahan, kini tibalah saatnya bagi kedua mempelai ini menukar cincin. Semua orang terlihat sangat serius menyaksikan momentum ini, dan beberapa sorot kamera berusaha mengabadikan.
Riri begitu terharu melihatnya, sampai-sampai ia menitikan air mata.
Liam melingkarkan sebuah cincin berlian bernilai fantastis dan eksklusif di jari manis Karina.
Begitu juga sebaliknya, semua orang bertepuk tangan serta beberapa doa di panjatkan untuk kelanggengan kedua pasangan yang baru bertunangan ini.
"Selamat untuk Tuan Liam dan Nyonya Karina, semoga diberikan kelancaran sampai hari H pernikahan kalian," ucap seorang MC, dan semua orang tampak sangat berbahagia.
Acara besar itu dilanjutkan dengan pesta dan makan-makan, sehingga para Maid kembali sibuk dan bekerja.
Karina menuntun lengan Liam untuk turun dari tempat mereka.
Saat itu Riri sedang membawa beberapa minuman tambahan di atas nampan dengan penuh kehati-hatian.
Namun, naas, tak sengaja ia bertabrakan dengan Karina hingga beberapa gelas syrup berwarna merah itu basah mengotori pakaian Karina.
"Aish!" pekik Karina dengan penuh emosi. Riri tampak canggung, malu, dan takut.
"Maafkan saya, Non. Saya tidak sengaja," sambil menunduk, dan hendak memunguti semua kekacauan ini.
Dengan cepat, Karina melayangkan satu tamparan keras di wajah Riri, tepat di hadapan para hadirin.
"Aaa..." Riri merintih kesakitan, Liam menggeleng tak terima atas perbuatan Karina yang terlampau jauh.
Lantas, ia menarik lengan wanitanya itu ke tempat yang agak senyap lalu mulai berbicara empat mata.
"Karina, tak seharusnya kamu bersikap seperti itu padanya!" tunjuk Liam geram atas perbuatan tunangannya itu.
"Kenapa kamu malah belain dia? Jelas-jelas dia yang salah karena sudah ceroboh, kamu lihat. Pakaianku jadi kotor dan basah karena ulahnya!" bentak Karina menunjuk noda di gaunnya.
"Kamu yang kurang hati-hati saat berjalan, main tabrak gitu aja!" Liam melihat bahwa kesalahan terletak pada ketidakhati-hatian Karina.
"Hei, apa kamu lupa? Aku ini tunangan kamu. Ini malah bela-belain babu jelek itu! Seharusnya kamu marahin dia!" Karina tidak terima, Liam membelalak tajam, merasa kesal atas ucapan wanita itu.
Perdebatan pun tetap berlanjut di antara mereka.
Di tengah situasi memanas, Pak Leo dan Bu Mauri datang untuk melerai. "Sudah-sudah! Kok kalian ini malah ribut?" wanita paruh baya itu berupaya menjadi penengah.
"Tante, Liam bisa-bisanya belain babu jelek itu daripada aku!" terang Karina dengan emosi, Liam tak tinggal diam. "Karina, jaga sikap kamu! Justru kamu yang salah!" tunjuk Liam, Karina hendak menyerangnya.
Tak lama kemudian, kedua orang tua Karina tiba dan melihat keributan antara Liam dan putri mereka.
"Liam, cepat minta maaf pada Karin," bisik Pak Leo mengintruksi, Liam seakan buntu, ia tak sanggup berpikir matang, akhirnya mengangguk dan menuruti sang Ayah.
"Karin, aku minta maaf," ucapnya secara terpaksa. Karina memutar kedua matanya jengah, ia masih merasa cemburu. "Ya!" jawabnya dengan angkuh.
"Kok malah bertengkar, sih?" tanya Bu Celine kepada putri dan calon mantunya.
"Maaf Tante, hanya kesalahan kecil," jawab Liam yang tak ingin memperpanjang masalah ini.
Sementara itu, suasana di sekitar menjadi semakin riuh, dan para tamu yang mengetahui insiden ini mulai membisikkan komentar beragam satu sama lain.
Beberapa di antara mereka mencoba memahami sisi cerita dari kedua belah pihak, sementara yang lain hanya merasa terhibur dengan drama keluarga ini.
Pak Leo dan Bu Mauri berusaha menenangkan situasi, berbicara secara bijak untuk membawa kedamaian kembali.
Namun, Liam dan Karina tetap terlibat dalam pertengkaran yang semakin panas.
Riri, yang sejak awal menjadi saksi tanpa sengaja, merasa khawatir dan ingin menghindarkan diri dari konflik tersebut.
Pada saat yang sama, Pak Leo mencoba menjelaskan kepada tamu-tamu bahwa kejadian ini hanya kesalahpahaman kecil dan mengajak mereka untuk melanjutkan acara dengan suasana yang positif.
Meskipun begitu, bayang-bayang pertikaian antara Liam dan Karina membekas di benak para hadirin yang merupakan tamu-tamu penting serta kolega bisnis keluarga besar Liam dan Karina.
Riri mencoba menenangkan diri. Ia berlari menuju taman hotel yang agak sepi, mencurahkan rasa sakit hatinya atas perbuatan kasar Karina. Sambil mengusap pipinya yang masih terasa perih, ia duduk dengan lunglai di bangku taman.
Tiba-tiba, seorang pria menyodorkan sapu tangan ke arahnya.
"Hapuslah air matamu."
Riri mengangkat wajahnya, merasa tak asing dengan pemilik wajah itu. "Ka-kamu?" tunjuk Riri.
Lelaki itu memberikan senyum tulus padanya.
"Bolehkan saya duduk di sebelahmu?" pinta lelaki tersebut.
Riri mengangguk pelan dan menggeser untuk memberi jarak. "Si-silahkan!" jawabnya terbata dengan sisa air mata yang masih tertahan.
Lelaki itu mengulurkan tangannya, dan Riri menyambut
"Kevin," ia memperkenalkan diri, Riri tersenyum tipis dan membalas.
"Nama saya Riri."
Kevin merasa tertarik sejak pandangan pertama.
"Sudah, jangan menangis lagi, nanti cantiknya hilang, loh," kata Kevin dengan sedikit nuansa humor.
"Habisnya saya sakit hati. Perasaan, saya ini jalan sudah sangat pelan dan hati-hati, tapi, tiba-tiba Non Karina menyeruduk begitu saja," isak Riri seraya mengusap air matanya yang kembali jatuh.
Terjadilah obrolan ringan di antara keduanya, Kevin berhasil mengembalikan tawa dan senyum di wajah Riri dengan kalimat candaan yang jenaka.
Namun, tanpa mereka sadari, dari sudut lain, Liam diam-diam menyaksikan keakraban di antara mereka.
Kedua matanya menyorot tajam seakan memendam ketidaksetujuan kepada Kevin yang mencoba mendekati Riri.
"Sayang, ngapain kamu di sini?" Karina datang dari arah belakang Liam, membuat lelaki itu terkejut. Ia tak ingin sampai Karina tahu jika tadi sedang mengamati Riri yang sedang berada di sudut sana.
"Oh, cuma mau ambil udara segar sebentar," jawab Liam, mencoba menyembunyikan kekhawatiran di wajahnya.
Karina mencium aroma parfum mewah Liam dan mengerling ke arah taman.
Karina mengajak Liam kembali ke ballroom sambil menggandeng erat tangan lelaki itu. Kemeriahan acara masih terus berlangsung di dalamnya—irama musik dan obrolan para tamu memenuhi udara. Meski suasana penuh ceria, sebenarnya Liam merasa terjebak dan tidak nyaman di tengah hiruk-pikuk acara yang berlangsung.
Wajahnya mencerminkan ketidakpuasan yang ia coba sembunyikan di balik senyuman tulusnya.
Sampai pada bagian akhir acara, kedua pasangan itu memutuskan untuk menaiki podium, memberikan pidato, dan menyampaikan ucapan kepada para hadirin.
Liam, dengan senyuman tulus di wajahnya, berkata, "Terima kasih yang sebesar-besarnya atas kehadiran Bapak-Ibu serta saudara-saudara sekalian di acara pertunangan kami."
Meski kata-katanya terdengar tulus, pandangan mata mengungkapkan bahwa hati Liam tak sepenuhnya setuju dengan semua ini. ia berharap ini hanyalah mimpi buruk semata.
...
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments