Tak lama kemudian, acara sarapan pagi telah usai, anggota keluarga itu sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing. Ketiga Maid mendekati Riri yang terlihat canggung dan bingung.
"Heh, malah bengong, beresin tuh meja, sekalian cuci semua gelas dan piring kotor!" perintah Rindy dengan tegas. Begitu juga Ima dan Nia, yang bersikap jutek terhadap keberadaan Riri, kecuali Wina. Ia terlihat penuh senyum dan ramah, berbeda dari ketiga rekan lainnya.
"Ayo, Ri kita bereskan," ajaknya. Riri mengangguk, dan dengan cepat mulai menyusun piring-piring kotor, lalu mengangkatnya secara hati-hati. Sementara itu, Wina membawa beberapa gelas, mereka berjalan menuju ke arah dapur secara bersamaan.
Rindy menyiapkan sarapan untuk rekan-rekannya, kecuali Riri.
Setelah mencuci semua peralatan kotor, kelima gadis Maid itu berkumpul di meja makan yang terletak di dapur.
Riri heran melihat ia tak memiliki jatah seperti rekan lainnya.
"Loh, punya saya mana, Mbak?" Gadis itu celingukan sambil menelan ludahnya, melihat sajian sarapan yang harum dan menggugah selera.
Saat itu, Rindy menyajikan hot dog isi daging yang menggiurkan.
"Bikin sendiri!" jawab Rindy ketus, mulutnya penuh dengan makanan. Riri tersenyum sinis atas sikapnya.
"Hmm... Ya!" Gadis itu harus membuat sarapannya sendiri. Namun, dengan penuh kepedulian, Wina bangkit dan membantu Riri membuat sarapannya.
"Ri, kamu suka kopi, susu, atau teh?" tawarnya.
Riri menjawab, "kopi."
Wina membuatkan secangkir kopi untuk teman sarapannya.
Sedangkan ketiga Maid lain tampak berbisik-bisik, seolah merencanakan sesuatu terhadap Riri. Lantas mereka cengengesan, membuat Riri merasa ada yang disembunyikan oleh mereka bertiga.
"Kayanya mereka sedang membicarakan ku," batin Riri seraya mengawasi ketiga orang itu.
"Apa kamu lihat-lihat, hah?" Nia melotot tajam ke arahnya. Riri merasa jengah di perlakukan seperti itu.
"Udah Ri, gak usah di anggap." Wina menepuk pelan pundak Riri.
Sehabis sarapan...
Bu Mauri memanggil Riri dengan penuh semangat.
"Ri... "
Membuat gadis itu mendekat dengan segera.
"Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?" tanya Riri, menunjukkan keterlibatannya dengan penuh rasa hormat.
"Seperti kemarin, kamu gunakan dress dan gaun-gaun saya, lalu berpose depan kamera," titah Bu Mauri, tersenyum dan menunjukkan keberhasilan.
Riri mengangguk patuh, meski ada ketidaknyamanan dalam ekspresinya.
Bu Mauri membimbing Riri ke ruang kerjanya, tempat beberapa pakaian menumpuk, siap untuk dipasarkan secara online.
"Ayo, ganti pakaianmu," ajak Bu Mauri, memberikan sejumlah baju kepada Riri. Ekspresi terkejut Riri terlihat jelas.
"Ehm, Nyonya, saya boleh tanya?" pertanyaan Riri seketika memecah keheningan.
"Ada apa?" Bu Mauri menunjukkan ketertarikan pada pertanyaan itu.
"Kok harus saya sih yang jadi modelnya? Saya ini kan tidak menarik. Kenapa gak Mbak Rindy, Wina, Ima, atau Nia?" tanya Riri heran, menggambarkan kebingungan dan kekhawatiran.
Bu Mauri tertawa pelan mendengar pertanyaan gadis itu.
"Ya, masa saya menjadikan Rindy sebagai model brand saya sih, dia itu kan gendut, nanti yang ada barang jualan saya bisa rusak. Di antara Ima, Nia, dan Wina, menurut saya kamu yang paling cocok. Badan kamu ramping, tinggi, dan kulitmu juga cerah," jelas Bu Mauri dengan senyum, memberikan penjelasan yang lebih hidup.
"Oh begitu, hehe..." Riri tersenyum kikuk, mencoba menyembunyikan kekagumannya.
"Ya sudah, cepatlah!" Bu Mauri memberikan instruksi lebih lanjut, serta memberikan sentuhan personal pada proses pemotretan Riri.
Setelah Riri mengganti pakaian dan proses pemotretan dimulai, Bu Mauri memberikan arahan untuk berpose dengan penuh ekspresi. Riri, meski masih terlihat ragu, mencoba mengikuti instruksi majikannya dengan cermat.
"Bagus, Riri, pertahankan itu. Sorot mata yang lebih intens. Ya, seperti itu," pujinya.
...
Setelah selesai sesi pemotretan, Bu Mauri merasa puas dengan ekspresi senang. Ia tersenyum melihat hasil foto-foto Riri yang memenuhi ekspektasinya. Tanpa ragu, Bu Mauri mengunggahnya ke lapak jualan online dan membagikannya melalui status WhatsApp.
Beberapa saat setelah di posting, beberapa kontak pelanggan memberikan tanggapan positif.
"Wow, dress-nya benar-benar cantik!" komentar seorang pelanggan, memberi apresiasi pada keindahan pakaian yang ditampilkan oleh Riri.
...
Di sisi lain, tepatnya di ruang kantor, Liam yang sedang di temani calon tunangannya, ia tampak merasa bosan, lantas sejenak mengistirahatkan jemarinya dan mengambil ponsel di atas meja kerja.
Saat membuka status WhatsApp sang Ibu, ia menemukan beberapa foto Riri yang di posting. Tanpa berpikir panjang, Liam mengunduh dan menyimpannya sebagai koleksi pribadi.
Tersenyum, Liam teringat kepolosan Riri dan kecerobohannya yang membuat gadis itu terkesan menarik di mata Liam. "Riri Riana," gumam Liam, menciptakan bayangan tentang karakter tersebut.
Hal itu berhasil memancing rasa penasaran bagi Karina.
"Sayang, kamu kok senyam senyum begitu? pasti ada yang kamu sembunyikan dari aku, kan?" wanita itu melangkah dengan anggun menuju ke arah kekasihnya yang tengah tersenyum sambil memandangi layar ponsel, seketika Liam langsung mematikan ponsel tersebut.
"Hmm... Gak ada, aku hanya melihat photo-photo dulu semasa SMA, hahaha... Astaga, aku kelihatan culun pada saat itu," kilahnya menyembunyikan kecurigaan sang kekasih, Karina seakan tak percaya.
"Mana, sini aku lihat!" Pintanya, Liam menggeleng.
"Udah deh, aku mau kerja lagi! kamu jangan ganggu!" Ia mengabaikan Karina yang merengek manja, membuatnya semakin tak nyaman dengan keberadaanya yang begitu mengganggu.
***
Seusai pemotretan...
"Nyonya, saya susah selesai, kan?" tanya Riri sehabis kembali mengenakan seragam kerjanya.
"Ya," jawab Bu Mauri singkat, Riri mengangguk sambil menunduk sebagai ucapan hormat dan terimakasih.
"Kalau begitu saya permisi mau lanjutkan pekerjaan lain," pamit Riri, setelah mendapat izin, ia keluar dari ruang kerja sang majikan.
Rindy menarik lengan Riri dengan kasar, membawanya menuju dapur.
"Nanti kamu masak makan siang untuk Tuan muda, dan bawa ke kantornya!" wanita bertubuh tambun itu memerintah dengan tegas sambil melipat kedua tangan di atas dada, membuat Riri kebingungan.
"Apa? Masak untuk Tuan muda?" ia melirik kearah Rindy yang menatapnya dengan angkuh.
"Ya!"
Rindy memberikan secarik kertas tulisan, yang merupakan menu makanan kesukaan Liam, dan Riri dengan jemari gemetar, meraih lalu membaca tulisan menu yang menggunakan bahasa inggris itu dengan seksama sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal karena ketidak pahaman.
"Aduh, lidahku sampai keseleo!" keluh Riri
"Cepat kerjakan!" desak Rindy, Riri mengangguk sembari menghela napas dalam.
Wina hadir di antara mereka. "Ri, biar aku bantu," tawarnya, Rindy membentak kasar.
"Jangan di bantu! Biar dia yang melakukannya sendiri, anggap saja ini sebagai ospek."
Wina tak berani membantah ucapan Rindy, ia mengangguk patuh dan berlalu dari hadapannya membiarkan Riri sibuk seorang diri.
"Haduh!" keluh Riri, lantas seakan tak ada banyak waktu lagi untuk berpikir, Riri mencari menu yang sama di internet.
Namun, Rindy dengan kasar merampas ponselnya.
"Tidak boleh curang!"
"Tapi... " ucap Riri tertahan.
"Kerjakan apa yang kamu bisa!" kata Rindy, Riri mengangguk. Ia bergerak menuju lemari es, kemudian membuka, lalu mengambil ikan segar di dalamnya beserta kentang dan beberapa sayuran pelengkap.
Ia cuci semua bahan-bahan tadi sebelum mengolahnya, lalu memotong ikan menjadi fillet sesuai gambar yang ia lihat di dalam selembar menu tadi.
"Aduh, aku harus masak apa?" Riri tampak bingung, lantas ia memutuskan untuk membuat ikan goreng krispy, karena ia tak bisa membuat menu yang di tunjukan oleh Rindy.
Ia mulai meracik bumbu, dan menyiapkan tepung.
Singkat cerita, hidangan siap untuk di sajikan ke dalam wadah, lengkap dengan sambal dan kentang goreng.
Riri menyeka keringatnya seusai memasak, merasa gerah, lalu menyimpannya kotak makanan itu di dalam kantong khusus.
"Mbak, sudah siap semuanya," ucapnya pada Rindy. Wanita bertubuh tambun itu mengangguk, tetapi terlihat kurang puas.
"Cepat antarkan ke kantor Tuan muda!" perintah Rindy dengan ketus. Riri menghela napas dalam.
"Tapi, saya tidak tahu alamatnya," keluhnya. Rindy memberikan kartu nama milik Liam.
"Tuh, disitu ada alamatnya jelas! Sana!" usir Rindy dengan segera. Riri mengangguk sambil menenteng kantong berisi makanan, lalu bergegas.
Tak lama kemudian, ia kembali menemui Rindy. "Apa lagi?" tanya Rindy sambil ngegas.
"Saya perginya pakai apa, ya?" Gadis itu tampak bingung.
Rindy membuka laci di dapur, lalu memberikan kunci motor pada Riri. "Nih, bisa pakai motor, kan?"
Riri mengangguk. "bisa."
"Ya sudah, sana!" usirnya kembali. Riri bergegas menuju garasi untuk mengambil motor.
"Mau kemana, Ri?" tanya Jujun, seorang tukang kebun sekaligus sopir pribadi Bu Mauri di Mansion mewah tersebut.
"Mau antar makanan ke kantor," jawab Riri tergesa-gesa. Ia berhasil mengeluarkan motor matic itu, lalu meluncur keluar dari halaman Mansion.
Siang itu, pukul 11.00, cuaca terik, kendaraan padat hingga terjadi kemacetan. Riri mengibas-ngibas tubuhnya yang kegerahan, ia pergi tanpa menggunakan jaket.
"Aduh, bisa tambah pulkadot ni kulit," keluhnya, berharap segera terbebas dari kemacetan ini.
Singkat cerita, ia tiba di kantor perusahaan Liam. Gadis itu menghampiri meja resepsionis.
"Permisi, saya mau antar makanan untuk Tuan muda," ucap Riri.
"Maaf, Anda siapa?" tanya Viona. Riri memperkenalkan diri.
"Saya Maid baru di Mansion Tuan muda."
Viona mengangguk paham kali ini karena Liam sering mendapat kiriman makanan dari salah satu pembantunya, sehingga Viona tak perlu menghubunginya terlebih dulu untuk sekedar meminta konfirmasi. "Oh, maksud Anda Tuan muda itu, Pak Liam," ujarnya.
Riri tersenyum kikuk, saking groginya ia sampai lupa namanya.
"Hehe, iya."
"Ruangan Pak Liam ada di lantai 20, silahkan gunakan lift khusus karyawan yang ada di pojok sebelah sana!" kata Viona dengan ramah menunjukan.
"Terimakasih."
Dengan langkah gemetar, Riri mendekati lift, dan menekan angka 20. Telapak tangannya terasa dingin, dan jantungnya berdegup kencang.
...
Bersambung..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments