Episode 20

Misca berlari dengan derai air mata memasuki kamar ibunya. Ia tidak pernah merasa semalu ini seumur hidupnya. Fardan yang ia pikir lelaki yang lemah lembut dan penyayang nyatanya tega mengusirnya dari mobil dan meninggalkannya begitu saja di jalan. Bahkan dia dibentak di depan banyaknya pengguna jalan. Sunggu, Misca tidak punya muka lagi untuk lewat di tempat itu jika tidak menggunakan mobil.

"Bu ... Bu ...."

Shinta membuka pintu kamarnya, ia terkejut melihat keadaan putri kesayangannya yang begitu berantakan. Seingatnya tadi Misca keluar rumah dalam keadaan rapi dan luar biasa cantik, mengapa ia kembali justru dalam keadaan kacau?

"Bu ...." Misca masuk ke dalam pelukan Shinta, ia menangis sejadi-jadinya hingga Shinta membawa putrinya itu masuk ke dalam kamar.

Shinta mendudukkan Misca di sofa, ia memberikan segelas air minum dan Misca langsung meneguknya sampai habis. Ia kembali memeluk Shinta dan menumpahkan tangisnya.

"Sayang apa yang terjadi denganmu? Katakan, siapa yang sudah membuatmu menangis seperti ini?" cecar Shinta.

"Bu, Kak Fardan sudah mempermalukan aku di jalan. Dia mengusirku dari mobil dan menolak cintaku mentah-mentah di depan orang banyak. Dia membentakku dan mengatakan jika aku wanita tidak tahu diri karena mencoba merayu suami orang. Aku dipermalukan, Bu. Orang-orang di jalan semua mencibirku. Mereka mengataiku dan mencaci maki aku. Aku malu, Bu."

Mata Shinta melotot, ia tidak pernah membayangkan nasib putrinya akan seperti ini. Apalagi itu adalah Fardan, ia mengenal menantunya itu adalah pribadi yang baik dan sopan santun. Hampir tidak bisa dipercaya tetapi putrinya mengalami sendiri.

"Aku malu untuk keluar, Bu. Aku tidak sanggup!"

Shinta mengepalkan tangannya. Ia tidak terima jika putrinya diperlakukan seburuk ini. Semua pasti karena Meyta. Fardan tidak akan berbuat sejahat ini jika bukan karena hasutan Meyta.

"Hapus air matamu sayang, kita akan mendatangi Meyta di rumahnya. Ibu merasa dia yang sudah mempengaruhi Fardan untuk bersikap buruk. Kamu mengenal Fardan, bukan? Mempermalukan wanita bukanlah gayanya," ucap Shinta yang langsung dibenarkan oleh Misca.

Misca berdiri lalu kembali ke kamarnya, ia harus kembali merapikan penampilannya. Ia akan membalas sakit hatinya pada Meyta, kakak tirinya itu harus membayar apa yang ia rasakan. Jika perlu sama seperti apa yang dilakukan Fardan tadi padanya.

Setelah bersiap, Misca menemui ibunya yang sudah menunggu di ruang tamu. Mereka harus buru-buru agar Fardan tidak mengetahui kedatangan mereka. Jika perlu mereka akan menyingkirkan Meyta dari sisi Fardan selamamya.

Mengingat kondisi Misca yang tidak baik-baik saja, Shinta mengambil alih untuk menyetir mobil. Dengan perasaan meletup-letup ia mendatangi anak tirinya itu berharap mereka segera sampai.

Di rumah Meyta saat ini tengah kebingungan mencari obatnya. Ia ingat betul jika ia menyimpan obatnya di lemari khusus untuk pakaiannya. Tetapi hingga saat ini obat-obatan tersebut belum juga ia temukan.

Perkara obat belum selesai, Meyta mendengar suara ketukan pintu dari luar. Pikirnya, Fardan mungkin kembali lagi karena ada yang ketinggalan. Dengan terburu-buru Meyta keluar dari kamarnya dan bersiap menyambut suaminya.

Baru juga pintu dibuka, satu tamparan keras berhasil mendarat di pipi putih Meyta. Tak sempat ia membalas atau bertanya, satu pipinya kembali mendapat tamparan yang jauh lebih keras lagi.

"Ini belum seberapa dengan apa yang sudah kamu lakukan pada Misca!" ucap Shinta dengan tatapan berang.

Misca tersenyum puas, kini gilirannya maju dan menjambak rambut Meyta dengan kuat hingga wajah Meyta menengadah.

"Tidak ada yang akan membela kamu di sini. Aku tidak akan mengampuni kamu kali ini. Asal kamu tahu Meyta, aku itu cinta sama Kak Fardan tetapi karena ada kamu dia justru membuatku malu dengan menolak cintaku! Harusnya kamu tidak perlu kembali lagi, harusnya aku yang menikah dengan Kak Fardan, aku!"

Meyta masih belum paham, tidak ada waktu untuk berpikir saat kepala terasa perih seakan kulit kepalanya akan terlepas. Misca menariknya dengan kuat sedangkan pipinya masih terasa kebas saat mendapat tamparan dua kali.

Shinta mendorong tubuh Meyta hingga terjatuh di lantai. Kedua wanita itu masuk dan menutup pintu agar lebih leluasa menghukum Meyta. Padahal, semua ini bukan kesalannya. Suaminya memang menolak Misca, lalu mengapa harus ia yang mendapat hukuman?

'Tenang Meyta tenang. Kendalikan dirimu, jangan sampai kedua fase itu mengganggumu,' ujar Meyta dalam hati.

Meyta berusaha berdiri, ia tidak bisa dianiaya seperti ini apalagi oleh dua wanita yang ia tidak sukai dalam hidupnya. Yang satu merebut ayahnya dari ibunya dan yang satu lagi hendak merebut suaminya.

"Maksud kalian apa? Aku merebut Kak Fardan? Begitu?" tanya Meyta, suaranya penuh penekanan dan tatapannya berubah sekelam malam.

'Aku adalah penderita bipolar disorder, haruskah aku menjadi seorang psikopat juga untuk menghadapi mereka?' gumam Meyta dalam hati.

"Masih bertanya kamu? Tinggalkan Fardan, kamu tidak pantas bersamanya karena yang lebih cocok adalah Misca. Wanita aneh sepertimu itu pantasnya menikah psikopat yang juga aneh atau carilah lelaki yang memiliki sifat yang sama denganmu, itu lebih cocok. Fardan yang sempurna itu hanya untuk Misca yang juga sempurna!"

Shinta berbicara penuh penekanan, ia sengaja melukai perasaan Meyta agar wanita ini sadar diri akan posisinya. Sedangkan di sampingnya ada Misca yang terus membenarkan ucapan Ibunya.

"Jika aku tidak mau, kalian bisa apa? Anakmu mungkin sempurna, tetapi kamu bisa apa jika Tuhan menjodohkan Fardan denganku? Protes sana sama Tuhan, protes sama Ayah, bukankah semua karena mereka? Kalian sudah gila! Sekarang keluar dari rumahku atau aku tunjukkan seperti apa anehnya wanita ini," ancam Meyta tak gentar.

Misca mendekat, tekadnya mendapatkan Fardan sudah bulat. Ia berjalan mengelilingi Meyta sambil memegangi bahu kakaknya itu. "Uh, aku takut. Hahaha ... wanita lemah sepertimu bisa apa?" ejeknya.

Meyta menarik napas dalam-dalam. Sejak tadi ia sudah menahan diri tetapi semua ini tidak akan berhenti jika ia tidak menyelesaikannya langsung ke intinya.

"Wanita lemah sepertiku bisa apa?" ulang Meyta menirukan ucapan Misca.

Misca tersenyum meremehkan. Ia dan Meyta kini berdiri berhadapan. Jelas sekali dari tatapannya ia mencemooh Meyta.

"Ya kamu adalah wanita lem—"

Plak ....

Satu tamparan keras mendarat di pipi Misca.

"Aku lemah seperti ini?"

Plak ....

Satu tamparan lagi ia berikan di pipi Misca. Belum habis keterkejutan Misca, Meyta kembali menarik rambutnya, menjambak hingga kepala Misca mendongak. Empat tamparan dengan gerakan cepat kembali Misca dapatkan hingga pipinya bengkak dan jatuh terkulai di lantai.

Meyta menyeringai. Ia menatap Shinta yang kini juga menatap geram padanya. "Giliranmu pelakor!" desis lirih Meyta.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!