Episode 13

Keheningan menyelimuti. Hanya irama jantung dan gerakan jam yang membuat keributan di ruang itu ketika Fardan mengutarakan keinginannya. Wajah Meyta bahkan memerah malu, mana mungkin ia melakukan itu.

"Aku baru tahu kalau ada cara minta maaf seperti itu," ucap Meyta dengan suara lirih hampir tak terdengar, ia gugup, grogi dan canggung.

"Itu karena kamu tidak pernah belajar tentang bagaimana orang dewasa khususnya pasangan menikah bersikap. Aku maklum karena kamu baru pertama kali menikah begitupun denganku. Maka dari itu mari kita belajar bersama," ujar Fardan, rasanya senang sekali mengerjai istrinya yang polos ini.

Bibir Meyta mengerucut. Ini masih terlalu dini untuk mereka saling menyentuh satu sama lain meskipun sekadar 'ciuman'. Tetapi jika mengingat status hubungan mereka, bahkan melakukan hal yang lebih memalukan lagi seharusnya sudah terjadi. Dirinya saja yang masih belum membuka jalan.

Helaan napas berat terdengar dari arah Meyta. Ia sebenarnya mulai setuju dengan ucapan Fardan hanya saja ia begitu malu melakukannya.

"Apa kamu tidak akan merajuk lagi jika sudah diberikan kecupan?" tanya Meyta dengan bibir bergetar. Rasanya sungguh malu mengatakan hal tersebut.

Fardan tersenyum, sepertinya istrinya mulai masuk dalam jebakan.

"Jangankan merajuk saat ini, besok lusa jika aku atau kamu marah maka cara membujuknya itu mudah, dengan kecupan," ucap Fardan.

Meyta menelan salivanya susah payah. "Ba-baiklah. Asalkan semuanya baik-baik saja dan kamu tidak marah lagi maka aku setuju."

Fardan menoleh ke arah berlawana dari Meyta, ia sedang menyembunyikan senyuman kemenangannya.

"Nah seperti itu, karena besok lusa aku juga akan berlaku sama padamu. Sekarang cepat kecup pipiku," ucap Fardan lagi kemudian ia memajukan wajahnya.

Napas Meyta tercekat. Tatapan Fardan sedekat ini seakan membuat jantungnya berhenti berdetak. Pria ini terlalu tampan dan terlampau manis untuk menjadi manusia terlebih lagi manusia ini adalah suaminya. Sungguh ia sangat beruntung.

"Pe-pejamkan matamu," ucap Meyta dengan terbata.

Tanpa menjawab Fardan langsung melakukannya. Ia menutup mata dan Meyta meremas jarinya lalu berusaha mendekat ke arah wajah Fardan. Hembusan napas gugup itu terasa menerpa wajah Fardan. Lelaki tampan itu mendadak gugup, padahal ini adalah rencananya.

Cup …

Satu kecupan berhasil mendarat di pipi Fardan. Basah dan membuatnya terpaku. Meyta sendiri memejamkan matanya, berharap ia tidak akan dipermalukan karena melakukan hal barusan. Oh ya? Siapa juga yang akan mempermalukannya sementara itu adalah hak dan kewajibannya.

Untuk beberapa detik Fardan terdiam menikmati sensasi aneh yang menyerang hati dan pikirannya. Ternyata sesuatu yang didapat tanpa sembunyi-sembunyi itu jauh lebih menyenangkan.

"S-sudah," bisik lirih Meyta.

Fardan membuka mata, ia tersenyum lembut pada sang istri. Sekarang, sebuah ide terbesit lagi di benaknya. Ciuman Meyta terasa candu sehingga ia ingin terus mendapatkannya.

"Lho hanya sebelah? Nanti yang sebelahnya iri dong," ujar Fardan.

Meyta tersedak ludahnya sendiri. Satu kecupan saja sudah membuatnya membeku bagai tertimbun di tumpukan salju, sekarang harus memberikan satu kecupan lagi. Tetapi jika menolak maka Fardan bisa lebih merajuk lagi dari sebelumnya.

Gerakan bola mata gelisah itu jelas dinikmati oleh Tuan Suami. Istrinya terlalu polos hingga ia mampu untuk memperdayanya. Ia sungguh tidak bermaksud membodohinya hanya saja mengerjai istrinya menjadi salah satu agenda kesenangannya.

"Baiklah. Pejamkan matamu," ucap Meyta kali ini dengan nada ketus.

"Apakah harus?" tanya Fardan. Ia kurang nyaman jika harus diminta menutup mata. Ia ingin melihat bagaimana wajah gugup istrinya saat ingin menyentuhnya.

Meyta mengangguk malas. Ia tidak suka jika harus terus menjelaskan hal ini dan itu. Tetapi Fardan bersikeras untuk tidak menutup matanya dan Meyta mengancam jika ia tidak akan melakukannya. Alhasil Fardan mengalah tetapi hanya di mulut saja.

Perlahan Meyta mendekatkan wajahnya. Hampir sampai ketika Fardan perlahan membuka matanya dan menggerakkan kepalanya.

Cup …

Satu kecupan yang mendarat tidak sesuai kesepakatan membuat tubuh Meyta menegang. Bibirnya tepat menempel di bibir sang suami. Ini sungguh di luar pemikirannya. Tuan Suami telah berhasil mengelabui. Meyta hanya bisa memejamkan erat kedua matanya saat Fardan menahan tengkuknya sesaat.

Ciuman hanya sekadar menempelkan bibir itu akhirnya berakhir. Irama jantung Meyta terdengar bagai kuda yang sedang berpacu. Parahnya, kini fase manik atau mania itu datang menyerang. Meyta tak tahu harus apa, ia hanya bisa berdoa agar ia bisa mengendalikan dirinya.

"K-kau menipuku!" hardik Meyta, tangannya bergerak saling meremas, ia berusaha untuk menahan diri.

Pergerakan itu tak luput dari pandangan mata Fardan. Ia tersenyum lembut lalu membingkai wajah Meyta dengan kedua tangannya. Di dekatkannya wajah dan ditempelkannya dahi mereka lalu ia membisikkan kata maaf dengan lirih.

Deru napas Meyta dan Fardan saling bersahut-sahutan, tiada kata yang mampu mereka rangkai. Terdiam dalam keheningan dengan dahi yang menempel.

Mata Meyta terpejam. Ia menikmati sensasi menggelitik jiwa ini, seakan ribuan kupu-kupu sedang beterbangan di dalam perutnya. Rasanya sungguh aneh tetapi Meyta menyukainya. Kedamaian, ketenangan jiwa dan rasa nyaman menjalar menjadi satu. Sebuah fenomena yang tak pernah ia rasakan bahkan ketika ia mengukuhkan pria penyelamat itu sebagai satu-satunya cinta dalam hidupnya.

Fardan menarik wajahnya dengan masih menyisakan tangan yang membingkai wajah Meyta. Ia tersenyum lembut lalu perlahan ia mengecup kedua pipi Meyta dengan lembut lalu beralih pada kedua mata Meyta dan terakhir ia mengecup dahi Meyta dengan lembut dan cukup lama.

Air mata Meyta perlahan turun membasahi pipinya. Fardan tersenyum kecut lalu ia menghapusnya dengan jari. Tangan yang ia gunakan untuk membingkai wajah Meyta itu kini ia gunakan untuk menggenggamnya.

"Meyta, mari kita belajar untuk menjadi pasangan suami-istri selayaknya. Kita memang menikah secara mendadak tanpa perkenalan terlebih dahulu. Aku tidak melakukan flirting sebelum kita mengikrarkan janji setia dengan sakral. Tetapi aku ingin pernikahan ini mengawali kisah kita, aku ingin kita belajar untuk saling membutuhkan dan memiliki. Mari kita belajar untuk saling mencintai satu sama lain."

Air mata itu kembali membasahi pipi Meyta. Sungguh ia sangat ingin mengatakan "iya" dan juga bersedia melakukan hal seperti yang diinginkan Fardan, tetapi ia kembali ditampar kenyataan tentang dirinya yang tak sempurna. Ia mengidap gangguan mental dan itu seumur hidup. Fardan akan kesulitan bersamanya.

"Aku tidak —"

Ucapan Meyta tak dilanjutkan karena jari telunjuk Fardan sudah menempel di bibirnya.

"Aku sungguh tidak ingin mendengar penolakan. Aku memberikanmu waktu untuk memikirkannya tetapi aku tidak akan mau menerima penolakan. Jika tiga hari kamu berpikir dan menemukan jawaban 'tidak' maka aku akan memintamu untuk berpikir lagi sampai jawaban itu adalah 'iya'."

Meyta terisak. Cinta dari suaminya terlalu besar hingga ia tak mampu untuk menggenggamnya.

Terpopuler

Comments

🍒⃞⃟🦅🏠⃟⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔Nur㊍㊍

🍒⃞⃟🦅🏠⃟⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔Nur㊍㊍

semangat fardan moga kamu bisa mengembalikan kepercayaan diri meyta, dia berhak bahagia tanpa dibayangi oleh penyakit yg slma ini menghantuinya

2024-02-11

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!