Dua jam perjalanan akhirnya mereka sampai di alamat yang sudah diberitahu Noah. Anak itu tertidur dan Fardan menggendongnya masuk. Meyta menutup pintu mobil, ia membukakan pintu gerbang yang kebetulan tidak dikunci. Sesampainya di depan pintu, Meyta langsung mengetuk pintu dan tak lama kemudian seorang wanita berumur sekitar tiga puluh tahun keluar.
"Permisi, apakah benar ini rumahnya Grandma Noah?" tanya Meyta.
Wanita yang mengunakan seragam suster itu mengangguk dan ia melihat cucu dari majikannya berada di dalam gendongan Fardan.
"Oh mari silakan masuk. Saya akan memanggilkan Nyonya Eisya," ajaknya.
Meyta dan Fardan pun masuk, Noah yang mungkin merasa terusik pun membuka matanya. Ia terkejut karena mendapati dirinya berada di pangkuan Fardan dan juga ia sudah sampai di rumah Grandmanya.
"Maaf merepotkan Miss," ucap Noah. Anak itu turun dari pangkuan Fardan bertepatan dengan Nyonya Eisya yang keluar dari dalam kamarnya bersama suster. "Grandma ...!" seru Noah, ia menghampiri wanita tua yang berjalan dengan menggunakan tongkat itu dan memeluknya.
"Cucuku sayang, kamu datang bersama siapa?" tanya Nyonya Eisya, ia membalas pelukan Noah.
Noah melepas pelukannya kemudian ia memperkenalkan Meyta dan Fardan. Mereka duduk bersama, hanya mengobrol sebentar lalu Meyta dan Fardan berpamitan pulang padahal Nyonya Eisya mengajak mereka untuk makan malam bersama tetapi mereka menolak dengan sopan.
Nyonya Eisya mengucapkan terima kasih dan mengantar mereka sampai di depan pintu rumah sedangkan Noah sudah dibawa suster untuk makan malam.
Di perjalanan pulang Fardan mengajak Meyta untuk singgah dan makan malam bersama di sebuah restoran yang berada di pinggir danau. Suasana remang dan didukung langit malam yang cerah menambah kesan romantis untuk pasangan halal tersebut. Begitu banyak bintang yang menghiasi gelapnya malam, seperti indahnya senyum Fardan yang sudah memberi warna baru dalam hidup Meyta.
'Percayalah jika di dunia ini Tuhan tidak akan membiarkan dirimu seorang diri melewati cobaan. Aku memiliki Fardan dan Noah memiliki Nyonya Eisya. Semoga Noah selalu bahagia,' gumam Meyta, sesekali ia menengadah menatap langit indah, sesekali pula ia mencuri pandang pada wajah tampan suaminya.
"Apa yang sedang kamu pikirkan? Jawaban untuk cintaku?" goda Fardan dengan menaik-turunkan kedua alisnya.
Meyta tersipu malu. Ia memalingkan wajahnya. Fardan hanya bisa tersenyum tipis, lagi dan lagi Meyta mengindari pertanyaannya tersebut. Entah kapan perasaannya akan bersambut.
"Apakah itu harus? Bukankah kita telah menikah? Aku adalah milikmu," ucap Meyta berusaha diplomatis.
Fardan mendengus pelan. "Kamu memang milikku tetapi bagaimana aku dan kamu akan bercinta jika tidak ada cinta?"
Wajah Meyta kini semakin merah, ucapan Fardan barusan benar-benar membuatnya malu dan ingin sembunyi di dasar samudera.
"Tuan Suami, harusnya se-eksplisit itu?" tegur Meyta.
Fardan tertawa, senang sekali rasanya bisa melihat Meyta salah tingkah. "Ya, bercinta tanpa cinta itu mungkin hal biasa, tetapi cinta tanpa bercinta juga omong kosong, bagi pasangan halal seperti kita. Kamu akan mendapat dosa lho."
Meyta bergidik ngeri melihat bagaimana bahasa tubuh Fardan saat menjelaskan hal tersebut. "Mengapa kamu menjadi mesum seperti ini?"
Fardan tertawa. "Mesum sama istri sendiri tidak masalah dong."
Meyta mendengus pelan. Obrolan itu terhenti saat makanan yang mereka pesan telah datang. Keduanya sibuk dengan makanan dan minumannya masing-masing tanpa membahas apapun lagi.
Setalah makanan mereka habis, keduanya pun kembali melanjutkan perjalan. Masih sekitar satu jam lagi untuk sampai di rumah, Fardan mengajak Meyta untuk jalan-jalan sebab ia merasa pendekatan seperti ini perlu dilakukan. Bukan salahnya karena jatuh cinta pada istrinya sendiri. Ia ingin cintanya terbalaskan dan memulai kehidupan dengan Meyta penuh dengan cinta dan kasih sayang.
Fardan tidak ingin menyentuh Meyta tanpa persetujuan dan rasa yang sama dari istrinya. Bohong jika ia bisa terus bersabar menanti, ia juga butuh kepastian tetapi ia sadar diri jika pernikahan kilat yang mereka langsungkan itu membutuhkan tahap saling mengenal. Fardan akan mulai melakukannya.
"Mari kita berkencan Nyonya Istri," ajak Fardan.
Meyta tersedak ludahnya sendiri mendengar ajakan suaminya itu. Ia menatap sekilas kemudian memalingkan wajahnya kembali. Ingin sekali Meyta berteriak dan menjerit untuk Fardan berhenti melakukan hal manis padanya. Meyta takut semakin terjerat dan tak bisa melepaskan. Bagaimana pun Meyta tetap pada pendiriannya untuk melepaskan Fardan.
Mencintai wanita dengan gangguan mental sepertinya hanya akan merugikan waktu Fardan. Masih begitu banyak wanita yang jauh lebih baik dari dirinya dan pastinya memiliki mental yang sehat. Meyta bukan wanita sempurna, penyakit yang ia derita sangat sulit disembuhkan dan jika dua fase itu datang akan sangat berbahaya bagi Fardan.
Meyta minder, jelas sangat minder.
"Jangan mengada-ada, Kak. Aku tahu kamu sangat lelah setelah seharian bekerja di kantor, mengantar jemput aku dan juga mengantar Noah. Aku bukan istri kejam dan semua itu bisa kita lakukan di lain waktu. Weekend misalnya," tolak Meyta dengan halus.
Tidak ada kata yang keluar dari mulut Fardan, ia hanya fokus menyetir. Protes pun percuma karena berbagai cara yang ia coba lakukan untuk mendekatkan hubungan mereka pasti ada saja cara Meyta untuk menolaknya.
'Apakah dia tidak akan pernah mencintaiku? Bagaimana dengan rumah tangga ini? Apa yang menyebabkan hatinya sebeku itu? Harus dengan cara apa lagi? Haruskah menunggu sampai waktunya tiba? Kapan?' monolog Fardan dalam hati.
Fardan jelas kecewa, dengan menatap lurus ke depan dan fokus pada setir mobilnya bisa membantu menenangkan pikirannya. Padahal hanya sekadar jalan-jalan untuk berkencan, mengakrabkan diri agar mereka semakin tidak ada batas dan Meyta tidak lagi canggung padanya.
'Dia benar-benar membuatku—'
Ucapan Fardan terhenti saat ia melirik ke arah Meyta yang sudah tertidur pulas. Lelaki itu menghela napas. Ia terkekeh geli kemudian ia menggelengkan kepalanya.
"Dia mengatakan aku yang lelah tetapi lihatlah siapa yang lebih dulu tidur? Mengatasnamakan aku padahal dia yang sangat lelah. Maaf karena sudah berpikiran buruk, mengapa kamu begitu segan hanya untuk mengatakan jika kamu butuh istirahat? Sepertinya aku harus lebih peka ke depannya. Istriku ini bukan orang yang pandai berekspresi, aku harus bisa meramal jika ingin mendapatkan hatinya," gumam Fardan.
Satu jam kemudian mereka telah sampai di rumah. Fardan turun dari mobil kemudian ia membuka pintu untuk Meyta lalu ia menggendongnya dan membawanya ke kamar mereka.
Fardan meletakkan tubuh Meyta dengan hati-hati di tempat tidur. Ia juga membantu melepas sepatu Meyta lalu ia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
****
"Bu, aku mendengar kabar jika Meyta mulai mengajar di salah satu yayasan pendidikan seni dan musik. Itu artinya dia akan sibuk, aku punya kesempatan untuk mendekati Kak Fardan di kantornya atau di rumahnya jika memungkinkan," ucap Misca merasa senang.
"Oh ya? Itu bagus! Dekati Fardan dan jadikan dia milikmu agar kita bisa dengan mudah mengusir anak sialan itu dari hidup Fardan," ujar Shinta menimpali keinginan anaknya tersebut.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments