Meyta gelisah dalam tidurnya. Fardan yang baru saja terlelap pun harus dibangun paksa karena pergerakan istrinya yang tidak biasa. Ia mengusap wajahnya dengan kasar agar rasa kantuk itu segera hilang.
Kepanikan terjadi saat melihat wajah Meyta yang dibanjiri keringat. Ia terus meracau, sepertinya ia sedang mengalami mimpi buruk.
"Jangan … tolong jangan …."
Fardan mengusap kepala Meyta, sepetinya mimpinya begitu buruk sehingga ia terlihat ketakutan.
"Jangan sakiti aku …."
"Ini aku Mey, aku Fardan suamimu. Kamu jangan takut padaku," bisik lirih Fardan.
Tangannya yang satu terus menggenggam tangan Meyta, ia mencoba untuk membangunkan istrinya namun suhu badan Meyta semakin meningkat.
"Dia demam," gumam Fardan.
Lelaki itu berinisiatif untuk mengambil kompres dan merawat Meyta tetapi tangannya digenggam dengan erat.
"Jangan pergi …."
Fardan menoleh. Ia mengira Meyta sudah bangun, namun begitu ia melihatnya ternyata istrinya masih terlelap dalam mimpi. Fardan pun memutuskan untuk duduk kembali dan menemani istrinya. Nanti setelah Meyta kembali terlelap maka ia akan turun untuk menyiapkan kompres.
"Aku tidak pergi, aku di sini menemanimu," bisik Fardan hingga membuat Meyta tak lagi meracau.
Begitu Meyta sudah kembali terlelap, Fardan dengan perlahan melepaskan genggamannya dan langsung turun untuk menyiapkan kompres. Ini adalah ujian untuknya karena di hari ke tiga pernikahan mereka sang istri sudah jatuh sakit.
Dengan telaten lelaki itu merawat istrinya. Meyta cukup terusik dengan kain yang ia tempelkan di dahinya namun hanya beberapa saat saja lalu ia kembali terlelap.
Bahkan waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari namun Fardan masih mencoba untuk tidak tertidur. Meyta mungkin saja membutuhkan bantuannya jika ia sampai ketiduran. Ia harus menjadi suami siaga.
Jika demam Meyta tak kunjung turun hingga pagi maka ia akan membawanya ke rumah sakit. Gadis ini sudah mencuri hatinya, ia tidak akan membiarkannya terluka atau sakit seperti ini lebih lama.
"Hei pria penyelamat, aku merindukanmu …."
Suara Meyta terdengar lagi, tubuhnya menggigil hebat.
"Pria penyelamat?" Fardan menaikkan satu alisnya lalu ia meringis pelan setelah mengulang ucapan istrinya itu. "Pria penyelamat ya?"
Tanpa membuang waktu Fardan langsung membawa istrinya ke rumah sakit. Begitu sampai di mobil, Meyta membuka matanya. Ia terkejut karena berada di dalam gendongan Fardan. Ia meminta untuk turun tetapi Fardan menggeleng keras.
"Kamu demam tinggi, aku harus membawamu ke rumah sakit Nyonya Istri," ucap Fardan, ia tidak ingin bernegosiasi. Meyta harus menurut.
"Tapi aku sudah lebih baik," tolak Meyta dengan lirih.
Fardan tidak peduli, ia tetap membawa Meyta masuk ke dalam mobil dan membaringkannya di jok belakang. Karena belum membawa sopir maka ia pun mengemudikan mobil dengan kecepatan lebih lambat. Fardan khawatir kepala Meyta akan semakin pusing jika ia membawa mobil dalam kecepatan tinggi.
Sesampainya di rumah sakit Fardan kembali menggendong Meyta sebab ia kembali tertidur.
"Tolong istri saya, dia demam tinggi," ucap Fardan pada perawat yang menyambutnya.
Meyta di bawa ke ruang instalasi gawat darurat untuk diperiksakan. Fardan menanti dengan harap-harap cemas, ia tidak ingin istrinya terkena penyakit lainnya.
'Kamu tidak boleh sakit Mey. Kamu gadis kuat, kamu pasti bisa melawan segala kesakitanmu itu. Aku ada bersamamu sekarang Mey,' gumam Fardan dalam hati.
Fardan sibuk mondar-mandir hingga pintu ruangan tersebut dibuka oleh perawat. Fardan langsung menghampirinya. Dijelaskan bahwa keadaan Meyta saat ini sudah stabil. Ia mengalami demam dan kelelahan.
Dokter pun keluar dengan menambahkan penjelasan keadaan Meyta yang sudah lebih baik namun tetap harus di rawat inap, dokter akan melakukan pemeriksaan lanjutan di pagi hari nanti.
"Lakukan yang terbaik, Dok," ucap Fardan cukup lega.
Meyta di pindahkan ke ruang VVIP, Fardan terus mendampinginya bahkan ia terus terjaga karena rasa kantuk itu telah hilang entah ke mana.
Pagi menjelang Meyta terbangun. Ia merasakan sedikit pusing dan tubuhnya terasa lengket. Perlahan ia mengedarkan pandangan dan merasa asing dengan tempatnya. Tidak ada Fardan di sampingnya dan sepertinya seseorang sedang menggenggam tangannya.
Mata Meyta mengedar menyapu seluruh ruangan. "Ah, aku berada di rumah sakit rupanya," desahnya.
Tatapan Meyta jatuh pada sosok yang sedang tertunduk di di atas tangannya. Fardan tertidur dengan posisi duduk.
'Dia sudah menjagaku dengan baik. Mengapa dia harus berkorban waktu? Apakah karena dia suami dan aku istri? Atau karena dia memang peduli padaku? Tolonglah Tuan Suami, jangan membuatku terbawa perasaan seperti ini. Aku tidak pantas untukmu, aku ini tidak sehat dan suatu saat akan merugikanmu,' monolog Meyta dalam hati.
Meyta tiba-tiba menjadi muram, ia tidak sanggup menerima cinta yang begitu besar dari suaminya sedangkan ia memiliki hal yang akan mengganggu masa depan Fardan jika sampai mencuat ke permukaan. Fardan akan malu dan akan dipermalukan jika publik tahu siapa istrinya dan kekurangannya apa.
'Jatuh cinta pada suami sendiri adalah hal yang dibenarkan. Tetapi jika suamiku sesempurna ini rasanya seperti aku memakan buah simalakama. Seperti aku sedang menggenggam bara api dan tertusuk duri. Aku akan hancur jika bersikeras mencintainya. Dia akan terluka karena mencintaiku. Seharusnya ini tidak terjadi. Siapa yang akan menerima gadis dengan gangguan mental seperti aku?'
Mata Meyta kembali melirik Fardan yang tak bergerak sama sekali. Ia juga tidak bisa mengingat kejadian sebelumnya. Entah kapan ia dibawa ke rumah sakit dan entah kapan Fardan tidur dengan posisi seperti ini.
Pergerakan Meyta mulai terasa oleh Fardan. Perlahan ia mengangkat kepalanya dengan mata yang terlihat berkantung dan memerah. Ia tersenyum dengan wajah yang terlihat lelah.
Rasa bersalah langsung bersarang di hati dah pikiran Meyta.
"Kamu sudah bangun? Butuh sesuatu?" tanya Fardan dengan suara serak khas bangun tidur.
Meyta memaksakan senyuman. Ia bergerak gelisah entah bagaimana caranya ia mengatakannya.
"Hei ada apa, katakan saja. Kamu ingin ke toilet atau ingin makan sesuatu?" tanya Fardan lagi.
"Aku ingin ke toilet," jawab Meyta dengan wajah merona.
Fardan tersenyum tipis. Istrinya ini mengapa sangat pemalu di hadapannya sedangkan di depan ibu dan adik tirinya ia sangat pemberani.
"Aku akan menggendongmu ke toilet," ujar Fardan.
Mata Meyta melotot, seharusnya Fardan tidak berlebihan seperti ini. Ia bisa berjalan sendiri, lagi pula mana mungkin ia membiarkan Fardan melihat aktivitasnya.
Fardan menanggap gelagat istrinya yang terkejut. Ia menipiskan bibirnya, sangat senang baginya bisa menggoda Meyta hingga pipi itu bersemu merah.
"A-aku bisa sendiri, hanya perlu turun dan aku sudah sehat. Keadaanku sudah membaik," tolak Meyta dengan tergagap.
Fardan terkekeh. "Aku akan memapahmu hingga ke depan pintu toilet," ucap Fardan dan dengan sigap ia membawa Meyta ke dalam gendongannya, berbanding terbalik dengan ucapan yang baru saja ia lontarkan.
"Kamu menipuku …!" pekik Meyta namun Fardan hanya tertawa menanggapinya.
Mata Meyta tak berkedip melihat wajah tampan itu.
'Apakah aku egois jika mencintainya dan berharap memilikinya dalam keadaanku yang tak terobati ini?'
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments
🍒⃞⃟🦅🏠⃟⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔Nur㊍㊍
setiap penyakit ada obatnya meyta smoga fardan bs jadi penawar dr sakitmu
2024-02-11
0