Malam pengantin berlalu begitu saja. Meyta dan Fardan akan kembali ke rumah mereka sendiri, Fardan sudah menyiapkan rumah untuk mereka tinggal berdua. Meyta selalu merasa gugup saat berdua dengan Fardan padahal suaminya ini tidak melakukan apapun padanya.
'Hei pria penyelamat, maafkan aku karena aku tidak mencarimu. Aku terpaksa menikah dengannya karena aku tak punya pilihan lain. Semoga kamu selalu bahagia di manapun kamu berada. Aku tulus berdoa untukmu,' gumam Meyta dalam hati.
Fardan memegang tangan Meyta saat mereka berjalan menuju ke mobilnya. Meyta terus melihat tangannya yang disentuh oleh Fardan, ia cukup risih tetapi pria ini berhak sepenuhnya.
'Hei penyelamat dan penyemangat hidupku, sekarang pria yang berstatus sebagai suamiku ini memegang tanganku. Maafkan aku, tapi aku tidak bisa menghentikannya. Dia berhak sepenuhnya atas diriku,' lanjut Meyta bermonolog dalam hati.
Di dalam mobil Fardan mencoba untuk menanyakan Meyta ini dan itu untuk mengakrabkan diri. Awalnya Meyta masih enggan bercengkrama dengannya, hanya saja pembawaan Fardan yang supel dan asyik itu membuat Meyta turut terbawa suasana.
"Jadi aku harus memanggilmu apa? Sayang, darling, honey, atau istriku?" tanya Fardan.
Pipi Meyta bersemu merah. Ini adalah pertama kalinya ia menentukan panggilan bersama seorang pria yang bukan hanya spesial tetapi pria ini adalah pemiliknya yang sah.
"Panggil saja aku Mey," jawab Meyta malu-malu.
"Oke, Mey sayang 'kan lebih lengkapnya." Fardan menggoda Meyta, ia sangat suka melihat rona merah alami di pipi istrinya ini.
Meyta membuang muka, ia tak bisa terus seperti ini. Ia khawatir akan merasa senang dan bersemangat lalu fase mania itu akan datang menguasainya. Fardan tidak boleh tahu tentang gangguan mental yang ia derita.
Meyta juga tak berniat membuat suaminya itu menjadi miliknya seutuhnya. Ia berpikir bahwa Fardan bisa menjadi lelaki bebas di luar sana. Ia yang tidak sempurna dan tidak normal. Fardan berhak mendapatkan kebahagiaan.
"Kita baru saja mengenal Fardan. Bagaimana bisa sayang," ujar Meyta tak berani menatap Fardan.
"Apakah kamu mengetahui istilah tak kenal maka tak sayang? Maka dari itu aku ingin kita saling mengenal agar kelak bisa saling menyayangi," ucap Fardan, ia berbicara dengan lembut dan suaranya menenangkan.
"Um."
Meyta tak berani bereaksi lebih. Ia tidak mengonsumsi obatnya, dikhawatirkan jika terus nyaman dan senang berbincang dengan Fardan maka ia akan lepas kendali. Bipolar itu kembali datang padanya setelah cukup lama meninggalkannya. Semua karena pernikahan mendadak ini, Meyta sempat mengalami depresi sebab ia harus menyudahi rasa sukanya pada pria penyelamat itu.
Sesampainya di rumah, Fardan mengajak Meyta untuk masuk. Ia kembali menggenggam tangan Meyta, menuntunnya untuk menapaki anak tangga. Ia sengaja menggenggam tangan Meyta, tujuannya agar gadis ini … ya masih gadis karena mereka belum melakukan penyatuan. Ia ingin Meyta merasa terbiasa dengannya dan berakhir nyaman.
Meyta kembali melirik tangannya, ia ingin menyingkirkan tangan Fardan tetapi ia tak kuasa melakukannya. Akhirnya ia memilih pasrah, mungkin ini cara Fardan untuk menunjukan status hubungan mereka sekarang.
Fardan membuka salah satu pintu seraya berkata, "Ini adalah kamar kita. Aku sudah menyiapkan beberapa pakaian untuk kamu, nanti kita akan mengisinya lagi sesuai dengan seleramu," ucap Fardan.
Meyta tertegun. Bahkan suaminya ini sudah menyiapkan segalanya. Kembali Meyta mengingat ucapan ayahnya jika mereka sudah dijodohkan sejak kecil, pasti Fardan telah melakukan persiapan.
"Kamu ingin melihat-lihat? Aku akan mengantarmu berkeliling rumah ini. Kamu juga harus mengenal setiap ruangan karena kamu adalah nyonya di rumah ini," ucap Fardan, ia menarik tangan Meyta untuk keluar dari kamar.
Setelah puas berkeliling, Fardan mengajak Meyta untuk duduk di tepi kolam. Tak luas, kolam itu hanya berukuran 3 m x 5m saja. Mereka mencelupkan kaki ke dalam air sambil berbincang-bincang.
Meyta hanya menjadi pendengar yang baik, Fardan sedang menjelaskan tentang bisnisnya yang bergerak di bidang logistik. Ia memiliki beberapa transportasi meliputi darat, laut dan udara. Sepertinya suaminya ini adalah pengusaha yang sangat sukses, bahkan Fardan berkata bahwa ia juga sedang memesan pesawat untuk menambah armada bisnisnya.
"Mengapa kamu hanya mendengarkan saja, apakah tidak ada yang ingin kamu bicarakan denganku? Tentang dirimu?" tanya Fardan, kemungkinan ia sudah lelah bercerita.
Matahari semakin naik namun mereka tidak merasakan panas sebab di dekat kolam terdapat pohon yang rindang. Daunnya yang berguguran pun jatuh di atas air.
"Tidak ada yang spesial tentang diriku," jawab Meyta. Ia sebenarnya sangat menghindari topik ini, rasa minder karena memiliki masalah mental membuatnya enggan membahas tentang dirinya.
"Itu nggak mungkin. Setiap makhluk yang diciptakan itu spesial. Entah itu kelebihan atau kekurangan, semua itu adalah istimewa. Tergantung dari bagaimana cara kita menerima dan menjalani semuanya dengan ikhlas. Tidak ada orang yang sempurna, hanya saja setiap orang tidak boleh merasa dirinya tak berguna. Tuhan menciptakan makhluk-Nya tentu memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Kita hanya perlu percaya pada-Nya dan mengandalkan diri kita. Yakinlah, kamu nggak sia-sia diciptakan di bumi ini. Kamu spesial dalam dirimu yang apa adanya."
Ucapan Fardan bagaikan tamparan untuk Meyta. Suaminya ini seakan sedang memberinya petuah untuk kondisi dan masalah yang ia derita. Sepertinya Fardan juga orang yang bisa dipercaya untuk menjadi teman dan suami yang baik. Hanya saja … Meyta tak ingin jatuh cinta. Fardan akan sial jika memiliki istri yang mengidap gangguan mental seperti dirinya.
"Sepertinya kamu cocok menjadi motivator," ucap Meyta mengalihkan.
Fardan terkekeh. "Aku pernah mencobanya tetapi sialnya aku tidak berhasil. Mungkin yang paling utama adalah mampu memotivasi diri sendiri dulu. Aku lebih cocok mengurus bisnis logistik."
Meyta turut tertawa. Tawa merdu dan renyah hingga membuat Fardan terpana olehnya. Ia tersenyum. Dalam hati Fardan merasa senang sudah membuat Meyta menikmati kebersamaan mereka.
"Oh ya, aku ingin menanyakan sesuatu padamu. Sebenarnya sejak tadi," ucap Meyta agak ragu.
Fardan mengerucutkan bibirnya. "Mengapa tidak ditanyakan sejak tadi? Aku tidak menggigit, jangan ragu jika ada hal yang ingin kamu bicarakan. Bukankah sejak tadi aku terus berceloteh?"
Meyta rasanya ingin menarik bibir bagus Fardan yang terlihat imut saat ia kerucutkan. Sepertinya suaminya ini akan sangat menggemaskan jika sedang merajuk.
"Itu … mengapa kamu bisa menyiapkan pakaian untukku sedangkan kamu tidak pernah mengambil contoh ukuran pakaianku. Apakah kamu pernah bertemu denganku sebelumnya?"
Pertanyaan Meyta membuat Fardan terdiam sejenak. "Ya, kita pernah bertemu sebelumnya," jawab Fardan tanpa menoleh ke arah Meyta.
Wajah Meyta menampilkan ekspresi terkejut. Pantas saja Fardan mengetahui ukurannya jika seperti itu.
"Lalu, di mana kamu bertemu denganku, aku sama sekali tidak mengingatnya?" tanya Meyta penasaran.
"Di suatu tempat yang sepi," jawab Fardan kemudian tatapannya menerawang jauh.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments
🍒⃞⃟🦅🏠⃟⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔Nur㊍㊍
dia adalah pria yg selama ini kamu kagumi mey dan skrg jd suamimu selamat selamat...
2024-02-10
0