Episode 5

Obrolan di kolam renang terhenti begitu saja saat sebuah panggilan masuk ke ponsel Fardan. Ia meminta izin pada Meyta untuk mengangkat panggilan tersebut sedangkan Meyta memutuskan untuk kembali ke kamar mereka.

Tak ada yang Meyta lakukan di kamar, ia berniat untuk beristirahat tetapi ia merasa canggung pada Fardan. Ingin menyibukkan diri tetapi ia tidak tahu akan melakukan apa.

"Apa yang harus aku lakukan di rumah sebesar ini?" Meyta mendesah, ia tak menemukan satupun ide yang hendak ia kerjakan.

Meyta duduk bersandar sofa single yang berada di dekat jendela. Dari sana ia bisa melihat kolam renang yang memantulkan cahaya berkilau. Ia kembali teringat akan obrolannya bersama Fardan. Pria ini bisa membuat ia merasa nyaman dalam waktu singkat.

"Semua ucapannya membuatku merasa termotivasi. Tapi ... jika nanti dia mengetahui kekuranganku ini, apakah dia akan tetap mengeluarkan ucapan yang sama?"

Meyta merasa ragu. Ia teringat akan obat-obatan yang ia simpan di rumah ayahnya dan belum ia ambil. Harusnya itu tidak boleh ketinggalan. Meyta berpikir untuk meminta izin pada Fardan agar bisa kembali ke rumah untuk mengambil barang-barangnya.

Baru saja Meyta berpikir demikian, pintu kamar dibuka oleh Fardan. Pria itu tampak menghela napas panjang. Meyta sontak berdiri.

"Aku tadi mencarimu di kolam tetapi kamu tidak ada. Aku pikir kamu kabur," ucapnya seraya berjalan ke arah Meyta.

Bola mata Meyta bergerak gelisah. Ia tidak suka dengan perasaannya yang mencoba menerobos masuk hanya karena perhatian kecil Fardan. Ia harus segera mengambil obatnya, jika tidak ia akan lepas kendali.

"Aku bosan berada di kolam. Aku kembali ke kamar karena tidak tahu akan ke mana lagi," jawab Meyta.

"Apakah rumah ini tidak nyaman untukmu?" tanya Fardan.

Dengan cepat Meyta menggeleng. "Bukan. Hanya saja rumah milikmu ini begitu besar dan hanya ada kita berdua," jawab Meyta kemudian ia menggigit bibirnya. Meyta khawatir Fardan akan merasa tidak senang dengan jawabannya.

Fardan menggulum senyuman. Ia menepuk bahu Meyta seraya berkata, "Aku sengaja memilih rumah yang besar untuk kita. Kelak kita akan memiliki beberapa anak, rumah ini pasti akan menampung untuk jumlah kita yang cukup banyak."

Meyta tertegun. Mengapa tiba-tiba Fardan membahas tentang anak? Siapa yang akan melahirkan anak untuknya? Jika itu dirinya maka ia masih belum siap. Bukan karena tidak ingin memberikan hak Fardan padanya, tetapi Meyta merasa tidak pantas bersanding dengan Fardan dengan gangguan mental yang ia derita. Belum lagi ia khawatir jika nanti penyakitnya akan menurun ke salah satu anaknya, semua hanya akan memberi penderitaan saja.

"Anak?" Meyta membeo.

Fardan mengangguk. "Ya, anak. Aku ingin memiliki tiga anak. Dua laki-laki dan satu anak perempuan ... dan jika seandainya kita masih mampu untuk mengurus mereka maka aku juga ingin memiliki anak sebanyak lima, empat laki-laki dan satu perempuan. Semua tergantung kamu."

Mata Meyta terbelalak. Apakah suaminya ini akan membunuhnya atau menganggapnya sebagai mesin pencetak anak? Bagaimana bisa ia berencana memiliki lima anak sekaligus dengan jenis kelamin yang sudah ia tentukan.

Meyta mulai berpikir bagaimana jika nanti ia mengandung dan semua anaknya itu adalah perempuan? Apakah Fardan akan terus memintanya untuk melahirkan? Membayangkannya saja sudah membuat Meyta bergidik ngeri.

Melihat ekspresi tubuh Meyta membuat Fardan tersenyum. Ia mengetahui istrinya ini tengah memikirkan jumlah anak yang tadi ia sebutkan. Gemas dengan sikap Meyta, Fardan pun semakin suka menggodanya.

"Tetapi jika nanti kamu melahirkan tiga anak perempuan dan hanya ada satu atau dua anak lelaki ... maka aku akan semakin berusaha untuk membuatmu hamil lagi hingga kita bisa mendapatkan empat anak laki-laki."

Hampir saja Meyta pingsan mendengar keinginan suaminya. Ia menatap horor pada suaminya itu lalu Fardan tertawa terbahak-bahak.

"Aku hanya bercanda," ucapnya menyisakan tawa.

Meyta mendengus pelan. Jika saja itu benar maka ia pasti akan segera membuat surat cerai di hari kedua mereka menikah.

Keduanya kembali terdiam. Fardan paham jika Meyta masih begitu pasif berbagi cerita dengannya. Ia harus memancing dulu jika ingin mendengar suara Meyta. Fardan juga bisa melihat jika saat ini raut wajah istrinya menunjukkan jika ia ingin mengatakan sesuatu hal tetapi ia menahannya lagi.

"Apakah ada sesuatu yang ingin kamu katakan?" tanya Fardan, ia harus bersabar dengan istrinya. Mereka memang belum saling mengenal lalu tiba-tiba duduk di pelaminan untuk melakukan ikrar pernikahan.

"Itu ... apakah bisa aku minta izin kembali ke rumah ayahku? Ada beberapa barang yang harus aku ambil," tanya Meyta ragu-ragu. Ia juga tidak meminta jika Fardan yang harus mengantarnya, diberi izin saja ia akan pergi dengan sendirinya tak ingin merepotkan dan tak ingin semakin banyak berutang budi.

"Oh, tentu saja. Ayo, biar aku antar sekalian kita menyapa mertua," ajak Fardan yang lebih antusias, ia bahkan langsung menarik dengan Meyta. Sepertinya pria ini sudah begitu sering melakukan skin ship padanya.

Sesampainya di rumah keluarga Wicaksana, keduanya langsung disambut dengan begitu hangat oleh Primus dan Shinta. Di sana juga ada Misca dan Jefy, wajah Misca tampak sangat bersemangat.

"Selamat datang Kak Fardan, ayo masuk," ajak Misca sangat antusias.

Meyta melihat adegan itu dengan terheran-heran, begitupun dengan ayahnya.

Shinta sendiri tak suka dengan sikap putrinya yang blak-blakan seperti ini, ia sebenarnya tahu Misca sudah lama menyimpan perasaan lebih pada Fardan, tetapi kenyataannya bukan putrinya yang dipilih untuk dijadikan istri oleh pemuda sukses ini.

Primus berdeham. Misca langsung tersadar dengan tingkahnya. Ia buru-buru meminta maaf lalu ia pamitan untuk membuatkan minuman untuk Fardan.

"Mengapa kamu hanya membuatkan untukku saja Adik Ipar? Harusnya kamu membuatkan minuman juga untuk kakakmu, walau bagaimanapun sekarang dia di rumah ini adalah tamu," ucap Fardan tegas.

lelaki ini rupanya bisa membaca gelagat Misca terhadapnya. Ia tidak suka pada perempuan yang dengan terang-terangan ingin merebut seorang suami di hadapan istrinya. Fardan tidak suka apalagi melihat istrinya diabaikan di rumahnya sendiri.

"Ah ya ... tentu saja aku akan membuatkan untuk Kak Meuta juga," ucap Misca dengan suara yang terdengar ogah-ogahan. Ia melirik sekilas pada Meyta yang juga sedang menatapnya sebelum ia berlalu ke dapur untuk meminta pelayan membuatkan minuman.

Meyta pun berpamitan menuju ke kamarnya namun Fardan tak tinggal diam, ia juga ingin melihat kamar istrinya sewaktu masih gadis, Ah tidak, bahkan sampai saat ini istrinya juga masih gadis. Ia belum memerawaninya, belum menyentuhnya sama sekali.

Meyta terkejut dengan kehadiran Fardan di belakangnya. Bagaimana caranya ia akan mengambil obat-obatan itu sedangkan Fardan terus mengawasinya.

"Botol-botol obat itu punya kamu? Itu obat apa?" tanya Fardan saat ia melihat Meyta diam-diam mengeluarkan obat dari dalam laci meja belajarnya.

Terpopuler

Comments

🍒⃞⃟🦅🏠⃟⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔Nur㊍㊍

🍒⃞⃟🦅🏠⃟⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔Nur㊍㊍

berterus terang lebih baik farhan tipe suami yg baik pasti dia akan membantu istrinya sembuh dr penyakit bipolar nya

2024-02-10

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!