"Tunggu di luar saja, jangan ikut masuk!" ulang Meyta, entah sudah berapa kali ia meminta Fardan untuk menungguinya di luar namun suaminya masih keras kepala.
"Aku tidak akan mengintip Nyonya Istri. Aku berbalik badan," tegas Fardan lagi. Ia terlalu khawatir Meyta akan jatuh, terbentur atau apapun itu yang akan terjadi pada istrinya jika ia meninggalkannya sendirian.
Meyta menggembungkan pipinya. Berdebat dengan suaminya sepertinya tidak akan ada habisnya sedangkan ia sudah tidak bisa menahan lagi rasa ingin buang airnya.
"Jangan mengintip!" pekik Meyta halus dengan mata melotot walaupun ia tahu Fardan tidak bisa melihat gertakannya.
Sebuah anggukan diberikan Fardan dan Meyta dengan cepat menunaikan hajatnya.
Fardan diam-diam tersenyum, ia bahagia karena bisa sedekat ini dengan sang istri. Bisa menjadi suami siaga, dan yang pasti ia ingin membuat Meyta tak lagi canggung dengannya. Ia akan berusaha untuk mengikis jarak tersebut agar hubungan mereka tidak hambar. Yang pasti Fardan juga memastikan akan memukul mundur setiap orang yang mencoba untuk merusak ataupun mengganggu hubungan mereka. Tidak peduli siapapun itu.
"Sudah," ucap Meyta dengan suara lirih.
Fardan berbalik, ia mendapati wajah merona Meyta. Satu fenomena yang paling ia sukai, rona merah itu.
Lalu Fardan bersiap untuk menggendong Meyta tetapi istrinya itu menolak dengan berjalan lebih dulu. Malangnya, ia tak sengaja tersandung oleh kakinya sendiri hingga Fardan dengan sigap menangkapnya.
Bagai gerakan dansa, keduanya saling bertatapan cukup lama. Bahkan Meyta menahan napas hingga beberapa detik lamanya karena grogi ketika tatapan keduanya saling bertemu.
"Tuan Suami, bisa lepaskan aku?" pinta Meyta dengan suara lirih.
Fardan mengerjap. Ia terkekeh pelan, bukannya melepaskan Fardan justru langsung menggendong Meyta ala bridal style. Semakin lah bertambah merah pipi Meyta dan Fardan semakin suka.
"Kamu selalu bertindak sesuka hati padaku," ucap Meyta kesal.
"Tentu saja. Aku adalah suamimu dan hal ini juga berlaku sama untukmu. Kamu bisa melakukan hal sesukamu padaku kecuali pergi dari kehidupanku!"
Meyta tertegun. Fardan seakan tahu rencananya. Sekarang bagaimana caranya ia untuk lari jika lelaki ini sudah menyatakan hal yang tidak ia inginkan?
Sibuk dengan pikirannya itu Meyta tidak sadar jika ia sudah kembali berbaring di tempat tidur dan Fardan sudah kembali duduk di bangkunya. Fardan menyadari istrinya melamun, ia tersenyum getir. Seakan tahu apa yang dipikirkan Meyta, wajah tampan itu berubah muram.
"Kamu berencana pergi?" tanya Fardan dengan suara bergetar.
Meyta mengerjap. Ia sadar jika ekspresinya menunjukkan apa yang sedang ia pikirkan dan Fardan mendapatinya.
"Pergi? Ya aku ingin pergi dari rumah sakit. Aku tidak ingin di rawat lebih lama," jawab Meyta, ia mengatur ekspresinya agar Fardan percaya dengan ucapannya barusan.
Senyum kecil terbit di bibir Fardan, ia mengacak rambut Meyta dengan penuh sayang. "Setelah kamu pulih maka kamu boleh pulang. Jadi, sekarang Nyonya Istri harus menikmati harinya di rumah sakit sampai semuanya baik-baik saja," ucap Fardan lalu ia menjawil hidung Meyta.
"Ih menyebalkan!" gerutu Meyta dengan mengerucutkan bibirnya.
Fardan tertawa renyah. Bibir se-merah Ceri itu seakan memanggilnya untuk dikecup lagi.
Lagi?
Ya, Fardan beberapa kali diam-diam mengambil kecupan saat Meyta tertidur. Ia menyadari istrinya sangat manis dan bagaikan seorang penggoda yang selalu bisa menggodanya meskipun ia sedang diam dan terlelap dalam mimpi.
"Aku tahu," sahutnya lalu ia kembali tertawa.
Keheningan terjadi seketika. Meyta diam dengan pikiran yang semakin hari semakin bertambah menyukai sosok suaminya dan bagaimana caranya ia menghindari semua ini. Sedangkan Fardan sibuk memikirkan bagaimana caranya ia bisa lebih intim dengan istrinya tanpa harus mencuri-curi kesempatan dalam kesempitan.
Saat dalam keheningan, pintu kamar tersebut dibuka dan ternyata yang datang adalah dokter beserta perawat yang menemaninya.
"Selamat pagi Nyonya Meyta, bagaimana keadaan Anda pagi ini?" tanya dokter tersebut dengan ramah.
Meyta membalas senyuman. "Saya sudah baikan, Dok."
"Kalau begitu saya periksa dulu ya."
Fardan mengamati dokter yang memeriksa keadaan istrinya. Subuh tadi ia sempat cemburu karena yang mengurus Meyta adalah dokter pria sedangkan sekarang ia biasa-biasa saja sebab dokternya perempuan. Fardan tidak tahu sejak kapan keposesifan itu merasuki dirinya.
"Tekanan darah normal, detak jantung juga sudah kembali normal. Nanti siang boleh pulang jika sudah tidak demam lagi ya. Jangan lupa obatnya diminum dan jangan terlalu banyak pikiran yang bisa memicu stress. Kami permisi dulu ke pasien yang lainnya, semoga lekas sembuh," ucap dokter kemudian ia pergi bersama dengan dua perawat yang menemaninya.
Tinggallah Meyta dan Fardan di ruangan. Keduanya merasa lega karena sudah diperbolehkan untuk pulang.
Kini Meyta menyadari bahwa jika ia kehilangan kendali dan tidak mengonsumsi lithium itu maka ia bisa berakhir di rumah sakit karena demam. Ia tidak boleh menjauhkan obat itu darinya, bersama Fardan gangguan itu lebih sering datang.
Semua karena ia yang mulai tertarik pada suaminya sendiri. Rasa bahagia diperhatikan, Fardan yang manis dan penuh pengertian membuat hati Meyta tergelitik dan tersentuh untuk merangkai rasa lebih dari sekadar status suami istri.
Kini hati Meyta mulai serakah, ia ingin egois dengan membiarkan cinta itu hadir. Walau hanya sesaat ia merasakan jatuh cinta dan dicintai, setidaknya itu terasa daripada tidak sama sekali.
"Kamu mau makan makanan rumah sakit atau aku carikan makanan di luar?" tanya Fardan.
"Makanan yang ada saja," jawab Meyta, ia tidak ingin merepotkan Fardan.
Suaminya itu mengangguk. Fardan dengan sigap mengambil makanan tersebut yang diantar oleh perawat tadi lalu ia hendak menyuapi Meyta.
"Aku bisa sendiri. Kamu sebaiknya beristirahat. Kamu pasti lelah telah merawatku. Cukup aku yang sakit, kamu jangan," ucap Meyta membuat hati Fardan terharu.
"Ya sudah, aku juga harus menghubungi Ren karena aku tidak bisa datang ke kantor hari ini," ucap Fardan lalu ia mengambil jarak untuk menghubungi Ren.
Meyta hendak protes sebab ia tidak ingin Fardan membuang waktunya hanya untuk menjaganya di rumah sakit tetapi panggilan itu lebih cepat dijawab Ren.
Alhasil Meyta hanya bisa menahan dirinya. Lagi pula tidak ada yang salah dan jika boleh jujur Meyta sangat senang menghabiskan waktu bersama Fardan lebih banyak. Ia ingin mengenal suaminya itu lebih dalam lagi.
"Jika ada yang harus aku tanda tangani dan itu berkas penting maka antar lah ke rumah sakit juga. Tolong bawakan aku pakaian dari rumah, aku tidak membawa pakaian ganti, terima kasih."
Fardan menyimpan ponselnya, ia menatap Meyta sambil berjalan menuju bangkunya tadi. Bibirnya membentuk bulan sabit saat melihat istrinya sedang menikmati sarapan.
"Oh ya Nyonya Istri, semalam kamu memanggil seseorang sebagai penyelamat hidupmu. Siapa dia? Apakah kekasihmu?"
Uhuk ….
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments
🍒⃞⃟🦅🏠⃟⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔Nur㊍㊍
uhuk meyta keselek wkwk ketahuan dia punya pria penyelamat
2024-02-11
0