"I-itu …."
Meyta tidak mampu menjawab. Ia bingung harus menjelaskan seperti apa. Bukankah mereka belum sedekat itu meskipun mereka sudah berbagi rumah dan tempat tidur bersama? Apakah mereka sudah cukup dekat untuk saling jujur satu sama lain? Rasanya terlalu cepat untuk menceritakan semua hal meskipun mereka adalah pasangan suami-istri.
Fardan mengulas senyuman, sepertinya jawaban itu masih sulit untuk keluar dari mulut istrinya.
"Tidak perlu dijawab jika tidak bisa. Toh masing-masing dari kita pasti punya masa lalu. Aku tidak akan memaksa apapun darimu untuk terbuka. Jika sudah saatnya kamu juga pasti datang padaku untuk menceritakan segala hal. Aku menanti hal itu darimu, bukan berarti aku menekanmu. Aku memberikan kebebasan tetapi ingatlah jika kita adalah pasangan sekarang. Jangan memendam apapun sendirian lagi, aku bersamamu."
Meyta melengkungkan senyuman lebar. Hatinya benar-benar sudah disentuh oleh 'Tuan Suami' namun pikirannya tidak baik-baik saja saat ini. Ia takut terjerat cinta dan tak bisa keluar, cinta ini bagaikan ia berusaha untuk menggenggam angin. Terasa tetapi tidak bisa disentuh. Jangankan untuk menyentuhnya, melihatnya pun mustahil. Meyta khawatir ia hanya akan tersakiti dan Fardan akan terluka.
'Hai pria penyelamat dan penyemangat hidupku, haruskah aku jatuh cinta padanya? Kamu tahu aku tidak sempurna sedangkan Tuan Suami adalah pria nyaris sempurna. Semua hanya akan membawa angan, tenggelam dalam ilusiku sendiri seperti selama ini aku memperlakukanmu.'
Meyta sama sekali tidak takut jika ia harus tenggelam dalam cinta sendiri, menjadi kekasih bayangan atau pun makhluk tak kasat mata bagi Fardan. Menerapkan prinsip cinta tak harus memiliki, Meyta terbiasa mencintai dalam diam. Tak mengapa hanya ia yang jatuh cinta, karena mengharap cinta terbalas tanpa syarat dan tanpa peduli kondisinya itu sangat sulit dan nyaris mustahil.
Pintu ruangan dibuka, tampak Ren datang dengan membawa paper bag. Sepertinya itu berisi pakaian dan pesanan Fardan tadi.
"Apa kabar Nyonya? Bagaimana kondisi Anda saat ini?" tanya Ren sembari tersenyum manis.
'Apakah ini yang katanya Nyonya menindas Ibu dan Adik tirinya? Mengapa justru Nyonya yang berada di rumah sakit. Sepertinya mereka sedang playing victim,' gumam Ren dalam hati.
Saat Ren sedang mengkhawatirkan keadaan istri tuannya, ia tidak sadar saat ini tatapan Fardan begitu tajam padanya. Meyta yang menyaksikan itu menjadi ragu untuk menjawabnya. Entah apa yang terjadi pada suaminya, tiba-tiba saja wajahnya terlihat sangar.
"Apa maksudmu peduli pada istriku? Kamu menyukainya? Jangan bilang kemarin saat kamu menemuinya kamu sudah mulai melancarkan flirting buaya buntungmu itu?"
Ren dan Meyta terbengang mendengar tudingan tak manusiawi Fardan. Ren bahkan hampir menangis mendengar kata-kata nyeleneh tersebut. Bagaimana mungkin hanya menanyakan kabar sudah mendapat tudingan seperti itu? Apakah ia tidak boleh berbasa-basi?
"Tuan, Anda melukai perasaan saya lho. Tuduhan Anda sungguh tidak manusiawi!" ucap Ren dengan suara yang terdengar getir.
Fardan mencebikkan bibirnya. "Berhenti bersandiwara. Matamu itu selalu tidak tahan dengan setiap wanita cantik. Mau matamu kuganti dengan mata Buaya jika masih jelalatan melihat istriku?!"
Ren menggeleng cepat. Bagaimana mungkin tuannya bisa mengeluarkan fitnah keji seperti itu padahal ia sendiri sampai detik ini tidak pernah dekat dengan wanita mana pun.
'Cemburu apakah semenakutkan ini? Ah tidak, daripada aku memikirkan perasaan Tuan Fardan yang semakin hari semakin posesif itu, lebih baik aku menghindar dari pasangan ini. Aku tidak ingin jadi sasaran Tuan!'
Ren bergidik ngeri. Jika ia terus berada di sini bukan tidak mungkin akan lebih banyak tudingan aneh lagi yang akan diberikan padanya. Lebih baik Ren mengambil langkah seribu dengan berpamitan.
"Ya, cepatlah pergi dari sini," ujar Fardan sambil mengibaskan tangannya.
Meyta melepaskan tawa renyahnya begitu melihat pintu sudah tertutup. Suaminya ini mengapa begitu tampan dan menggemaskan?
"Ada yang lucu?" tanya Fardan sedikit merenggut, ia tidak suka tatapan Ren tadi dan perhatiannya walaupun itu adalah hal yang lumrah ditanyakan saat seseorang datang menjenguk orang sakit.
"Kamu. Mengapa menggemaskan sekali? Ren tidak salah apapun dan jangan memberi tuduhan lucu seperti tadi. Apa kamu tidak melihat wajahnya seperti penuh dengan derita? Dia mengenaskan," jawab Meyta, ia kembali tertawa.
Fardan mendengus. Tadinya ia ingin marah namun melihat Meyta yang semakin cantik dengan tawa bagusnya itu membuat Fardan mengurungkan niat. Ia menggulum senyuman, istrinya selalu saja membuatnya terpukau.
Tanpa kata Fardan masuk ke kamar mandi untuk ganti baju. Kali ini ia ingin mengetes Meyta dengan berpura-pura merajuk. Berharap mendapat gombalan maut dari sang istri, mungkin saja. Berharap tidak ada salahnya, bukan?
Meyta sendiri terus menatap pintu toilet yang tertutup seakan baru saja menelan suaminya.
"Apakah dia merajuk?" desah Meyta pelan.
Istri tapi perawan ini mulai cemas, ia tidak mau terjadi kesalahpahaman lebih lanjut jika ia dan Fardan tidak saling bertegur sapa. Bisa ia lihat Fardan tadi kesal. Harusnya ia menyembunyikan kegeliannya terhadap sikap posesif Fardan itu dan menunjukkan rasa senangnya karena mendapat perlindungan lebih dari sang suami. Ia salah mengambil tindakan.
"Aku harus membujuknya," gumam Meyta.
Bersamaan dengan itu, pintu kembali dibuka dan tampak Fardan sudah berganti pakaian. Ia mengenakan kaos yang begitu pas dengan tubuhnya dan warna yang kontras dengan kulitnya. Celana di bawah lutut yang terbuat dari bahan jeans semakin menambah kadar ketampanannya.
Tapi tunggu dulu …
Meyta seakan mengenali seseorang lewat penampilan suaminya ini. Ia seperti pernah melihat tetapi lupa di mana dan kapan.
Fardan duduk lagi di bangkunya dengan tanpa suara. Berpura-pura sibuk dengan ponselnya dan tak mau mengajak Meyta berbicara.
'Sepertinya dia benar merajuk. Hah … jika sudah seperti ini aku harus membujuknya. Dia sudah begitu baik, mana mungkin aku membiarkannya terluka dengan sikapku tadi.'
Pertama-tama Meyta berusaha mengatur detak jantungnya. Ia tidak pernah melakukan hal ini sebelumnya. Lalu ia mulai mengatur napasnya, rasanya sangat gugup.
"Apakah kamu kesal padaku?" tanya Meyta dengan hati-hati.
Fardan mengangkat alisnya tinggi seakan menantang langit. Tak ada jawaban hingga membuat Meyta berpikir bahwa ia harus mengambil inisiatif lagi.
Meyta memegang kedua telinganya sambil menundukkan kepalanya. "Maafkan aku Tuan Suami, aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku tahu aku salah, maafkan aku ya. Bukankah kamu begitu baik?"
Bibir Fardan berkedut namun ia berusaha untuk menahannya. Meyta begitu menggemaskan namun ia baru saja mendapat ide sedikit gila, ia akan menjalankan aksinya.
"Aku dan kamu bukan anak kecil lagi. Sebagai pria dan wanita dewasa, ada satu cara untuk meminta maaf agar dimaafkan. Jika kamu mau maka aku bisa menunjukkannya padamu, jika tidak ya tidak mengapa," ucap Fardan menyembunyikan smirk-nya.
Dengan cepat Meyta mengangguk. "Aku pasti akan melakukannya. Bagaimana caranya?"
Fardan tersenyum seringai lalu ia menunjuk pipinya dengan jari telunjuk. "Satu kecupan di pipi akan menghapus semua kekesalan itu."
Mata Meyta melebar sempurna.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments
🍒⃞⃟🦅🏠⃟⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔Nur㊍㊍
ambillah kesempatan itu jika ada fardan jgn disia"kan wkwk lumayan lah klu sang istri menuruti keinginanmu 🤣
2024-02-11
0