Episode 9

Meyta menangis di dalam kamar. Selepas kepergian dua orang yang sangat tidak ia senangi itu kini ia dilanda kesedihan. Lithium bahkan tak mampu untuk menenangkannya. Ia sakit hati, jika memang mereka sudah lama menginginkan Fardan mengapa tidak mengatur ulang perjodohan?

Cukup dengan pria ilusi itu Meyta telah menemukan kebahagiaan dan semangat hidupnya. Cukup dengan pria ilusi itu semua bisa tertata dengan baik dan bahkan lithium hampir tidak tersentuh. Cukup dengan pria ilusi itu Meyta bisa menikmati indahnya jatuh cinta tanpa takut tertolak dan direbut oleh seseorang.

Lalu saat ini, di saat ia mulai merasa nyaman, mengapa harus ada pihak ketiga? Apakah ia dan ibunya tidak berhak bahagia? Ia tidak menginginkan perjodohan ini tetapi pernikahan bukan sesuatu yang bisa dipermainkan. Ia memang minder dengan keadaannya tetapi bukan secepat ini mereka menyatakan perang dan ingin merampas posisinya.

Ini gila!

Sepanjang hari Meyta terus menangis. Fase depresi terus menekan kesedihannya. Mengingatkan pada bayang penderitaan masa lalu saat pihak ketiga menghancurkan keluarganya yang bahagia dan kini akan terulang kembali dengan orang yang sama.

Di dalam lemari penyimpanan pakaian Meyta menyembunyikan dirinya. Ia takut, bayangan ibunya gantung diri terus menekan pikirannya. Ia hendak melakukan hal yang sama tetapi kesedihan masih menahannya. Tangisannya masih ingin menemani.

Ponselnya yang berdering bahkan tak ia hiraukan. Seseorang di balik meja kerjanya sedang merasa resah sebab ia tidak menjawab panggilan itu.

"Meyta ke mana? Apa yang terjadi dengannya? Aku ingin mengajaknya makan siang tetapi mengapa dia begitu sibuk hingga mengabaikanku? Apakah dia sedang sibuk dengan semua rencananya?"

Fardan mendesah, ia menyandarkan kepalanya dengan kedua tangannya sebagai alas di kursi.

Merasa tidak tenang, Fardan mengecek CCTV rumah. Ia ingin mengetahui apa yang sedang dilakukan istrinya itu di rumah.

Saat ini di rumah tidak terlihat Meyta, Fardan mencari ke seluruh ruangan yang terdapat CCTV tetapi ia tidak menemukannya. Ia mencoba memutar ulang rekaman di jam-jam sebelumnya.

Mata Fardan membulat sempurna saat melihat dua orang datang dan membuat kekacauan. Tangan Fardan terkepal, ia tidak menyangka Ibu dan Anak itu datang dan mengintimidasi Meyta.

Tetapi dalam rekaman itu istrinya terlihat lebih menakutkan. Fardan menarik sudut bibirnya membentuk lengkungan indah.

"Rupanya dia cukup tangguh. Sikapnya yang lembut membuatku mengira dia akan lemah saat berhadapan dengan mereka. Ternyata dia jauh lebih tangguh," gumam Fardan.

Terakhir Fardan memastikan bahwa ia melihat rekaman di mana Meyta masuk ke kamar dalam keadaan sedih. Ia ingin pulang namun ia yakin Meyta tidak akan suka jika ia memergokinya sedang menangis.

Akhirnya Fardan memutuskan untuk membiarkan Meyta mengambil waktunya sendiri. Ia akan semakin jauh dari istrinya jika ia tiba-tiba datang dan memberikan pelukan.

"Dia sangat kuat, aku tahu dia kuat. Jika kedua orang itu berulah lagi maka aku yang akan menghadapinya," gumam Fardan.

Fardan kemudian menghubungi asistennya untuk membawakan makan siang untuknya.

Ren datang bersama makanan yang dipesan Fardan, wajahnya terlihat kesal. Hal itu memancing kecurigaan Fardan, Ren tidak biasanya seperti ini di hadapannya jika tidak terjadi sesuatu.

"Ada apa denganmu?" tanya Fardan sambil membuka makanan, ia sudah duduk di sofa dan mulai melahap makanan itu.

"Ibu Mertua Anda dan anaknya datang," jawab Ren.

Makanan di mulut Fardan langsung terelan bulat-bulat. Dengan cepat Ren memberikan minuman pada atasannya ini.

"Datang lagi? Hah … merusak suasana makan ku saja," desah Fardan. "Jangan biarkan mereka masuk, katakan saja aku sibuk sekali hari ini," imbuh Fardan, ia kembali memasukkan makanan ke dalam mulutnya.

Ren mengangguk. Ia berpamitan keluar untuk menemui dua wanita itu, tamu yang tak diundang namun sering sekali datang.

Di luar, Ren harus kembali memasang tampang ramah. Dua wanita di hadapannya adalah ibu mertua dan adik ipar atasannya. Ia harus tetap menghormati mereka meskipun ia merasa muak.

"Tuan Fardan sedang sibuk, beliau sedang melakukan virtual meeting," ucap Ren.

Shinta dan Misca mendesah lemah, tujuan datang untuk melaporkan Meyta harus tertunda. Shinta juga tidak ingin memaksakan kehendak, ia harus menjaga citra baiknya di depan Fardan.

"Ya sudah, kami permisi dulu. Lain kali saja," ucap Shinta.

Berbeda dengan Misca, ia justru kesal karena ibunya memilih pergi. "Tidak bisa seperti itu, Bu. Aku datang untuk mengatakan kalau istri Kak Fardan sudah menyakitiku. Aku ingin melaporkannya. Kak Fardan sudah salah memilih istri!" tandas Misca.

Ren cukup kaget, ia menaikkan satu alisnya seakan menantang langit. Ia sudah bertemu dengan istri dari atasannya namun wanita itu terlihat lemah lembut dan sepertinya tidak akan tega menyakiti seseorang.

"Nyonya Meyta menyakiti Anda?" tanya Ren penasaran.

Misca mengangguk. "Benar, kamu lihat saja pipiku ini ada bekas tamparannya. Wanita itu sungguh berbahaya, Kak Fardan harus dijauhkan darinya," jawab Misca tegas.

"Bukannya wanita itu adalah saudara Anda? Mengapa menjelek-jelekkan saudara Anda sendiri. Lagi pula tadi saya datang ke rumah dan Nyonya Meyta tidak terlihat sejahat itu, jangan memfitnahnya."

Misca terdiam. Ia gegabah, mana mungkin mereka akan percaya sedangkan ia dan Meyta adalah saudara. Pantas saja ibunya sudah mengajaknya pergi.

Tanpa kata Misca pergi sambil menghentak-hentakkan kakinya. Kesal sudah pasti, bukannya mendapat simpatik justru ia dicurigai sedang memfitnah Meyta.

"Dasar aneh," gumam Ren.

****

Fardan membuka pintu rumah dalam keadaan gelap. Ia baru pulang setelah menyelesaikan meeting terakhir bersama klien. Ia pikir akan mendapatkan sambutan dari 'Nyonya Istri' namun ternyata tidak sama sekali.

Langkah Fardan terlihat cepat dan napasnya terdengar gusar. Ia khawatir terjadi sesuatu pada Meyta. Ia bergegas masuk ke kamar dan kamar pun dalam keadaan gelap. Jendela masih terbuka dan ia tidak menemukan Meyta.

Dengan hati-hati Fardan mencari istrinya. Berbagai pikiran buruk menghantuinya hingga ia mendengar suara tangis dari lemari penyimpanan pakaian.

"Oh my God Meyta!" pekik Fardan saat menemukan istrinya dalam keadaan kacau.

Meyta hanya meliriknya sekilas, ia kehilangan kesadaran saat Fardan membantunya keluar. Dengan cepat Fardan menggendong istrinya ke tempat tidur, membaringkannya dengan hati-hati lalu ia menyalakan lampu dan menutup jendela.

"Apa yang sudah terjadi dengannya? Apakah masalah tadi membuatnya sekacau ini? Mey, kamu harus kuat. Aku tahu kamu kuat," bisik lirih Fardan.

Tangan Meyta digenggamnya. Ia mengusap wajahnya dengan dengan lembut dan membantu merapikan rambut istrinya yang berantakan. Perlahan Fardan turun, ia mengambil obat yang berada di lemari penyimpanan.

"Untung aku selalu menyimpannya," gumam Fardan.

Ia membantu Meyta menelan pil tersebut dengan mencairkannya lalu meminumkan dengan menggunakan sendok.

"Aku akan membersihkan diri dulu, kamu tidur yang lelap ya sayang. Biarkan hari ini berlalu dengan membawa cerita buruk, jemput lah kebahagiaan di hari esok. Ada aku bersamamu," bisik Fardan lalu ia mengecup dahi Meyta dengan lembut.

Terpopuler

Comments

🍒⃞⃟🦅🏠⃟⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔Nur㊍㊍

🍒⃞⃟🦅🏠⃟⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔Nur㊍㊍

yang jahat akan ttp terlihat jahat kasian kamu Misca wkwkwk

2024-02-11

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!