Wajah Meyta menegang. Ia belum menemukan jawaban untuk pertanyaan Fardan. Mencoba mencari alasan yang tepat agar Fardan percaya, ini masih terlalu dini untuk Fardan tahu ketidaksempurnaannya.
"Itu ob —"
"Kak Fardan, Kak Meyta, Ayah memintaku memanggil kalian untuk berkumpul di rumah keluarga," ucap Misca bahkan tanpa mengetuk pintu. Ia menyelonong masuk begitu saja.
'Aku tidak mau melihat mereka bermesraan di rumah ini. Membuatku sakit hati saja!' gerutu Misca dalam hati.
Meyta mengusap dadanya, saat Fardan menoleh ke arah Misca tadi ia dengan cepat menyimpan obat itu di dalam koper kecil tempat ia menyimpan beberapa barang yang hendak ia bawa ke rumah barunya.
"Ayah memanggil, ayo kita keluar," ajak Fardan dan sekali lagi ia menggandeng tangan Meyta.
Jantung Meyta berdetak lebih cepat dari biasanya. Semakin lama ia merasa semakin jatuh pada perhatian suaminya. Satu tangannya digenggam Fardan sedangkan tangan yang satunya membawa koper kecil.
Fardan yang menyadari istrinya itu sedang kerepotan pun mengambil alih kopernya tanpa melepaskan tautan tangan mereka.
'Hai kamu penyelamat dan penyemangat hidupku, apakah kamu membenarkan jika aku menyukai suamiku sendiri? Selama ini aku bertahan hidup dalam perasaan cintaku padamu? Haruskah aku melupakanmu? Tapi mencintai kamu dalam ilusiku tidak akan pernah menyakitiku. Jika padanya, aku khawatir dia akan pergi saat tahu aku berbeda.'
Meyta bermonolog dalam hati. Berbicara dengan pria ilusinya itu selalu ia lakukan untuk mengambil keputusan, seakan-akan pria itu benar ada dan sedang menemaninya mengobrol. Meyta memang sudah tidak waras, tetapi dari pria ilusi itu dia bisa bertahan sampai detik ini.
"Duduklah," titah Primus ketika ia melihat Meyta dan Fardan datang.
Pasangan pengantin baru itu langsung mengambil tempat. Melihat tatapan Misca yang terus saja tertuju padanya membuat Fardan membawa Meyta duduk begitu dekat dengannya. Jangan lupakan tautan tangan itu, Fardan sama sekali tidak ingin melepaskannya, ia hanya ingin mempertegas kepada Misca jika Meyta adalah pemiliknya. Siapapun tidak akan bisa mengganggu hal tersebut.
Wajah Misca berubah menjadi muram. Dia tak suka pemandangan yang berada tepat di hadapannya, membuat matanya sakit saja. Shinta menyadari perubahan ekspresi putrinya hanya bisa menghela napas. Ia merutuki putrinya yang tidak bisa menyimpan perasaannya sebentar saja di hadapan anggota keluarga lainnya.
"Simpan perasaanmu itu, Misca, jangan sampai Ayah melihatnya dan membuatmu menjadi gelandangan di luar sana," bisik Shinta dengan menandaskan kalimatnya.
Misca hanya bisa menahan gerutunya dalam hati. Ia tidak suka dengan peringatan yang diberikan oleh ibunya tetapi ia juga tidak ingin mendapatkan sanksi yang besar dari ayahnya.
"Fardan, sekarang Ayah menitipkan Meyta padamu. Ayah bukanlah orang tua yang baik untuknya, aku berharap kamu tidak menyakitinya seperti aku pernah menyakitinya dulu. tolong sayangi dia, berikan dia cinta kasih dan perhatian. Ayah berharap kamu bisa memenuhi permintaan ini. Jika ada yang ingin kamu keluhkan maka katakan saja padaku dan jika kalian memiliki masalah tolong selesaikan dengan baik. Ayah hanya bisa berdoa semoga hubungan kalian selalu baik-baik saja.
Ucapan Primus tersebut mengenai hati Meyta. Dia tak bisa mengukur betapa sayangnya Ayah padanya. Selama ini ia bersama ibunya, yang ia tahu ia hanya membenci keluarga yang sudah membuat ia dan ibunya hidup sengsara. Akhirnya ia tahu jika ayahnya selalu membiayai sekolahnya selama ini dan setelah tinggal bersama, ayahnya bahkan begitu tulus menyayanginya.
"Tentu saja Ayah, Meyta sekarang adalah istriku. Dia adalah tanggung jawabku. Sudah menjadi tugasku untuk mencintai dan membahagiakannya. Ayah bisa mengandalkanku," ucap Fardan dengan tegas, ia kemudian menatap Meyta yang tengah menatapnya dengan begitu lembut.
"Ayah tenang saja, dia menjagaku dengan baik," timpal Meyta.
Hanya berselang beberapa menit Fardan langsung mengajak Meyta untuk pulang. Ia tidak suka berlama-lama di rumah mertuanya karena melihat tatapan mendamba Misca kepadanya. Ia merasa begitu risih. Jika saja Misca bukanlah adik iparnya, ia pasti sudahkah menunjukkan sisi gelapnya. Sisi gelap yang tidak diketahui oleh Meyta.
"Mengapa kamu begitu gegabah? Ibu sudah katakan ada saatnya kamu masuk dalam kehidupan Fardan. Biarkan dulu dia menikah dengan Meyta, kita akan mencari kelemahan anak itu lalu akan kita gantikan posisinya denganmu. Bersabarlah sedikit."
Shinta menyugar rambutnya ke belakang. Dia tidak tahu harus menasihati seperti apalagi pada putrinya yang tergila-gila pada Fardan. Jika saja perjodohan itu berasal darinya, maka sudah pasti Misca yang berdiri di samping Fardan sebagai istrinya, bukan Meyta. Namun semua ini berhubungan dengan ibunya Meyta sehingga ia tidak punya kuasa untuk perjodohan ini.
'Mengapa sudah tidak ada masih saja membuatku kesal?' gerutu Shinta dalam hati.
Misca berdiri lalu berjalan menuju ke jendela kamarnya. Ia menyibak gorden lalu menatap ke bawah.
"Ibu tahu sendiri aku sudah menyukai Kak Fardan sejak lama. Mengapa Ibu tidak mengatur sebuah rencana untuk menggagalkan pernikahan itu atau membuat pengaturan agar aku yang menikah dengan Kak Fardan? Mengapa Ibu begitu takut kepada Ayah? Bukankah Ayah sangat mencintaimu? Dia pasti akan patuh di bawah telunjukmu, Bu."
Wajah Shinta merubah muram. Mana mungkin Primus akan patuh di bawah telunjuknya sementara lelaki itu sudah lama tidak bergairah padanya. Lebih tepatnya setelah Meyta kembali ke rumah, saat itu Primus seakan-akan tidak lagi menganggapnya sebagai istri yang paling disayangi.
'Apakah pria itu memiliki selingkuhan? Aku harus menyelidikinya!' gumam Shinta dalam hati.
"Kamu harus bisa bermain cantik sayang, bersabarlah. Ibu tidak akan membiarkan Meyta hidup tenang bersama dengan Fardan. Bukankah seharusnya dia menjadi milikmu? Apa yang kamu inginkan pasti akan Ibu usahakan," ucap Shinta menjanjikan. Tentu saja ia tidak ingin kehilangan tangkapan sebesar Fardan, dia bisa kebagian kesenangan jika memiliki menantu sekaya Fardan.
Shinta tersenyum seringai, sepertinya sebuah ide telah melintas di pikirannya. Begitupun dengan Misca, ia yakin sekali ibunya tidak pernah gagal dalam menyusun sebuah rencana.
Sementara itu di luar sana seseorang tengah menguping pembicaraan mereka. Ia berdecih, tak suka namun ia tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya bisa menyimpan semua rahasia ini sendirian. Ia kemudian pergi meninggalkan kamar itu tanpa sepatah kata pun.
Saat ini di kediaman keluarga kecil Fardan bersama Meyta keduanya sedang berbaring di atas tempat tidur yang sama sambil menatap langit-langit kamar tanpa suara. Ada begitu banyak hal yang ingin dibicarakan oleh Fardan. Ia ingin lebih mengenal lagi istrinya ini, tetapi sepertinya Meyta menutup diri padanya.
'Dia tidak tahu sebesar apa aku ingin mengenalnya. Bagaimana bisa aku mencuri hatinya sedangkan dia sekeras itu menutupnya tanpa memberikan sedikitpun celah?'
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments
🍒⃞⃟🦅🏠⃟⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔Nur㊍㊍
haduh bu shinta ini seharusnya ngajarin anaknya yg baik" bu ini malah diajarin berbuat kejahatan🤧
2024-02-11
0