Pagi pagi sekali Meyta sudah bangun, ia sempat kaget karena menemukan dirinya di tempat tidur padahal ia ingat ia berada di mobil semalam. Ia melirik ke samping di mana suaminya sedang terlelap. Wajahnya sangat tampan, Meyta jadi malu sendiri.
'Ya Tuhan ... mengapa Engkau memberikan aku lelaki tampan dan baik hati seperti ini? Apakah ini anugerah atau ujian hidup?' lirih Meyta dalam hati.
Entah keberanian dari mana tangan Meyta terulur untuk menyentuh pahatan indah karya Tuhan yang terpampang nyata di hadapannya. Hampir menyentuh pipi itu tetapi ia kembali menarik tangannya.
'Ini tidak benar,' gumamnya dalam hati.
"Mengapa tidak disentuh? Gratis kok buat kamu," ucap Fardan yang membuat Meyta terkejut bukan main.
"Ka-kamu sudah bangun?" pekik Meyta saat melihat Fardan tersenyum manis padanya.
"Enggak. Ini masih di alam mimpi. Aku bermimpi seorang bidadari cantik terus menatapku saat aku tertidur dan dia hendak menyentuh wajahku tetapi tidak jadi. Sial sekali," jawab Fardan yang membuat Meyta semakin malu.
"A-aku akan siapkan sarapan," ucap Meyta berusaha menghindar tetapi Fardan justru menarik tangan istrinya hingga membuat Meyta jatuh tepat berada di atas suaminya.
Mata keduanya saling menatap, jakun Fardan naik turun seiring dengan irama jantung mereka yang saling sahut-sahutan. Perlahan tapi pasti Fardan menarik tengkuk Meyta dan mengecup mesra bibir manis istrinya.
Meyta memejamkan matanya, terbuai dengan ciuman manis yang kian lama kian menuntut untuk mendapatkan balasan dari pergerakan indera pengecap di dalam. Ada rasa yang berbeda, rasa yang baru pertama kali ia rasakan, jantungnya bahkan terasa akan melompat keluar sedangkan Fardan menyeringai saat melihat bagaimana istrinya masuk dalam perangkapnya.
"Bernapas sayang," ucap Fardan setelah ia melepaskan pagutannya.
Pipi Meyta memerah bak kepiting rebus, jari Fardan terulur untuk mengelap sisa salivanya yang tertinggal di bibir Meyta. Dengan cepat Meyta menyembunyikan wajahnya di dada bidang Fardan, ia tidak siap dan hampir saja tidak sadar diri dengan apa yang baru saja terjadi.
"Hei, ada apa denganmu? Itu tadi namanya morning kiss. Aku mau di setiap hari saat kita bangun kamu dan aku melakukannya," ujar Fardan, senyuman itu tak lepas dari bibirnya. "Bagaimana rasanya sayang? Enak? Candu? Memabukkan? Menggairahkan atau—"
Ucapan Fardan terhenti begitu saja saat tangan Meyta membekap mulutnya. "Kak jangan bicara seperti itu. Kamu mengapa jadi mesum begini sih?" keluh Meyta.
Satu kecupan Fardan berikan pada telapak tangan Meyta yang masih membekap mulutnya hingga mau tidak mau Meyta menarik tangannya itu. Tawa Fardan terdengar renyah, Meyta bergegas turun dari tempat tidur dan lari ke kamar mandi.
Pintu kamar mandi ditutup, Meyta bersandar sambil memegangi dadanya. Jantungnya berdebar kencang, ia tidak sanggup dengan gejolak aneh yang seakan memaksanya untuk merasakan lagi sapuan lembut tersebut. Meyta menyentuh bibirnya yang terasa bengkak itu kemudian ia menggelengkan kepalanya.
'Aku sudah gila!'
Berbeda dengan Fardan yang saat ini sedang senyam-senyum sendiri. Ia terus mengingat bagaimana tadi ia berhasil menyesap bibir manis itu. Jika dulu hanya sekadar menempelkan, sekarang ia bisa memainkannya. Tidak bisa berbohong ia mulai merasa candu dan ingin mengulang kembali adegan tadi.
"Jika bisa sih lebih dari ini, hehe ...."
***
Aroma masakan Meyta menggugah selera Fardan yang kini sedang menuruni anak tangga. Lelaki itu sudah rapi dengan setelan kerjanya, tetapi langkahnya harus berbelok saat mendengar suara ketukan pintu.
Tidak masalah baginya, ia merasa yang datang adalah Ren sehingga Fardan membukakan pintu untuk tamu di pagi hari.
"Kamu!"
"Selamat pagi Kakak Ipar," sapa Misca.
"Ada keperluan apa?" tanya Fardan sedikit sarkas.
"Apakah aku tidak boleh masuk? Aku merasa lelah berdiri di luar," pinta Misca.
Fardan menelan decakan yang hampir keluar dari mulutnya. Tanpa bersuara ia membuka pintu sedikit lebih lebar dan Misca mengikutinya dari belakang.
Misca tidak bisa menyembunyikan senyumannya saat ia berjalan di belakang Fardan sambil mengagumi rumah ini. Ia memang tinggal di rumah besar milik ayahnya tetapi di sana tidak ada Fardan. Rumah ini terlihat berkali-kali lipat jauh lebih indah karena ada sosok tampan pemiliknya.
"Sayang, sarapan sudah siap?" tanya Fardan ketika ia masuk ke ruang makan.
Meyta yang sedang menyiapkan makanan pun mengangguk sembari melempar senyuman. Hanya beberapa saat sampai ia menyadari Fardan tidak datang sendirian.
"Sudah, ayo makan," jawab Meyta, ia menarik kursi untuk suaminya lalu mengambil makanan untuk suaminya.
"Kak, aku numpang sarapan di sini boleh ya," ucap Misca.
"Silakan," jawab Meyta.
Fardan merasa risih dengan keberadaan Misca, apalagi sejak tadi adik iparnya itu terus menatap padanya. Oh ayolah, sekalipun Misca menggodanya bahkan menanggalkan seluruh pakaian yang melekat di tubuhnya di hadapan Fardan, ia tidak akan pernah merasa tergoda.
Fardan tidak bodoh, ia jelas tahu maksud Misca yang selalu saja mencuri pandang padanya. Dia sudah memiliki istri yang cantik bahkan memiliki hati yang lembut, untuk apa melirik kesana kemari jika pada akhirnya hanya akan mendapatkan wanita berbisa.
Ponsel Fardan terus saja berbunyi, ada beberapa notifikasi pesan masuk. Sejak tadi Misca selalu mencoba memulai obrolan tetapi perhatian Fardan selalu teralih ke ponselnya.
"Nyonya Istri, tolong siapi aku. Ada beberapa email penting yang harus aku periksa," pinta Fardan tanpa melihat Meyta.
Sebenarnya Meyta merasa malu tetapi karena di dekat mereka ada wanita berbisa yang kapan saja siap menarik suaminya, Meyta tanpa ragu melakukannya. Meyta jelas tahu jika adik seayahnya ini sangat menginginkan suaminya. Meyta memang ingin Fardan mencari wanita lain, tetapi tentu bukan Misca orangnya.
Wajah Misca sendiri kini bagaikan pakaian bertumpuk yang belum disetrika. Kusut! Ia tidak suka Meyta, ia tidak suka Meyta dekat dengan Fardan, ia tidak suka pemandangan di hadapannya ini dan yang pasti ia tidak suka Meyta menjadi istri lelaki yang sudah lama ia incar.
'Aku yang menyukainya lebih dulu tetapi Meyta yang mendapatkannya. Sialan!' gerutu Misca dalam hati.
Sementara itu, Meyta terus menyuapi Fardan yang terlihat begitu manja. Ada juga terselip pemikiran bahwa Fardan memang sengaja melakukan ini untuk memperlihatkan pada Misca jika mereka adalah pasangan yang tidak bisa dihancurkan.
"Nyonya Istri, sini gantian aku yang suapi kamu. Aku tidak mau ya jika aku makan kamu enggak," ucap Fardan kemudian ia menyimpan kembali ponselnya dalam saku jas dan mengambil alih sendok dari tangan Meyta.
'Ck! Apa-apaan ini!' gerutu Misca dalam hati.
Benar-benar dianggap tak kasat mata, Meyta dan Fardan seolah menganggap Misca tidak ada di dekat mereka saat ini. Adik ipar Fardan itu bak makhluk tak kasat mata atau penonton yang hanya bisa melihat adegan mereka tanpa bisa protes.
'Sialan! Lihat saja nanti, aku pasti akan merebut Kak Fardan. Sebentar lagi, sebentar lagi Kak Fardan akan jadi milikku!'
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments