Hari berlalu tanpa terasa oleh pasangan yang sampai detik ini pun belum menjalani malam pertama mereka. Masih dalam tahap saling mengenal, Fardan pun tidak pernah memaksakan Meyta. Ia ingin istrinya itu nyaman dengan dirinya lalu perlahan jatuh cinta dan bercinta akan dilakukan dengan sendirinya.
Keadaan Meyta telah membaik pasca demam. Ia pun tidak pernah melupakan obatnya yang akan ia konsumsi secara diam-diam. Meyta masih belum siap ketahuan. Ia masih ingin menikmati waktunya bersama Fardan sampai hari pengakuan itu tiba.
"Aroma masakanmu semakin membuatku lapar," ucap Fardan yang sudah duduk di ruang makan menanti Meyta menyelesaikan masakannya.
Tangan Meyta dengan cekatan mematikan api kompor. Ia menuang masakannya ke atas wadah lalu ia bawa ke meja makan di mana suaminya sudah menunggu.
"Akan aku ambilkan untukmu," ucap Meyta yang dengan telaten melayani Fardan di meja makan.
Fardan menipiskan bibirnya, istrinya ini paket komplit hanya saja sedikit misterius. Namun bukan berarti Fardan akan mempermasalahkan itu, ia yang memaksa menikahi gadis ini tanpa proses perkenalan dan pendekatan. Sangat wajar baginya jika Meyta mengambil beberapa waktu untuk menyelami perasaan dan hubungan mereka.
"Kamu juga harus makan, bukankah hari ini kamu akan mulai mengajar di tempat kursus musik?"
Meyta mengangguk. Mengingat hari ini ia akan menjadi guru untuk anak-anak usia sekolah dasar semakin membuatnya bersemangat. Akhirnya ia bisa meneruskan mimpinya dan berbagi ilmu yang ia dapatkan selama menempuh pendidikan di negara orang.
Musik, hal yang bisa membuat Meyta keluar dari rasa sakit saat bipolar disorder itu datang menyerangnya dan juga … pria penyelamat. Akhir-akhir ini bersama Fardan Meyta mulai melupakan dirinya. Suaminya itu kini menjadi tempatnya berbagi cerita, mendengarkan celotehannya. Kadang, Meyta berpikir bahwa mungkin saja Fardan tahu tentang penyakit yang ia derita. Hanya saja, mana mungkin Fardan mengetahuinya sedangkan ia tidak pernah bercerita.
"Aku antar kamu?" tawar Fardan, sebenarnya jam mengajar Meyta dimulai pukul satu hingga pukul lima sore, hanya saja Fardan juga sangat bersemangat melihat istrinya mengajar.
"Bukankah kamu juga bekerja?" tanya Meyta. Ia tidak ingin merepotkan suaminya yang baik hati ini.
"Aku pemilik perusahaan, tidak akan ada yang melarangku datang atau tidak ke kantor," jawab Fardan dengan sedikit songong.
Meyta mencebikkan bibirnya. Kadang di balik sikap menyenangkan suaminya itu terselip juga sikap menyebalkan. Fardan memang paket komplit untuk Meyta, entah mengapa ia semakin takut kehilangan pria ini.
Seusai sarapan Meyta mengantar Fardan ke mobil. Sudah pernah mendapat hukuman mencium pipi suaminya dan bahkan sampai dikelabui dengan mengambil kecupan di bibir, Meyta kini tidak canggung lagi saat suaminya mengambil ciuman di dahi dan kedua pipinya.
Fardan membuka pintu mobil namun ia tak urung masuk. Ia menatap kembali istrinya begitu lekat lalu melemparkan seringai. Meyta yang melihatnya merasa ada yang aneh.
"Sudah tiga hari lho, apa nih jawabannya?" tanya Fardan lalu ia mengedipkan sebelah matanya. "Kita sudah menikah tetapi aku baru menyatakan cinta. Apakah kamu mau berpacaran denganku secara halal Nyonya Istri?" imbuh Fardan.
Wajah Meyta merah merona. Ia belum memilki jawaban tetapi hatinya sudah memilih. Jika saja ia bisa mengesampingkan penyakitnya lebih dulu, detik ini juga Meyta pasti akan langsung menghambur memeluk suaminya.
Sayangnya, Meyta tetap bersikukuh dengan pemikirannya. Fardan memang pantas dicinta dan bahagia, tetapi bukan bersama dirinya. Tetapi … apakah bisa ia lebih egois kali ini? Ada sosok Misca yang selalu membayangi rumah tangga mereka meskipun Fardan tidak pernah menganggapnya. Ia khawatir perjuangan Misca akan meluluhkan Fardan sedangkan ia sendiri tidak bisa memberi kepastian.
Jika saja ada wanita lain dengan sikap baik hati dan benar-benar mencintai suaminya, Meyta rela melepas.
Rela melepas?
Sepetinya itu hanya ada dalam pikirannya saja tetapi akan sangat sulit untuk ia realisasikan.
Fardan menjentikkan jarinya melihat Meyta yang melamun. "Masih belum memilki jawaban?"
Meyta menggeleng pelan. "Aku akan memberikan jawabannya di hari ke empat," jawab Meyta sembari tersenyum lembut.
Wajah Fardan tampak bahagia. Ia yakin sekali istrinya ini akan bersedia menerima perasaannya. Tak masalah itu di hari ke empat atau ke sepuluh, ia hanya akan menerima jawaban 'iya' dari Meyta.
Fardan menepuk puncak kepala Meyta dengan lembut. "Ingat, aku tidak menerima kata penolakan. Hati-hati di rumah, aku jemput saat akan pergi ke tempat kursus," ucap Fardan kemudian sekali lagi ia mengecup dahi istrinya.
Oh sungguh candu, pikir Fardan.
Meyta tersipu malu. Skinship yang ia dan Fardan lakukan mulai bisa ia terima. Bahkan kadang tubuhnya selalu merindukan sentuhan Fardan. Apakah ini bisa dinamakan jatuh cinta?
Fardan masuk ke dalam mobilnya, Meyta melambaikan tangan dan masuk ke rumah setelah mobil Fardan tak terlihat lagi. Ia membereskan sisa makan dan membersihkan dapur lalu masuk ke dalam kamar, merenung di sana.
"Apa yang harus aku lakukan wahai Pria Penyelamat? Biasanya kamu akan membantuku memberi solusi dari setiap masalah, tetapi kali ini aku tidak punya jawaban untuk masalahku. Aku tidak bisa berbohong jika hatimu telah tertawan olehnya, tetapi dia tidak pantas bersama dan menghabiskan waktu bersamaku, aku tidak pantas untuknya dan aku hanya akan membawa keburukan untuknya. Harusnya tidak seperti ini, harusnya aku tidak menikah dengannya," gumam Meyta.
Perempuan itu melirik toples obat di tangannya lalu ia menengadahkan wajahnya berusaha menahan air matanya. Ini sangat rumit dan sangat menyakitkan.
Mengapa ia harus mengalami semua ini? Siapa yang harus ia salahkan? Ibunya yang bunuh diri? Ayahnya yang menikah lagi? Atau kesepian yang selalu ia hadapi?
"Dia lelaki sempurna. Aku dicintai lelaki sempurna. Harusnya aku senang tetapi mengapa aku justru merasa sakit karena cintanya? Apakah aku harus menolaknya dan pergi dari hidupnya sebelum dia terlalu masuk dan mencintaiku?" monolog Meyta.
Keasyikan melamun, Meyta tidak sadar bahkan Fardan sudah berada di dekatnya. Itu artinya berjam-jam ia bertarung dengan pikirannya.
Fardan melirik Meyta dan toples obat di tangannya. Ia menghela napas, istrinya bahkan tidak menyadari kehadirannya.
"Hei, sedang memikirkan apa?"
Pertanyaan Fardan mengejutkan Meyta hingga toples obat di tangannya terjatuh begitu saja. Meyta panik tetapi ia harus bisa mengendalikan dirinya, Fardan tidak boleh tahu secepat ini.
"Oh hai, sejak kapan kamu berada di rumah?" tanya Meyta gugup.
"Sejak kamu diam dan senyam-senyum sendiri. Sedang apa? Memikirkan suami tampanmu ini?" goda Fardan. Ia kemudian mendekat dan mengusap lembut rambut Meyta.
Wajah Meyta memerah. Apakah ia baru saja tertangkap basah sedang memikirkan Fardan?
"Aku tidak. Terlalu percaya diri. Aku hanya sedang memikirkan bagaimana hari pertama bekerja," jawab Meyta.
Fardan mencebikkan bibirnya. Sekali saja Meyta berbohong dengan mengatakan sedang memikirkannya, itu adalah kebohongan terindah bagi Fardan.
'Tuhan ... aku memang telah jatuh cinta padanya,' pekik Meyta dalam hati.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments