"Aku ra peduli!" sarkas pria berkaos biru menatap nyalang pemuda yang sudah berani memasuki markasnya.
...•••...
Sesaat kemudian pria berkaos biru ini memasang tampang slengean.
"Kalau kamu mau, ambilah..." pria berkaos biru berkata santai, lalu melemparkan tas korbannya kepada pemuda yang dianggap bocah ingusan.
Danum menangkap tas yang dilemparkan padanya, ia langsung membuka tas dan ternyata sudah kosong. "Mana uangnya?!"
"Hahaha... uang kamu bilang, uang?" pria berkaos biru berkata seperti mengejek, sampai pada ia maju dan melayangkan tinju.
Danum membulatkan matanya saat pria berkaos biru itu maju dan melayangkan tinju, dengan cepat Danum mencengkram kuat tangan pria berkaos biru yang terkepal dan menendangnya sampai pria berkaos biru itu mundur dengan langkah terhuyung-huyung.
"Arghh.." pria berkaos biru menahan sakit di perutnya akibat tendangan yang diterimanya. "Edi, Dayat hajar dia!" ucapnya pada kedua temannya.
"Dasar bocah songong!" sarkas pria bertato yang bernama Edi.
Edi dan Dayat maju, melayangkan tinju serta tendangan keras terhadap pemuda yang menurut mereka songong.
Danum sigap dalam menghalau serangan yang dilayangkan kedua orang itu, dan kini lawannya bertambah satu. Pria berkaos biru ikut mengeroyoknya.
Tiga lawan satu...
"Egh-" Edi tersungkur kala merasakan perut serta pipinya mendapatkan pukulan dan tendangan keras dari pemuda itu.
Sama halnya dengan Dayat. "Arghh.." mengerang sakit saat hidungnya mengeluarkan darah mendapat bogeman dari pemuda yang sebenarnya tidak sebanding dengannya.
Dayat dan Edi kembali bangkit, dan bergabung dengan Koro yang masih bertahan menghalau pukulan serta tendangan dari si pemuda itu. Dayat mengeluarkan pisau lipat yang ia simpan di saku celananya.
Danum membulatkan matanya saat melihat salah satu dari ketiga orang itu mengeluarkan pisau lipat, ia sekarang berdiri di tengah-tengah ketiganya yang memutari dirinya. Danum mengambil ancang-ancang tatkala seorang pria yang memegang pisau mulai mengayunkan benda tajam itu kearahnya, dengan gerakan gesit Danum melayangkan tendangan dan tepat menendang tangan dari seorang pria yang memegang pisau. Pisau jatuh terlempar ke sudut lantai.
"Juanchook!!" pekik Dayat bersuara kesal karena pisau lipatnya terhempas begitu saja dari tangannya.
Danum menahan nafas yang mulai memburu mengiramakan degup jantung yang bertalu-talu, keringat mengucur mulus membasahi tubuhnya. Perkelahian terjeda, dan untuk ini ia bisa mengatur nafasnya yang ngap-ngapan. Ditatapnya ketiga pria yang berdiri di depannya.
Pria berkaos biru berbalik badan, terlihat mengambil sesuatu. Celurit, yah Danum melihat pria berkaos biru mengambil celurit di balik tembok. Bukan hanya pria berkaos biru yang mengambil senjata, akan tetapi temannya yang lain juga masing-masing mengambil senjata diantaranya balok kayu dan parang.
"Kalian kewalahan menghadapi bocah ingusan seperti ku, sampai kalian mengambil senjata?" Danum berkata menahan nafas yang tersengal-sengal. "Dasar payah!" lanjutnya dengan cibiran yang pedas.
"Bacot!" Pria berkaos biru berteriak lantang. Lalu berjalan maju dengan langkah jenjang hendak menyerang pemuda yang menantang dirinya. Namun tiba-tiba ia terjatuh tertelungkup hingga membuat celurit terlepas dari tangannya. "Egh-"
Edi dan Dayat terkejut dengan adanya teman mereka yang bernama Koro tiba-tiba terjatuh tanpa adanya penghalang di depannya.
Danum melihat sesosok bayangan hitam menghalau langkah pria berkaos biru menggunakan lengannya yang besar. Dan hanya dia yang bisa melihat makhluk tak kasat mata itu, ia menundukkan kepalanya guna memberi rasa terimakasih telah membantunya. "Matur sembah nuwun.." gumamnya lirih seperti bisikan.
Edi dan Dayat tak tinggal diam, ia berjalan dan kembali menyerang pemuda itu. Tanpa ampun ia terus melayangkan balok kayu dan parang tak perduli jika lawannya ini terluka, bahkan kalau bisa mati sekalian.
"Rasakno!" teriak Dayat kala mengacungkan parang ke atas hendak mengenai kepala pemuda itu, akan tetapi tiba-tiba ia merasakan sesuatu mencengkram kuat lehernya. Seketika mata Dayat membelalak ketika bola matanya berhadapan dengan sepasang kelopak mata besar berwarna merah pekat.
"Egh- egh- egh-" Dayat kesulitan untuk bernafas, sampai ia tergeletak di lantai.
Danum berhasil menghempaskan tubuh Edi sampai pria itu menghantam keras jendela dan membuat kaca jendela pecah berkeping-keping.
Koro terperangah melihat kedua temannya tepar di lantai. Ia sudah kembali berdiri dan telah bersiap untuk menghajar pemuda yang telah berani bermain-main dengannya.
Dengan gerakan cepat Koro mengambil celurit dan mengacungkannya seraya berseru sangar. *"Mati kowe!"
(Mati kamu)
Danum menyadari bahaya yang mengancamnya, ia melihat pria berkaos biru melayangkan celurit dan hampir saja menebas lehernya jikalau ia tak cekatan dalam melayangkan tendangan dan tepat mengenai wajah pria berkaos biru hingga tubuh pria berkaos biru terpelanting dan akhirnya menghantam kerasnya lantai yang kotor sesaat kemudian pria berkaos biru ini tidak sadarkan diri.
Danum melihat ketiga pria itu tergeletak tak sadarkan diri di lantai dengan keadaan lumayan mengenaskan. Ia teringat akan tujuannya sampai jauh-jauh dan melawan ketiga pria ini.
"Uangnya!" seru Danum, ia mencari keberadaan uang yang entah disembunyikan dimana.
Memasuki beberapa bagian dalam gedung kosong ini dan menemukan beberapa kantung plastik hitam yang bertumpuk di lantai. Danum menyobek salah satu kantung plastik hitam berukuran sedang dan mendapati butiran kecil seperti obat berwarna putih lalu berganti menyobek kantung plastik lainnya dan melihat serbuk putih seperti terigu.
Kening Danum mengerut mencari jawaban dalam diamnya ia berpikir.
"Apakah ini sejenis narkotika?" ucap Danum menduga, karena ia belum pernah melihat dengan mata kepalanya sendiri seperti apa wujud jenis narkoba, hanya saja pernah melihatnya di berita yang ada di ponselnya.
Mengesampingkan sejenak barang yang di duga pil ekstasi itu. Danum kembali menyusuri setiap ruangan dan memasuki ruangan yang kemungkinan ruangan ini adalah kamar.
Sampai pada netranya melihat beberapa pakaian yang tergantung di beberapa titik di sela-sela teralis jendela. Menyapukan pandangannya menatap keseluruhan ruangan, dilihatnya dipan kayu yang sepertinya untuk tidur. Sesaat kemudian tatapannya beralih melihat lemari berukuran kecil yang terlihat usang. Danum segera berjalan ke lemari dan membuka pintunya.
Kantong plastik hitam ia jumpai di dalam lemari, lalu mengambilnya dari sana, lantas membuka ikatan plastik hitam. Dan melihat bergepok-gepok uang berwarna merah di dalam kantung plastik.
"Yang mana uang Ibu tadi yah?" Danum menggaruk pelipisnya yang gatal akibat gigitan nyamuk liar.
"Ah yang mana ajalah ku ambil dua ikat, pasti isi satu ikatnya lima juta." ucap Danum menduga-duga, jikalau satu gepok uang yang diikat memakai karet gelang merupakan lima juta.
Sedangkan yang lainnya ia taruh kembali di dalam lemari. Selepas menemukan uang yang dicarinya, Danum keluar dan kembali ke ruang utama gedung kosong ini.
Di sana Danum melihat tiga orang yang masih tergeletak tak sadarkan diri, lalu mengalihkan atensinya melihat sesosok bayangan hitam yang ia duga adalah genderuwo.
"Mbah saya permisi dulu, nanti saya kembali lagi bareng polisi." ucapnya pada sang genderuwo yang menatapnya ramah. Danum membungkukkan sedikit punggungnya kehadapan genderuwo. *"Matursuwon sanget Mbah, wau sampun bantu Kulo."
(Terimakasih banyak Mbah, tadi sudah membantu saya)
"Sami-sami." jawab sang bayangan hitam. Lalu sedikit menunduk kala melihat sang Amerta. "Romo." sapanya ramah pada sang Amerta.
Danum bingung kepada siapa genderuwo ini memberi hormat dan menyebut kata 'Romo.' Tapi ia tak ambil pusing, karena ia tak melihat siapapun di belakangnya.
...•••...
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 75 Episodes
Comments
Fuad Sutanto
kirain setelah jadi pilihannya sultan agung akan jadi sakti gak taunya melawan tiga orang saja sdah kewalahan bahkan ditolong mahluk halus. Dan lari untuk kembali saja masih ngos ngosan kehabisan napas. terus fungsinya ketemu utusan sultan agung buat apa
2025-02-05
0