Kakek Bagaskara dan Nenek Ayudia berjalan beriringan, karena Kakek harus menuntun Nenek yang kesulitan untuk berjalan tegak. Kedua orang tua yang sudah sepuh ini sampai juga ke ruang makan.
Netra tua mereka melihat Wulan dan Bu Suci berdiri di tengah-tengah ruang makan yang luasnya berkisar enam meter.
"Ada apa ini, kenapa kalian bangun di jam tengah malam?" Kakek Bagaskara bertanya, guna mengetahui perihal apa yang menyebabkan Wulan dan Suci bangun di jam setengah satu malam.
Tidak ada yang menjawab pertanyaan Kakek Bagaskara, sampai pria sepuh ini melihat anak menantunya mengalihkan posisinya berdiri dengan berjalan ke depan. Barulah netra tuanya melihat Damar dan Danum yang sedang berjongkok di lantai.
Bu Suci mengayunkan langkah kakinya yang gemetar mendekati Danum. Lunglai dan limbung melihat putranya, benarkah anak bungsunya ini telah bangun dari koma. Perlahan Ibu dua anak ini beringsut di hadapan Danum.
"Danum, anakku..." rintih Bu Suci memanggil putra bungsunya.
"Danum..." seru Kakek Bagaskara dan Nenek Ayudia secara bersamaan. Mereka berjalan dengan langkah kakinya yang gemetar mendekati Danum.
Danum mulai bisa mengendalikan matanya yang berkunang-kunang. Ia mengangkat wajahnya dari semula menundukkan pandangannya. "Ibu..."
Pandangan mata Bu Suci mulai mengabur karena air mata sudah membendung melihat putra bungsunya telah kembali hidup dan kini berada di depannya, bahkan telinganya serasa berdengung mendengar suara Danum mengingatkannya pada saat Danum kecil ketika baru belajar bicara dan memanggilnya "Ibu."
"Anakku..." rintih seperti menahan tangis Bu Suci memanggil putra bungsunya, ia merengkuh tubuh Danum. "anakku..." betapa besar rasa syukurnya kini.
Sedangkan Damar masih memerlukan waktu untuk bisa menetralkan perasaan dan pikirannya yang harus terbangun dari tidurnya dengan cara yang membuat isi kepalanya e'pleng (linglung)
"Se-sejak kapan kamu bangun?"
"Emm maksudnya kenapa kamu bangun enggak bilang-bilang?"
"Atau gini,"
"kenapa kamu bisa tiba-tiba ada di dapur?"
"Ahhh gini..."
"kenapa aku sampai nggak tau kalau kamu udah sadar?"
Racau Damar dengan segala pertanyaan yang sebenarnya sama, ia menggelengkan dan menepuk-nepuk kepalanya, seolah sedang mengembalikan kerusakan otaknya, laksana tv tabung 14 inci yang kesemutan sebelum adanya tv digital.
"Ahhh... ya Allah apa yang aku katakan?" oceh Damar mengembalikan kesadarannya.
Wulan berjalan mendekati Damar, ditatapnya lekat-lekat sang adik ipar yang sedang dalam rangkulan Bu Suci.
"Benarkah kamu Danum?" Wulan bertanya seolah memastikan jikalau pemuda yang dilihatnya ini benar-benar adik iparnya. Baru bangun tidur apalagi karena terbangun mendadak seperti ini, memang membuat siapapun yang terbangun karena mendadak seperti di jatuhi petasan membuat dalam keadaan setengah limbung.
Bu Suci mengurai pelukannya, ia memegang pipi dan beralih memegang tangan putra bungsunya erat-erat, seolah tidak ingin kehilangan untuk yang kedua kalinya.
"Alhamdulillah ya Allah, Ibu sangat bersyukur kamu sudah sadar nak, jangan lagi kamu membuat Ibu mu ini khawatir," ucap Bu Suci di sela tangisnya.
Danum menatap lekat wajah Ibunya yang sudah keriput dimana-mana. Seolah gambaran jika keriput itu pertanda wanita yang telah melahirkannya sudah banyak melewati segala macam permasalahan hidup.
"Danum nggak akan lagi membuat Ibu nangis ataupun khawatir," Danum mengusap air mata Ibunya yang membasahi pipi.
Danum melihat satu persatu anggota keluarganya, dari mulai sang Ibu, Mas Damar, Mbak Wulan, Kakek dan Neneknya.
"Aku bukan setan Mbak, aku Danum Mahesa..." seloroh Danum pada Wulan, ia menjawabnya karena menangkap keragu-raguan pada Kakak iparnya, menjelaskannya seperti ini seolah tiada keributan yang terjadi akibat ulahnya ini.
Tiba-tiba...
Plak!
Damar menampar pipi adiknya hingga membuat adiknya itu mengerang sakit.
"Aduh Mas Damar, sakit tau!" Danum memegangi pipi bekas tamparan Kakaknya.
Bu Suci langsung melayangkan tatapan sinis kepada Damar, bukan hanya tatapan. Beliau juga mengeluarkan ultimatum kepada putra sulungnya.
"Damar! Sudah tau adikmu baru sadar dari koma, kenapa kamu malah menamparnya, mbok sing alus toh yooo!" omel Bu Suci.
Damar memasang wajah tanpa ekspresi yang berarti mendengar omelan Ibunya ia hanya berkata. "Maaf Ibu,"
"Minta maaf jangan ke Ibu, ke adikmu," jawab Bu Suci seraya mengusap pipi putra bungsunya yang mendapat tamparan dari putra sulungnya.
"Tau ih Mas Damar, nggak merasa bersalah apa?" gerutu Danum menatap Kakaknya malas.
"Iya maaf," cetus Damar jutek.
"seharusnya yang merasa bersalah itu kamu Num, kenapa jadi Mas mu ini? Kamu yang sudah membuat keributan ini terjadi?" Damar balik mengomeli adiknya.
"Lah kok aku, kan aku nggak tau kalau Mbok Atun bakal teriak setelah melihat ku?!" ucap Danum membela dirinya sendiri.
"Kan kamu bisa bangunin aku?" dalih Damar, jikalau adiknya itu membangunnya tidak akan terjadi keributan sekarang ini. Dilihatnya Mbok Atun yang masih tak sadarkan diri di lantai.
"Sudah-sudah kenapa kalian bertengkar," tukas Nenek Ayudia melerai bertengkar dari kakak beradik itu.
Ada rasa bahagia bisa melihat Damar dan Danum seperti itu lagi, Kakek Bagaskara merasa hidupnya berwarna semenjak ada mereka.
"Hahaha..." gelak tawa Kakek Bagaskara pecah melihat tingkah laku kedua cucunya. "Danum, Kau sangat beruntung memiliki Kakak seperti Damar, pada saat kamu belum siuman, dia terus menangis tanpa henti," sambungnya seraya berbalik arah menuju ruang keluarga. Tak dapat ia tahan kala air mata sudah membendung di pelupuk mata, mengenang kembali putra semata wayangnya, almarhum Gusli.
Damar menghela nafas kasar, lalu ia beranjak. "Hahhh... Damar nggak secengeng itu kali Kek,"
"Damar, tapi kamu memang cengeng," cetus Nenek Ayudia, senyum lembut tersungging di kedua sudut bibirnya yang sudah keriput.
"Habbi menangis, karena tanda sayangnya dia, Nek," seloroh Wulan memanggil suaminya dengan sebutan Habbi dan hanya mereka yang mengerti arti dari panggilan anehnya ini.
"Nah, apa yang dikatakan Dewi hula-hula ku, betul," balas Damar seraya mencolek dagu Wulan.
"laki-laki maupun perempuan bisa menangis karena masih punya perasaan, masih punya belas kasih. Iya kan, Hubba?" lanjut Damar merasa ada sang pembela yang membela dirinya. Yaitu istrinya yang ia panggil Hubba, yang artinya juga mereka yang tahu.
Danum sangat bersyukur bisa kembali hidup dan bisa merasakan kehangatan keluarganya. Dan tentu hidupnya ini mempunyai tujuan yang diberikan oleh utusan Amerta, dengan misi yang harus ia laksanakan.
Karena saking bahagianya melihat Danum siuman ada yang terlupakan, yaitu Mbok Atun yang masih tergeletak di lantai.
"Loh iki piye toh, Mbok Atun pingsan?" ucap Bu Suci beralih duduk di samping Mbok Atun yang belum sadarkan diri.
Wulan, Damar dan Danum langsung mengalihkan atensinya melihat wanita setengah baya yang memang masih tergeletak di lantai tak sadarkan diri.
"Hayo kamu Num, tanggung jawab." Damar menunjuk adiknya untuk bertanggung jawab.
Danum menunjukkan dirinya sendiri. "Loh kok aku toh Mas?"
"Yo kamu," cetus Damar. "kamu kan yang sudah bikin Mbok Atun pingsan, yo kamu yang harus bertanggung jawab bikin dia sadar,"
"Wulan tolong ambilkan minyak kayu putih," ucap Bu Suci pada Wulan.
"Iya Bu." jawab Wulan lalu beranjak dan berbalik arah menuju kamarnya. Setelah mengambil barang yang dicarinya dan memastikan jikalau Adam masih terlelap, Wulan kembali ke dapur. Dilihatnya Bu Suci sedang memijit kepala Mbok Atun. "Ini Bu,"
Bu Suci menerima minyak kayu putih yang disodorkan Wulan. Lalu membuka tutup dan menuangkan sedikit ke tangan, untuk selanjutnya di usap ke kening serta ke hidung Mbok Atun.
Lima menit berlalu...
Kini Mbok Atun mulai ada pergerakan untuk sadar.
"Mbok Atun?" ucap Bu Suci, lalu membantu asisten rumah tangga Kakek Bagaskara untuk duduk dibantu Danum.
Mbok Atun celingukan seolah mencari sesuatu yang hilang. Ditatapnya satu persatu anggota keluarga yang sekarang ini seolah sedang mengerubunginya. "Saya kok bisa ada di sini?"
...•••...
Bersambung...
*
Terimakasih atas segala bentuk dukungan...
Semoga yang masih stay membaca karya ini, selalu diberikan kesehatan, rezeki lancar dan dipermudah dengan segala urusannya...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 75 Episodes
Comments
Fuad Sutanto
terkejut lihat danum sdar sampe menghabiskan 3 bab
2025-02-05
0
Lilis N Andini
Aamiin yaa robbal 'aalamiin..
makasih kak untuk karya terbaiknya..ini novel ke 3 yg kubaca...semangat kak🥰🙏
2024-01-24
1
Rhiedha Nasrowi
aamiin ,., dan semoga yang mampir makin banyak ya kak😊😊🥰
2024-01-12
2