Danum berlari kecil, mencari petunjuk yang kiranya bisa membantu dalam menemukan seorang pencopet. Tak sengaja ia menyenggol pakaian orang-orang yang lewat di depannya.
Seolah bisa melihat gambaran yang jelas kemana pencopet yang memakai kaos biru itu pergi. Danum segera mencari jejaknya, melewati pasar, melewati pertokoan yang berjejer di sepanjang jalan, sampai melewati rel kereta api dan selanjutnya stasiun. Melewati pemukiman warga. Tanpa di nyana, sampai pada langkah kakinya hendak melewati gedung kosong yang jauh dari keramaian. Danum mengalami kebuntuan dalam mencari jejak dari pencopet yang sebelumnya dilihatnya dalam sekelebat bayangan.
"Kemana lagi jejaknya, kenapa hilang begitu aja?" gumamnya seorang diri.
Danum bingung, ia menghentikan langkahnya tepat di depan gedung kosong yang terlihat sudah lapuk dan sangat lama tertinggal seperti gedung peninggalan sejarah ketika Belanda berada di bumi Nusantara.
"Sayang sekali bangunan sebagus ini di tinggalkan begitu saja, padahal bangunan langka nan klasik seperti ini bisa diperbaiki dan dijadikan cagar budaya. Bisa juga jadi penampungan tunawisma." gumamnya mengamati gedung kosong dominan warna putih yang berdiameter tidak terlalu besar, bisa di katakan seperti rumah namun memiliki arsitektur bergaya rumah ala Belanda.
Sebagai seorang mahasiswa yang mengambil jurusan arkeologi, tentunya Danum sangat menghargai bangunan peninggalan sejarah. Dan entah kenapa ada keyakinan, jika pencopetnya ada di dalam gedung kosong itu.
Danum melihat ke sekeliling dimana ia berdiri sekarang, di depan teralis besi yang melingkari gedung kosong yang telah di tumbuhi semak belukar. Setelah memantau keadaan sekitar yang lumayan lengang. Dengan langkah kaki yang sangat pelan, Danum membuka gerbang teralis besi yang sudah karatan dan di tumbuhi rumput yang menjalar. Kesan pertama ketika selangkah memasuki halaman yang cukup luas gedung kosong ini sudah pasti, angker.
Bulu kuduknya merinding.
Suara teguran seseorang membuat Danum terkejut bersamaan dengan langkah kakinya yang berhenti. Seperti mematung di tempat.
"Hey.. mau kemana?"
Danum menoleh kearah seseorang yang memanggilnya. Terlihat seorang wanita muda berdiri berjarak sekitar empat meter, wanita itu mulai berjalan mendekatinya.
"Hemm anu... anu.." Danum bingung menjawabnya menggunakan alasan apa. Ia menggaruk pelipisnya yang tidak gatal.
Wanita muda ini mengamati gerak-gerik mencurigakan dari laki-laki muda yang perkiraan seusianya. "Anu- anu apa?" bentaknya.
Danum terkejut mendengar gadis itu berkata dengan suara meninggi. "Ya Allah mahkluk apa yang ada di depan hamba?"
Melihat pemuda itu hanya diam, gadis ini kembali berkata penuh peringatan.
"Mau ngapain kamu masuk ke sana, di gedung itu angker, banyak setan yang jejeritan saban malam, apalagi pas malem Jum'at Kliwon! Aku aja yang tinggal paling dekat takut mau lewat. Apalagi masuk sana!"
Danum melihat tangan gadis itu menunjuk gedung kosong di belakangnya. Meskipun tidak diberitahu bahwa gedung kosong itu angker, ia sudah merasakannya. Kembali terkejut tatkala ponselnya berdering tanda panggilan telepon masuk. Seketika itu juga Danum mempunyai ide. Diambilnya ponsel dari dalam tas, dan melihat siapa nama yang tertera di layar monitor ponsel. "Ibu." gumamnya.
Panggilan ketiga dari Ibunya semenjak keluar dari rumah, hanya untuk menyampaikan sudah sampai atau belum, sebelum kecelakaan yang sempat akan merenggut nyawanya sang Ibu tidak memanggilnya secara beruntun seperti ini, mungkin karena sang Ibu sangat mengkhawatirkannya. Pikir Danum.
"Maaf mau ngangkat telpon dulu," kata Danum pada gadis yang sepertinya sedang menunggu jawabannya untuk apa berada di gedung kosong.
"Ya Bu," ucap Danum setelah sambungan telepon tersambung. Ia diam mendengarkan Ibunya berkata di ponsel yang ia dekatkan di telinga.
"Iya, ini Danum baru nyampai, mau cek lokasinya dulu, Bu. Danum sudah menemukan tempatnya. Dosen arkeologi minta Danum melihat gedung kosong peninggalan sejarah Belanda." kata Danum lagi, ia sekilas melirik gadis bergaya dengan rambut di kuncir kuda, yang memakai setelan baju kaos berlengan seperempat dan celana panjang.
Gadis ini mengamati pemuda itu berbicara di sambungan telepon. Ada yang membuatnya merasa tertarik melihatnya. "Kalau di lihat-lihat dia ganteng."pikirnya.
Setelah mematikan sambungan telepon, Danum kembali menghadap gadis di depannya yang berdiri berjarak sekitar dua meter.
"Maaf ya sudah membuat mu menunggu," ucap Danum ramah.
Gadis ini diam, lebih tepatnya terpana melihat senyuman manis yang terlukis di wajar pemuda yang sempat didengar menyebut bernama (Danum) saat melakukan percakapan di sambungan telepon.
"Hey..." Danum mengibas tangannya karena melihat gadis itu hanya diam membisu tidak galak saat pertama kali berkata padanya.
Gadis ini tertegun, bangun dari pikiran yang membuatnya melamun. "Ehemm.." dehemnya guna mengusir perasaan yang semakin tak menentu. "Koyok ngene, aku cuma mau ngasih tau, kalau gedung kosong itu angker, banyak orang-orang pas lewat sini mendengar suara-suara aneh dari dalam gedung itu," lanjutnya seraya menunjuk gedung kosong yang berada di belakang pemuda itu.
Danum menoleh sekilas kearah gedung dibelakangnya. Ia menangkap dari peringatan nan kegalakan gadis itu, ada rasa simpati. Danum berkata sangat ramah. "Iya makasih ya atas peringatan kamu, aku cuma mau lihat sebentar, soalnya ada tugas dari kampus yang mau aku tunjukin ke dosen, kalau di sekitar DIY masih banyak peninggalan sejarah Belanda yang bisa di telusuri jejaknya,"
Gadis ini semakin meleleh melihat dan mendengar gaya bicara pemuda yang bernama Danum ini. Begitu sangat ramah. "Iya sama-sama, kalau ada apa-apa jangan sungkan panggil saja Ayahku, beliau ketua RT di sini,"
Danum tersenyum ramah disertai anggukan kecil. "Iya, baik,"
"Aku Mariska," gadis ini memperkenalkan dirinya bernama Mariska membersamai dengan tangan yang terulur ke depan.
Danum melihat tangan gadis yang memperkenalkan diri bernama Mariska. Lantas menjabat tangan Mariska sekilas dan mengatakan namanya sendiri. "Danum.."
"Ya udah aku pergi dulu, rumahku berjarak kira-kira tiga puluh meter dari sini," ujar Mariska ramah.
Danum mengangguk kecil membersamai senyuman ramah, sesaat kemudian melihat gadis bernama Mariska ini berjalan dengan langkah mundur sedangkan tatapan mata gadis itu masih menatapnya secara mendalam, Danum melihat dibelakang gadis itu ada tiang listrik. Ketika akan bersuara untuk memperingatkan Mariska bahwa ada tiang listrik, gadis itu sudah berbalik arah detik itu juga kepala Mariska terbentuk tiang listrik sepertinya cukup keras karena terdengar dari Mariska yang menjerit.
"Aduhhh..." teriak Mariska merasakan keningnya beradu dengan kerasnya tiang listrik yang berdiri kokoh.
"Apa kamu baik-baik aja?" seru Danum pada Mariska.
Mariska tak menoleh pada Danum hanya melambaikan tangan, karena ia malu setelah mate. Lalu berkata dengan suara menahan kesal nan sakit di kening. "Nggak papa, aku baik!" Ditatapnya tiang listrik sangat tajam. "sejak kapan kamu berdiri di sini?!" marahnya pada sang tiang listrik yang sudah membuat keningnya benjol, ia mengusapnya berulang kali.
Danum tersenyum lebar sampai terkekeh kecil melihat dan mendengar Mariska memarahi tiang listrik. "Kocag! Hahaha..."
Saat Mariska sudah tak lagi terlihat dari jangkauan matanya, Danum kembali berbalik badan melihat halaman gedung kosong yang cukup luas terdapat pohon besar di samping kiri gedung, atensinya beralih pada pintu rumah yang hampir terlepas dari kusennya. Sesaat kemudian Danum merinding tatkala netranya seperti melihat sesosok bayangan besar di dalam gedung kosong yang pintunya setengah terbuka. Seperti ada bayangan hitam, semacam genderuwo.
...•••...
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 75 Episodes
Comments
AdeOpie
terus yang sering jenguk di rumah sakit gimana
2024-01-14
2
Queen
Hahahaha...😆
2024-01-14
1