Hari kamis adalah hari dimana hari ke tiga puluh sembilan Danum dinyatakan koma oleh Dokter Abidin. Padahal keterangan Dokter tidak ada hal yang membuat Danum bisa koma selama ini, organ tubuh Danum semuanya normal.
Bahkan sekarang ini Danum tidak lagi menggunakan masker oksigen untuk membantu pernafasan karena Danum tidak nampak seperti orang sakit, dia justru terlihat seperti orang yang sedang tidur. Bukan hanya itu, luka jahitan di perut Danum sudah sembuh total, hanya ada bekas yang terlihat.
Setengah bulan yang lalu, Dokter Abidin melakukan riset.
"Aneh, kenapa Danum belum juga siuman?"
Dokter Abidin bingung, ia terus memantau perkembangan Danum, bahkan dirinya sudah membawa sample darah dan DNA pasiennya ini ke laboratorium guna mengetahui perihal apa yang terjadi pada tubuh pasiennya ini. Termasuk juga melakukan pemantauan menyeluruh termasuk isi kepala Danum, mendatangkan psikologis dengan memakai alat medis khusus, guna menelisik silsilah yang ada di otak Danum.
Karena sebagai seorang Dokter yang sudah terbiasa melakukan tindak operasi, kondisi tubuh Danum termasuk langka, sebagai seorang Dokter ia ingin menguji klinis sebagai penelitian yang tentunya sudah mengantungi izin dari keluarga pasien. Apabila terjadi kasus serupa di masa mendatang, maka ia sudah tahu tindakan apa yang akan dilakukannya sebagai tenaga medis profesional.
Tak sembarang Dokter Abidin dalam melakukan penelitiannya ini, karena jika sang pasien hanya dijadikan sebagai uji coba saja. Maka ia akan di kenakan sanksi tegas perihal jabatannya, bahkan ia bisa dikatakan malpraktek. Dan pendidikannya yang sampai harus jauh-jauh ke Amerika selama sembilan tahun akan menjadi kesia-siaan belaka.
Dokter Abidin tidak sendirian dalam melakukan penelitiannya ini, ia bersama dengan para profesor ahli di bidangnya.
Hari ke tiga puluh sembilan ini juga, hari yang di tunggu-tunggu oleh para tim Dokter yang melakukan riset terhadap tubuh Danum. Pasalnya hari ini adalah hari di mana hasil penelitian itu keluar.
Para ahli saja dibuat bingung perihal tentang apa yang terjadi dengan Danum, apalagi yang awam soal ilmu kedokteran seperti halnya Damar dan seluruh anggota keluarganya yang lain.
Yang terjadi di ruang rawat inap saat ini. Bu Suci sedang meminta izin kepada Dokter Abidin untuk membawa Danum pulang ke rumah, agar lebih mudah dalam mengurusnya. Meskipun ada banyak petugas medis di sini, akan tetapi sebagai seorang Ibu tentunya sudah terbiasa untuk Bu Suci mengurus anak-anaknya.
"Tolong Dok, supaya saya bisa mengurus anak saya di rumah," Bu Suci berkata bernada suara seperti memohon pada Dokter berkaca mata itu.
Dokter Abidin berdiri di ujung brankar, memandangi wajah pasiennya. Ada rasa tidak tega mendengar seorang Ibu meminta izin untuk membawa pulang anaknya yang masih dalam keadaan koma.
"Baiklah," ucap Dokter Abidin akhirnya mengalah. Sedetik kemudian mengalihkan atensinya dari semula terus memperhatikan wajah Danum kini beralih melihat wajah Bu Suci dan kemudian beralih menatap Damar.
Bu Suci merasa lega mendengar Dokter Abidin akhirnya mengizinkan Danum di rawat di rumah.
Tentunya dengan berbagai macam persyaratan yang memang harus di setujui. Seperti halnya, akan ada petugas rumah sakit yang akan mengontrol perkembangan Danum setiap harinya, jikalau Dokter Abidin tidak sempat memeriksa keadaan Danum. Dan semua itu di setujui oleh Damar dan Bu Suci.
"Mas Damar ikut saya untuk mengurus berkasnya," kata Dokter Abidin yang sudah mengenal Kakak Danum.
Damar mengangguk kecil. "Baik Dok."
Dokter Abidin keluar dari kamar rawat inap dan di susul oleh Damar untuk selanjutnya menuju ke ruang prakteknya di dalam rumah sakit ini.
Sedangkan Bu Suci mengemasi barang-barangnya juga barang-barang Danum yang di bawa dari rumah guna keperluan selama berada di rumah sakit.
Pukul 15:40 WIB
Selepas sholat ashar, Damar dan Bu Suci sudah bersiap untuk membawa Danum pulang ke rumah. Tentunya Danum di antar memakai mobil ambulance bersamaan dengan dua petugas medis yang terlatih sebagai pendampingan untuk selanjutnya sang driver ambulance menuju ke rumah yang sudah di tunjukkan.
Sedangkan Bu Suci dan Damar sebagai driver mengendarai mobilnya di depan mobil ambulance untuk memberi arahan kemana mobil medis itu menuju.
Selama satu jam, mobil yang dikemudikan Damar dan mobil ambulance telah sampai di halaman luas rumah Kakek Bagaskara.
Di sana sudah disambut oleh beberapa orang yang bekerja di rumah sang Kakek. Termasuk juga Wulan yang menggendong bayinya, ia sejak pagi tadi berada di rumah ini. Wulan bersama dengan Nenek Ayudia dan Kakek Bagaskara menyambut kepulangan Danum.
Meskipun masih berusia tiga bulan, akan tetapi reaksi yang ditunjukkan Adam sangat bersemangat melihat O'omnya yang terbaring di atas brankar.
Danum langsung di bawa ke kamarnya dengan menggunakan brankar yang langsung di dorong oleh petugas medis. Setelah melakukan pemindahan tubuh Danum ke tempat tidur dan melakukan pemasangan alat medis berupa infus di tangan kiri Danum, dua orang petugas medis pria itupun pamit untuk kembali lagi ke rumah sakit.
Setelah kepergian dua petugas medis, di kamar Danum semua anggota keluarga inti ini berada.
"Bagaimana hasil penelitian yang dilakukan Dokter terhadap Danum yang tidak kunjung siuman?" Kakek Bagaskara bertanya pada Damar yang lebih memahami mengenai hasil medis Danum.
"Danum sudah sangat membaik, hanya saja..." Damar menghentikan ucapannya, dan membuat semua orang yang berada di sana menunggu perihal apa yang membuat Damar menghentikan ucapannya.
Sementara Bu Suci sendiri tidak tahu, karena ia sibuk mengemasi barang. Dan jikalau pun ia diberi tahu oleh Dokter, ada beberapa hal yang tidak ia mengerti. Mungkin karena minimnya ilmu pengetahuan.
"Hanya saja apa?" Wulan sekarang yang bertanya antusias, selalu saja suaminya itu menggantungkan ucapannya yang sudah di ujung lidah.
Damar menatap satu persatu anggota keluarganya. "Hanya saja, ada yang membuat Danum tidak kunjung siuman,"
"Apa itu?" Nenek Ayudia bertanya antusias perihal sebab musababnya cucu keduanya tidak kunjung siuman.
Damar mengingat saat Dokter Abidin menjelaskan apa hasil dari Dokter psikologis. "Kata Dokter psikologis, Danum sedang bermeditasi ada sesuatu yang sedang mengganggu sel-sel otaknya,"
Tentunya semua orang yang berada di sana terkejut dengan apa yang disampaikan Damar. Kecuali Bu Suci yang sudah lebih dulu diberitahu Damar.
Semenjak Danum melewati masa kritis dan diberi kesempatan untuk bernafas kembali, Bu Suci sudah mempersiapkan diri dari segala kemungkinan yang terjadi pada anak bungsunya. Jikalau pada akhirnya Danum benar-benar di ambil darinya, karena Bu Suci menyadari semua yang ia miliki termasuk kedua anaknya adalah titipan dari Sang Maha Pemilik Nyawa.
"Meditasi?" Wulan berkata tak percaya, jikalau di masa modern ini masih ada hal semacam meditasi seperti yang dilakukan pada orang zaman dahulu.
Kakek Bagaskara dan Nenek Ayudia nanar menatap Danum yang tak sadarkan diri di atas tempat tidur.
"Meditasi atau apapun yang disampaikan Dokter..." lirih Nenek Ayudia menjeda ucapannya. Rasa sakitnya dahulu saat merasa kehilangan putra semata wayangnya, sudah menjadi pelajaran dalam hidupnya.
"Saat kamu percaya pada keajaiban, saat kamu percaya pada kekuatan doa, saat pikiranmu positif, saat niat mu murni, saat kesabaranmu indah dan saat kamu berpikir baik tentang Allah, apapun bisa terjadi untukmu..." lanjut Nenek Ayudia menatap satu persatu anggota keluarganya, mengangkat tangan dan membelai lembut punggung anak menantunya yang duduk tepat bersebelahan.
"Allah dapat mengubah semuanya dalam sekejap. Tugas kita hanya sebatas berjuang, bukan memaksakan hasil. Kita punya kendala, tapi Allah punya kendali. Yakinlah, Jika Allah sudah ikut andil, maka tidak ada yang mustahil." sambung Nenek Ayudia dalam nasehatnya.
Bu Suci merasa tenang mendengar petuah bijak yang dikatakan oleh Ibu mertuanya, ada rasa bersalah yang amat sangat mendalam, ketika mengingat dulu ia pergi begitu saja bersama dengan Gusli. Pasrah dalam membujuk Ayah Bagaskara yang tidak memberi restu atas pernikahannya dengan Gusli. Baik Ia dan Gusli tidak tahu, jika selama kepergian mereka menyebabkan Ibu Ayudia mengalami depresi berat. Kini setelah beberapa tahun berlalu, rasanya ingin menebus kesalahannya dulu, meski tidak mudah seperti membalikkan telapak tangan. Karena Gusli telah tiada.
Damar dan Wulan merasa apa yang dikatakan oleh Nenek Ayudia benar. Belajar memasrahkan segala sesuatu kepada Allah, agar tidak berputus asa.
...••...
Malam semakin larut, semua orang sudah tertidur di dalam kamarnya masing-masing, termasuk Damar dan Wulan yang menginap di rumah Kakek Bagaskara.
Akan tetapi Damar menemani Danum dan tidur di sofa, sedangkan Wulan dan Adam tidur bersama Bu Suci.
Dalam keremangan cahaya lampu. Seorang asisten rumah tangga terjaga pada tengah malam, karena merasa ada sesuatu yang kelupaan tidak ia masukkan kedalam kulkas. Terus berjalan menuju dapur melewati keremangan cahaya lampu kecil yang menyorot di ruang makan, semua nampak biasa saja karena rumah ini terbiasa dalam keremangan cahaya, hanya menyisakan satu atau dua lampu di dalam rumah.
Akan tetapi tiba-tiba saat mencapai batas masuk ruangan dapur, wanita setengah baya yang sudah bekerja selama tiga tahun di rumah ini terkesiap melihat sesosok putih dalam minimnya cahaya penerangan.
"Setan...!" kejutnya berteriak sampai pada akhirnya ia tergeletak di lantai tak sadarkan diri.
...•••...
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 75 Episodes
Comments
Rhiedha Nasrowi
wehh siapa itu ya kira2🤔🤔🤔
2024-01-11
1