Saat Mariska sudah tak lagi terlihat dari jangkauan matanya, Danum kembali berbalik badan melihat halaman gedung kosong yang cukup luas terdapat pohon besar di samping kiri gedung, atensinya beralih pada pintu rumah yang hampir terlepas dari kusennya. Sesaat kemudian Danum merinding tatkala netranya seperti melihat sesosok bayangan besar di dalam gedung kosong yang pintunya setengah terbuka. Seperti ada bayangan hitam, semacam genderuwo.
...•••...
"Aahh mana ada genderuwo di pagi hari begini?" ucapnya meyakinkan diri, jikalau tak ada makhluk astral yang memperlihatkan wujudnya saat matahari telah terbit.
Sempat bergidik merinding tapi tak membuatnya takut, karena bayangan hitam itu tak nampak jelas dari halaman rumah, hanya saja Danum berpendapat bayangan itu seperti gambaran genderuwo yang sempat ia dengar dari cerita temannya yang indigo jikalau teman yang bernama Dhanj pernah melihat mahkluk tak kasat mata itu di bawah pohon beringin yang ada di belakang gedung kampus.
Danum berjalan memasuki halaman gedung sampai berhenti di ujung teras gedung yang kotor nan berlumut. Mengamati untuk sejenak gedung kosong ini dan mengamati keadaan situasi sekitarnya yang sangat lengang dan suram, seolah ketika memasuki kawasan ini seperti di tarik ke dunia lain.
Setelah mengamati untuk beberapa saat, Danum kembali melanjutkan langkahnya menapaki teras rumah mengukir jejak sepatutnya di sana. *"Permisi, Assalaamu'alaika ayyuhan nabiyyu warahmatullaahi wabarakaatuh, Assalaamu'alaina wa'alaa ibaadillaahishaalihiin.."
[Artinya: "Segala kehormatan, dan keberkahan, kebahagiaan dan kebaikan itu punya Allah. Keselamatan atas Nabi Muhammad, juga rahmat dan berkahnya.]
Dilanjutkan dengan bacaan Al-Ikhlas. Menurut yang Danum pahami selama belajar agama dengan guru ngajinya. Isi pokok surah Al-Ikhlas adalah tentang penegasan terhadap keesaan Allah SWT. Surat Al-Ikhlas juga mengajarkan untuk menolak segala bentuk penyekutuan terhadap Allah SWT.
Masih sangat pelan Danum langkahkan kakinya. Sampai pada langkah kakinya tepat berhenti di depan pintu yang miring, barulah netranya benar-benar melihat sesosok bayangan hitam nan menyeramkan tepat di tengah-tengah ruangan dalam gedung kosong yang tidak terlalu luas dengan kisaran lebar enam meter.
"Astaghfirullah hal'azdim, apa itu?" gumamnya lirih, lalu memejamkan matanya dalam-dalam. Nyalinya menciut, merinding dingin, saat melihat sekilas jika bayangan hitam itu juga melihatnya. Danum membuka matanya, dan bayangan hitam itu masih di sana, ia lantas berpura-pura tidak melihatnya dan memandang ke arah yang berlainan.
Sesosok bayangan hitam nan besar bermata lebar nan merah melihat manusia datang. Namun, sesosok bayangan hitam ini juga melihat jika ada bayangan Amerta di belakang manusia yang mendatangi rumahnya.
Bagi bangsa mahkluk tak kasat mata ini, dan hanya segelintir saja manusia yang dapat melihat perwujudannya. Bangunan kosong, pohon keramat dan tempat-tempat yang jarang dijamah oleh manusia adalah rumahnya.
Danum masih berpura-pura tidak mengetahui keberadaan sesosok yang dianggapnya genderuwo, ia masih berdiri tepat di depan pintu, celingukan seolah sedang mencari sesuatu di dalam gedung kosong. Hingga pada akhirnya, ia terkesiap saat mendengar suara besar nan magis menyambar telinganya.
"Apa yang kau cari?" sesosok bayangan hitam bertanya kepada manusia yang datang bersama dengan bayangan sang Amerta.
Danum tertegun bisa mendengar suara bayangan hitam yang berjarak tiga meter darinya berdiri, bahkan suara itu kedengarannya ramah meski masih terdengar besar nan magis.
"A- a- anu..." Danum tergagap, ia mendesis dan menampar pipinya, meski tidak meninggalkan sakit. Hanya untuk membuatnya lancar berbicara karena tak pernah terjadi sebelumnya ia bisa mendengar suara dan melihat secara langsung seperti apa perwujudan mahluk tak kasat mata itu.
Danum menghela nafas panjang lalu bertanya selayaknya kepada manusia. Mengesampingkan sejenak rasa takutnya. Bohong bila ia tidak merasa takut. Bagaimana pun ini baru pertama kali baginya.
"Per- per- per ahhh..." desahh Danum merasa lidahnya kaku.
"Permisi... Mas, Om, atau Mbah, saya mau tanya apa ada orang, eh maksudnya apa ada manusia di dalam?" secara spontanitas Danum berslogan seperti calon legislatif dalam menyampaikan aspirasi.
"Hhhrrhh..." sesosok bayangan hitam ini hanya berdehem kecil memberi petunjuk kepada manusia yang datang bersama bayangan Amerta.
Meskipun deheman genderuwo itu kecil, tapi tetap saja masih terdengar menyeramkan di telinga Danum. Netranya kini bahkan melihat kuku hitam nan sangat panjang menunjukkan suatu tempat di dalam bagian gedung kosong ini.
Danum kaget bukan karena suara deheman sang genderuwo, tapi ia kaget saat mendengar ponselnya berdering.
"Aihh siapa lagi yang telpon?" desisnya merasa ponselnya berdering pada saat yang tidak tepat. Belum sempat Danum mengambil ponsel dari dalam tasnya, tiga orang keluar dari arah dimana sesosok genderuwo menunjuk.
Ketika ketiga orang ini masih berada di dalam ruangan bagian dalam gedung kosong ini. Mereka bertiga mendengar suara seorang di luar ditambah lagi dering ponsel. Sontak saja membuat mereka membulatkan matanya dan mencari siapa gerangan orang yang datang, mereka bertiga melihat seorang pemuda yang berdiri di depan pintu.
*"Sopo kowe?!" seorang pria berbadan tegap bertato di sekujur lengan bertanya dengan suara ganas kepada seorang pemuda yang datang seorang diri.
[Siapa kamu]
Danum mengucek matanya, seolah memastikan jikalau ketika orang itu benar-benar manusia seperti dirinya. Ia melihat kearah genderuwo, dan kembali melihat ketiga pria yang masing-masing memiliki bentuk badan yang berbeda-beda dari yang kurus sampai tegap bertato di sekujur lengan. Danum berargumen, sepertinya ketiga pria itu tidak melihat keberadaan genderuwo.
Danum melihat ketiga orang yang berdiri dengan jarak kisaran empat meter. Ia membulatkan matanya saat melihat tas cokelat yang di tenteng seorang pria berkaos biru dan mengingat lagi wajah pria yang dilihatnya dalam bayangan mata Ibu sang korban pencopetan. "Wajah pria itu sama persis orang yang mencopet tas Ibu-ibu tadi?" monolognya dalam hati. "jangan-jangan dia orangnya?"
Melihat pemuda di depan pintu hanya diam saja, membuat pria berkaos biru bertanya lagi jika pemuda itu tidaklah membahayakan tempat yang dijadikannya markas. "Siapa kamu, dan untuk apa kamu di sini?" tanyanya tegas.
"Aku?" ucap Danum seraya telunjuk tangannya menunjuk dirinya sendiri tanpa mengalihkan sedikit pun padanya dari melihat ketiga orang yang jelas memiliki tubuh badan lebih besar darinya. Lalu berjalan memasuki ruangan mengikis rasa takut yang sempat menghinggapi hatinya.
*"Ra penting sampeyan-sampeyan podo ngerti aku sopo?!" seru Danum tak gentar.
(Tidak penting kalian semua tahu aku ini siapa)
"Kowe nantang?!" sarkas pria bertato melihat pemuda itu nampak menantang.
"Cepat serahin tas itu!" Danum menunjuk tas yang di pegang pria berkaos biru.
"Hoo... jadi kamu mau ambil tas ini?" pria berkaos biru sengaja mengangkat tas berwarna cokelat yang ada dalam genggaman tangannya ke atas.
"Itu bukan milikmu!" Danum bersuara dengan gigi dikeratkan.
"Hahaha..." ketiga pria ini tertawa mendengar racauan pemuda itu.
"Dasar bocah ingusan, tau darimana kalau tas ini bukan milik ku, hah?!" pria berkaos biru berkata keras.
*"Sampeyan merampasnya dari Ibu-ibu di jalan, dan sekarang Ibu-ibu itu memerlukan uang itu untuk operasi anaknya," Danum berkata tanpa menurunkan sedikitpun keberaniannya.
(Kamu)
"Aku ra peduli!" sarkas pria berkaos biru menatap nyalang pemuda yang sudah berani memasuki markasnya.
...•••...
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 75 Episodes
Comments
Fuad Sutanto
ini novel setiap mc nya bertemu orang banyak dramanya, jadi ceritanya ngalor ngidul gak nyampe2
2025-02-05
0