"Kipli, ambil tas nya, sebelum ada motor yang lewat!" seorang pria bermasker memberi titah kepada temannya yang lain.
Meskipun masih dalam keadaan perasaan terkejut karena terhempas di jalanan bersama dengan motor dan gerobaknya. Tapi segenap pikiran waras serta perasaan waspada, Danum yang masih tengkurap di atas jalan beraspal melihat kaki bercelana panjang berada tepat di depan wajahnya.
Seorang yang bernama Kipli lantas membungkuk dan hendak mengambil tas korbannya. Akan tetapi tanpa di nyana si korban ini menjegal kakinya.
Mata Kipli yang merah membelalak menatap sang calon korban yang tengkurap, lalu berkata dengan suara ganas. "Heh, kalau mau nyawa mu selamat, cepat serahin tas nya!"
"Eghh!" Danum menarik kaki si preman dengan tenaga yang kuat, hingga menyebabkan preman ini jatuh terjengkang.
"Arghh!" erang Kipli saat pantatnya menghantam kerasnya aspal.
Danum segera berdiri, dan melihat preman yang baru saja ia tarik kakinya. Kemudian beralih melihat ketiga preman yang masing-masing memakai slayer penutup wajah. Salah seorang diantaranya berambut kriwil mengingatkan Danum pada pekan lalu. Entah orang yang sama atau itu orang yang memiliki gaya rambut yang sama.
"Nyawaku bukan di tangan kalian, bangsat!" hardik Danum emosional. Sekelebat ingatan pekan lalu saat dua orang melakukan penyerangan terhadap dirinya.
"Alah banyak bacot!" seorang pria sebut saja Jamal berjalan dengan langkah jenjang mendekati korbannya yang dirasa telah menantang. Ia mengepalkan tangannya hendak melayangkan tinju pada sang calon korban.
Dengan gerakan gesit, Danum menghalau bogeman preman itu. Bahkan ia menendang perut si preman. Dilihatnya, preman itu mundur terhuyung-huyung. Danum bersyukur bisa belajar ilmu bela diri dari Bokir yaitu rekan kerja Kakaknya.
"Arghh!" erang Jamal yang mendapat tendangan keras di perutnya, hingga menyebabkannya oleng dan mundur beberapa langkah.
Kedua teman Jamal, sebut saja Zaki dan Togi melihat wajah yang tak asing. Keduanya mengingat si calon korban yang pekan lalu sempat akan menjadi korbannya, namun Togi dan Zaki dapat dikalahkan dengan mudah.
Kipli kembali bergabung bersama ketiga teman lainnya, begitu juga dengan Jamal yang bersusah payah kembali berdiri.
"Dia yang sudah menghajar kita pekan lalu!" Zaki berbisik di telinga Togi.
Togi menegaskan rahangnya, atensinya nyalang menatap seorang pemuda yang mengalahkannya pekan lalu.
"Hajar!" Togi berteriak sangar.
Danum telah siap dengan gerakan yang sudah dipelajarinya saat berlatih ilmu bela diri bersama dengan Bokir. Sebenarnya ini bukan yang pertama baginya dalam menghadapi persoalan di jalanan, terhitung sudah dua kali dia berhadapan dengan kelompok klitih yang sebenarnya usia kelompok klitih ini tak jauh berbeda darinya.
Bukan sok jagoan, bukan pula ingin menguji kemampuan. Hanya saja Danum ingin memberi pelajaran bagi para kelompok klitih yang semakin meresahkan masyarakat sekitar DIY. Apalagi kelompok ini, selalu menyerang pengguna jalan yang tidak ada kaitannya dengan kelompok klitih bahkan tak segan kelompok ini akan bertindak kejam dengan membawa senjata tajam dan melukai korbannya.
Keringat sudah pasti membasahi tubuhnya, namun Danum tak ingin lengah. Meskipun ia harus melawan empat orang itu seorang diri.
Perkelahian semakin sengit, Danum melawan empat anggota klitih. Berbagai jurus kaki dan tangan mampu menepis tendangan serta hantaman yang siap menyerang tubuhnya dari berbagai arah.
"Arghh, bangsat!" kembali erangan menguar dari mulut Zaki yang berdarah.
Sejauh ini, Danum tak melihat mereka membawa senjata tajam. Meskipun begitu, ia tak bisa lengah begitu saja, nafasnya semakin memburu. Keringat mengucur deras.
"Arghh..." satu bogeman tak dapat Danum elakkan. Ia mendapat tinju di wajahnya hingga menyebabkan rasa sakit juga ngilu.
Danum menggelengkan kepalanya yang rasanya seperti ketiban batu besar. Ia kembali menyerang, dan sekali tarikan tangan, Danum berhasil membuka slayer penutup wajah salah seorang preman. Nampaklah wajah kelompok klitih ini.
"Sialan!" sergah Zaki kala wajahnya tak lagi memakai slayer.
"Hoo jadi wajahnya seperti ini, akan aku ingat!" Danum merekam wajah dari preman berambut kriwil dalam ingatannya, agar suatu saat ketika bertemu di siang hari ia dapat melaporkannya kepada pihak yang berwajib.
Togi melihat pemuda itu lengah, ia tak membuang waktunya percuma. Karena pemuda itu juga telah melihat wajah Zaki. Togi mengambil pisau dari jok motornya, secara langsung ia menikam sang korban di bagian perut.
Danum membelalakkan matanya tatkala merasakan benda tajam menerjang perutnya. Lantas mengulurkan tangannya dan meraba perut yang tertusuk, saat menarik tangannya dari sana, mata yang mulai memerah melihat telapak tangannya telah berlumuran darah.
Perlahan Danum jatuh tersungkur di jalan beraspal. Menahan gejolak lara yang semakin menikam.
"Arhh..." Danum merintih kesakitan.
Ketiga teman Togi terpekur, melihat temannya itu menusuk sang calon korban. Karena mereka membawa senjata tajam hanya untuk menakuti-nakuti calon korbannya. Bukan secara membabi buta melakukan penikaman.
Tak di sangka, bahwa Togi benar-benar menusuk sang calon korban hingga terdengar rintihan lirih dari korbannya.
"Togi!" seru Jamal pada temannya. "bahaya Gi, bahaya!" sambungnya panik, melihat ke kanan dan ke kiri.
Kipli dan Zaki melihat keadaan situasi sekitarnya. Seolah memeriksa jika tidak ada yang melihat kejadian ini.
Nafas Danum mulai tersengal-sengal, ia menahan sakit yang teramat sangat dalam di perutnya, bahkan rasa sakit kian menjalari seluruh tubuhnya.
Tiba-tiba terdengar deruman knalpot segerombolan pemotor datang dari arah kejauhan. Zaki, Jamal, Kipli menyadari atas keberadaan segerombolan pemotor itu, dan hal ini akan berdampak buruk jikalau mereka tertangkap. Pasalnya mereka pasti akan jadi amukan massa dan lebih parahnya masuk penjara.
Dalam setengah kesadarannya yang masih tersisa, sayup-sayup Danum mendengar suara seseorang berteriak dari kejauhan.
"Woi!" salah seorang dari segerombolan pemotor berteriak lantang.
"Cabut woi, cabut!" tangan Zaki melambai pada teman-temannya, guna meninggalkan tempat.
Jamal dan Zaki langsung berlari ke tempat motor mereka terparkir. Sedangkan Kipli melihat Togi yang masih terpekur melihat pemuda yang ditusuknya. Kipli melihat segerombolan pemotor itu mulai mendekati mereka.
"Eh Togi, ayo cabut!" Kipli segera menarik tangan Togi dan berlari secepat kilat menyalakan mesin motor.
Kipli dan Togi tancap gas sekencang mungkin menyusul Jamal dan Zaki yang telah lebih dulu pergi.
"Kejar mereka!" salah seorang anggota pemotor meneriaki temannya guna mengejar klitih yang kabur.
Tiga anggota pemotor mengejar, yang mereka duga adalah kelompok klitih yang kian meresahkan masyarakat, terutama pengguna jalan pada malam hari yang sepi.
"Juna, ada orang pingsan!" seorang anggota pemotor melihat pemuda yang sudah pingsan di jalanan.
Seseorang yang bernama Juna segera melihat, lalu memegang punggung seorang pemuda yang di duga telah menjadi korban dari kekejaman klitih.
Juna membalikkan tubuh pemuda ini, dan baru ia tahu jikalau pemuda ini adalah adik dari temannya. Juna membelalakkan matanya dan berseru. "Danum!"
"Apa, Danum?" teman Juna bernama Rizal berseru terkejut.
"Bukankah dia adiknya Damar?" Firli tahu betul jikalau pemuda yang telah menjadi korban klitih adalah adik temannya.
"Cepat telpon ambulans!" kata Juna cemas. Ia gemetar saat melihat tangannya berlumuran darah Danum.
°°°
Bersambung
Notes author: Jangan lupa tinggalkan like dan komen. Terimakasih
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 75 Episodes
Comments
[AIANA]
untung ketahuan. seru juga ini
2024-02-11
0
Rhiedha Nasrowi
jadi ikut gemetar, , semoga danum baik2 saja ya🤲
2024-01-07
2
♈
lanjutkan thor
2024-01-04
2