Di garasi rumah, Damar menunjukkan kepada adiknya motor bergerobak yang rusak.
Danum memandangi motor gerobaknya yang memang dalam keadaan rusak di sana dan di sini. Memang memerlukan perbaikan ia tidak mungkin sepulang kuliah berjualan dengan gerobak yang rusak.
Bersimpati melihat adiknya seperti meratapi motor dan gerobak yang rusak. Damar menepuk pundak adiknya. "Udah jangan kelamaan meratapi gerobaknya, kan bisa di perbaiki. Yang penting sekarang kamu selamat,"
Danum bukan meratapi gerobaknya, karena apapun yang rusak bisa diperbaiki meskipun agak lain bentuknya dengan yang sebelumnya, berbeda dengan nyawa. Siapa gerangan manusia yang akan diberi kesempatan kedua untuk hidup kembali. Jika bukan karena Amerta sang utusan Sultan Agung atas kehendak Allah. Mungkin sekarang ia hanya tinggal nama karena jasadnya sudah di kubur di dalam tanah.
Kendati demikian tetap ada manusia yang diberi kesempatan untuk hidup kembali. Yang biasanya orang-orang menyebut mati suri.
Danum teringat kembali pada saat malam naas itu. Atensinya beralih pada sang Kakak yang berdiri disebelahnya. "Siapa yang membawaku ke rumah sakit Mas?"
Danum lupa menanyakannya semalam.
Netra Damar beralih dari semula memperhatikan motor bergerobak yang rusak, kini menatap sang adik yang sedang menatapnya. "Juna sama temen-temen nya,"
Danum baru ingat jika pada malam naas itu, segerombolan pemotor berteriak dari kejauhan, sebelum pada akhirnya ia tak sadarkan diri.
"Untung ada mereka, kalau enggak..." Damar menggantungkan ucapannya. Meskipun hidup dan mati tetap berada di tangan Sang Pemilik Nyawa.
"Aku akan berterimakasih sama Mas Juna," Danum merasa sangat berterimakasih kepada Juna dan teman-temannya.
"Dan aku akan memberantas kejahatan yang semakin merajalela, aku enggak akan menyia-nyiakan kesempatan hidup yang kedua ini." lanjut Danum dalam hati, tatapannya sinis menatap motornya yang ikut menjadi korban.
Kakek Bagaskara baru saja memasuki garasi mobil, dilihatnya Danum dan Damar yang nampak sedang melihat motor dan sepertinya sedang terjadi perbincangan kecil di antara mereka.
Dibelakang Kakek Bagaskara ada Pak Karyo yang sudah membawakan tas milik tuannya.
"Danum, apa kamu sudah siap untuk berangkat?" Kakek Bagaskara bertanya dan melihat Danum juga Damar menoleh padanya.
"Iya Kek," jawab Danum ramah.
"Biarkan Kakek mengantar mu," tawar Kakek Bagaskara pada Danum.
Danum membulatkan matanya mendengar tawaran sang Kakek, dia berpikir jika Kakeknya mengantarnya pakai mobil apalagi sejenis mobil bermerek terkenal, pasti pada heboh nanti. Dan dia tidak ingin teman-temannya tahu, ia cucu siapa.
Danum mengibas tangannya. "Nggak usah Kek, makasih. Tapi Danum pakai motor aja,"
Damar tahu apa penyebab adiknya ini tidak ingin di atar pakai mobil. Karena adiknya ingin terhindar dari tatapan orang-orang di kampus, sama seperti saat ia pernah menawarkan Danum untuk pergi ke kampus pakai mobil, dan seperti yang terjadi saat ini, Danum tidak mau menerima tawaran Kakek Bagaskara.
"Danum nggak mau ditatap teman-temannya Kek. Dia nggak mau jadi bahan pembicaraan di kampusnya," tukas Damar sekilas melirik Danum.
Danum menjentikkan jarinya, mendengar sang Kakak paham betul apa yang ia rasakan.
"Nah itu!" celetuk Danum.
Mendengar celetukan Danum membuat Kakek Bagaskara tertawa kecil. "Hahaha... ya sudah, yang terpenting kamu hati-hati di jalan, jangan sampai membuat kami cemas lagi,"
Danum tersenyum lebar membersamai anggukan kecil. "Siap, Kek."
Kakek Bagaskara merasa sangat bangga memiliki kedua cucu yang sama sekali tidak terlena akan kekayaan yang ia punya. Justru kedua cucunya itu bersikeras ingin membuktikan bisa sukses tanpa bantuannya.
"Kalau begitu, Kakek berangkat dulu." kata Kakek Bagaskara.
Danum dan Damar segera mendekati Kakeknya guna menyalami tangan beliau. Kedua Kakak beradik ini melihat sang Kakek berlalu bersamaan dengan Pak Karyo yang berjalan di belakang Kakek mereka menuju mobil warna hitam yang terparkir, tatapan mata mengantar sampai pada mobil yang membawa Kakeknya berlalu meninggalkan pelataran luas rumah.
...••...
Setelah berpamitan kepada Ibu dan Neneknya.
Di perjalanan menuju kampus, Danum menikmati semilir angin di pagi ini. Meskipun asap knalpot kendaraan terasa mulai memanasi bumi.
Tapi menurut Danum tak ada kata lain selain bersyukur, karena sejatinya manusia harus banyak-banyak bersyukur. Jika tidak maka semakin banyak orang-orang yang sudah putus asa di tengah kehidupan yang semakin karut marut dan terasa semakin kejam nan pahit ini.
Saat menikmati pemandangan jalanan yang ramai akan kendaraan bermotor mendadak telinganya berdenyut denyut.
"Akhh kenapa telinga ku sakit?" Damun memegang helm yang menutupi telinganya.
Menepikan laju motornya di sisi kiri jalan, Danum melepas pengait lantas menanggalkan helmnya, ia menguyek telinganya yang berdenyut denyut terasa sakit.
Saat terus mencoba menepuk-nepuk telinganya, lamat-lamat Danum mendengar suara minta tolong.
"Tolong..."
"Tolong..."
Danum mengerjap-ngerjapkan matanya mendengarkan kembali suara seseorang minta tolong yang seperti datang dari kejauhan. Ia menoleh ke kanan, ke kiri, ke belakang dan kembali ke depan. Dari jangkauan mata memandang, tidak ada yang nampak aneh, semua normal, tidak ada kejanggalan yang terjadi.
"Aneh.." Danum bingung karena terlihat hanya dialah yang mendengar suara seseorang minta tolong, orang-orang yang melintas di sekitarnya nampak biasa-biasa saja.
Denyutan di telinganya menghilang bersamaan juga dengan rasa sakitnya.
Danum kembali memakai helm, lalu menyalakan mesin motornya. Pelan-pelan Danum membleyer gas motornya membaur dengan pengendara lain.
Saat kembali menikmati semilir angin dan pemandangan jalanan sekitar sepuluh menitan, rasa penasarannya tergugah kala melihat kerumunan orang-orang di tepi jalan dekat pasar.
Untuk mengobati rasa penasaran yang semakin menyeruak, Danum menepikan laju motornya di sisi kanan jalan. Setelah mematikan mesin motor tanpa melepas helm, Danum segera berlari ke arah kerumunan orang-orang.
Danum bertanya kepada seorang Bapak-bapak. "Pak ada apa yah?"
"Ada Ibu-ibu, tasnya di copet," jawab sang Bapak yang memakai kaos hijau bermerek obat anti wereng.
Danum manggut-manggut paham, ia lantas menelusup masuk ke kerumunan. Atensinya menangkap seorang Ibu-ibu yang menangis.
"Tas saya, tolong tas saya dikembalikan. Itu uang saya pas-pasan, mau buat berobat..." tangis seorang Ibu yang menjadi korban pencopetan di pinggir jalan ketika akan menyebrang jalan untuk naik angkutan.
Danum teringat suara minta tolong yang sempat di dengarnya belum lama ini. Ia mencoba mendekati si Ibu yang terus menangis seperti wartawan yang mencari sumber informasi. Tidak sengaja lengannya bersentuhan dengan abaya yang di pakai si Ibu, Danum melihat sekelebat bayangan, ia seolah bisa melihat sebelum dan sesudah Ibu ini mengalami pencopetan.
"Apa Ibu masih ingat, pakaian yang dipakai pencopet?" Danum bertanya guna mengonfrontasi apa yang ada dalam pikirannya dengan pengakuan Ibu korban copet.
Ibu yang telah menjadi korban pencopetan mencoba mengingat kembali kejadian yang menimpanya beberapa menit yang lalu.
"Kalau ndak salah pakai baju warna biru, di- dia pura-pura menanyakan alamat, tapi setelah itu..." ucap si Ibu terputus kala tangisnya kembali pecah mengingat uang sepuluh juta yang akan ia bawa ke rumah sakit guna membayar operasi anaknya yang mengidap kanker.
"Dia merampas tas Ibu..." lanjut Ibu seraya mengusap air matanya yang tak bisa ia bendung lagi, rasa sesal telah menjawab pertanyaan orang yang menanyakan alamat namun ternyata berniat jahat.
Dalam mendengarkan penjelasan si Ibu yang telah menjadi korban pencopetan, Danum menatap dalamnya manik mata Ibu ini. Dan mendapatkan gambaran jelas dari wajah orang yang telah merampas tas Ibu ini.
"Apakah ini caranya?" Danum menyadari bagaimana caranya dalam melaksanakan misi yang diperintahkan oleh Amerta.
"Ibu tunggu di sini, jangan kemana-mana!" Danum segera berlari menjauhi kerumunan.
...•••...
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 75 Episodes
Comments