Terluka parah

Tidak sabar menunggu mobil ambulance datang, dikarenakan Danum yang sudah mengeluarkan banyak darah, Firli terpaksa harus meminjam mobil seorang teman yang rumahnya lumayan dekat dari tempat kejadian perkara.

Juna dan teman-temannya langsung membawa Danum ke rumah sakit terdekat, dan rumah sakit yang berada di selatan kota Yogyakarta adalah tujuannya.

Mereka sangat panik bercampur rasa cemas, takut terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan menyangkut nyawa Danum yang telah mengeluarkan banyak darah di tambah lagi tidak sadarkan diri.

"Danum, bangun Num." Juna gemetaran, berulang kali menepuk-nepuk pipi Danum diharapkan adik dari temannya ini merespon panggilannya.

"Firli, cepetan nyetirnya!" Rizal berseru cemas meminta agar Firli menambahkan laju mobilnya.

Firli menginjak gas dan menambahkan kecepatan tinggi. Sesekali ia menekan klakson agar pengendara yang berada di depannya menepi.

RSUD KOTA YOGYAKARTA

Sesampainya di pelataran luas rumah sakit, Rizal bergegas keluar dari dalam mobil.

"Suster, Dokter! Cepat ada orang yang membutuhkan pertolongan!" pekik Rizal memanggil petugas medis yang kiranya berjaga di teras rumah sakit.

Dua orang perawat dibantu dengan seorang satpam bergegas menarik brankar dan membawa mendekati mobil yang di tunjuk oleh seorang pria yang memanggil mereka. Lantas membaringkan seorang pasien yang tidak sadarkan diri di atas brankar.

Teman-teman Juna yang memakai motor pun sampai di pelataran rumah sakit.

Juna, Rizal dan Firli mengikuti kemana perginya dua perawat membawa Danum dalam menyusuri koridor rumah sakit, lalu membawa Danum masuk kedalam ruang gawat darurat untuk mendapatkan pertolongan pertama.

Juna dan temannya sangat mengkhawatirkan kondisi Danum.

"Ya Allah, semoga nggak terjadi hal yang buruk sama Danum." ucap Juna, ia mengusap peluh yang membasahi kening.

Rizal teringat sesuatu, ia lantas menepuk pundak Juna.

"Jun, kamu udah telpon Damar?" kata Rizal mengingatkan.

Juna membulatkan matanya, rasa khawatirnya telah melumpuhkan otaknya dalam memberi kabar kepada Damar. Ia lantas mengeluarkan ponsel dari sakunya.

Panggilan berdering cukup lama.

...°°...

Di dalam rumah, tepatnya di dalam kamar. Damar dan Wulan sangat kerepotan, manakala anak mereka sejak tadi terus menangis tiada henti. Kedua orang tua yang baru pertama kalinya merasakan punya anak ini bingung apa yang seharusnya mereka lakukan. Badan anaknya tidak panas, tidak pula sedang sakit, tidak mau menyusu.

Dalam kepanikan mengurus bayi mereka yang sejak tadi menangis, Damar dan Wulan di kejutkan dengan adanya dering ponsel.

Wulan melihat Damar.

"Siapa itu yang telpon?" kata Wulan agar Damar melihat ponsel yang berdering.

Damar berjalan menuju meja tempat dimana ia menaruh ponselnya. Dilihatnya nama yang tertera di layar monitor ponsel.

"Juna?" ucapnya setelah melihat siapa sang penelepon.

"Tumben-tumbenan amat si Juna telpon?" Damar merasa ada yang janggal, karena Juna jarang sekali meneleponnya.

Wulan hanya melirik sekilas kearah suaminya yang sedang mengangkat telepon seluler. Lalu kembali berusaha memenangkan serta menyusui bayinya.

"Halo Dam, Damar..." suara Juna terdengar panik di seberang telepon, membuat perasaan Damar tidak enak seketika itu juga.

"Ya, ada apa Jun?" jawab Damar.

"Danum, Mar. Danum!"

Semakin panik suara Juna yang tertangkap di telinga Damar saat temannya itu menyebut nama adiknya.

Degh..

Degup jantung Damar kian bergejolak tak karuan. "Danum kenapa, Jun?"

"Danum di serang klitih, dia terluka parah, sekarang Danum berada di rumah sakit kota." tukas Juna menyapaikan dalam suara panik.

krak

Ponsel yang semula berada di dekat telinga seketika lepas dari genggaman dan menghantam ubin sangat keras hingga terpecah menjadi dua bagian. Damar terperangah mendengar kabar dari Juna, seakan atmosfir bumi berhenti berputar, seakan jarum jam berhenti berdetak. Damar seketika itu lunglai, tak berdaya. Ia bersandar pada dinding kamarnya.

Wulan terkejut saat mendengar ponsel terjatuh di ubin, netranya melihat gelagat Damar yang termangu diam membisu. Sedetik kemudian, ia melihat Damar menyebut nama adiknya.

"Danum..." rintih Damar memanggil nama adiknya.

Wulan menggendong bayinya, lalu menghampiri Damar yang seakan tak bertenaga. "Ada apa sayang, apa yang terjadi sama Danum?"

Damar menyadarkan diri dari rasa yang bergejolak. Rasa khawatir kian menjalari hatinya, ia melihat manik mata istrinya.

"Aku harus ke rumah sakit!" seru Damar seraya beranjak.

Wulan menyusul Damar yang mengambil jaket tergantung di gantungan baju.

"Ada apa dengan Danum?" Wulan bertanya cemas, meskipun tidak tahu akan apa yang terjadi pada Danum, tapi gelagat Damar seolah menggambarkan kondisi Danum yang tidak baik-baik saja.

Damar terus berjalan setelah memakai jaket dalam keadaan panik, ia menyambar helm dan kunci motor di atas meja hias ruang tamu. "Danum diserang kelompok klitih,"

"Klitih?" gumam Wulan. Ia membulatkan matanya dikala mendengar jawaban Damar.

Wulan sedikit tahu apa itu kelompok klitih. Kejahatan di jalanan yang kian santer terdengar dan meresahkan masyarakat di sekitar DIY.

"Kamu di rumah aja dan jagain Adam." kata Damar pada Wulan.

Damar memakai helm lalu melihat bayi berusia tiga bulan lantas beralih melihat istrinya secara bergantian, dan mencium sekilas kening Adam dan Wulan singkat.

Wulan mengangguk singkat. "Hemm hati-hati."

Damar keluar dari dalam rumah membersamai motornya dan langsung menyalakan mesin motor sesampainya di halaman rumah. Motor mulai melaju dengan kecepatan rendah sampai tinggi menerabas angin di malam hari.

Setelah Damar pergi, Wulan langsung mengunci pintu. Ia berdoa dengan segenap hatinya, semoga Danum baik-baik saja.

"Nak, doakan pamanmu, semoga paman Danum selamat." ucapnya pada sang anak yang berada dalam gendongannya.

...°°...

Berkecepatan tinggi membelah malam yang semakin sunyi. Tak sampai setengah jam, Damar sudah sampai di rumah sakit, ia langsung berlari meninggalkan motornya yang masih dalam keadaan mesin menyala.

Beberapa orang yang sekarang ini berada di pelataran rumah sakit heran, melihat gelagat aneh seorang pria yang masuk kedalam rumah sakit tanpa mematikan nyala motornya.

Damar mencari keberadaan Juna, dan kebetulan melihat temannya itu sedang berdiri tepat di depan meja resepsionis rumah sakit.

"Juna!" bernada tinggi Damar memanggil temannya. Tak ia hiraukan keberadaan orang-orang yang ada di dalam rumah sakit.

Juna mengalihkan atensinya tatkala namanya di panggil oleh suara seseorang yang sangat familiar. "Damar.."

"Dimana Danum?"

"Apa yang sebenarnya terjadi?"

"Kenapa bisa Danum berhadapan dengan kelompok klitih itu?" rentetan pertanyaan bagai selongsong peluru yang ditembakkan Damar tanyakan pada Juna dalam keadaan hati dan pikiran yang teramat sangat kalut, takut terjadi sesuatu pada Danum.

Sebelah menjawab pertanyaan Damar. Juna menyodorkan kertas yang terdapat di atas meja resepsionis rumah sakit.

"Mar tanda tangani berkas ini," Juna memberikan berkas persetujuan operasi, karena yang lebih berhak tanda tangan adalah Damar.

Damar melihat kertas yang di sodorkan Juna, lalu menandatangani berkas persetujuan operasi.

"Danum sedang ditangani Dokter." Juna berjalan bersamaan dengan Damar ke arah di mana Danum mendapat pertolongan.

Di depan ruang operasi, tatapan Damar nanar kala melihat lampu merah menyala di atas pintu. Ia berharap adiknya bisa selamat.

"Mar ini tas Danum." Nino menyodorkan Danum yang berlumuran darah kepada Damar.

Damar menerima tas yang disodorkan Nino, ditatapnya tas Danum yang terdapat bercak darah. Perasaannya semakin bertambah suram, namun ia harus tetap optimis jikalau adiknya akan baik-baik saja.

"Mar, apa kamu sudah memberitahu Ibumu?" Rizal bertanya kepada Damar yang berdiri bersandar dinding putih rumah sakit.

Damar mengalihkan atensinya, ia melihat temannya.

"Ibu.." Damar berkata lirih, pandangan matanya menerawang ke arah lorong rumah sakit. Lalu kembali melihat pintu ruang operasi.

"Mana mungkin aku memberitahu Ibu soal Danum," ucapnya lirih, Damar sangat takut untuk memberitahu Ibunya soal Danum yang belum pasti bagaimana perkembangannya dalam mendapatkan perawatan medis di ruang operasi.

"Bukankah Danum tinggal bersama Bu Suci, Kakek dan Nenek mu. Bagaimana kalau mereka menunggu kepulangan Danum dengan perasaan khawatir?" kata Firli ikut bertanya.

"Iya Mar, apa nggak sebaiknya kasih tau aja. Kasihan mereka, kalau sampai nunggu Danum pulang," ucap Juna membayangkan bagaimana rasa khawatirnya Bu Suci, karena ia tahu jikalau Damar maupun Danum adalah anak yang patuh.

Meskipun perasaannya gamang selayaknya tertancap duri tajam menunggu dokter keluar dari ruang operasi dan berharap Dokter menyampaikan kabar baik mengenai adiknya. Tetapi Damar mendengarkan semua perkataan temannya, jika apa yang mereka katakan benar. Ibunya pasti akan sangat khawatir, teringat saat dulu ia sering pulang malam karena bekerja di cafe untuk bernyanyi, jam berapapun sang Ibu pasti akan menunggu kepulangannya.

Damar meraba jaket lalu beralih meraba saku celananya, dan teringat jikalau ponselnya jatuh ke lantai pada saat mendengar kabar dari Juna.

...°°°...

Bersambung...

°

notes author: jangan lupa subscribe (favorit) like dan komen.

Matur sembah nuwun (terimakasih)

Terpopuler

Comments

Hemuch🤔

Hemuch🤔

/Good/

2024-02-12

0

[AIANA]

[AIANA]

bahasamu lugas kak. seneng aku bacanya

2024-02-11

0

AdeOpie

AdeOpie

maksudnya Juna temennya Damar thor

2024-01-07

3

lihat semua
Episodes
1 Urip Iku Urup
2 Firasat
3 Penyerangan Klitih
4 Terluka parah
5 Perasaan seorang Ibu
6 Antara hidup dan mati
7 Harapan
8 Amerta
9 Asma sejati
10 Janji
11 S 3
12 Berakal sehat
13 Meditasi
14 Empat puluh hari
15 Limbung menjadi bingung
16 Aku ra popo
17 Mati suri
18 Gedung peninggalan Belanda
19 Magis
20 Tiga lawan satu
21 Masih belajar baik
22 Pelapor jadi tersangka
23 Baik atau buruk
24 Tim Lion
25 Mata batin
26 Prasasti Canggal
27 Jadi orang tua?
28 Rambut palsu
29 Jati diri yang sebenarnya
30 Jiwa sejiwa senyawa
31 Romo Amerta
32 Tak luput dari kesalahan
33 Gadis manis berlesung pipi
34 Pengacau
35 Harus berpikir jernih
36 Bocah kecil
37 Pria tua
38 Mengagumi dalam diam
39 Doris dolls
40 Meluruskan kekeliruan
41 Gantungan kunci
42 Sapu tangan
43 Jangan kabur!
44 Curanmor
45 Manusia inginkan apa?
46 Kangen Bapak
47 Gejolak kawula muda
48 Omelan
49 Hanya mimpi
50 Perasaan sederhana
51 Memprihatinkan
52 Sengkuni
53 Senang hati
54 Semua sudah takdir
55 Ketenangan batin
56 Penyelamatan
57 Alibi
58 Sadar diri
59 Darah muda
60 Otoriter
61 Berbeda jaman
62 Jagad sukma
63 Lapor Pak
64 Mengatur strategi
65 Menemukan fakta lain
66 Waniti
67 Hilang
68 Menemukan bukti
69 Penyergapan
70 Perlawanan
71 Ruang bawah tanah
72 Bebas
73 Rahasia kelam sang perwira
74 Spiderman atau Superman
75 Berita heboh
Episodes

Updated 75 Episodes

1
Urip Iku Urup
2
Firasat
3
Penyerangan Klitih
4
Terluka parah
5
Perasaan seorang Ibu
6
Antara hidup dan mati
7
Harapan
8
Amerta
9
Asma sejati
10
Janji
11
S 3
12
Berakal sehat
13
Meditasi
14
Empat puluh hari
15
Limbung menjadi bingung
16
Aku ra popo
17
Mati suri
18
Gedung peninggalan Belanda
19
Magis
20
Tiga lawan satu
21
Masih belajar baik
22
Pelapor jadi tersangka
23
Baik atau buruk
24
Tim Lion
25
Mata batin
26
Prasasti Canggal
27
Jadi orang tua?
28
Rambut palsu
29
Jati diri yang sebenarnya
30
Jiwa sejiwa senyawa
31
Romo Amerta
32
Tak luput dari kesalahan
33
Gadis manis berlesung pipi
34
Pengacau
35
Harus berpikir jernih
36
Bocah kecil
37
Pria tua
38
Mengagumi dalam diam
39
Doris dolls
40
Meluruskan kekeliruan
41
Gantungan kunci
42
Sapu tangan
43
Jangan kabur!
44
Curanmor
45
Manusia inginkan apa?
46
Kangen Bapak
47
Gejolak kawula muda
48
Omelan
49
Hanya mimpi
50
Perasaan sederhana
51
Memprihatinkan
52
Sengkuni
53
Senang hati
54
Semua sudah takdir
55
Ketenangan batin
56
Penyelamatan
57
Alibi
58
Sadar diri
59
Darah muda
60
Otoriter
61
Berbeda jaman
62
Jagad sukma
63
Lapor Pak
64
Mengatur strategi
65
Menemukan fakta lain
66
Waniti
67
Hilang
68
Menemukan bukti
69
Penyergapan
70
Perlawanan
71
Ruang bawah tanah
72
Bebas
73
Rahasia kelam sang perwira
74
Spiderman atau Superman
75
Berita heboh

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!