Keesokan paginya, matahari sudah mulai meninggi, meninggalkan pagi untuk menuju siang hari. Damar sudah sampai di halaman rumahnya, lalu memarkirkan motornya di teras. Ia sudah meminta pada Ibunya untuk pulang terlebih dahulu, karena harus berganti pakaian.
"Assalamualaikum.." salam Damar di depan pintu rumah.
Tanpa menunggu waktu lama, Wulan sudah membuka pintu. Dan memang Wulan juga sedang menunggu kabar dari Damar.
"Waalaikumsalam.." jawab Salam Wulan, dilihatnya wajah sayu nan tampilan Damar yang kusut. Ia menjabat tangan Damar lantas mencium tangan suaminya.
Damar memasuki rumah, dan disusul Wulan setelah menutup pintu.
Sebenarnya Wulan sangat penasaran dan ingin memberondong Damar dengan berbagai pertanyaan, akan tetapi ia urungkan karena melihat wajah suaminya itu nampak tertekan.
Sampai pada Wulan melihat Damar berjalan ke ruangan dapur dan duduk di kursi meja makan, dengan sigap Wulan menuangkan air mineral ke dalam gelas, lalu memberikannya pada Damar.
Netra Wulan terus memperhatikan setiap gerakan suaminya, bahkan ketika Damar menghela nafas panjang dan meminum air mineral sampai tandas. Wulan masih terus menatap Damar, berharap bisa menyampaikan rasa penasarannya perihal tentang Danum. Bagaimana keadaan adik iparnya, sampai-sampai membuatnya tidak bisa tidur, ditambah lagi Adam yang terus menangis.
"Hahhh..." untuk yang kesekian kalinya Damar menghela nafas panjang.
Ketap-ketip Wulan menatap Damar.
Damar sebenarnya tahu, jikalau istrinya ini pasti sedang menyiapkan berbagai pertanyaan menyangkut Danum, karena ia paham betul seperti apa rasa penasaran sang istri yang dulunya bekerja sebagai Intel. Namun, yang membuat Damar gemas, Wulan selalu saja bisa untuk menahan pertanyaan jika melihatnya belum membuka percakapan. Seolah menunggunya siap untuk menceritakan.
"Kamu pasti penasaran kan?" Damar membuka obrolan, dan benar saja istrinya itu langsung mengangguk cepat.
"Banget!" celetuk Wulan masih menatap suaminya.
"Apa yang ingin kamu tanyakan terlebih dahulu?" Damar selalu bertanya acap kali Wulan ingin tahu mengenai apa yang terjadi.
"Bagaimana kondisi Danum?" Wulan bertanya antusias, biar bagaimanapun ia sangat berharap adik iparnya dalam keadaan baik-baik saja.
Sebelum menjawab pertanyaan Wulan, Damar menghela nafas panjang. "Hahh..."
"Ih jawab!" Wulan menoel dagu suaminya, ia merasa tak sabar lagi dalam menunggu penjelasan Damar.
"Iya, iya..." Damar menjawabnya pasrah, rasanya sangat gemas jika tidak menggoda istrinya. Karena pada saat-saat seperti ini, maka wajah Wulan akan sedikit merona. "alhamdulilah, Danum sudah melewati masa kritis. Tapi belum siuman, kata Dokter setiap pasien mempunyai kemampuan untuk membangkitkan kesadarannya masing-masing, meski tidak terpengaruh obat bius lagi," sambungnya lagi, dalam mengingat apa yang Dokter Abidin sampaikan sewaktu melakukan pemeriksaan terhadap Danum pagi tadi sebelum ia pulang ke rumah.
"Memang sangat parah, sampai Danum kritis?" Wulan bertanya tanpa menurunkan sedikitpun antusiasmenya.
"Lebih dari itu," tukas Damar, kembali terbayang saat Danum dinyatakan telah meninggal dunia oleh Dokter Abidin.
Wulan tertegun mendengar jawaban Damar. "Hahh, maksudnya?"
Damar kembali menghela nafas panjang. "Dokter sempat menyatakan Danum meninggal dunia,"
Wulan kembali terkejut mendengar jawaban Damar. "Me- meninggal?"
"Tapi alhamdulilah, selama dua jam tim Dokter terus memantau perkembangan Danum, apakah benar-benar sudah meninggal atau masih ada organ tubuh yang masih berfungsi. Dokter menyatakan Danum masih mempunyai kesempatan hidup kembali," ada kelegaan di hati Damar dalam menerangkan yang ingin diketahui Wulan.
Selama Damar menerangkan apa yang terjadi pada Danum, selama itu Wulan merasa nafasnya tercekat di tenggorokan. Dan ketika Damar menjelaskan jika Danum dinyatakan ada harapan hidup kembali, perlahan nafas yang seakan tercekat di tenggorokan mulai bernafas ringan dan merasakan hatinya lega.
"Alhamdulillah..." ucap Wulan penuh kelegaan seraya mengusap dadanya yang sempat gemetar. Sesaat kemudian, Wulan menundukkan wajahnya. "maaf yah, aku yang memberitahu Ibu, kalau kamu sama Danum di rumah sakit,"
"Kenapa minta maaf, kan maksud mu baik," Damar tidak marah, ia sudah tahu dari cerita Ibunya. Teringat dengan perbincangan bersama teman-temannya sewaktu di pelataran parkir rumah sakit mengenai Klitih.
"Kira-kira Farhan masih bertugas di kota ini nggak ya?" ucap Damar mengingat Farhan sang perwira polisi yang dikenalnya.
Wulan heran atas pertanyaan Damar. "Enggak tau," singkat Wulan menjawabnya, sebab ia juga sudah lama tidak bertemu dengan teman kecilnya itu. "memangnya kenapa?" tanya Wulan penasaran perihal apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh suaminya.
"Aku hanya penasaran, apa perwira itu menjalankan tugasnya dengan baik, mengingat pembegalan klitih semakin marak terjadi, terlebih pada malam hari di jalanan sepi," pungkas Damar.
Wulan menggendikkan pundaknya.
Ketika ditengah-tengah obrolan. Suara tangisan bayi yang datang dari kamar terdengar.
"Adam..." seru Damar dan Wulan menyebut nama anak mereka secara bersamaan.
Baik Damar dan Wulan sama-sama berdiri. Namun langkah Damar dihentikan oleh Wulan.
"Kamu baru pulang dari rumah sakit, gih sana mandi dulu. Jangan langsung gendong Adam," ucap Wulan memperingati Damar.
Tak bisa mengelak dari perkataan istrinya yang seperti peluit wasit.
"Baiklah, nyonya Damar Mangkulangit." tukas Damar lalu berjalan menuju kamar mandi.
Wulan tersenyum melihat kepergian Damar ke kamar mandi, sesaat kemudian ia bergegas menuju ke kamar untuk melihat bayinya yang menangis.
...•• ...
Empat hari kemudian, Danum sudah dipindahkan ke ruang ICU untuk mendapatkan perawatan intensif.
Namun Danum belum juga menunjukkan tanda-tanda akan siuman. Pemuda ini masih setia dengan mata terpejam, seolah sedang bermeditasi di alam bawah sadarnya.
Padahal kata Dokter yang menangani operasi Danum, semua normal. Bahkan luka tusuk di perut Danum sudah kering, berbeda dengan pasien pada umumnya yang membutuhkan waktu cukup lama bahkan sampai berbulan-bulan jika sang pasien memiliki riwayat penyakit semacam diabetes.
Bu Suci dan Damar sering bergantian untuk menjaga Danum.
Bu Suci menjaga Danum dikala siang hari saat Damar bekerja.
Sedangkan Damar menjaga di malam hari karena Damar tak tega jikalau sang Ibu berjaga pada malam hari. Ia tidak ingin jika Ibunya sakit, karena faktor usia seringkali menjadi dampak kesehatan seseorang mudah terserang berbagai macam penyakit. Terlebih jika sudah ada penyakit bawaan.
Sedangkan Kakek Bagaskara dan Nenek Ayudia, tidak di ijinkan oleh Damar untuk menjaga Danum. Ia kasihan melihat orang tua yang sudah sepuh. Cukup menjenguk dan mendoakan Danum saja.
Kali ini Damar menjaga Danum pada siang hari karena pabrik libur. Dan meminta sang Ibu untuk beristirahat di rumah saja, kendati Ibunya memaksa, akan tetapi Damar selalu saja bisa membujuk dengan perkataan yang sekiranya baik tanpa menyinggung perasaan Ibunya. Meskipun ia sendiri merasa belum sepenuhnya menjadi anak berbakti, tapi setidaknya ia akan terus belajar untuk menjadi anak yang baik terhadap orang tua tunggalnya.
Apalagi Ibunya yang sudah bersusah payah dalam merawat dan membesarkan anak-anaknya seorang diri, selepas sang ayah tiada.
Tidak ada salahnya dalam memuliakan orang tua, mesti terkadang orang tua juga bisa melakukan kesalahan dan bisa saja menyakiti perasaan anaknya. Tapi sebagai anak yang dibesarkan oleh seorang Ibu yang penuh dengan welas asih, Damar ingin belajar dan terus belajar, karena belajar akan menjadikan dirinya sebagaimana manusia yang berakal sehat.
Kali ini Damar tidak sendirian dalam menjaga sang Adik. Dia ditemani Wulan, sedangkan Adam sedang di asuh oleh Simbah Putrinya yaitu Bu Suci di rumah Kakek Bagaskara.
Kakek Bagaskara dan Nenek Ayudia juga sangat senang jika ada Adam di sana, pastinya rumah tidak akan terasa sepi. Bahkan setiap hari, Damar harus mengantarkan Wulan dan Adam ke rumah Kakeknya, jika tidak maka Nenek Ayudia dan Ibunya yang ke rumah lama.
"Apa kata Dokter?" Wulan bertanya pada Damar, namun netranya masih melihat wajah Danum yang dipasangi masker oksigen.
Damar pun sama, netranya terus memperhatikan mata Danum yang masih setia terpejam. "Semuanya baik,"
Kali ini Wulan mengalihkan atensinya menatap sang suami. "Tapi kenapa Danum belum siuman?"
Damar mengalihkan atensinya, ia bersitatap dengan manik mata istrinya. "Aku juga enggak tau, mungkin Danum masih memerlukan waktu untuk siuman,"
Wulan membuang nafas panjang.
"Kasihan Ibu, beliau kurusan. Padahal baru empat hari bolak-balik rumah sakit, andaikan aku bisa menggantikan Ibu buat jagain Danum," Wulan kembali melihat adik iparnya.
"Jangan," sahut Damar tidak menyetujui usulan Wulan yang ingin menggantikan Ibu menjaga Danum. "kamu udah capek ngurusin Adam," sambungnya lagi membelai pipi Wulan, dilihat kelopak mata sang istri agak kehitaman hampir seperti mata panda, sudah pasti kurang tidur karena ia tidak bisa gantian jagain Adam ketika anaknya bangun di tengah malam karena sekarang ini harus menjaga Danum.
"aku harap Danum segera siuman, dan secepatnya sembuh. Kayaknya Adam juga kangen pengen main sama O'omnya," pungkas Wulan.
Damar menggenggam jemari tangan Wulan, ia sangat bersyukur memiliki seorang istri yang mempunyai perasaan empati terhadap keluarganya. "Amin."
...•••...
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 75 Episodes
Comments
Fuad Sutanto
payah, terlalu bertele tele
2025-02-05
0