Perasaan seorang Ibu

Wanita setengah baya tengah merasakan kegelisahan dalam hatinya, tak biasa anak bungsunya belum pulang sampai pada jam sepuluh malam. Atau biasanya jika anak bungsunya itu akan pulang malam, pastinya akan mengabari atau meminta izin akan pulang terlambat.

Tasbih terus berputar di jemari tangannya yang mulai renta karena termakan oleh usia. Berharap apa yang dicemaskan nya saat ini sirna.

"Ya Allah, lindungi anak-anak hamba," ucapnya di sela melafazkan zikir tanpa suara.

Sesekali netranya yang memakai kacamata melihat lemari jam klasik. Detak jarum jam yang terus bergerak membuatnya dilanda kekhawatiran.

"Ya Allah, jangan biarkan perasaan hamba mendahului apa yang belum Engkau tetapkan." doanya lirih, di genggamnya erat tasbih kokka lalu mendekapnya di depan dada.

"Jangan terlalu mengkhawatirkannya seperti itu Suci. Danum bukan lagi anak kecil, dia sudah tumbuh menjadi seorang pria, bisa jadi setelah jualan dia bermain futsal atau pergi bersama teman-temannya," kata seorang lelaki sepuh, dia adalah Kakek Bagaskara tak lain mertua Suciati Ibu dari Damar dan Danum.

Suara Kakek Bagaskara membuat Bu Suci terkejut, ia menurunkan tangannya membersamai tatapannya beralih menatap Ayah mertuanya yang sedang duduk di kursi meja kerjanya.

"Iya Ayah, seharusnya saya tidak mencemaskannya seperti ini," ucap Bu Suci lirih.

Bu Suci menundukkan wajahnya, menghela nafas panjang berharap bisa melonggarkan rasa cemas yang sepertinya sudah berlebihan dalam mengkhawatirkan anak bungsunya.

"Akki" istri dari Kakek Bagaskara yang baru saja keluar dari dalam kamar memanggil suaminya sebagai teguran. Karena sempat mendengar suaminya berkata kepada Suci.

Suci melihat Ibu mertuanya langsung berdiri dan menghampiri, guna membantunya berjalan menuju sofa.

"wajar jika seorang Ibu mengkhawatirkan anak-anaknya, terlepas dari anaknya berusia berapa, anak ya tetap anak-anak di mata orangtuanya." ucap Nenek Ayudia selepas duduk di sofa. Ia memahami perasaan seorang Ibu, karena ia juga sempat terpisah berpuluh tahun lamanya semasa anak lelaki satu-satunya masih hidup.

Kakek Bagaskara menutup map warna biru dan beranjak dari duduknya, lalu berjalan meninggalkan meja kerjanya dan duduk tidak jauh dari istrinya. "Iya Nini, Kakek sangat faham. Tapi mengkhawatirkan sesuatu yang tidak jelas hanya akan membuat hati semakin cemas,"

"Akki mana tau perasaan seorang Ibu, dulu saya juga sempat dipisahkan dengan mendiang anak lelaki saya satu-satunya," balas Nenek Ayudia, mengingat dulu pada saat anak lelakinya yang bernama Gusli ingin menikahi Suci, dikarenakan tidak diberi restu oleh Bagaskara, alhasil Gusli pergi dari rumah, dan pada saat bertemu kembali, Gusli ternyata sudah meninggal dunia. Kini yang bisa dilihat oleh netra tuanya adalah menantu serta kedua anak almarhum Gusli.

Kakek Bagaskara terenyuh mendengar pernyataan yang menyakitkan dari istrinya. Namun beliau hanya diam seraya pandangannya teduh menatap istrinya. Ada rasa sesal yang amat sangat mendalam, ketika mengingat betapa ia kerasa kepala tidak merestui pernikahan Gusli dan Suci, kini semua kenangan itu hanya bisa diingat sebagai kenangan pahit.

Nenek Ayudia mengalihkan atensinya, beliau menatap istri dari almarhum anaknya yang duduk tak jauh darinya. "Suci, apa kamu sudah menghubungi Danum?"

"Sudah Bu, tapi nomornya tidak aktif," jawab Bu Suci lemah, karena sudah berapa kali ia menghubungi nomor Danum tapi tidak aktif.

"Terus kamu sudah tanyakan ke Damar?" Kakek Bagaskara ikut bertanya.

"Sudah, tapi Danum ndak ada di sana," jawab Bu Suci, mengingat lagi beberapa saat yang lalu dikala Damar dan Wulan meneleponnya guna meminta saran agar bisa menenangkan bayi Adam yang terus menangis. Karena Damar dan Wulan tinggal di rumah lama. Sedangkan Bu Suci dan Danum tinggal di rumah Kakek Bagaskara untuk menemani orang tua dari almarhum suaminya.

"Kira-kira jam berapa kamu menghubungi Damar?" kini Kakek Bagaskara yang bertanya.

Bu Suci mengingat lagi jam berapa Damar menghubunginya. "Jam sembilan,"

Kakek Bagaskara menghitung jam sembilan sampai dengan jam setengah sebelas malam. "Sudah hampir dua jam yang lalu,"

"Coba telpon lagi, siapa tau sekarang Danum di rumah Damar," kata Nenek Ayudia menyarankan, ia juga mengkhawatirkan cucunya. Dan berharap kekhawatirannya tidak benar.

"Iya Bu." Bu Suci mengiyakan saran dari Ibu mertuanya. Diambilnya ponsel yang tergeletak di atas meja tepat didepannya duduk.

Beberapa saat menunggu sambungan telepon tersambung, sampai pada nomor Damar tidak aktif. Bu Suci berinisiatif menghubungi nomor Wulan, ada sedikit rasa lega kala telepon tersambung.

"Assalamualaikum, Bu." suara Wulan terdengar di sambungan telepon.

"Waalaikumsalam, Wulan. Apa Danum ada di sana nak?" kata Bu Suci langsung menanyakan keberadaan Danum, namun agaknya Wulan tidak langsung menjawab pertanyaannya. Bu Suci kembali bertanya guna memastikan bahwa sambungan telepon tersambung dengan baik.

"Wulan, apa Danum ada di sana? Kenapa nomor Damar juga tidak aktif?" Bu Suci secara beruntun menanyakan hal yang mengganjal di hatinya seolah perasaannya yang cemas telah menjadi ganjil.

Alhasil karena terus di desak, Wulan akhirnya mengatakan dimana keberadaan Damar dan Danum.

Bagai tersambar petir, Bu Suci langsung terduduk lesu. ponselnya terlepas dari genggaman, seolah tangannya tak bertenaga.

Nenek Ayudia dan Kakek Bagaskara melihat anak menantunya langsung menanyakan perihal apa yang disampaikan Wulan.

"Suci, ada apa dengan Danum?" Kakek Bagaskara bertanya panik.

Begitu juga dengan Nenek Ayudia. "Katakan nak, Wulan tadi bicara apa?"

"Danum Bu, Danum." rintih Bu Suci kala mendengar jawaban Wulan yang mengatakan jikalau Danum telah menjadi korban dari kejahatan klitih.

"Iya, Danum kenapa?" Nenek Ayudia menunggu jawaban, dilihatnya menantunya itu beranjak.

"Saya harus ke rumah sakit, Bu. Danum di rumah sakit." racau Bu Suci semakin tak terkendali rasa khawatirnya kini.

Detak jantung kian membuncah, menghantarkan rasa tekanan darah yang ke kepala, laksana isi kepala seperti dilanda gempa.

"Danum..." ucap Nenek Ayudia membayangkan cucunya.

Meskipun belum mendapat jawaban yang pasti dari anak menantunya, akan tetapi Kakek Bagaskara berprasangka pastilah terjadi sesuatu yang tidak mengenakkan mengenai rumah sakit, seolah dua kata itu menjadi gambaran dari suatu hal naas yang sebenarnya siapapun tidak ingin terjadi.

Pria sepuh ini segera mengambil gagang telepon rumah yang berada di samping meja samping sofa cokelat, lantas memanggil supir pribadinya yang tinggal di rumah terpisah dengan rumah utama.

"Karyo, cepat kemari." titah Kakek Bagaskara kepada sang supir setelah telepon terhubung. Lantas menaruh kembali gagang telepon di tempatnya. Ditatapnya nanar Suciati yang terduduk lusuh.

Lima menit, Karyo datang dengan tergesa-gesa dan kini berdiri di ruang keluarga tuannya. Dilihat oleh netranya, jikalau anak menantu sang tuan menangis dan Nyonya besar Ayudia terlihat sedang mencoba menenangkan.

"Tuan," ucap Karyo memanggil tuannya yang belum menyadari atas keberadaannya.

Kakek Bagaskara menyadari suara dari Karyo, ia mengalihkan atensinya dari semula menatap menantunya yang bersedih kini menatap supir pribadinya. "Cepat ambil mobil."

"Baik tuan." jawab Karyo, lantas meninggalkan ruang keluarga dan berjalan ke arah garasi mobil.

...••...

Damar menunduk lusuh, semakin karut-marut menunggu Danum di luar ruang operasi. Ia duduk di lantai dengan kepala menunduk menatap ke lantai. Damar tidak sendirian, ia bersama dengan Juna dan temannya yang masih setia menunggu di luar ruang operasi.

Dalam ingatan Damar teringat tiga hari lalu saat Danum berkunjung ke rumah. Jika Danum bercerita selama seminggu adiknya itu bermimpi bertemu dengan seorang pria yang memakai pakaian adat Jawa lengkap dengan blangkon.

Akan tetapi ketika Damar bertanya apa Danum melihat wajah dari seseorang yang muncul dalam mimpinya, Danum tidak melihat secara jelas. Karena menurut Danum mimpinya sangat buram, seperti kamera di blur.

Meskipun hanya mimpi, yang membuat Danum ganjil, mimpi itu terjadi secara beruntun dalam waktu sepekan. Seolah seseorang itu datang dengan maksud dan tujuan.

Damar menasehati adiknya, jikalau mimpi hanyalah bunga tidur, dan tidak perlu risau. Jika mimpi itu baik, maka aminkan saja, akan tetapi jika mimpi itu buruk maka sesungguhnya hanya kepada Allah tempat berlindung.

Ketika mengingat mimpi yang pernah diceritakan Danum. Suara seseorang membuat Damar terperanjat, ia mengangkat kepalanya melihat ke arah sumber suara.

Mata Damar membulat, ia terpekur saat netranya melihat Ibunya berada di rumah sakit, bukan hanya sang Ibu. Akan tetapi dibelakang Ibunya ada Kakek Bagaskara dan Nenek Ayudia.

"Ibu.." gumam Damar lirih, lantas beranjak dari duduknya.

"Damar..." setelah mencari keberadaan Damar, dan menanyakan kepada beberapa petugas rumah sakit. Akhirnya Bu Suci dapat menemukan dimana keberadaan putra pertamanya.

Pertanyaan menyeruak dalam benak Damar, darimana Ibunya tahu jikalau ia berada di rumah sakit. Apakah mungkin Wulan?

"Dimana Danum, bagaimana adikmu sekarang. Apa dia baik-baik saja, nak?" Bu Suci langsung mencecar Damar dengan pertanyaan dengan nada gemetar.

Damar kalut bagaimana dapat menjelaskan kepada Ibunya, jikalau Danum sedang di operasi karena terluka parah.

Melihat Damar diam, Bu Suci semakin risau. "Damar kenapa kamu diam, nak?"

"Damar?" Kakek Bagaskara menatap cucunya nanar, dapat dirasakan olehnya kerisauan hati Damar saat ini.

...•••...

Bersambung...

notes author: jangan lupa subscribe (favorit) like dan komen. Matur sembah nuwun (Terimakasih)

Selagi menunggu karya ini up lagi. Tidak ada salahnya, menilik karya Author yang sudah tamat di bawah ini ⬇️

Terpopuler

Comments

Rhiedha Nasrowi

Rhiedha Nasrowi

ya Allah ikut was was😭😭😭

2024-01-07

1

lihat semua
Episodes
1 Urip Iku Urup
2 Firasat
3 Penyerangan Klitih
4 Terluka parah
5 Perasaan seorang Ibu
6 Antara hidup dan mati
7 Harapan
8 Amerta
9 Asma sejati
10 Janji
11 S 3
12 Berakal sehat
13 Meditasi
14 Empat puluh hari
15 Limbung menjadi bingung
16 Aku ra popo
17 Mati suri
18 Gedung peninggalan Belanda
19 Magis
20 Tiga lawan satu
21 Masih belajar baik
22 Pelapor jadi tersangka
23 Baik atau buruk
24 Tim Lion
25 Mata batin
26 Prasasti Canggal
27 Jadi orang tua?
28 Rambut palsu
29 Jati diri yang sebenarnya
30 Jiwa sejiwa senyawa
31 Romo Amerta
32 Tak luput dari kesalahan
33 Gadis manis berlesung pipi
34 Pengacau
35 Harus berpikir jernih
36 Bocah kecil
37 Pria tua
38 Mengagumi dalam diam
39 Doris dolls
40 Meluruskan kekeliruan
41 Gantungan kunci
42 Sapu tangan
43 Jangan kabur!
44 Curanmor
45 Manusia inginkan apa?
46 Kangen Bapak
47 Gejolak kawula muda
48 Omelan
49 Hanya mimpi
50 Perasaan sederhana
51 Memprihatinkan
52 Sengkuni
53 Senang hati
54 Semua sudah takdir
55 Ketenangan batin
56 Penyelamatan
57 Alibi
58 Sadar diri
59 Darah muda
60 Otoriter
61 Berbeda jaman
62 Jagad sukma
63 Lapor Pak
64 Mengatur strategi
65 Menemukan fakta lain
66 Waniti
67 Hilang
68 Menemukan bukti
69 Penyergapan
70 Perlawanan
71 Ruang bawah tanah
72 Bebas
73 Rahasia kelam sang perwira
74 Spiderman atau Superman
75 Berita heboh
Episodes

Updated 75 Episodes

1
Urip Iku Urup
2
Firasat
3
Penyerangan Klitih
4
Terluka parah
5
Perasaan seorang Ibu
6
Antara hidup dan mati
7
Harapan
8
Amerta
9
Asma sejati
10
Janji
11
S 3
12
Berakal sehat
13
Meditasi
14
Empat puluh hari
15
Limbung menjadi bingung
16
Aku ra popo
17
Mati suri
18
Gedung peninggalan Belanda
19
Magis
20
Tiga lawan satu
21
Masih belajar baik
22
Pelapor jadi tersangka
23
Baik atau buruk
24
Tim Lion
25
Mata batin
26
Prasasti Canggal
27
Jadi orang tua?
28
Rambut palsu
29
Jati diri yang sebenarnya
30
Jiwa sejiwa senyawa
31
Romo Amerta
32
Tak luput dari kesalahan
33
Gadis manis berlesung pipi
34
Pengacau
35
Harus berpikir jernih
36
Bocah kecil
37
Pria tua
38
Mengagumi dalam diam
39
Doris dolls
40
Meluruskan kekeliruan
41
Gantungan kunci
42
Sapu tangan
43
Jangan kabur!
44
Curanmor
45
Manusia inginkan apa?
46
Kangen Bapak
47
Gejolak kawula muda
48
Omelan
49
Hanya mimpi
50
Perasaan sederhana
51
Memprihatinkan
52
Sengkuni
53
Senang hati
54
Semua sudah takdir
55
Ketenangan batin
56
Penyelamatan
57
Alibi
58
Sadar diri
59
Darah muda
60
Otoriter
61
Berbeda jaman
62
Jagad sukma
63
Lapor Pak
64
Mengatur strategi
65
Menemukan fakta lain
66
Waniti
67
Hilang
68
Menemukan bukti
69
Penyergapan
70
Perlawanan
71
Ruang bawah tanah
72
Bebas
73
Rahasia kelam sang perwira
74
Spiderman atau Superman
75
Berita heboh

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!