Layar monitor patient terus mengalami penurunan. Hal yang sangat tidak diinginkan oleh para petugas medis, karena layar monitor patient menunjukkan baik atau buruknya kondisi pasien.
"Siapkan alat pacu jantung!" seorang Dokter berseru kepada para petugas medis yang ada di dalam kamar operasi.
Ners atau perawat pria segera sigap dalam melaksanakan perintah yang diberikan oleh sang Dokter. Semua tim medis yang bertugas harus selalu kompak.
Pacu jantung sudah dalam kondisi on, dan Dokter juga sedang berusaha membangkitkan detak jantung pasien yang terus melemah.
"Tidak mungkin!" Dokter tak menyangka alat pacu jantung sama sekali tidak berfungsi, meskipun daya listriknya sudah di tambahkan.
...••...
Di luar kamar operasi, terkhusus ruangan yang di jadikan sebagai ruang tunggu bagi keluarga pasien keluarga Danum sedang menanti dalam kegundahan hati.
Terutama seorang wanita setengah baya, sejak langkah kakinya memasuki gedung rumah sakit air matanya tak berhenti. Menyelaraskan perasaan kalut yang teramat sangat takut, rasa kehilangan orang terkasih membuat hati dan pikirannya semakin dilanda karut marut.
Damar membiarkan pundaknya sebagai tempat untuk Ibunya bersandar. Tangisan Ibunya yang tak bersuara mengingatkan Damar saat remaja, ketika harus di hadapkan pada waktu saat berkabung atas meninggalnya sang Ayah tercinta.
Memang sudah kehendak sang Illahi Robbi, jika setiap yang bernyawa pasti akan menemui ajalnya.
Air mata di ujung kelopak tak mampu Damar bendung lagi. Sesegera mungkin ia mengusap air mata yang mengalir di pipi menggunakan punggung tangannya, tak ingin dilihat oleh Ibunya. Karena ia harus menjadi garda penyemangat untuk sang Ibu dalam keadaan kalut seperti sekarang ini.
"Ibu pulang saja, biar Damar yang jagain Danum," ucap Damar lirih, ia tak akan sanggup bila harus melihat kesedihan Ibunya.
Bu Suci menggelengkan kepalanya pelan. Mencoba tegar, dengan sekuat tenaga duduk meski tidak spesifik tegak. "Ibu akan tetap di sini, sampai Dokter keluar dan memberitahu Ibu, kalau adikmu baik-baik saja,"
Bu Suci berulang kali menggunakan kerudung panjangnya untuk mengusap air mata yang mengalir di pipi. Terus menerus berdoa dalam hati tanpa putus, karena beliau percaya ada harapan yang tak pupus.
"Damar, Ibu masih yakin jika adik mu pasti akan selamat," wanita berhijab panjang ini berkata parau, sejak di kabarkan Wulan jikalau Danum berada di rumah sakit dan menunggu tiga jam lamanya Danum berada di ruang operasi, bahkan tiada seorang petugas medis keluar dari ruang operasi membuat Bu Suci dilanda cemas.
Damar tahu kecemasan yang Ibunya rasakan, mengingatkan almarhum sang Ayah meninggal karena tersengat aliran listrik. Dan kehilangan seseorang yang di sayang merupakan pukulan terberat.
Dilihatnya wajah keriput sang Ibu yang nampak sayu. "Semoga Allah berkehendak supaya dokter bisa menyelamatkan Danum,"
Kesedihan yang amat sangat mendalam juga di rasakan kedua orang tua yang sudah sepuh, mereka duduk tidak jauh dari Suciati. Kakek Bagaskara dan Nenek Ayudia mengharap agar tim dokter bisa menyelamatkan cucu mereka.
Selama tiga jam sudah menunggu, seorang dokter berkaca mata keluar dari dalam ruang operasi.
Damar langsung beranjak dari duduknya dan menghampiri dokter yang belum sepenuhnya keluar dari pintu ruang operasi, di susul Bu Suci.
"Bagaimana adik saya Dok?" antusias Damar bertanya, netranya melihat wajah dokter yang baru melepas masker nampak sendu.
Melihat dokter tidak langsung merespon pertanyaan Damar, membuat Bu Suci ikut bertanya bernada cemas serta gemetar. "Dok, anak saya selamat kan, Dok?"
"Dokter..." kini Kakek Bagaskara yang menuntun Nenek Ayudia ikut bertanya.
Dokter melihat satu persatu dari keempat orang yang sekarang ini berada di hadapannya. Merasa gagal karena pasien operasi tidak sesuai yang diharapkan. Namun, seburuk apapun hasilnya, ia tetap harus mengatakan meskipun dengan perasaan berat hati.
"Maaf..." lirih dokter berkata seperti nada putus asa.
Bu Suci, Damar, Kakek Bagaskara dan Nenek Ayudia seketika itu juga tertegun mendengar jawaban sang Dokter, laksana gemuruh petir menyambar pendengaran. Seolah kata maaf sudah mewakili seorang dokter menyerah dalam melakukan penyelamatan terhadap pasien.
"Maaf?" Bu Suci mengulangi perkataan Dokter. "bagaimana Dokter hanya bilang, maaf?" Bu Suci kian gemetar, air mata kembali luruh membasahi pipi.
Dokter bernama Abidin ini tertunduk lesu. Ditariknya nafas sangat panjang lantas menghembuskannya perlahan. Rasanya sangat berat, jika melihat keluarga yang menanti ternyata tak sesuai yang diharapkan.
"Tidak mungkin Dok, bagaimana Dokter hanya bilang kata maaf, jelaskan kepada kami," Kakek Bagaskara tak terima mendengar jawaban singkat dokter itu.
"Pasien mengalami pendarahan yang sangat fatal. Saya hanyalah seorang Dokter, saya sudah semaksimal mungkin untuk menyelamatkan pasien. Hidup dan Mati adalah kehendak Yang Maha Kuasa. Tiada yang dapat memprediksikan kapan ajal akan tiba." kata Dokter bersuara pasrah menjelaskan, sekiranya itulah mengapa pasiennya tidak terselamatkan.
"Danum...." ucap Damar lirih. Jantungnya seakan berhenti berdetak, dikala mendengarkan penjelasan Dokter berkaca mata itu. Ya, ia tahu jika hidup dan mati adalah kehendak Tuhan, tapi kenapa dengan cara tragis seperti ini.
Damar menatap pintu ruang operasi sedetik kemudian mengalihkan atensinya dan melihat Ibunya yang terus berjalan mundur, sedetik kemudian melihat tasbih yang sedang Ibunya pegang terjatuh, butir-butir tasbih kokka berserakan di lantai menggelinding ke penjuru arah.
Bu Suci menggelengkan kepalanya perlahan, ia mundur beberapa langkah sampai pada kakinya terhenti oleh dinding bercat putih, Ibu mana yang akan terima bila anaknya pergi begitu saja, bahkan pergi untuk selama-lamanya.
"Danum..." Bu Suci gemetar memanggil nama putra bungsunya. Ketegarannya kian kikis, ia beringsut terduduk di lantai.
Berulang kali Bu Suci memukul-mukul dadanya, seperti ada bongkahan batu besar yang menerpa palung hatinya. Jiwanya seakan hilang, nafasnya seakan tercekat di tenggorokan.
Nenek Ayudia menangis tak bersuara. Tak tertahankan lagi perasaan sedih yang harus mereka hadapi. Kenyataan ini begitu sangat pedih dan sangat-sangat menyayat hati.
"Tidak mungkin Danum Mahesa pergi. Tidak mungkin!" tidak terima dengan kenyataan yang disampaikan Dokter berkaca mata itu, Damar menyingkirkan Dokter lalu memaksakan diri untuk masuk kedalam ruang operasi.
Petugas medis yang berada di dalam ruang operasi terkejut melihat seseorang yang menerobos masuk kedalam ruangan ini.
"Maaf, anda tidak diperbolehkan masuk kedalam ruangan ini." seorang perawat memperingatkan pria yang nampak sangat terpuruk.
"Danum..." rintih Damar kala melihat tubuh adik satu-satunya yang sudah tak bernyawa di atas meja operasi.
Damar tak menghiraukan peringatan perawat berseragam biru, dengan langkah gontai, ia menyeret langkah kakinya berjalan mendekati adiknya di atas meja operasi.
Nafasnya mulai tersengal-sengal menahan tangis yang semakin tak bisa ia kendalikan, rasa kehilangan orang terkasih lagi-lagi ia rasakan. Pedih, perih seperti tersayat di ulu hati. Damar menyapukan pandangannya yang mulai buram akan air mata yang terbendung di pelupuk mata, menatap sang adik yang terlihat nelangsa.
...•••...
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 75 Episodes
Comments
Rhiedha Nasrowi
ah sing bener lah , ,masak Damun mati
2024-01-07
0