Malam ini tak bisa membuat keluarga ini kembali terlelap setelah Danum kembali siuman, mereka bercengkrama di ruang keluarga. Seolah baru saja bertemu dengan orang yang sudah lama tak berjumpa.
Danum mendengarkan setiap yang Ibunya katakan, siapa saja orang-orang yang datang mengunjunginya. Tak terkecuali gurunya mengaji yang datang tidak sendirian, sang ustadz datang bersama istri dan anaknya.
Danum tersenyum mendengarnya.
...••...
Keesokan paginya, Danum sudah bersiap untuk berangkat kuliah. Karena ia rasa sudah lama tak masuk, pastilah banyak gadis-gadis, eh maksudnya dosen menanyakan tentangnya. Apalagi mata pelajaran yang sekian lama telah ia tinggalkan.
Damar masuk kedalam kamar adiknya, netranya melihat adiknya itu sudah memakai pakaian rapih di depan cermin memanjang. "Mau kemana kamu Num?"
"Ngampus," singkat Danum menjawab, tanpa melihat Kakaknya.
Kening Damar mengerut, ia mendengar jawaban singkat adiknya. Lalu duduk di ujung tempat tidur. "Loh gimana kamu mau ngampus, 'kan kamu baru aja bangun dari koma?"
Kali ini Danum mengindahkan Kakaknya yang sudah duduk di ujung tempat tidur.
"Aku merasa sangat sehat Mas, lagian aku merasa tubuh ku ini memerlukan aktivitas biar nggak kaku," jawab Danum seraya menggerakkan lengannya maju mundur.
"Tapi kan Dokter Abidin belum memeriksa kondisi kamu, apa kamu benar-benar sudah vit atau belum?" Damar berkata memperingatkan.
Danum mengerti jikalau Kakaknya itu khawatir tentang kondisinya. Lalu bagaimana cara menjelaskan jika ia benar-benar sudah sehat wal'afiat. Ia duduk disebelah sang Kakak. "Mas Damar ingat, kalau aku punya janji sama Mas Damar. Aku harus bisa menjadi mahasiswa teladan, dan aku harus bisa mewujudkan cita-cita ku, jika hanya karena aku baru bangun dari koma, dan membuatku bermalas-malasan, maka aku selamanya akan jadi pemalas,"
Sebenarnya dalam hari Damar penuh keheranan, karena adiknya ini berbeda dari beberapa kasus serupa. Yang baru bangun dari koma, pastinya memerlukan kemoterapi untuk pemulihan. Tapi ini lain dari yang lain, ia melihat adiknya ini memang terlihat sehat wal'afiat, bahkan tidak terlihat baru bangun dari koma.
"Ya ya ya aku tau, tapi minta izin dulu sama Ibu," Damar beranjak dari duduknya, lantas menepuk pundak Danum. "kalau Ibu bilang nggak ngizinin ya berarti kamu nggak bisa kemana-mana. Semua keputusan tergantung dari sang mahkamah agung, yaitu Bu Suciati," lanjutnya lagi dan lagi mengingatkan adiknya betapa penting nasehat orang tua.
"Oke, Mas Damar lihat aja," tukas Danum bersemangat.
...••...
Di dapur, Danum melihat Ibunya sedang sibuk dalam membantu Mbok Atun memasak. Meski sudah ada asisten rumah tangga yang selalu menyiapkan sarapan sampai makan malam, akan tetapi Ibunya selalu turut andil dalam menyiapkan hidangan karena memang sang Ibu itu gemar memasak.
"Bu.." Danum memanggil Ibunya.
Bu Suci mengalihkan atensinya, ia menoleh kebelakang dan melihat Danum sudah rapih dalam berpakaian seperti hari-hari sebelum Danum mengalami kecelakaan.
"Mau kemana kamu Le, rapih amat?" Bu Suci kembali memotong daun bawang.
Danum berjalan mendekati Ibunya, netranya melihat tangan Ibunya sedang memotong daun bawang. Tiga detik kemudian beralih menatap wajah Ibunya yang sedang menunduk memerhatikan tangan yang sedang memotong daun bawang.
"Emmm..." Danum ragu untuk bersuara.
Sejenak Bu Suci menghentikan aktivitasnya dalam mengiris daun bawang. Lalu mengalihkan pandangannya menatap Danum yang nampak ragu untuk berbicara.
"Ada apa?" Bu Suci bertanya guna mencari tahu perihal apa yang ingin disampaikan anaknya.
Danum mengalihkan posisinya berdiri, kini ia bersandar pada sandaran meja dapur. Meski ragu, ia harus tetap menyampaikan apa yang ada dalam benaknya. "Emm... Danum izin ngampus yah?"
Kening Bu Suci mengerut mendengar putra bungsunya meminta izin untuk pergi kuliah. "Memangnya kamu sudah sehat betul?"
Danum kembali berdiri tegak, dan menjawabnya pertanyaan Ibunya dengan semangat. "Sudah, Danum sudah sangat-sangat sehat,"
Bu Suci memperhatikan wajah Danum yang memang sudah terlihat segar meski agak kurusan dan baru beberapa jam yang lalu Danum siuman.
"Yakin?" Bu Suci bertanya guna memastikan.
Danum mengangguk mantap. "Iya, Danum sangat yakin,"
Bu Suci menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan nafasnya perlahan. Apa yang bisa dilakukannya, jika ia ingin mencegah anaknya dalam melakukan aktivitas.
"Ya sudah, jika kamu merasa sangat yakin," Bu Suci hanya bisa memberikan dukungannya yang terpenting anak-anaknya melakukan aktivitas yang positif. Tapi juga tidak mengabaikan nasehatnya.
"tapi ingat, kalau kamu merasa nggak nyaman, langsung pulang jangan keluyuran, kamu sudah berjanji sama Ibu, kalau kamu nggak akan membuat Ibumu yang sudah tua ini khawatir," tutur kata Bu Suci penuh dengan peringatan.
"Iya Bu, Danum paham." Danum merasa sangat senang, karena Ibunya ini penuh pengertian. Senyumnya sumringah, ia mencium kening Ibunya yang tertutupi kerudung.
Danum meninggalkan dapur, lalu berjalan menuju kamar Kakek dan Neneknya namun ia berpapasan dengan Damar.
"Gimana?" Damar bertanya perihal Danum yang meminta izin kepada sang Ibu.
Danum hanya memperlihatkan senyumnya yang mengembang sampai terlihat giginya seperti iklan pasta gigi. Lalu melengos pergi dari hadapan sang Kakak.
"Dih.. bangun dari koma, makin sedeng tuh bocah." cibir Damar melihat adiknya melengos pergi dari hadapannya dan berjalan menuju kamar Kakek dan Neneknya.
Seperti halnya saat meminta izin kepada Ibunya. Danum berkata dengan bujuk rayunya, persoalan dengan Kakeknya mah bisa langsung diberi izin karena Kakeknya berpikir logis. Sedangkan sang Nenek lebih ke perasaan, yah namanya juga perempuan.
Yah susah-susah gampang dalam membujuk Nenek Ayudia. Tapi tak menjadi masalah bagi pemuda ini meskipun beberapa kali harus mendapatkan tampolan di lengannya.
"Ayolah nek, Nenek ku pahlawanku, aku menyayangimu. Izinkanlah cucumu ini, yah?" bujuk Danum pada Neneknya.
Nenek Ayudia melihat cucunya sama seperti melihat Damar dan almarhum Gusli anaknya. Takut kehilangan, tapi semua yang ada di dunia ini lambat laun akan pergi meninggalkannya, entah dalam waktu singkat atau lambat.
"Baiklah, tapi harus hati-hati jangan lupa berdoa. Supaya apa yang kamu kerjakan mendapat ridho Allah." Nenek Ayudia berkata penuh dengan penekanan supaya cucunya selalu bersikap dalam kehati-hatian.
"Oke Nek." celetuk Danum bersemangat.
Sebenarnya bisa saja bagi Danum dalam melakukan aktivitas sesuai keinginannya, tanpa meminta izin terlebih dahulu kepada orang-orang di rumah ini. Akan tetapi rasa hormat harus selalu ia tanamkan dalam hati supaya nantinya mendapatkan banyak doa, hidup akan lebih mudah jika banyak yang mendoakannya.
Tak perduli orang-orang akan menganggapnya seperti perempuan, karena secara logis meminta izin kepada orang tua, sama saja mendapatkan restu dari Sang Pemilik Kehidupan.
...••...
Dimeja makan, Kakek Bagaskara, Nenek Ayudia, Damar dan Wulan heran melihat nafsu makan Danum yang nambah sampai tiga piring nasi goreng.
Tidak perlu sarapan karena rasanya perut ini sudah kenyang melihat betapa lahapnya Danum makan.
Sedangkan Bu Suci lain lagi cara pemikirannya. Beliau sangat senang bisa melihat Danum sangat lahap menghabiskan sarapannya yang berupa nasi goreng dengan toping telur dadar yang di campur irisan daun bawang.
"Lah ni anak kesurupan apaan ya, sampai makan begitu banyak. Padahal kan ini baru sarapan." seloroh Damar dalam hati terus menerus memperhatikan cara makan Danum yang sangat lahap.
Lain lagi dengan hati Wulan, ia menatap Danum sangat heran. "Tuh bocah ngapa yak, makannya banyak bet, kayak baru keluar dari goa seribu tahun. Gua tau banyak orang koma, tapi nggak gini juga, dia yang makan kok gua yang kenyang?"
Sedangkan Nenek Ayudia dan Kakek Bagaskara diam seribu bahasa, namun mereka sangat senang melihat cara makan Danum yang sangat lahap.
Setelah menghabiskan tiga piring nasi goreng dengan jumlah takaran per satu piring tiga centong nasi goreng. Ketika akan menambah nasi lagi, ia baru ngeh, jika keluarganya sedang memperhatikannya dengan tatapan bengong. "Kenapa?"
Danum melihat Kakek- Neneknya, lalu gantian melihat Kakak dan Kakak iparnya, barulah melihat Ibunya. "kenapa kalian nggak makan? Hemm ini nasi gorengnya enak banget loh?"
Glek...
Damar menelan ludahnya dalam melihat adiknya yang tanpa merasa sedang di tatapnya dengan tatapan terheran-heran. Ia mengulurkan tangannya dan memegang kening Danum yang duduk tepat di sebelahnya. "Enggak panas?"
Danum heran mengapa sang Kakak memeriksa keningnya. Ia memegang keningnya sendiri.
*"Aku ra popo," Danum melihat satu persatu anggota keluarganya.
(Aku nggak papa)
...•••...
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 75 Episodes
Comments
Rhiedha Nasrowi
danum lagi butuh banyak energi tuh🤭🤭
2024-01-13
1