Danum masih berada di alam lain, alam yang sangat gelap hanya ada hitam di sekelilingnya.
"Benarkah anda yang sering mendatangi mimpi saya?" Danum bertanya guna memastikan bahwa apa yang dilihatnya sekarang ini adalah orang yang sama.
"Ya," jawab sosok pria misterius.
Degup jantung Danum bergejolak, semakin berdebar kencang. "La-lalu siapa anda, kenapa a-anda selalu mendatangi mimpi saya?"
"Kau adalah manusia terpilih." jawab pria misterius bernada suara besar.
"Ma-manusia te-terpilih?" gagap Danum dalam mengulangi perkataan yang disampaikan sesosok pria misterius itu.
Danum melihat sesosok pria misterius itu masih berdiri gagah nan berwibawa laksana seseorang yang bekerja di kadipaten. Ia juga teringat sebuah lukisan sebulan lalu yang dilihatnya di museum bersejarah tentang kerajaan Mataram Islam.
"Enggak mungkin, perasaanku pasti salah. Mana mungkin manusia semulia Sultan Agung mendatangi mimpi ku!" pikir Danum mengikis perasaannya yang berargumen bahwa sesosok pria misterius itu adalah Sultan Agung.
"Enggak! Nggak mungkin!" lanjutnya lagi merasa prasangkanya telah salah.
Lamat-lamat kabut yang menutupi netra Danum tersingkap.
Tertegun tatkala kedua bola matanya melihat wajah dari sesosok pria misterius di depannya berdiri berjarak kisaran dua meter. Danum limbung dalam mengenali wajah sesosok pria misterius yang selama sepekan membayangi mimpinya.
Wajah itu mengingatkan Danum pada lukisan yang sebulan lalu dilihatnya saat mengunjungi museum.
"Abdi (aku) adalah Amerta utusan yang Mulia Raja Sultan Agung Hanyokrokusumo." ungkap sesosok pria misterius ini, yang mengatakan ia adalah utusan dari Kerajaan Mataram Islam.
[Amerta yang berarti keabadian]
Danum terpekur tatkala gendang telinganya mendengar nama Raja Mataram Islam yang sangat masyhur pada abad ke-16.
"Su-sul-sultan Agung!" gagapnya berkata. Danum tak mempercayai ini, jikalau sesosok pria misterius yang memakai pakaian adat Jawa itu adalah utusan penguasa tertinggi, yang membawa Kerajaan Mataram Islam kepada peradaban kebudayaan pada tingkat yang lebih tinggi.
Danum menepuk pipinya, tapi tak merasakan sakit sama sekali.
"Berati aku hanya mimpi?" gumamnya lirih.
Meskipun ucapan Danum sangat lirih, tapi masih bisa di dengar sangat baik oleh sang utusan Sultan Agung.
"Kau tidak sedang bermimpi anak muda," pungkas utusan Sultan Agung, jika apa yang dilihat pemuda itu adalah sebuah kebenaran, bukan hanya sekedar mimpi. "meskipun abdi datang dari ratusan tahun silam, akan tetapi jiwa kami masih abadi sampai saat ini," sambungnya lagi tanpa sedikitpun menurunkan wibawanya dalam berbicara.
Danum sama sekali tidak meremehkan hal yang gaib, atau jiwa abadi yang datang dari ratusan bahkan jutaan tahun lalu. Karena semua hal yang mustahil bisa saja terjadi dalam hidup ini. Hanya saja tanpa di sadari, atau orang yang menyadari keberadaan jiwa abadi hanya orang-orang tertentu seperti manusia pilihan.
Semakin bingung dan mencoba untuk mencerna apa yang dilihatnya. Jika nalarnya masih berpikir waras, sekalipun Danum menyadari jikalau sukma adalah perwujudan dirinya.
"Be-benarkah anda utusan yang Mu-mulia Sultan Agung Hanyokrokusumo?" gagap Danum dalam bertanya guna memastikan jika apa yang dilihatnya sekarang ini merupakan bagian dari Kerajaan Mataram yang sudah berusia tiga ratus tahun, bahkan bisa lebih.
"Anak muda," utusan Sultan Agung memanggil pemuda yang masih nampak ragu dalam mempercayai pertemuan ini.
*"Urip iku terus mlaku, bebarengan karo wektu, sing bisa gawa lakumu, supaya apik nasibmu,"
*Translate: [Hidup itu terus berjalan, bersamaan dengan waktu, yang bisa membawa tingkah lakumu, biar nasibmu baik.]
Danum tergelak, matanya membulat dan telinganya berdenyut kala mendengar pepatah Jawa yang tidak asing di dengar.
"Kau adalah manusia pilihan, perbuatan baik yang kau lakukan, tidak bersifat keduniawian mengantarkan sukma mu datang menemui jiwa abadiku," ungkap utusan Sultan Agung menjelaskan apa sebab musabab sukma Danum kini berada di alam Amerta yaitu alam keabadian.
Danum menelaah dalam mendengarkan apa yang disampaikan pria itu, sesosok pria misterius yang mengaku utusan Raja Mataram.
"Ma-maksud anda?" Danum bertanya guna mencari sebabnya mengapa dikatakan ia adalah manusia terpilih.
"Kejahatan, ketidakadilan, kesombongan dan ketidakjujuran semakin buruk terjadi di tanah Mataram ini," pungkas sang utusan pada Danum dalam menggambarkan peristiwa yang menyangkut tanah bagian dari Mataram.
Mencoba mengikis kebingungan dengan apa yang disampaikan oleh utusan Sultan Agung. Kemudian Danum mengingat lagi soal sejarah yang pernah dibaca olehnya, sebelum ada daerah Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat memang tanah ini dulunya adalah kesatuan dari tanah Kerajaan Mataram yang pada akhirnya di bagi menjadi dua bagian yaitu Kesultanan Surakarta dan Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat lewat perjanjian Giyanti.
Dalam kebingungan ini, Danum menjawabnya, meski ragu. "Apa yang bisa saya lakukan? Saya hanyalah pemuda yang lemah, saya bukan berasal dari keluarga para kesatria ataupun titisan keturunan leluhur yang langsung terikat dengan Sultan Agung Hanyokrokusumo?"
"Menjaga kerukunan dan memanusiakan manusia bukan hanya dilakukan oleh para keturunan ksatria ataupun keturunan raja," jawab gagah sang utusan Sultan Agung. "tapi manusia yang mempunyai sifat adiluhung."
Danum tertegun mendengar jawaban tegas dari sang utusan Sultan Agung. Dalam hatinya bertanya-tanya keheranan.
"Aku menyadari siapa diriku, aku hanya raga kecil, ringkih. Semua hal yang disampaikan oleh sang utusan Sultan Agung, bukankah akan baik jika yang melaksanakannya adalah keturunan ksatria?"
Pikir Danum, karena hal itu akan terlaksana dengan baik jika yang melaksanakannya adalah seseorang yang mempunyai adikuasa di daerah bagian dari pulau Jawa ini.
Suara hati Danum dapat di dengar oleh utusan Sultan Agung. Beliau tidak marah, justru tersenyum mendengar isi hati pemuda yang secara khusus dipilih oleh Rajanya. Tiada kesombongan di sana, sebab itulah alasan pemuda itu menjadi manusia pilihan.
"Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta dur Hangkara,"
*Translate: [Manusia hidup di dunia harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan; serta memberantas sifat angkara murka, serakah dan tamak]."
"Kau adalah manusia terpilih untuk menjadikan bagaian dari tanah Mataram ini menjadi kota yang aman dari kejahatan." kata Sultan Agung menatap dalamnya manik mata Danum.
Danum mendengarkan dengan seksama, bahwa utusan Sultan Agung berkata bahwasanya ia merupakan manusia terpilih untuk menjadikan kota ini aman.
"Apa kau tidak ingat, mengapa sukma mu bisa sampai di sini?" utusan Sultan Agung bertanya pada Danum.
Jelas Danum sangat mengingatnya, jikalau ia tertusuk pisau saat melawan para komplotan Klitih.
Utusan Sultan Agung kembali membaca pikiran Danum, kemudian ia berkata. "Sebab itulah kau harus memberantas angkara murka yang telah meresahkan masyarakat di Mataram ini."
Keraguan bukan datang dari perkataan utusan sang Sultan. Tapi keraguan datang dalam dirinya, entah kenapa kali ini Danum tak optimis, apalagi persoalan yang disampaikan oleh utusan Sultan Agung untuknya menjadikan kota ini aman. Meskipun ia ingin sekali menjadikan kota ini aman dan terhindar dari kejahatan yang semakin merajalela.
Tiba-tiba saat kebingungan merayapi pikiran dan hati Danum. Suara tangisan terdengar, Danum mengalihkan atensinya dari semula terus memperhatikan utusan sang Sultan Agung kini mencari sumber suara tangisan yang ia dengar seperti suara tangisan Ibunya yang terdengar pilu.
"Ibu..." gumam Danum.
Danum semakin dalam kekalutan, bukan hanya tangisan sang Ibu saja yang ia dengar, akan tetapi suara sang Kakak dan anggota keluarganya yang lain seperti Kakek Bagaskara dan Nenek Ayudia.
Dalam keremangan cahaya, Danum di perlihatkan oleh sang utusan Sultan Agung, raganya yang tak lagi bernyawa.
"Raga tanpa sukma adalah renungan untuk mengajak agar manusia menghargai raga, badan manusia, dan dengan belajar pada raga, orang-orang akan memperoleh kebijaksanaan, seperti kerendahan hati dan tahu diri akan keterbatasan dan kelemahannya, hal yang sangat dibutuhkan untuk hidup sebagai manusia."
...•••...
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 75 Episodes
Comments
Fuad Sutanto
kok bertele tele, tidak ringkas
2025-02-05
0
Hemuch🤔
Danum, aku ikutan nangis berjamaah ni. siuman dong /Cry/
2024-02-21
0
Rahma iwa
tambah menarik...
2024-01-07
0