"Raga (tubuh) tanpa sukma (ruh) adalah renungan untuk mengajak agar manusia menghargai raga, badan manusia, dan dengan belajar pada raga, orang-orang akan memperoleh kebijaksanaan, seperti kerendahan hati dan tahu diri akan keterbatasan dan kelemahannya, hal yang sangat dibutuhkan untuk hidup sebagai manusia." tutur sang utusan Sultan Agung dalam menerangkan sejatinya raga tanpa sukma layaknya samudera tanpa mata air, siang tanpa malam. Semua itu saling mempunyai keterikatan. Raga tanpa sukma hanya jasad yang teronggok tanpa nyawa, tak berharga.
Di luar nalar dengan apa yang Danum alami saat ini. Akan tetapi bukan tak pernah terjadi, hanya saja dunianya berbeda. Seperti halnya yang gaib, untuk bisa melihatnya harus membuka kacamata batin. Meskipun sebenarnya dunia gaib dan dunia fatamorgana saling berdampingan.
Danum melihat raganya seperti dalam pantulan cermin. Dalam sekejap keremangan cahaya yang memperlihatkan raganya terbujur tak bernyawa lenyap. Atensinya langsung beralih menatap sesosok pria sang utusan Sultan Agung yang menyebut Amerta.
Sama seperti raga, pandangan mata Danum mengabur kala air mata di ujung kelopak mata mulai membendung. Setetes air bening jatuh dan seketika itu warna yang keseluruhannya hitam menjadi terang, laksana malam yang berganti siang.
Danum terkejut akan perubahan yang terjadi di sekelilingnya, tak lagi gelap. Tatapannya mengedar.
"Kenapa kau bersedih?" utusan Sultan Agung bertanya bernada suara masih sama bernada suara besar.
Danum kembali menatap sang utusan Sultan Agung. Namun seakan bibirnya kelu untuk bicara, ada perasaan berat karena ia telah membuat keluarganya bersedih meraung rintih.
"Apa kau menyesali kematian mu?" sang utusan kembali bertanya.
Danum menggelengkan kepalanya, menyanggah perkataan sang utusan. "Saya sedih bukan karena kematian saya, saya sedih karena sudah membuat mereka bersedih dan menangisi kematian saya,"
Danum sadari kematiannya yang mendadak dan secara tragis pasti membuat keluarganya sangat terpukul dan tidak menerima kepergiannya dengan hati yang ikhlas. Seolah ketidak ikhlaskan itu membuatnya kini terbelenggu untuk menuju ke alam baka.
Sang utusan Sultan Agung menatap wajah Danum lekat-lekat. "Kembalilah ke raga mu, dan hiduplah,"
Danum tertegun mendengar perkataan yang dikatakan oleh utusan Sultan Agung, menatap lekat sang utusan menambah kesan magis dan aura mistik. "Apakah mungkin saya masih bisa hidup kembali?"
"Kesempatan kedua mu untuk hidup memiliki tujuan. Manfaatkan kesempatan hidup mu untuk menumpas kejahatan, kekejaman dan ketidakadilan," pungkas sang utusan Amerta.
"Kesempatan kedua untuk hidup?" Danum mengulangi perkataan utusan sang Sultan. Benarkah raganya yang tak lagi bernyawa bisa hidup kembali?
"Lalu bagaimana caranya?" Danum merasa tergugah untuk mengerti alasannya mengapa ia bisa ada penangguhan untuknya bisa hidup kembali.
"Berbuat baiklah, selayaknya udara yang mengisi ruangan. Selayaknya air yang melepas dahaga. Tanpa imbalan, hanya mengharapkan keridhaan dari Gusti Allah," tutur sang utusan Amerta.
Danum mulai sedikit mengerti dengan apa yang disampaikan oleh sang utusan Amerta.
"Gusti Allah tidak menciptakan sesuatu yang lebih baik dari akal, atau sesuatu yang lebih sempurna atau lebih indah dari akal," tukas sang utusan Amerta. Karena sejatinya manusia bertindak sesuai akal, tindakan baik ataupun buruk.
"Yah akal, seringkali dikesampingkan ketika menghadapi persoalan dalam hidup." gumam Danum dalam menelaah perkataan utusan Amerta.
"Semua hal yang kau miliki dalam hidup ini bersifat sementara. Hanya pekerjaanmu yang permanen. Lakukan banyak pekerjaan baik. Maka dengan akalmu, manfaatkanlah untuk menolong orang-orang yang lemah dalam menghadapi orang-orang yang berbuat kejahatan. Sampai pada akhirnya ruh mu benar-benar menghadap Gusti Allah yang bersemayam di atas Arsy." pungkas utusan Sultan Agung pada Danum.
Terdengar seperti titah Raja yang tak bisa di tolak. Danum diam dalam menyerap semua perkataan yang dikatakan oleh utusan Sultan Agung dalam menerangkan sejatinya hidup harus bermanfaat untuk sesama, seperti dalam filosofi Jawa [Urip Iku Urup]
"Duduklah," titah sang utusan Amerta memerintahkan pemuda dihadapannya untuk duduk.
Danum mengikuti apa yang diperintahkan oleh sang utusan Amerta. Ia duduk bersila, tanpa lantai tanpa alas, seolah sedang duduk di hamparan mega.
Begitu juga yang dilakukan Sang utusan Amerta, ia duduk bersila menghadap Danum.
"Ikuti apa yang abdi katakan, dengan hati yang ikhlas, supaya sukma mu dapat meresapnya." tutur utusan Amerta pada Danum.
*Asmo sejati lungguho
[Asma sejati duduklah]
Ingkang prayogo ragane arso
[Yang berkehendak baik dalam diri]
Tentrem suwun sangoni
[Damai, terima kasih]
Basuki ing sambi Kolo
[Atas keselamatan dari segala halangan]
Kanti teguh rahayu slamet raharjo
[Dengan tegar aman selamat damai sejahtera]
Gusti ingkang moho suci
[Tuhan yang maha suci]
Kulo nyuwun agunge pangapuro panglir sami
[Hamba mohon besarnya ampunan]
Dumateng Gusti ingkang moho suci
[Kepada Tuhan Yang maha Suci]
Sirullah Dzatullh Sifatullah
[Rahasia Tuhan, Dzat Tuhan, sifat Tuhan]
Ingsun sejati
[Diri sejati]
Satrio nyuwun wicaksono
[Satria mohon bijaksana]
Nyuwun panguso
[Mohon kekuasaan]
Kanggo tumindake Satrio
[Untuk berperilaku ksatria]
Hong wilaheng sekaring bawono langgeng sekar mayang
[Keindahan dunia sejatinya milik Tuhan, harum bunga abadi]
Hong wilaheng sekaring bawono langgeng sekar
[Keindahan dunia sejatinya milik Tuhan, harum bunga abadi]
Kulo nyuwun kanggo
[Hamba mohon untuk]
Nyirnakno tumindak ingkang olo..
[Hamba mohon untuk menghilangkan perbuatan buruk]
Selama pengucapan yang seperti mantra dalam bahasa Jawa kuno. Kemilau cahaya datang dari segala penjuru arah dan memasuki sukma Danum.
"Abdi akan menambahkan kekuatan sebagai penyeimbang untukmu bisa mengalahkan orang-orang jahat yang akan kau hadapi di dunia."
Danum melihat utusan Sultan Agung menunjukkan batu kecil berukir di telapak tangan berwarna emas, yang kemudian dari batu itu mengeluarkan cahaya berkilauan. Danum menyipitkan matanya dalam menatap batu berkilauan yang hanya sebesar biji kacang tanah.
Utusan sang Sultan Agung kemudian meniupkan batu, dan batu berukir pun melayang masuk kedalam sukma Danum tepatnya di bagian jantung.
"Arghh.." Danum berteriak kala merasakan sesuatu yang sangat menusuk jantungnya, Danum memejamkan mata membersamai tangannya yang memegang dada yang rasanya teramat sangat menyakitkan.
"Sakit..." rintih Danum mengerang.
"Dengan batu itu kau akan mampu menghadapi lawanmu," tutur sang utusan Amerta.
Bukan hanya mengatakan soal batu berukir sebagai penjaga sukma Danum dalam menghadapi lawan, utusan Amerta juga memberikan petuah bijak untuk Danum bisa berhati-hati dalam menggunakan kesaktiannya.
"Rogo cilik ringkih, ojo so gumede. Kudu ngati-ati ben apik wekasane. Adohono awakmu seko sifat sombong, angkuh lan takabur.
[Raga kecil ringkih, jangan sok gagah. Harus hati-hati supaya jejaknya baik. Jauhkan dirimu dari sifat sombong, angkuh dan takabur.]
Reda dalam merasakan rasa sakit di jantungnya Danum bertanya. "Bagaimana jika sebaliknya?"
"Kau akan menjadi yang terburuk dari kehidupan sebelumnya. Kau tidak akan bisa menghindari angkara murka." tukas utusan Amerta.
Meski tercengang mendengar jawaban tegas dari sang utusan Amerta. Tapi Danum akan selalu mengingatnya, agar tindakannya lebih berhati-hati.
...•••...
Bersambung...
*
*Mbah Teken Bwi
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 75 Episodes
Comments
Rhiedha Nasrowi
tegakkan keadilan dan bantulah mereka yang memang membutuhkan mu ya danum👍👍
2024-01-08
3