Jam di dalam kamar Danum menunjukkan pukul 00:00 waktu Indonesia bagian barat.
Untuk pertama kalinya pemuda ini membuka matanya dalam kurun waktu empat puluh hari pasca ia dinyatakan koma oleh Dokter. Dalam keremangan cahaya lampu tidur hal pertama yang dilihatnya adalah plafon putih bercorak awan.
Berulang kali Danum mengerjap-ngerjapkan matanya menatap plafon putih.
Mengenai soal koma...
Danum mengingatnya, jika ia nyatakan koma oleh Dokter yang menangani operasinya. Sebenarnya bukan hanya sekedar koma, ia memang ingin bangun bahkan sangat ingin. Alam bawah sadarnya mendengar semua kesedihan, kegelisahan bahkan merasakan seperti apa rasa lelah keluarganya dalam menanti kapan ia siuman.
Dan Danum juga tau, jika para Dokter melakukan penelitian terhadap dirinya. Semua hal itu ia tahu.
Tapi untuk membuka matanya tak dapat ia lakukan. Karena utusan Amerta mengatakan dalam alam bawah sadar Danum.
Jikalau Danum ingin menyempurnakan kekuatan dari batu Asma sejati ke dalam raganya, ia harus bermeditasi sementara waktu selama empat puluh hari. Dan hari ini, tepat pukul 00:00 WIB di hari Jum'at, genap hari ke empat puluh.
Perlahan Danum menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, ia melihat dalam keremangan cahaya dari lampu tidur di meja samping tempat tidur.
Danum menyadari bahwa sekarang ini ia sudah berada di dalam kamarnya yang berada di rumah Kakek Bagaskara. Danum tidak linglung, tidak seperti orang yang baru bangun dari koma.
Dalam keadaan koma selama empat puluh hari, Danum bisa merasakan setiap sentuhan tangan siapa saja yang menyentuh tangannya. Mendengar siapa saja yang mendoakan kesembuhannya. Meskipun matanya terpejam, ia seolah tahu siapa saja yang datang mengunjunginya, sampai pada ia sekarang ini berada di dalam kamarnya.
Ada seseorang yang Danum ingat dari sekian banyaknya teman-teman yang datang mengunjunginya, seorang gadis yang selama ini diam-diam dikaguminya. Entah sekedar mengagumi atau cinta, Danum sendiri tidak bisa membedakannya. Yang jelas, biarlah seperti kisah cinta Ali dan Fatimah.
Menyingkirkan sejenak perasaan kagumnya pada sesosok gadis itu, gadis manis yang punya lesung pipi. Tapi bukan itu yang menjadi patokan mengapa Danum mengaguminya, akan tetapi perilaku dan sikap gadis itu yang santun.
Danum beranjak duduk, dalam keremangan cahaya dari lampu tidur yang berwarna kuning fajar, netranya melihat sang Kakak sedang terlelap di sofa hitam yang terdapat di depan tempat tidur berjarak dua meter.
"Maaf Mas Damar, aku sudah membuat kalian mengkhawatirkan ku. Lain kali nggak akan ku biarkan lagi kalian khawatir padaku." selorohnya dalam hati.
Tiba-tiba ada yang membuatnya sakit di tenggorokan, ketika akan mengeluarkan suara. Seolah ada yang tertahan dan rasanya sakit. Danum memegangi lehernya.
"Ehemm..." sangat serak Danum mencoba untuk bersuara. Ia membutuhkan air untuk melepas dahaganya. Manik matanya melihat ke samping tempat tidur, tepat dimana meja kecil berada, ia tidak menjumpai air minum di sana.
Danum kembali melihat sang Kakak yang sedang terlelap. Ia tidak ingin mengganggu tidur Mas Damar, pasti Kakaknya itu sangat kelelahan.
Dengan gerakan perlahan, Danum menyibakkan selimut yang menutupinya sampai ke pusar yang tertutupi piyama warna putih bercorak polkadot hitam. Lantas melepas infus yang menancap di punggung tangan kirinya.
Perlahan Danum menuruni tempat tidur, ia tidak ingin sedikit pun menimbulkan bunyi yang bisa saja membuat kakaknya itu terjaga dari tidurnya. Berjalan dengan langkah jinjit menuju pintu kamar, sangat pelan tangannya memegang handle pintu lantas membukanya. Tak terlalu rapat ia menutup pintu.
Netranya melihat ke sekeliling ruangan yang remang, hanya sedikit tersorot dari lampu kecil ruang makan. Danum berjalan menuju dapur, lalu mengambil gelas di dalam lemari dapur dan menuangkan air dari dispenser.
Sebelum meminumnya, Danum terlebih dulu duduk. Hal pertama kali yang ia rasakan ketika meminum air dingin ini setelah bangun dari koma, adalah sejuuuuk....
Rasanya benar-benar sejuk saat melewati tenggorokannya, jika di gambarkan seperti apa rasanya. Laksana berada di udara sejuk dataran tinggi pegunungan.
Mak nyesss.... krenyes krenyes..
Sampai pada sepuluh gelas berukuran gelas belimbing besar air mineral dingin melewati tenggorokannya dan sekarang air dingin ini memenuhi perutnya. Danum sudah merasa cukup, dahaganya juga sudah hilang, kini perutnya mulai kembung, dan jika di pukul terdengar bunyi seperti kendang kecil.
Blung blung blung...
"Haisshh saking hausnya sampai-sampai aku nggak sadar, udah kayak kendang di perut,"
"Apa karena perutku kosong selama empat puluh hari?"
Danum menggendikkan pundaknya, tak ambil pusing. Biarlah ia berjalan bersama bunyi kemblang kemblung di perutnya.
Ia lantas berdiri hendak kembali ke kamarnya, akan tetapi hal yang tidak disangka-sangka olehnya dalam minimnya cahaya, netranya melihat Mbok Atun berdiri di ambang pintu lebar sebagai pembatas menuju dapur, asisten rumah tangga Kakeknya yang berumur empat puluh tahunan itu berteriak dan seketika tergeletak di lantai.
"Setaaaaannn....." teriak asisten rumah Kakek Bagaskara lantas pingsan.
Danum tergelak, matanya membelalak saat mendengar teriakkan dan melihat Mbok Atun pingsan. Ia mendekati wanita setengah baya yang sudah tergeletak di lantai.
"Walahh biyung, Mbok Atun iki Danum, Mbok!" Danum berkata dalam kepanikan.
Bukan hanya Danum yang terkejut mendengar teriakan yang berasal dari arah dapur.
Damar terkesiap dari tidurnya, ia terjaga dan langsung melesat keluar dari dalam kamar Danum tanpa melihat tempat tidur. Ia melihat ke sekeliling ruangan, dan mendengar suara yang sepertinya berasal dari arah dapur. Ia segera menuju ke ruang makan. Dari cahaya lampu kecil ruang makan, atensinya melihat adiknya sedang berjongkok, lalu beralih melihat Mbok Atun yang tergeletak di lantai.
"Ada apa Num?" Damar bertanya pada Danum tentang apa yang terjadi.
"Nggak tau Mas, tadi Mbok Atun melihat ku dan dia tiba-tiba teriak setan.." Danum menjawab persis seperti apa yang dilihatnya tadi.
Damar dan Danum terkesiap dengan adanya lampu menyala terang benderang, kedua Kakak beradik ini langsung mendongakkan kepalanya ke atas melihat lampu yang menyala.
Dari lampu yang terang benderang ini, memperlihatkan kakak beradik itu sedang berjongkok di samping Mbok Atun yang tergeletak di lantai.
Melihat cahaya lampu yang sangat terang Danum seketika itu menunduk seraya memejamkan matanya, karena mata yang sudah terpejam lama belum terbiasa dengan cahaya yang terang benderang seperti ini.
Wulan 'lah orang yang menyalakan lampu ruang makan dan seketika itu tertegun bukan karena melihat Mbok Atun pingsan, tapi karena melihat adik iparnya sudah bangun dari koma.
"Da- Da- Da- num!" Wulan sampai tergagap dan merasa lidahnya kaku dalam menyebut nama adik iparnya.
Bukan hanya Wulan yang tertegun melihat Danum, suara Wulan yang tergagap serta gelagat istrinya yang terkejut melihat Danum, membuat Damar yang baru ngeh jikalau adiknya ini sudah bangun dari koma langsung menatap sang adik. Seolah terpaku di tempatnya berjongkok, sampai tidak sadar jika ia telah terduduk di lantai.
Begitu pula yang dirasakan Bu Suci ketika menyusul Wulan ke ruang makan dan melihat Damar dan Danum yang sedang berjongkok di samping Mbok Atun yang pingsan di lantai.
"Danum!" seru Bu Suci memanggil anak bungsunya dengan suara sedikit meninggi.
...•••...
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 75 Episodes
Comments
Rhiedha Nasrowi
cieee danum udah punya cem ceman oeyy😁😁
2024-01-11
2