Tiga hari kemudian...
Saat mengendarai motornya dengan kecepatan rendah, seorang pembeli melambaikan tangan.
"Mas beli kue leker nya satu yah," seorang pembeli berkata pada pedagang kue leker keliling yang selalu di nantinya saban sore setelah pulang kerja.
"Iya Mbak, rasa apa?" jawab Danum. Dilihatnya wajah wanita yang sudah lumayan lama menjadi pelanggan kue leker nya.
"Rasa cintaku padamu, Mas Danum," canda si pembeli kepada sang penjual kue leker keliling yang masih nampak muda berpostur tubuh tinggi.
Danum tersenyum saat ada pembeli yang menggodanya dengan kata-kata guyonan seperti itu. Bisa dikatakan sudah biasa baginya.
"Siap Mbak," balas Danum sembari tersenyum ramah, ia sudah mengerti apa yang dimaksud pelanggan yang satu ini. Kue leker yang berisi toping cokelat keju yang cukup tebal dengan harga seporsi sepuluh ribu.
Danum kemudian sibuk, memanaskan teflon, sebenarnya tak jauh berbeda dalam pembuatan adonan kue martabak. Hanya saja kue leker adonan tepungnya lebih tipis lebih krispy, sedangkan permukaan kue leker di beri toping sesuai pesanan. Harga perporsi juga tergantung dari banyak atau sedikitnya toping.
Menu dan harga yang ditawarkan pun beragam. Mulai dari dua ribuan yang biasa di beli anak-anak kecil sampai sepuluh ribu.
Pernah suatu ketika, seorang pembeli Ibu-ibu yang berkata seperti ini.
"Mas Danum, kamu kan masih muda, ganteng lagi. Memangnya kamu nggak malu jualan keliling kayak gini?"
Danum menggeleng tipis. "Enggak,"
"selama saya nggak merugikan orang lain. Dan nggak malu-maluin orang tua." Danum menjawabnya saat itu.
Mendengar jawaban bijak Danum, Ibu ini tersenyum dan mengangkat jempolnya. Kemudian beralih melihat anak laki-lakinya yang sedang ia gandeng. Berharap anaknya bisa membuat bangga.
Danum berpikir mungkin karena khalayak ramai berpendapat, dominan anak muda pemalu dan tak jarang pula jika bersandingan dengan gengsi. Apalagi jika hanya berjualan keliling seperti dirinya. Dalam benak Danum untuk apa malu, toh ia tidak melanggar ketertiban umum, dan tidak merugikan orang lain dan tidak juga membuat orang tuanya malu.
Sedari kecil terbisa hidup dengan kehidupan sederhana. Pemuda yang delapan bulan lalu ini lulus SMA tidak pernah malu dalam menjajakan barang dagangannya. Di samping ia berjualan kue leker, Danum Mahesa merupakan seorang mahasiswa.
Danum bukan hanya berjualan kue leker. Sebelumnya, Danum juga pernah membantu usaha sang Kakak dalam berjualan cilok yang dijajakan keliling. Akan tetapi pada saat sang Kakak berhasil mengembangkan cilok pabrikan, maka Danum memutar otaknya, ia ingin juga sukses menurut passion nya sendiri.
Beberapa kali mencoba usaha lain seperti halnya berjualan cilor.
Jajanan anak-anak sekolahan aci dan telor. Lalu pada saat serba-serbi dagang cilor menemui kendala pasang surut.
Danum menyadari namanya juga dagangan apalagi jajanan anak-anak, kadang sepi kadang ramai, kadang ada yang bosan kadang ada yang masih stay. Apalagi jika sekarang ini banyak pedagang jajanan.
Sang Kakak (Damar) pernah menawarkan untuk bekerja saja di pabrik, tapi Danum belum berniat untuk menerima tawaran Kakaknya dengan dalih ingin sukses dengan jerih payahnya sendiri.
Pada saat Danum merasa dagangan cilornya benar-benar menemui kebuntuan, dia beralih ke kue leker.
Idenya ini berawal....
Pada saat itu, sang Kakak meminta untuk membelikannya martabak.
Danum membeli kue martabak dan mengamati cara pedagang martabak dalam membuatnya, sejak saat itu pulalah, Danum memiliki ide, bagaimana caranya agar adonan martabak yang tebal itu menjadi lebih tipis tapi teksturnya lebih krispy dan tetap lembut di makan, soal topingnya tak jauh berbeda dari martabak.
Dan Alhamdulillah, ada pelanggan yang sabar menunggu kedatangannya untuk membeli kue leker yang dia pikirkan masak-masak apa saja topingnya agar pembeli tidak bosan.
Sudah hampir setahun Danum menggeluti bisnis kuliner kue leker nya. Tapi cilor juga masih tetap berjalan, hanya kadangkala saja.
Dari masih berstatuskan Kelas tiga SMA sampai sekarang ini sudah lulus, ia masih keliling dengan sepeda motor butut yang sudah di modif dan berpikir suatu saat akan membeli atau menyewa sebuah lapak, jadi tidak perlu lagi berkeliling.
Dikarenakan sang Ibu yang selalu mengkhawatirkannya karena pulang malam, terlebih saat-saat ini sedang marak terjadi pembegalan atau biasa masyarakat sekitar DIY menyebutnya klitih.
Lamanya Danum memikirkan dari mana Awal kisah nya dan bagaimana bisa ia menemukan ide-ide jualannya. Kue leker pesanan Mbak Wati telah siap.
"Nah sudah siap Mbak," Danum memberikan kantung plastik bening kepada pelanggannya.
Mbak Wati menerima kantung plastik dengan senang hati. "Ini uangnya Mas Danum,"
Danum menerima uang dua puluh ribu, lalu merogoh tas kecil guna mengambil kembalian sepuluh ribu. "Ini Mbak kembaliannya, terimakasih ya Mbak'e,"
"Sama-sama Mas Danum." Mbak Wati mengambil kembalian sepuluh ribuan dari tangan Danum.
"Mbak Wati, mungkin saya enggak berjualan keliling lagi," ujar Danum, ia memberitahukan hal ini bukan hanya kepada Mbak Wati, tapi kepada pelanggan yang sudah lebih dulu di temuinya.
Mbah Wati terkejut. "Hah, kenapa? Memangnya Mas Danum mau kemana toh?"
Danum tersenyum ramah, reaksi Mbak Wati sama seperti pelanggan lainnya. "Saya nggak kemana-mana,"
"Terus?" Mbak Wati menuntut jawaban.
" Saya berniat mangkal," jawab Danum, dan kini dilihatnya reaksi Mbak Wati tidak begitu terkejut seperti sebelumnya.
"Oh kirain," jawab Mbak Wati lega, dikarenakan ia merasa tidak ada kue leker yang seenak ini dengan harga masih terjangkau. "terus dimana mangkalnya?"
"Jalan Kertopati, tidak jauh dari pedestrian," jawab Danum.
"Oh, oke. Nanti aku yang bakalan ke sana, nanti aku ajak temen-temen ku juga," kata Mbak Wati mengusulkan.
"Makasih Mbak." balas Danum senang.
Wanita yang masih memakai seragam PNS itupun pergi dari hadapannya. Danum merasa sedikit lega, meskipun ada pelanggan yang keberatan karena tak berjualan keliling lagi, tapi juga tak sedikit yang antusias ingin datang ke lapaknya mangkal.
°°
Malam menjelang, selesai menunaikan sholat isya di salah satu musholla. Danum keluar dari dalam musholla, lantas berdiri di pelataran. Tatapannya memandangi bias bintang yang terlihat di langit sana.
Tanpa terasa ia mengusap dadanya, entah kenapa ada sesuatu hal yang membuat perasaannya tak enak.
"Ahh kenapa perasaanku nggak enak, apa kurang bumbu penyedap?"
Danum menggelengkan kepalanya, segera menepis perasannya yang tak mengenakkan ini.
Di lanjutkan kembali perjalanannya untuk berkeliling dan berharap sebelum jam sembilan malam dagangan kue leker nya habis terjual.
Danum mencoba mangkal di pinggir jalan tak jauh dari pedestrian, dan alhamdulillah dalam waktu setengah jam, dagangannya habis terjual, senyuman tersungging di kedua sudut bibirnya tatkala melihat wadah yang berisi adonan kue leker hanyalah tinggal sisa-sisa yang menempel di dalam wadah.
"Saatnya aku pulang."
Danum teringat peringatan Ibunya, jikalau habis berdagang jangan keluyuran.
Yah, Danum juga tidak ingin membuat Ibunya cemas. Bukan karena ia anak manja, terkadang kelalaian disebabkan melalaikan nasehat. Dan Danum tidak ingin kejadian yang tidak diinginkan terjadi, kecuali memang sudah kehendak dari sang Ilahi.
Danum menyusuri jalanan yang nampak lengang di jam setengah sembilan malam.
"Ni malem sepi amat ya?" gumamnya lirih. atensinya melihat ke sekeliling jangkauan mata bisa melihat.
"Mungkin karena bukan hari weekend jadi terasa agak sepi." lanjutnya dalam hati.
Setelah beberapa saat, Danum melihat kaca spion dan melihat ada dua pengendara motor tepat di belakangnya.
Firasat yang semula tidak enak, kembali menyeruak, karena motor di belakangnya persis seperti membuntutinya dan semakin memepetnya.
"Mau apa mereka?" monolognya dalam hati.
Tiba-tiba saja gerobaknya di seruduk dari belakang.
"Astaghfirullah!" pekik Danum terperangah, saat ia dan motornya terhempas ke jalanan beraspal.
BRAK!!!
Dua pengendara motor yang masing-masing berboncengan menghampiri seseorang yang sudah terjatuh bersama motor bergerobak.
°°°
Bersambung
Notes author: Jangan lupa tinggalkan like dan komen. Terimakasih
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 75 Episodes
Comments
[AIANA]
namanya berat sekali. .Mangkulangit
2024-02-11
0
Hemuch🤔
tenang danum kita beri pukulan maut aja /Joyful/
2024-01-30
0
VKnight
yuk saling follow dan berkunjung 😁🙌
2024-01-26
1