"Kapan saya diperbolehkan menjenguk anak saya, Dok?" Bu Suci bertanya, tak sabar ingin melihat anak bungsunya.
"Setelah keadaan anak Ibu stabil dan kemudian dipindahkan ke ruang ICU untuk pemulihan karena anak Ibu masih membutuhkan perawatan yang ketat dari tim Dokter," jawab Dokter Abidin menjelaskan.
Bu Suci mengerti atas apa yang disampaikan Dokter berkacamata itu. "Terimakasih Dokter, terimakasih,"
"Sama-sama Bu, kalau begitu saya permisi." kata Dokter Abidin, karena pasien yang sedang dalam penanganannya masih banyak dan harus ia lihat perkembangan dalam pemulihan.
"Iya, iya Dokter silahkan," kali ini Damar yang menjawabnya. Lalu membungkukkan sedikit punggungnya guna memberi rasa hormat. "sekali lagi terimakasih, Dok." lanjutnya lagi sangat bersyukur yang membuatnya amat bersemangat.
Damar melihat Dokter Abidin berlalu seraya tersenyum kepada semua yang berada di sana. Sampai Dokter berkacamata itu menghilang dibalik tembok yang berbelok.
Rasa lega dan rasa syukur bercampur aduk menjadi rasa yang amat sangat menyejukkan hati, selayaknya air yang menyirami tanaman hampir mati karena di landa kemarau panjang.
Pukul 04:55 wib
Juna dan teman-temannya merasa lega karena Danum sudah melewati masa kritis, dan mereka izin pamit untuk pulang. Karena malam sudah mulai menjelang fajar.
"Bu Suci kami pamit pulang," kata Juna mewakili temannya yang lain.
"Terimakasih nak Juna, terimakasih semuanya. Sudah menolong Danum," balas Bu Suci, betapa besar rasa syukur hati seorang Ibu melihat orang-orang baik yang telah menolong dan mau direpotkan membawa Danum ke rumah sakit. Bisa beliau bayangkan kepanikan yang mereka rasakan ketika membawa Danum ke rumah sakit.
"Sama-sama Bu, semoga Danum segera sembuh." Juna menyalami tangan Bu Suci dan diikuti temannya yang lain.
"Amin." semua orang yang berada di ruang tunggu rumah sakit mengaminkan doa Juna.
Mereka juga pamit kepada Kakek Bagaskara dan Nenek Ayudia. Sama halnya seperti Bu Suci, Kakek dan Nenek juga berterimakasih kepada teman-teman Damar.
"Aku akan mengantar kalian." ucap Damar kepada teman-temannya.
Sepanjang jalan mereka melewati koridor, hingga keluar dari rumah sakit, seperti biasanya terjadi perbincangan kecil di antara mereka. Melonggarkan rasa ketegangan yang beberapa waktu lalu sempat mereka rasakan, tatkala menunggu Danum seolah saat itu sedang merasakan menaiki wahana rollercoaster, bahkan mungkin kekalutannya lebih dari itu. Hingga tak terasa mereka seperti bermalam di rumah sakit.
Kini mereka bisa bernafas lega, dan berharap dalam waktu cepat Danum bisa segera siuman.
Sesampainya di pelataran rumah sakit.
"Mar, aku sangat bersyukur Danum selamat," pertemanan Juna dan Damar yang sudah sangat lama, membuat Juna menganggap Danum seperti adiknya.
"Makasih Jun," Damar menepuk pundak sahabat baiknya. Lalu mengalihkan atensinya melihat kelima temannya yang lain. "makasih juga buat kalian, kalau nggak ada kalian, aku nggak bisa membayangkan apa yang akan terjadi sama Danum,"
Damar sangat bersyukur disaat Danum berhadapan dengan kelompok klitih ada temannya yang kebetulan lewat, meski sedikitpun ia tidak menginginkan pertemuan adiknya dengan kelompok klitih yang terkenal sadis dalam membegal korban.
Rizal mengibaskan tangannya. "Alahh apaan sih kamu Mar, jangan begitu,"
Nino juga mengangguki ucapan Rizal. "Iya Mar, jangan begitu. Kita kan hanya kebetulan lewat, kita mana tau kalau itu Danum,"
"Ya meskipun korban klitih itu bukan Danum, kita pasti bakalan ngelakuin hal yang sama kok, sumpah!" Adi ikut bersuara seraya mengacungkan kedua jarinya membentuk huruf v.
Damar mengembangkan kedua sudut bibirnya mendengar jawaban teman-temannya. "Apapun alasan kalian, aku bangga punya sahabat seperti kalian yang selalu perduli terhadap orang lain,"
"Sayangnya Budi cs ngasih kabar, kalau mereka kehilangan jejak komplotan Klitih yang nyerang Danum," Rozi bersuara putus asa, karena belum lama dia mendapatkan kabar dari teman-temannya yang melakukan pengejaran terhadap komplotan Klitih yang menyerang Danum.
"Seharusnya patroli polisi lebih di perketat lagi, supaya nggak terjadi hal semacam ini lagi," ucap Firli bersungut-sungut, karena ia berpikir sudah beberapa kali kasus pembegalan seperti ini terjadi.
"Nah iya bener tuh, kan sekarang ini semakin marak pembegalan atau komplotan Klitih yang berkeliaran," Nino ikut mengimbuhi ucapan Firli.
"Kan bahaya kalau sampai keluarga kita yang jadi korban berikutnya," timpal Adi merasa ngeri, membayangkan jikalau keluarganya ikut menjadi korban klitih.
"Kita harus lebih waspada, jangan sampai lengah, jangan sampai terulang kejadian yang dialami Danum," Rizal ikut bergabung dalam menyuarakan pendapatnya. "iya kalau kita pas mergokin aksi komplotan Klitih bareng-bareng kayak gini. Lah kalau kita cuma sendiri? Bisa bisa..." ucapan Rizal mengambang kala membayangkan kengerian yang terjadi saat memergoki aksi komplotan Klitih seorang diri.
"Leher kita yang di tebas!" Juna menyambar ucapan Rizal yang belum selesai.
"Ngeri!" celetuk Rozi seraya memegang lehernya.
Damar mendengarkan semua perbincangan teman-temannya. Bahan perbincangan mereka tentang klitih dan aksi pembegalan yang menjurus pada perampokan menggasak barang berharga dari sang korban.
Memunculkan spekulasi dalam pikiran Damar dan mungkin juga dalam pikiran semua orang, ia kemudian berkata. "Susahnya mendapatkan pekerjaan, pengangguran yang tinggi, semakin mahalnya biaya hidup. Apalagi jika ingin hidup serba instan, serba ada, dan serba serbi gengsi. Semua itu bisa menjadi salah satu faktor orang-orang yang berpikiran pendek dalam mencari uang,"
Ucapan Damar di benarkan teman-temannya.
"Iya, padahal 'kan kalau kita mau berusaha mendapatkan pekerjaan, pasti ada. Yah walaupun hanya sebagai kuli," ucap Adi.
Juna menepuk pundak Adi. "Jangan dilihat sebagai kuli nya, bro. Yang penting nggak merugikan orang lain. Apalagi kalau sampai membahayakan nyawa,"
"Ya habis mau gimana lagi, yang sarjana saja susah dapetin kerja di kantoran apalagi yang hanya lulusan S3. SMA, SMP, dan SD," Firli berkata seraya mengangkat bahunya.
Damar sependapat dengan ucapan Firli, karena ia juga sempat merasakan seperti apa jerih payah, nelangsa serta sulitnya mendapatkan pekerjaan hanya karena ia berpendidikan rendah. Tapi alhamdulilah, dari semua perjuangan itu, ia bisa mendirikan pabrik tanpa sedikitpun uang dari Kakeknya yang seorang miliarder. Dan ia juga sudah melunasi gedung yang dijadikannya pabrik cilok.
Gedung yang sempat bangkrut yang saat itu dibeli oleh Kakek Bagaskara. Meski sang Kakek tidak meminta Damar untuk melunasinya, akan tetapi Damar ingin menghasilkan produk dan uang dengan jerih payah yang sudah ia rintis dari 0.
Dan kini, pabrik ciloknya merekrut karyawan yang mau bekerja dengan gigih tanpa melihat latar belakang pendidikan mereka. Damar ingin orang-orang yang berpendidikan rendah seperti dirinya bisa sejahtera seperti orang-orang yang berpendidikan tinggi bergaji besar pula.
"Iyah bener," cetus Rizal menyiakan ucapan Firli. "aku sebenarnya sewot kalau ada lowongan pekerjaan yang menyertakan penampilan harus menarik dan minimal usia segini, segono, segana bla bla bla... emang mau cari pekerja apa mau cari model?" lanjutnya bersungut-sungut, dikala mengingat ia pernah melamar pekerjaan yang menyertakan apa yang dikatakannya barusan. Dan Rizal sekarang bersyukur karena ia adalah salah satu pekerja di pabrik cilok milik Damar. Lebih bersyukur nya lagi, Damar bukanlah orang yang berlagak seperti bos, Damar tetap sama, tetap seorang Damar yang sederhana di lingkungan pertemanan.
Di sela perbincangan mereka, Nino mengingat motor Danum yang ia bawa sampai ke rumah sakit.
"Mar itu motor adikmu," Nino menunjuk motor bergerobak milik Danum yang beberapa bagiannya telah rusak akibat terhempas ke jalanan.
Damar melihat kearah Nino tunjuk, ia menghela nafas panjang, entah kenapa ada rasa sesal dalam hatinya. Ia tidak bisa melindungi adik satu-satunya ketika dalam bahaya. Damar berjalan menuju motor Danum yang terparkir di deretan motor yang ada di pelataran rumah sakit.
Melihat lebih dekat motor butut yang di modif untuk adiknya berjualan. Kerusakan motor dan gerobak tidak sedikitpun menjadi masalah, bahkan ia ingin sekali membuang motor ini. Tapi Damar teringat ketika ia menawarkan dua pilihan kepada Danum. "Bekerja di pabrik atau ku hancurkan motor dan gerobak mu!"
Saat itu Danum langsung merentangkan kedua tangannya seakan-akan adiknya itu menjadi benteng untuk motornya dan berkata seperti peringatan. "Enggak ada yang bisa membuatku memilih dia antara dua, tiga atau empat pilihan. Ini hidupku Mas, dan Mas Damar nggak bisa memaksakan kehendak Mas Damar. Aku juga ingin sukses dengan jerih payahku sendiri, dengan passion ku!"
...•••...
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 75 Episodes
Comments