Danum terbujur lemah di meja operasi. Alat ventilator dan benda-benda medis lainnya menancap di tubuhnya. Layar monitor patient yang zig-zag naik turun menggambarkan kondisi tubuh pemuda ini, laksana di ambang antara hidup dan mati.
Perut yang mendapat tusukan sedang di lihat seberapa parah lukanya.
Tim dokter dan perawat sedang berusaha untuk menghentikan pendarahan pasien menggunakan alat medis Suction Pump atau Suction Aspirator merupakan alat yang digunakan untuk menghisap lendir atau darah dari tubuh pasien pada saat proses operasi berlangsung.
Paramedis ini berharap bisa menyelamatkan nyawa dari seorang pemuda yang telah menjadi korban penikaman hingga menyebabkan organ dalam pemuda ini robek.
Tentunya luka separah ini harus mendapatkan perawatan yang tepat dan akurat.
"Pasien kehilangan banyak darah, Ners siapkan alat untuk transfusi darah." ucap seorang Dokter memberi titah pada Ners atau seorang perawat pria yang melakukan pendampingan dalam setiap melakukan tindak operasi.
Ners atau perawat pria ini segera mengerti apa yang harus di kerjakan. Dia dan teman lainnya menyiapkan alat untuk transfusi darah.
Dalam keadaan tubuh yang tidak sadar. Sukma Danum keluar dari dalam raga, ia melihat beberapa orang berseragam biru sedangkan wajah mereka tertutupi masker.
Sukma Danum turun dari meja operasi meninggalkan raga yang terbaring. Ia berdiri tepat di samping meja operasi, namun Danum merasa kakinya tak menapaki lantai, ia mengambang. Hal itu membuatnya terkesiap dan mundur beberapa langkah.
"Apa yang terjadi padaku?" gumam Danum bingung. Kemudian ia mengingat lagi, kejadian dimana ia berhadapan dengan kelompok klitih. Danum menyapukan pandangannya, menatap setiap jengkal ruangan yang terdapat banyak peralatan medis. Ruangan yang tidak pernah terbayangkan sekalipun dalam hidupnya.
Berjarak sekitar dua meter Danum berdiri tak menapaki lantai. Danum yang belum sadar bahwa ia berwujud sukma dan tidak ada satupun orang yang menyadari atas keberadaan sukmanya. Mencoba untuk melihat siapakah gerangan yang berada di atas meja operasi.
Danum mendekati meja operasi.
Betapa terkejutnya ia saat menyadari bahwa raganya terbaring dengan wajah pucat, mata terpejam dan masker medis menutupi mulutnya.
Danum mengalihkan atensinya melihat para medis sedang sibuk dalam melakukan tindakan seperti operasi pada perutnya yang terlihat mengerikan. Banyak darah serta organ dalam perutnya terlihat jelas.
Melihat isi perutnya yang menganga membuat Danum seketika itu memejamkan matanya. Ia mendesahh seolah merasakan sakit.
Seorang Dokter berbalik badan hendak mengambil gunting di deretan peralatan medis lalu menabrak sukma Danum. Membuat Danum menyadari, bahwasanya paramedis tidak melihat keberadaannya dan Danum juga menyadari bahwa ia bisa di tembus layaknya hantu yang pernah ia tonton dalam serial film horor.
"A-apakah..." kata Danum tergagap gemetar, secara refleks menutup mulutnya.
"aku sudah me-meninggal?" Danum berkata dibalik tangannya yang menutupi mulut, dan hanya dialah yang dapat mendengar suaranya.
Danum menggelengkan kepalanya. "Enggak!"
"Aku belum meninggal."
Dalam keadaan bingung kenapa bisa ia melihat raganya terbaring di meja operasi, Danum mencoba kembali memasuki raganya. Tapi hal yang tidak terduga olehnya terjadi, sukma Danum terhempas jauh bagaikan kapas tertiup angin kencang.
"Aaaaaarhh..." sukma Danum berteriak sangat kencang, seolah memasuki lorong waktu dan kemudian terjerembab di sebuah tempat yang hanya terlihat warna hitam.
Danum melihat di sekelilingnya, tempat ini berwarna hitam. Danum merasa sangat takut seolah ia sedang tersesat di antara lembah yang tak bertepi. Danum tak melihat apapun selain warna hitam pekat, laksana sebuah kain hitam yang menutupi matanya.
"Dimana aku?"
"Apakah aku benar-benar sudah meninggal?"
Danum menggelengkan kepala, nalarnya tidak terima begitu saja.
"Ibu.."
"Mas Damar..."
Berulang kali Danum memutar laksana jarum jam, barangkali ada setitik celah atau cahaya dalam mencari jawaban atas kebingungan yang kian menjadi kegelisahan. Sebenarnya tempat apa ini, kenapa hanya ada dia seorang dan hanya ada warna hitam.
"Apakah ini yang disebut alam baka?"
Perasaan takut semakin merajam menjalari sanubari hati, saat suara besar nan terdengar magis seperti suara laki-laki menyambar telinganya.
"Danum."
Seketika Danum terperanjat mendongakkan kepalanya, dan tak menjumpai siapa-siapa.
Entah darimana asalnya suara tanpa rupa itu.
Danum mencari seseorang yang telah memanggil namanya, namun ia tak menemukan siapapun selain melihat dirinya sendiri yang hanya memakai pakaian serba putih. Ia mundur beberapa langkah, entah dimana kanan dan kirinya semua nampak sama.
"Si--siapa?" teriak Danum tergagap memberanikan diri, namun suaranya sendiri yang memantul membuat Danum limbung.
Saat mencari sumber suara, Danum dikejutkan dengan munculnya sinar cahaya terang benderang seperti sinar matahari fajar membuat matanya silau. Refleks Danum menutupi matanya dengan lengan tangannya yang di tekuk di depan wajah.
Saat melihat cahaya itu mulai redup di balik lengan tangannya, Danum menurunkan tangannya. Dengan matanya yang masih menyipit, di balik cahaya itu, samar-samar Danum melihat bayangan besar berwarna putih keemasan sedang berdiri gagah perkasa seolah memiliki aura magis.
"Apakah itu yang dinamakan malaikat maut?" Danum bermonolog dalam hati.
Rasa merinding semakin menyeruak menguasai kepala dan hatinya, Danum tak percaya jikalau benar, ia sedang berhadapan dengan malaikat yang ditugasi untuk mencabut nyawa setiap makhluk yang bernyawa.
Takut atas gambaran dosa yang pernah dilakukannya. Entah dosa yang ia sengaja maupun dosa yang tidak disengaja. Peluh mengucur deras seolah membasahi tubuhnya, gemetar di sekujur tubuhnya mengantarkan perasaan yang kian menjadi antah-berantah.
Bayangan besar itu semakin terlihat mengecil. Dan semakin terlihat jelas seperti seorang pria yang memakai pakaian adat Jawa berupa Surjan dan kain jarik serta blangkon di kepala.
Kelopak mata yang sejak tadi tak sedikitpun berkedip kini semakin membulat sempurna laksana bulan purnama. Pikiran yang berkecamuk dalam mencerna apa yang sebenarnya terjadi, semakin terusik dengan mimpinya.
Danum teringat akan mimpinya yang secara beruntun mendatanginya beberapa hari lalu. Meskipun belum jelas seperti apa wajah pria misterius itu. Namun Danum tak mungkin begitu saja melupakan mimpinya yang seperti nyata.
Pria misterius ini berdiri gagah di depan seorang pemuda berjarak tiga meter. Pemuda yang selalu ia datangi setiap malam beberapa hari silam. "Danum Mahesa..."
Mendengar pria itu menyebut namanya secara lengkap dengan suara besar, membuat Danum semakin takut. Bulu kuduknya merinding. Dalam ketakutannya, Danum bertanya meskipun lidahnya kelu dan bibirnya serasa kaku. "A-a-anda si--siapa?"
Tak mendengar pria misterius itu menjawab pertanyaannya, Danum mengucek matanya karena ia merasa matanya tertutupi kabut tebal, guna melihat lebih jelas wajah pria misterius yang nampak sama seperti seorang pria yang datang dalam mimpi.
"Benarkah anda yang sering mendatangi mimpi saya?" Danum bertanya guna memastikan bahwa apa yang dilihatnya sekarang ini adalah orang yang sama.
...•••...
Bersambung
•
notes author: jangan lupa subscribe (favorit) like dan komen.
Matur sembah nuwun (terimakasih)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 75 Episodes
Comments
Hemuch🤔
seru... lanjut Thor
2024-02-17
0
Rhiedha Nasrowi
merinding, , rada horor ini 🤭
2024-01-07
1