Damar berlutut di samping meja operasi, dipandanginya tubuh yang semula bugar kini lemah tiada berdaya, dengan peralatan medis yang masih tertancap di tubuh adiknya mulai di lepas satu persatu oleh petugas medis. Perlahan Damar mengangkat tangannya, lantas memegang tangan Danum yang masih hangat.
"Danum, adikku.." suaranya semakin terdengar gemetar menahan sesak yang mendalam.
Belaian tangan Damar sangat lembut membelai kening sampai surai Danum. "jangan menghukum Mas mu ini dengan air mata,"
"kamu nggak mungkin meninggalkan Mas mu ini 'kan, Num?" semua kenangan masa kanak-kanak sampai Danum remaja masih teringat jelas di memori ingatan Damar.
"kamu sudah berjanji pada Mas mu ini, kalau kamu akan mewujudkan cita-cita mu," janji yang terucap dari Danum masih Damar ingat dengan jelas, seolah sudah terukir di dalam kepalanya.
"kamu harus tepati janjimu, Danum!" harapan Damar sebagai seorang Kakak amatlah sangat besar.
"kasihan Ibu, beliau menangis terus Num. Mas enggak tega melihat Ibu seperti itu," tak terbendung lagi air mata yang semakin mengalir deras di pipi.
Digenggamnya sangat erat tangan Danum. Damar semakin merintih dalam memanggil adiknya. "Bangun Danum, bangun!"
Waktu seakan berhenti, seolah kesunyian menjadi gambaran Damar dalam meratapi kematian adiknya yang sangat mendadak.
Petugas medis hanya bisa diam terpaku melihat betapa seorang Kakak sangat kehilangan adiknya. Seolah untuk melarangnya masuk kedalam ruang operasi tak tega mereka lakukan.
Sampai pada kesunyian ini terjaga dengan adanya bunyi layar monitor patient menyala. Garis membujur lurus dalam penggambaran kondisi pasien yang tak lagi bernyawa kini garis itu menunjukkan naik dan turun membentuk garis zig-zag.
Pada saat layar monitor patient berbunyi, tepat itulah sukma Danum berada di luar kamar operasi. Pada saat Danum membuka matanya, hal pertama yang Danum lihat adalah Ibunya.
Semua petugas medis yang berada di dalam ruang operasi tergelak, melihat pergerakan layar monitor patient yang menggambarkan detak jantung serta organ tubuh lainnya yang kembali berfungsi.
"Cepat panggil Dokter Abidin!" seorang Dokter pendamping berseru pada perawat.
Seorang perawat pria langsung bergegas menuju pintu ruang operasi, dipanggilnya Dokter berkaca mata yang telah mahir dalam melakukan tindak operasi organ tubuh manusia.
"Dokter, jantung pasien kembali berdetak."
Dokter Abidin terperangah kala mendengar seorang perawat pria menyampaikan jika detak jantung pasien kembali berdetak. Dokter berkaca mata ini segera memasuki kamar operasi meninggalkan keluarga pasien yang berada di depan pintu.
"Maaf, bisa anda segera keluar." Ners meminta kepada seorang pria yang berlutut terpuruk di samping meja operasi untuk segera keluar.
Dengan berat hati, Damar beranjak netranya terus memperhatikan adiknya sampai pada ia berjalan dengan langkah mundur dan keluar dari dalam kamar operasi.
"Damar..." ucap Bu Suci lirih, netranya yang sayu menatap punggung putra sulungnya yang baru saja keluar dari kamar operasi.
Mendengar suara dan sentuhan tangan dari Ibunya, Damar segera menghapus jejak air matanya. Meskipun mata sembah hidung yang mungkin terlihat memerah takkan bisa mengelabui siapapun yang melihat wajahnya saat ini. Ia berbalik badan, menghadap sang Ibu yang hanya setinggi pundaknya.
Dengan netranya yang sembab Bu Suci menatap putra sulungnya. Seolah menanti putranya menyampaikan jika Danum masih mempunyai harapan untuk hidup. Mengingat tatkala ada seseorang yang menyampaikan kepada Dokter berkaca mata.
Damar menatap Ibunya yang nampak sangat terpukul atas apa yang terjadi pada Danum. "Masih ada harapan Bu,"
"Alhamdulillah..." Bu Suci berseru mengucap syukur, jika apa yang ia panjatkan dalam doanya diijabah oleh Sang Maha Pemilik Nyawa.
Damar menghamburkan diri memeluk sang Ibu, mengusap punggung wanita yang telah melahirkannya. Rasa haru melebur menjadi rasa syukur.
Dalam hati Damar sangat bersyukur, meskipun Dokter belum mengatakan jika Danum bisa melewati masa kritis ini. Akan tetapi hal yang sempat ia dengar di dalam kamar operasi sudah membuatnya merasa sedikit lega, laksana air surga yang menghujani relung hatinya yang sempat menjadi antah berantah.
Begitu juga dengan Nenek Ayudia dan Kakek Bagaskara, berulang kali mereka mengusap air matanya. Lalu mendekati Suci dan juga Damar.
"Belum saatnya kalian kehilangan Danum." kata Kakek Bagaskara, dan diangguki oleh sang istri yang sudah membelai lembut anak menantunya.
Berjarak tiga meter Danum berdiri, netranya mengabur dalam melihat Ibunya, sang Kakak, Kakek Bagaskara dan Nenek Ayudia serta teman-teman Damar, sampai pada Kakaknya itu keluar dari ruang operasi. Semua itu dilihatnya dengan tatapan yang sendu dengan perasaan haru.
Danum berjalan mendekati Kakak serta Ibunya. Dilihatnya kedua orang yang sangat-sangat berarti di hidupnya setelah kepergian sang Ayah. Atensinya beralih melihat Kakek Bagaskara dan Nenek Ayudia, kedua orang tua yang sudah sepuh, kedua orang yang belum lama ia kenal dan dulu hanya dalam angannya saja bisa menyebut Kakek dan Nenek. Tapi kini sebutan itu bukan hanya angan-angannya saja, kedua orang tua yang sudah sepuh ini memang Kakek dan Neneknya.
"Ibu, Mas Damar..." racau Danum lirih memanggil Ibu dan Kakaknya. "Kakek, Nenek maafkan aku sudah membuat kalian sedih." sambungnya lagi dengan suara seperti rintihan, yang tentu saja suaranya hanya dapat di dengar olehnya.
Danum beralih melihat kamar. operasi, tempat di mana raganya berada. Ia menembus memasuki pintu kamar operasi. Dilihatnya raga yang sedang di kerumuni oleh enam orang berseragam biru. Danum menembus seorang petugas medis, lalu duduk di atas meja operasi tepatnya di raganya yang terbaring. Sedetik kemudian ia berbaring dan penyatuan sukma kedalam raga pun terjadi tepat saat Dokter menutup lukanya yang tertusuk pisau.
"Alhamdulillah, kondisi pasien mulai dalam keadaan stabil." ucap Dokter Abidin tatkala mendengar layar monitor patient yang berbunyi sekaligus melihat pasiennya yang bernafas mulai normal meski masih dibantu oleh selang pernapasan.
Semua petugas medis merasa teramat sangat bersyukur, pasien yang sempat di nyatakan meninggal, ternyata benar jika mukjizat itu nyata.
Perawat yang melakukan pendampingan dalam melakukan tindak operasi bersiap untuk membereskan alat-alat yang digunakan dalam proses operasi, agar alat-alat ini ketika akan dipakai kembali dalam keadaan steril.
...••...
Selama satu jam dengan perasaan hati yang bimbang dalam menunggu kabar baik yang diharapkan. Dokter berkaca mata itu keluar, dan kali ini Dokter Abidin memasang wajah yang tersenyum hangat. Seolah sang Dokter lah yang merasakan hidupnya telah kembali.
Damar yang sedari tadi berdiri, dan Bu Suci yang duduk bersandar pada sandaran bangku yang disediakan oleh rumah sakit dan juga Kakek Bagaskara, Nenek Ayudia serta teman-teman Damar kini menghampiri Dokter.
"Alhamdulillah..." ungkap sang Dokter dalam kelegaan hati yang lapang.
"Alhamdulillah, terimakasih ya Allah." Bu Suci merasakan kesejukan dalam hatinya, laksana mencium aroma surga. Beliau beringsut sujud di lantai rumah sakit, dan berulang kali menakbirkan rasa syukur yang tak terhingga.
Begitu juga dengan Damar, nafas yang seakan tercekat di tenggorokan hingga serasa mengangkat beban berat yang dia pikul, perlahan mulai terasa ringan dengan seiring nafasnya yang seakan mulai normal. "Alhamdulillah.."
Kakek Bagaskara dan Nenek Ayudia sangat bersyukur, menepikan perasaan yang semula penuh dengan kekalutan.
Kakek Bagaskara menepuk pundak Damar, dan disambut cucunya itu dengan pelukan.
Perasaan lega juga dirasakan teman-teman Damar.
"Alhamdulillah..."
...•••...
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 75 Episodes
Comments
Surtinah Tina
ikut nangis damar liat danum begitu .. Alhamdulillah
2024-01-19
1
Rhiedha Nasrowi
duhh mar damar aku ikut nangis juga😭😭
2024-01-08
2