Janji

Damar berlutut di samping meja operasi, dipandanginya tubuh yang semula bugar kini lemah tiada berdaya, dengan peralatan medis yang masih tertancap di tubuh adiknya mulai di lepas satu persatu oleh petugas medis. Perlahan Damar mengangkat tangannya, lantas memegang tangan Danum yang masih hangat.

"Danum, adikku.." suaranya semakin terdengar gemetar menahan sesak yang mendalam.

Belaian tangan Damar sangat lembut membelai kening sampai surai Danum. "jangan menghukum Mas mu ini dengan air mata,"

"kamu nggak mungkin meninggalkan Mas mu ini 'kan, Num?" semua kenangan masa kanak-kanak sampai Danum remaja masih teringat jelas di memori ingatan Damar.

"kamu sudah berjanji pada Mas mu ini, kalau kamu akan mewujudkan cita-cita mu," janji yang terucap dari Danum masih Damar ingat dengan jelas, seolah sudah terukir di dalam kepalanya.

"kamu harus tepati janjimu, Danum!" harapan Damar sebagai seorang Kakak amatlah sangat besar.

"kasihan Ibu, beliau menangis terus Num. Mas enggak tega melihat Ibu seperti itu," tak terbendung lagi air mata yang semakin mengalir deras di pipi.

Digenggamnya sangat erat tangan Danum. Damar semakin merintih dalam memanggil adiknya. "Bangun Danum, bangun!"

Waktu seakan berhenti, seolah kesunyian menjadi gambaran Damar dalam meratapi kematian adiknya yang sangat mendadak.

Petugas medis hanya bisa diam terpaku melihat betapa seorang Kakak sangat kehilangan adiknya. Seolah untuk melarangnya masuk kedalam ruang operasi tak tega mereka lakukan.

Sampai pada kesunyian ini terjaga dengan adanya bunyi layar monitor patient menyala. Garis membujur lurus dalam penggambaran kondisi pasien yang tak lagi bernyawa kini garis itu menunjukkan naik dan turun membentuk garis zig-zag.

Pada saat layar monitor patient berbunyi, tepat itulah sukma Danum berada di luar kamar operasi. Pada saat Danum membuka matanya, hal pertama yang Danum lihat adalah Ibunya.

Semua petugas medis yang berada di dalam ruang operasi tergelak, melihat pergerakan layar monitor patient yang menggambarkan detak jantung serta organ tubuh lainnya yang kembali berfungsi.

"Cepat panggil Dokter Abidin!" seorang Dokter pendamping berseru pada perawat.

Seorang perawat pria langsung bergegas menuju pintu ruang operasi, dipanggilnya Dokter berkaca mata yang telah mahir dalam melakukan tindak operasi organ tubuh manusia.

"Dokter, jantung pasien kembali berdetak."

Dokter Abidin terperangah kala mendengar seorang perawat pria menyampaikan jika detak jantung pasien kembali berdetak. Dokter berkaca mata ini segera memasuki kamar operasi meninggalkan keluarga pasien yang berada di depan pintu.

"Maaf, bisa anda segera keluar." Ners meminta kepada seorang pria yang berlutut terpuruk di samping meja operasi untuk segera keluar.

Dengan berat hati, Damar beranjak netranya terus memperhatikan adiknya sampai pada ia berjalan dengan langkah mundur dan keluar dari dalam kamar operasi.

"Damar..." ucap Bu Suci lirih, netranya yang sayu menatap punggung putra sulungnya yang baru saja keluar dari kamar operasi.

Mendengar suara dan sentuhan tangan dari Ibunya, Damar segera menghapus jejak air matanya. Meskipun mata sembah hidung yang mungkin terlihat memerah takkan bisa mengelabui siapapun yang melihat wajahnya saat ini. Ia berbalik badan, menghadap sang Ibu yang hanya setinggi pundaknya.

Dengan netranya yang sembab Bu Suci menatap putra sulungnya. Seolah menanti putranya menyampaikan jika Danum masih mempunyai harapan untuk hidup. Mengingat tatkala ada seseorang yang menyampaikan kepada Dokter berkaca mata.

Damar menatap Ibunya yang nampak sangat terpukul atas apa yang terjadi pada Danum. "Masih ada harapan Bu,"

"Alhamdulillah..." Bu Suci berseru mengucap syukur, jika apa yang ia panjatkan dalam doanya diijabah oleh Sang Maha Pemilik Nyawa.

Damar menghamburkan diri memeluk sang Ibu, mengusap punggung wanita yang telah melahirkannya. Rasa haru melebur menjadi rasa syukur.

Dalam hati Damar sangat bersyukur, meskipun Dokter belum mengatakan jika Danum bisa melewati masa kritis ini. Akan tetapi hal yang sempat ia dengar di dalam kamar operasi sudah membuatnya merasa sedikit lega, laksana air surga yang menghujani relung hatinya yang sempat menjadi antah berantah.

Begitu juga dengan Nenek Ayudia dan Kakek Bagaskara, berulang kali mereka mengusap air matanya. Lalu mendekati Suci dan juga Damar.

"Belum saatnya kalian kehilangan Danum." kata Kakek Bagaskara, dan diangguki oleh sang istri yang sudah membelai lembut anak menantunya.

Berjarak tiga meter Danum berdiri, netranya mengabur dalam melihat Ibunya, sang Kakak, Kakek Bagaskara dan Nenek Ayudia serta teman-teman Damar, sampai pada Kakaknya itu keluar dari ruang operasi. Semua itu dilihatnya dengan tatapan yang sendu dengan perasaan haru.

Danum berjalan mendekati Kakak serta Ibunya. Dilihatnya kedua orang yang sangat-sangat berarti di hidupnya setelah kepergian sang Ayah. Atensinya beralih melihat Kakek Bagaskara dan Nenek Ayudia, kedua orang tua yang sudah sepuh, kedua orang yang belum lama ia kenal dan dulu hanya dalam angannya saja bisa menyebut Kakek dan Nenek. Tapi kini sebutan itu bukan hanya angan-angannya saja, kedua orang tua yang sudah sepuh ini memang Kakek dan Neneknya.

"Ibu, Mas Damar..." racau Danum lirih memanggil Ibu dan Kakaknya. "Kakek, Nenek maafkan aku sudah membuat kalian sedih." sambungnya lagi dengan suara seperti rintihan, yang tentu saja suaranya hanya dapat di dengar olehnya.

Danum beralih melihat kamar. operasi, tempat di mana raganya berada. Ia menembus memasuki pintu kamar operasi. Dilihatnya raga yang sedang di kerumuni oleh enam orang berseragam biru. Danum menembus seorang petugas medis, lalu duduk di atas meja operasi tepatnya di raganya yang terbaring. Sedetik kemudian ia berbaring dan penyatuan sukma kedalam raga pun terjadi tepat saat Dokter menutup lukanya yang tertusuk pisau.

"Alhamdulillah, kondisi pasien mulai dalam keadaan stabil." ucap Dokter Abidin tatkala mendengar layar monitor patient yang berbunyi sekaligus melihat pasiennya yang bernafas mulai normal meski masih dibantu oleh selang pernapasan.

Semua petugas medis merasa teramat sangat bersyukur, pasien yang sempat di nyatakan meninggal, ternyata benar jika mukjizat itu nyata.

Perawat yang melakukan pendampingan dalam melakukan tindak operasi bersiap untuk membereskan alat-alat yang digunakan dalam proses operasi, agar alat-alat ini ketika akan dipakai kembali dalam keadaan steril.

...••...

Selama satu jam dengan perasaan hati yang bimbang dalam menunggu kabar baik yang diharapkan. Dokter berkaca mata itu keluar, dan kali ini Dokter Abidin memasang wajah yang tersenyum hangat. Seolah sang Dokter lah yang merasakan hidupnya telah kembali.

Damar yang sedari tadi berdiri, dan Bu Suci yang duduk bersandar pada sandaran bangku yang disediakan oleh rumah sakit dan juga Kakek Bagaskara, Nenek Ayudia serta teman-teman Damar kini menghampiri Dokter.

"Alhamdulillah..." ungkap sang Dokter dalam kelegaan hati yang lapang.

"Alhamdulillah, terimakasih ya Allah." Bu Suci merasakan kesejukan dalam hatinya, laksana mencium aroma surga. Beliau beringsut sujud di lantai rumah sakit, dan berulang kali menakbirkan rasa syukur yang tak terhingga.

Begitu juga dengan Damar, nafas yang seakan tercekat di tenggorokan hingga serasa mengangkat beban berat yang dia pikul, perlahan mulai terasa ringan dengan seiring nafasnya yang seakan mulai normal. "Alhamdulillah.."

Kakek Bagaskara dan Nenek Ayudia sangat bersyukur, menepikan perasaan yang semula penuh dengan kekalutan.

Kakek Bagaskara menepuk pundak Damar, dan disambut cucunya itu dengan pelukan.

Perasaan lega juga dirasakan teman-teman Damar.

"Alhamdulillah..."

...•••...

Bersambung...

Terpopuler

Comments

Surtinah Tina

Surtinah Tina

ikut nangis damar liat danum begitu .. Alhamdulillah

2024-01-19

1

Rhiedha Nasrowi

Rhiedha Nasrowi

duhh mar damar aku ikut nangis juga😭😭

2024-01-08

2

lihat semua
Episodes
1 Urip Iku Urup
2 Firasat
3 Penyerangan Klitih
4 Terluka parah
5 Perasaan seorang Ibu
6 Antara hidup dan mati
7 Harapan
8 Amerta
9 Asma sejati
10 Janji
11 S 3
12 Berakal sehat
13 Meditasi
14 Empat puluh hari
15 Limbung menjadi bingung
16 Aku ra popo
17 Mati suri
18 Gedung peninggalan Belanda
19 Magis
20 Tiga lawan satu
21 Masih belajar baik
22 Pelapor jadi tersangka
23 Baik atau buruk
24 Tim Lion
25 Mata batin
26 Prasasti Canggal
27 Jadi orang tua?
28 Rambut palsu
29 Jati diri yang sebenarnya
30 Jiwa sejiwa senyawa
31 Romo Amerta
32 Tak luput dari kesalahan
33 Gadis manis berlesung pipi
34 Pengacau
35 Harus berpikir jernih
36 Bocah kecil
37 Pria tua
38 Mengagumi dalam diam
39 Doris dolls
40 Meluruskan kekeliruan
41 Gantungan kunci
42 Sapu tangan
43 Jangan kabur!
44 Curanmor
45 Manusia inginkan apa?
46 Kangen Bapak
47 Gejolak kawula muda
48 Omelan
49 Hanya mimpi
50 Perasaan sederhana
51 Memprihatinkan
52 Sengkuni
53 Senang hati
54 Semua sudah takdir
55 Ketenangan batin
56 Penyelamatan
57 Alibi
58 Sadar diri
59 Darah muda
60 Otoriter
61 Berbeda jaman
62 Jagad sukma
63 Lapor Pak
64 Mengatur strategi
65 Menemukan fakta lain
66 Waniti
67 Hilang
68 Menemukan bukti
69 Penyergapan
70 Perlawanan
71 Ruang bawah tanah
72 Bebas
73 Rahasia kelam sang perwira
74 Spiderman atau Superman
75 Berita heboh
Episodes

Updated 75 Episodes

1
Urip Iku Urup
2
Firasat
3
Penyerangan Klitih
4
Terluka parah
5
Perasaan seorang Ibu
6
Antara hidup dan mati
7
Harapan
8
Amerta
9
Asma sejati
10
Janji
11
S 3
12
Berakal sehat
13
Meditasi
14
Empat puluh hari
15
Limbung menjadi bingung
16
Aku ra popo
17
Mati suri
18
Gedung peninggalan Belanda
19
Magis
20
Tiga lawan satu
21
Masih belajar baik
22
Pelapor jadi tersangka
23
Baik atau buruk
24
Tim Lion
25
Mata batin
26
Prasasti Canggal
27
Jadi orang tua?
28
Rambut palsu
29
Jati diri yang sebenarnya
30
Jiwa sejiwa senyawa
31
Romo Amerta
32
Tak luput dari kesalahan
33
Gadis manis berlesung pipi
34
Pengacau
35
Harus berpikir jernih
36
Bocah kecil
37
Pria tua
38
Mengagumi dalam diam
39
Doris dolls
40
Meluruskan kekeliruan
41
Gantungan kunci
42
Sapu tangan
43
Jangan kabur!
44
Curanmor
45
Manusia inginkan apa?
46
Kangen Bapak
47
Gejolak kawula muda
48
Omelan
49
Hanya mimpi
50
Perasaan sederhana
51
Memprihatinkan
52
Sengkuni
53
Senang hati
54
Semua sudah takdir
55
Ketenangan batin
56
Penyelamatan
57
Alibi
58
Sadar diri
59
Darah muda
60
Otoriter
61
Berbeda jaman
62
Jagad sukma
63
Lapor Pak
64
Mengatur strategi
65
Menemukan fakta lain
66
Waniti
67
Hilang
68
Menemukan bukti
69
Penyergapan
70
Perlawanan
71
Ruang bawah tanah
72
Bebas
73
Rahasia kelam sang perwira
74
Spiderman atau Superman
75
Berita heboh

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!