Keluarnya Laura dari area rumah mewah itu, langsung di sambut oleh sebuah mobil Mercedes Benz yang berhenti di depannya. Laura yang sudah tau siapa pemilik mobil itu, dirinya segera masuk kedalam. Tepat saat ia duduk anteng, mobil itu melaju meninggalkan depan rumah mewah tersebut.
"Bagaimana? Apa semuanya berjalan lancar? Apakah mereka masih menyakitimu?" pertanyaan berturut-turut itu keluar dari bibir seseorang yang duduk tepat di sampingnya.
Laura menghela nafas sebelum tubuhnya ia hadapkan sepenuhnya kearah seseorang di sampingnya.
"Hmmm, semuanya berjalan lancar, tapi ya tadi ada sedikit drama." Seseorang itu memicingkan salah satu alisnya.
"Drama?" Laura menganggukkan kepalanya, lalu menceritakan kronologi kejadian yang ia lalui tadi tanpa ada rasa sungkan dan segan sedikitpun.
Seseorang yang mendengar cerita dari Laura serta memperhatikan gelagat Laura yang tak setakut dulu saat wanita itu bertemu dengannya, seulas senyum pun terbit di bibirnya hingga senyuman itu berhasil membuat Laura menghentikan ceritanya. Mata wanita itu pun berkedip lucu sekaligus takjub tak percaya.
"Pa---Papa tersenyum?" Maikel yang mendapat pertanyaan itu pun semakin melebarkan senyumnya.
"Wahhh ternyata Papa bisa tersenyum juga. Laura kira urat senyum Papa rusak karena sejak Laura bertemu dengan Papa, Laura sama sekali tidak pernah melihat Papa tersenyum." Maikel sempat melunturkan senyumannya, merasa tersinggung. Ayolah sedikit pun urat di tubuhnya tidak ada yang rusak sama sekali, ia tak tersenyum ataupun tertawa ya karena tak ada hal lucu yang perlu ia tertawakan. Hidupnya selalu lempeng, jadi ekspresi wajahnya pun mengikuti jalan hidupnya.
"Tapi Pa, kalau boleh jujur, Papa sangat tampan saat tersenyum ataupun tertawa." Kelanjutan ucapan dari Laura itu kembali membuat senyum di wajah Maikel muncul.
"Hmmm, saya tau itu," balas Maikel dengan penuh percaya diri. Setelahnya tak ada obrolan lagi di antara mereka berdua. Laura yang sudah kepalang kehabisan topik pembicaraan, memilih untuk mengunci bibirnya rapat-rapat sembari tatapan matanya ia arahkan ke pemandangan luar, pikirannya pun melayang, memikirkan kelanjutan rencana dirinya dan Maikel. Tapi tunggu, kenapa Laura saat ini merasa ada sesuatu yang janggal?
Lamunan Laura tersadar kala suara bariton dari Maikel masuk kedalam telinganya.
"Kita sudah sampai." Laura mengerjabkan matanya, sebelum dirinya menyusul Maikel keluar dari dalam mobil.
Laura mengedarkan matanya, menatap bangunan berlantai 15 yang berdiri kokoh di depannya.
"Laura! Ayo!" teriakan dari Maikel lagi-lagi menyadarkan Laura. Wanita itu segara berlari kecil mengikuti langkah Maikel yang lebih dulu berjalan didepan. Ia tak bersuara, tapi tatapan matanya memancarkan kekaguman saat melihat desain interior gedung apartemen yang akan menjadi tempat tinggalnya sementara. Jangan tanya, kenapa Laura bisa se-norak ini? Tentu saja jawabannya karena selama hidupnya dia hanya hidup sederhana yang tidak akan pernah bisa masuk kedalam bangunan mewah seperti ini, giliran menikah dengan orang kaya, dia justru dijadikan budak saja.
Lagi-lagi Laura dibuat kagum kala memasuki sebuah ruang apartemen. Sungguh didalam sana sangat mewah, sampai-sampai Laura tak bisa berkata-kata.
"Apa kamu suka?" pertanyaan dari Maikel yang berdiri disampingnya dibalas dengan anggukkan kepala oleh Laura, tak hanya itu saja senyum pun terbit di bibirnya.
"Syukurlah kalau kamu suka dengan apartemen ini. Untuk kamarmu ada di atas, bersebelahan dengan kamar milik saya. Semua keperluanmu juga sudah siap di dalam kamar kamu. Dan ingat pin apartemen ini angkanya sama seperti tanggal ulang tahunmu," jelas Maikel yang lagi-lagi dibalas anggukan kepala oleh Laura.
"Ya sudah kalau begitu saya ke atas dulu. Jika ada sesuatu yang kamu butuhkan dan memerlukan bantuan dari saya, datang saja ke kamar. Mengerti?" Laura kembali menganggukkan. Tapi saat Maikel berniat melangkahkan kakinya, Laura teringat akan sesuatu sehingga mau tak mau ia harus menghentikan langkah kaki Maikel.
"Tunggu Pa."
"Ya?" tanya Maikel sembari memutar tubuhnya menghadap kearah Laura.
"Hmmm sebenarnya ada hal yang perlu saya tanyakan ke Papa." Maikel mengerutkan keningnya namun sesaat setelahnya ia menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, kita bicarakan semua yang ingin kamu tanyakan kepada saya di ruang tamu." Maikel berjalan lebih dulu di susul oleh Laura.
"Katakan, apa yang ingin kamu tanyakan?" Maikel membuka suara kala keduanya duduk saling berseberangan.
"Hmmm ini mengenai rencana kita, Pa. Laura hanya ingin bertanya apakah Papa benar-benar yakin akan melakukannya?"
"Kenapa tidak? Apa kamu ingin berubah pikiran kembali?" Laura yang mendapat pertanyaan itu menjadi gelagapan sendiri.
"Bu---bukan begitu maksud Laura, Pa. Laura tidak akan berubah pikiran lagi. Tapi bagaimana dengan---" ucapan Laura terpaksa terputus sebab Maikel dengan cepat menyelanya.
"Mereka sudah tau semuanya." Laura terkejut bukan main dengan jawaban yang diberikan oleh Maikel.
"Hah? Sudah tau? Terus bagaimana respon mereka, Pa? Laura takut mereka akan menganggap Laura yang tidak-tidak. Sudah cukup Laura di rendahkan oleh Julio dan Beti, tidak untuk orang lain lagi," ujar Laura khawatir rencananya ini justru akan menjadi bumerang besar baginya. Ayolah ia tak ingin tersiksa lagi nantinya. Ia juga tak ingin merasakan sakit lagi.
"Biasa saja. Memangnya apa yang kamu harapkan dengan mereka? Kalaupun mereka melakukan sesuatu yang membahayakan untukmu, bukankah saya sudah berjanji untuk melindungi mu? Jadi kamu tidak perlu mengkhawatirkan semuanya. Kamu hanya perlu mempersiapkan dirimu untuk membalas dendam ke Julio dan Beti. Dan mengenai hal lainnya, biar saya yang mengurusnya. Tidak perlu kamu pikirkan," balas Maikel dengan tenang.
"Ada lagi yang ingin kamu tanyakan ke saya?" tanya Maikel kala tak lagi mendengar suara Laura. Wanita itu terlihat tengah hanyut kedalam pikirannya sendiri.
"Un---untuk saat ini hanya itu saja, Pa." Maikel menganggukkan kepalanya sembari berdiri dari posisi duduknya.
"Ingat apa yang saya katakan tadi. Jangan memikirkan hal yang tidak perlu kamu pikirkan. Fokus ke tujuanmu saja. Saya pergi," ujar Maikel lalu setelahnya laki-laki itu benar-benar pergi menuju ke lantai atas apartemen tersebut.
Laura yang melihat kepergian dari mantan ayah mertuanya itu, ia menghela nafas panjang, tubuhnya pun ia sandarkan sembari kedua telapak tangannya menutupi wajah kusamnya itu.
"Bagaimana bisa aku tidak memikirkan hal itu? Sedangkan mereka adalah seseorang yang teramat penting. Bisa-bisa sebelum aku membalas perbuatan dua setan itu, nyawaku sudah melayang terlebih dahulu. Arkkhhhhhhh, kenapa balas dendam bisa serumit ini sih? Aku kira membalas dendam seseorang itu sangat gampang tapi nyatanya bikin kepala pusing," gumam Laura sembari menggosok-gosok wajahnya saking frustasi memikirkan tentang balas dendamnya sekaligus konsekuensi yang akan dia dapatkan nanti. Sialan, hal ini benar-benar menguras otak mungil Laura!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 141 Episodes
Comments
Helen Nirawan
ini papa mertua ny bantu in laura bls dendam gk salah ? itu bini ama anak sendiri
2024-07-21
1
Entin Fatkurina
makin penasaran dengan rencana laura dan maikel. lanjut yeni cantik, sukses selalu untukmu.
2024-01-19
3
Hany
hayuk Laura semangat jangan lempeng lagi,arahkan hatimu untuk terus maju membalas dendam,rubah penampilanmu,buat mereka menyesal telah menyakiti dan menyia nyiakanmu
jangan hiraukan omongan sumbang di belakangmu,buat dirimu semenarik mungkin,sukur2 mantan papa mertuamu melirikmu🤭
kok q jadi curiga jangan-jangan juliolah yg mandul,kalau istrinya hamil palingan benih orang lain
2024-01-19
5