Kepalan di kedua tangan Laura menandakan jika dirinya tidak akan pernah menyesal telah dilahirkan di dunia ini. Toh untuk apa dirinya menyesal jika nasi saja sudah menjadi bubur, kepalang terlanjur.
Entah keberanian darimana yang Laura dapatkan, yang jelas dirinya kini melangkahkan kakinya mendekati perempuan yang sudah lancang menginjak-injak harga dirinya.
Plak!!
Satu tamparan sangat keras mendarat tepat di pipi kiri perempuan yang sama sekali tak ia sukai itu. Dan aksi itu tentu saja membuat semua orang disana sangat terkejut tak terkecuali Maikel yang sedari tadi diam, menikmati pertunjukkan di depannya.
Julio yang lebih dulu tersadar dari keterkejutannya, ia terlihat begitu geram. Tangannya pun melayang, memberikan tamparan keras kepada istrinya.
Plak!!
Laura yang mendapat tamparan secara mendadak, ia terkesiap dengan perlahan tangannya meraba kearah pipi yang terkena tamparan sang suami. Ia sadar sekarang, tanpa Julio menjelaskan semuanya kepadanya, entah itu tentang perempuan itu ataupun tentang hubungan asli mereka, yang pasti Laura saat ini yakin jika perempuan itu memang simpanan sang suami. Dan ia sudah mendapatkan buktinya, dengan ia yang di tampar oleh Julio demi membela perempuan itu.
"Dimana letak sopan santunmu, Laura! Berani-beraninya kamu menampar calon istriku!" teriak Julio yang membuat Laura memejamkan matanya. Bahkan perempuan yang saat ini menundukkan kepalanya itu, diam-diam ia tersenyum kecut saat kesetiaannya dibalas dengan penghianatan.
Dan teriakan menggema Julio tadi juga menyadarkan Beti dari keterkejutannya. Wanita paruh baya itu pun semakin mendekat kearah perempuan tersebut. Kedua tangannya kini menangkup pipi perempuan itu yang sudah meneteskan air matanya.
"Astaga, Almira pipi kamu," ucap Beti sembari mengelus pipi calon menantunya yang memiliki nama Almira.
"Pipiku sakit, Ma. Rasanya sangat kebas." Aduan dari Almira menyulut emosi Beti. Ia kini menatap tajam kearah Laura.
"Puas kamu hah? Puas kamu sudah menampar calon menantu saya! Dasar wanita tidak tau diri! Beraninya kamu menyakiti calon menantuku!" ujar Beti dan dengan langkah lebarnya ia mendekati Laura. Tentu saja ia ingin membalas perbuatan Laura, namun ketika kedua tangannya ingin meraih rambut Laura yang saat ini tengah menunduk sembari menikmati panasnya bekas tamparan dari orang terkasih, tangan Beti terhenti saat suara menggelegar dari sang kepala keluarga terdengar.
"CUKUP!" Semua orang itu menatap kearah Maikel kecuali Laura. Mereka baru sadar jika masih ada satu orang yang berada di sekitarnya. Dan ingat, seseorang itu adalah orang penting yang bisa menentukan segalanya.
Almira yang menyadari hal itu, raut wajahnya berubah menjadi pias. Sungguh ia menjadi sangat gugup saat mendapati sang calon ayah mertua disana dan tentunya laki-laki itu pastinya sudah melihat semua apa yang telah dia lakukan kepada Laura.
"Sialan, kenapa aku tidak sadar jika di dalam ruangan ini ada tuan Maikel. Kalau seperti ini aku yakin dia pasti sudah memandangku jelek dan kemungkinan besar dia juga tidak mau memberikan restunya kepadaku untuk menikah dengan Julio. Gimana ini, arkhh!" erang Almira dalam hati.
Maikel, laki-laki itu tak peduli dengan tatapan ketiga pasang mata itu. Ia memilih memfokuskan penglihatannya kepada Laura sebelum sebuah perintah ia layangkan, "Laura, kembalilah ke kamarmu sekarang juga! Ini perintah mutlak dari saya dan jika kamu menolak, maka saya tidak akan segan-segan menyuruh salah satu anak buah saya untuk menyeret kamu keluar dari ruangan ini!"
Laura yang masih diam membisu, ia mendengar semua perintah itu. Dan tentunya, ia melakukan perintah tersebut. Namun sebelum ia melangkahkan kakinya, kepalanya yang sedari tadi ia tundukkan kini ia angkat, tatapan matanya ia arahkan ke sosok laki-laki yang selama ini ia cintai. Hanya sekilas saja memang tapi tatapan mata itu justru membuat Julio bertanya-tanya. Pasalnya baru kali ini Laura menampilkan tatapan mata yang sangat sulit diartikan, dan Julio bertanya-tanya, apa maksud dari tatapan Laura kepadanya tadi?
Julio menggelengkan kepalanya, menyingkirkan segala pikirannya mengenai Laura. Ia memilih untuk kembali acuh dan lebih baik ia fokus ke Almira.
Saat ia melihat kearah Almira, ia bisa menangkap gerakan gelisah dari sang calon istri apalagi saat ia menolehkan kepalanya kearah sang ayah, laki-laki itu terus menatap tajam kearah Almira, bahkan ucapan dari Beti yang sudah duduk disampingnya hanya ia abaikan begitu saja.
Julio yang melihat tatapan Maikel, ia merasa sebal sekaligus cemburu. Ia menafsirkan tatapan sang ayah sebagai tatapan penuh puja sehingga ia berdecak kesal sampai berhasil mengalihkan perhatian Almira.
"Kamu kenapa?" tanya Almira saat menangkap raut wajah tak enak dari Julio.
"Aku tidak suka Papa melihat kamu seperti itu. Dia seolah-olah menginginkanmu," jawab Julio tentu saja dengan suara kecil agar hanya dia dan Almira saja yang dengar.
Almira tampak mengerjabkan matanya. Penglihatannya pun ia alihkan untuk melirik kearah Maikel untuk memastikan lagi tatapan Maikel itu penuh puja seperti yang dikatakan oleh Julio tadi atau tatapan penuh ancaman?
"Aku rasa Papa kamu menatapku bukan karena dia suka denganku tapi dia---"
"Aku juga seorang laki-laki sama seperti Papa. Jadi aku tau tatapan laki-laki yang penuh puja dengan tatapan laki-laki yang biasa saja. Dan tatapan Papa ini adalah tatapan penuh puja kepadamu," kata Julio kepalang cemburu.
Almira tampak mengerutkan keningnya. Ia sebenarnya tidak percaya dengan ucapan Julio. Tapi mengingat jika Julio tipikal orang yang sangat peka dengan perasaan orang lain dan Almira juga menyakini jika laki-laki bisa paham pikiran laki-laki lain, maka ia memilih untuk percaya semua yang di katakan oleh Julio. Bahkan raut wajah penuh ketakutan tadi kini telah sirna dan di gantikan dengan raut wajah berseri-seri.
Ia kini melingkarkan tangannya ke lengan Julio.
"Jangan cemburu, karena perlu kamu tau, walaupun Papa kamu suka denganku, aku akan tetap memilihmu sebagai suamiku." Ucapan penuh percaya diri dari Almira berhasil menenangkan hati Julio yang sempat gelisah tadi. Senyum mengembang pun ia perlihatkan.
"Aku tau itu karena kamu perempuan setia, jadi tidak mungkin berani berpaling dariku." Sepasang sejoli itu tampak saling melempar senyum satu sama lain hingga teriakan dari Beti menghentikan aksi mereka.
"Hey kalian, jangan mengumbar adegan romantis di depan Mama sama Papa dong. Tahan sebentar kek, gak tau apa kalau Mama juga pengen," ucap Beti sembari melirik kearah Maikel yang sama sekali tak minat untuk menimpali ucapan sang istri.
"Mama mengganggu saja," ujar Julio sembari menggandeng tangan Almira mendekati kedua orangtuanya.
Dan saat telah sampai, keduanya memilih langsung duduk di sofa yang berhadapan langsung dengan kedua orangtuanya.
Masih dengan genggaman tangan, Julio membuka suara. Kini waktunya ia memperkenalkan calon istrinya kepada kedua orangtuanya.
"Ma, Pa. Julio mau memperkenalkan calon istri kedua Julio. Nama dia, Almira Putri Sagita. Ma, Pa, Julio sangat mencintai dia jadi Julio meminta restu kalian untuk menikahi dia," ujar Julio.
"Mama akan selalu memberikan restu Mama untuk kalian. Berbahagialah," balas Beti dengan senyum merekah yang di balas pula senyum oleh sepasang kekasih itu. Tatapan keduanya kini berpindah kearah Maikel yang masih diam seribu bahasa.
"Pa," panggil Julio yang membuat Maikel menghela nafas panjang.
"Restu saya terletak di restu Laura. Jika Laura merestui kalian maka saya juga akan merestui hubungan kalian. Jadi tanyakan dia, apakah memberikan restunya atau tidak," ujar Maikel. Lalu setelahnya, ia berdiri dari posisi duduknya tak hanya itu saja ia pun melangkah kakinya berniat meninggalkan ruang tamu. Namun baru tiga langkah saja, ia berhenti. Ia menolehkan kepalanya kearah belakang sembari berkata, "Saya hampir lupa untuk memberitahu kalian, jika keluarga Kail sampai kapanpun tidak akan pernah menerima wanita murahan sebagai seorang menantu."
Setelahnya, barulah Maikel benar-benar pergi meninggalkan ketiga orang tersebut yang tengah bertanya-tanya maksud dari ucapan sang kepala keluarga.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 141 Episodes
Comments
Rita Riau
harus nya sebagai tokoh utama itu ga bodoh" amat,,,
2024-05-29
2
Aprisya
tuh denger papa kail bilang apa, kalo restu papa tergantung dari restu laura,, puasss kamu betti
2024-01-13
3
Indar
sepertinya maikel tahu bahwa almira bukan wanita yg baik
2024-01-12
3