Tiga hari telah berlalu setelah percakapan antara Laura dan Maikel mengenai rencana balas dendam Laura, sampai saat ini Laura tak kunjung menemui Maikel untuk kelanjutan rencana mereka. Entah apa yang ada di pikiran Laura, dia justru berusaha untuk membujuk Julio agar menggagalkan rencana laki-laki itu untuk menikahi Almira. Namun sayangnya selama bujukan yang ia lakukan, bukannya berhasil dirinya justru lagi dan lagi terkena amukan dari Julio, entah melalui bentakan atau main tangan sampai-sampai selama tiga hari ini banyak luka di tubuh Laura yang ia dapatkan akibat dari siksaan sang suami bahkan tak sekali dua kali sang ibu mertua ikut turun tangan. Sama seperti saat ini, Laura kembali mencari masalah kala sang suami dan ibu mertua tengah sibuk dengan acara pernikahan Julio yang akan di laksanakan di hari ini juga.
Laura yang kini duduk di lantai dengan sepasang ibu dan anak itu yang berdiri tegak di depannya, menatap nyalang dan penuh murka kepadanya.
"Dasar wanita tidak tau diri. Harus berapa kali Julio mengatakan jika dia tidak akan pernah mengubah keputusannya, agar kamu tidak lagi memaksa Julio untuk membatalkan pernikahan kedua dia?! Jangan seperti wanita murahan yang mengemis cinta dari suamimu yang sama sekali sudah tidak memiliki perasaan apapun untukmu! Memang ya yang paling tepat itu kalian bercerai! Mama sudah berulang kali memberikan saran kepadamu Julio agar berpisah dengan dia, tapi kenapa kamu masih menahannya. Kalau kamu tidak menahan dia, kita pasti tidak akan kerepotan seperti ini dan karena ulah dia kamu harus cari jas yang sama persis seperti yang dia bakar tadi! Padahal pernikahan kamu dilakukan pukul 10 pagi yang artinya hanya tinggal satu setengah jam lagi!" omel Beti. Ya, Laura berulah dengan membakar jas yang akan di gunakan untuk pernikahan Julio nanti. Namun sayang aksinya itu diketahui dengan cepat oleh Julio dan Beti. Entah mereka berdua tau dari mana yang jelas sebelum beraksi tadi, Laura sudah mastikan jika tak ada seorangpun yang melihat aksinya itu hingga dia kembali ke dalam rumah. Namun hanya selang beberapa menit saja sepasang ibu dan anak itu menemuinya, kemudian terjadilah kekerasan yang diterima Laura sebagai balasan atas ulahnya. Padahal Laura ingin melihat Julio dan Beti kelabakan mencari jas itu saat ingin di pakai Julio dan karena jas itu tak kunjung ketemu, pernikahan kedua suaminya itu akan gagal. Namun belum sempat semua itu terjadi, dia sudah ketahuan terlebih dahulu. Memang nasib sial selalu berpihak kepadanya.
"Julio tidak pernah menahan dia, Ma. Dianya saja yang tidak mau berpisah dengan Julio," ucap Julio apa adanya. Ia sudah sering memberikan berkas mengenai perceraian mereka, dan Laura tinggal menandatangi saja lalu hubungan mereka resmi berakhir. Tapi sayang tidak segampang itu, Laura masih kekeuh tak ingin hubungan mereka berakhir.
Beti yang sudah cukup frustasi dengan hubungan putranya dan Laura, ia berdecak kesal.
"Ck, rumit," ujarnya sebelum tatapan matanya kembali menatap tajam kearah Laura yang terus tertunduk sesekali meringis merasakan sakit akibat pukulan di wajahnya dari Julio dan Beti sebelumnya.
"Hey, wanita murahan. Jika kamu memang tidak mau berpisah dengan Julio! Kamu harus menerima jika dia memang ingin memiliki istri lain yang jauh lebih segalanya dari pada kamu! Kamu harus mau di madu. Lagian apa salahnya sih memiliki madu? Bukankah memiliki madu sama dengan kamu memiliki teman untuk membahagiakan suami kamu dan tentunya kamu juga akan mendapatkan keuntungan karena sebagian perkejaanmu sebagai istri akan dibantu oleh Almira nanti. Contohnya kamu mengurus segala urusan rumah tangga sedangkan Almira mengurus segala kebutuhan Julio termasuk membahagiakan putra saya," Ucap Beti seperti tak ada beban sama sekali. Tapi tanpa mereka berdua ketahui, ucapan Beti justru membuat kedua tangan Laura terkepal kuat.
"Omong kosong macam apa ini? Saya masih kuat menjalankan peran saya sebagai istri tanpa bantuan perempuan lain di luar sana bahkan tanpa bantuan dari Mama sekalipun! Dan perlu anda tau jika di dunia ini tidak ada seorang istri yang mau di madu oleh suaminya! Tidak ada seorang istri yang cintanya harus di bagi dengan wanita lain! Mama bisa berbicara seperti itu karena Mama tidak merasakan apa yang saya rasakan saat ini! Jika Mama merasakan apa yang saya rasakan, demi tuhan Mama juga akan memberontak dan menolak keinginan suami Mama untuk menikah lagi, sama seperti yang saya lakukan sekarang!" Habis sudah kesabaran Laura. Entah keberanian darimana ia dapatkan sehingga bibirnya yang selalu terkunci rapat kini bibir itu membalas dengan nada yang cukup tinggi. Tatapan matanya pun menghunus kearah ibu mertuanya yang saat ini tengah memelototkan matanya.
"Turunkan nada bicaramu Laura! Kamu tidak berhak meneriaki saya! Kamu bukan siapa-siapa disini! Kamu adalah istri yang tidak diinginkan oleh suamimu! Kamu adalah pembantu yang berkedok istri! Dan kenapa kalau saya tidak merasakan apa yang kamu rasakan, hah?! Kenapa? Apa kamu iri dengan rumah tangga saya yang tentram dan damai tidak seperti rumah tanggamu yang sangat rumit ini, iya?!"
"Demi tuhan saya tidak pernah iri dengan rumah tangga anda! Saya hanya ingin anda membayangkan jika anda berada di posisi saya. Pasti anda tidak akan terima!" balas Laura dengan bahasa formal.
"Kamu menyumpahi nasib saya akan sama seperti nasib kamu?! Di campak, di tinggalkan, tak di inginkan dan berakhir di khianati oleh suami sendiri begitu?! Dasar kurang ajar!" Bentak Beti menggebu-gebu. Bahkan tak hanya bentakan saja yang ia berikan untuk Laura melainkan sebuah tendangan yang cukup kuat ia arahkan ke wajah sang menantu hingga membuat Laura terjungkal ke belakang.
"Dengar baik-baik, sialan! Jika sumpahmu itu tidak akan pernah terjadi kepada saya karena suami saya orang yang setia dan sangat mencintai saya! Sampai kapanpun dia tidak akan pernah menduakan saya ataupun melakukan tindakan yang bisa menyakiti hati maupun fisik saya! Jadi jangan pernah sekali lagi kamu membayangkan nasib sialanmu itu menimpa saya! Dan satu lagi, mulai saat ini terimalah nasibmu itu karena semua itu sudah menjadi takdir yang harus kamu jalani! Jika kamu masih saja menolak takdir ini maka lebih baik kamu menjauh dari anak saya! Kalau bisa mati saja! Dasar pengganggu sialan!" ujar Beti dengan dada yang naik turun. Lalu karena ia sudah benar-benar muak dengan Laura, apalagi mengingat waktu yang sudah tak banyak lagi, ia menarik lengan Julio yang sedari tadi menatap penuh benci kearah Laura.
"Ayo Julio, kita pergi sekarang. Sudah tidak ada waktu lagi untuk mengurusi wanita murahan ini. Pernikahan kamu tinggal 1 jam lagi, jadi kita harus buru-buru mencari jas yang cocok untukmu," ujar Beti dengan memberikan lirikan tajam kearah Laura sebelum keduanya pergi dari hadapan wanita tersebut yang saat ini tengah menatap kepergian mereka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 141 Episodes
Comments
siti aisyah
kok jd emosi dG karakter Laura,,bodohnya kebangetan
2024-07-21
3
Rita Riau
cinta, cinta juga Laura,,, tapi kalo cinta nyakitin buat apa,,? itu namanya oon,,🙄🙄
2024-05-29
3
Quen
Si laura cewe terbego makan tuh cinta buta
2024-05-01
0