Helaan nafas berulang kali Laura lakukan saat tak ada satupun orang yang mau membantu dirinya. Bahkan saat dirinya telah sampai di pasar pun tak ada para pedagang yang mau dagangannya Laura hutangi dengan berbagai alasan yang mereka berikan bahkan tak segan-segan mereka mengusir Laura dengan tindakan yang cukup kasar.
"Ya Tuhan, mau cari dimana lagi?" gumam Laura terus berjalan tanpa arah. Ia tak akan pulang sebelum dirinya mendapatkan apa yang diinginkan oleh ibu mertuanya jika ia tak ingin terkena amukan dari wanita paruh baya itu.
Mata Laura seketika berbinar saat ia melihat tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini terdapat penjual ayam goreng. Bergegas Laura mendekati penjual itu.
"Permisi," ucap Laura saat dirinya telah sampai di depan penjual.
Dua penjual yang awalnya sibuk dengan dagangannya, kompak mereka mengalihkan pandangannya kearah Laura yang masih mempertahankan senyumannya. Keduanya tampak memandang Laura dari atas sampai bawah.
"Maaf saat ini di kedai kami tidak mengadakan pembagian makanan gratis. Jadi lebih baik anda cari di tempat lain saja."
Tunggu, apa maksud dari perkataan salah satu pedagang itu? Apakah mereka menganggap Laura ini seorang pengemis? Tapi jika di lihat-lihat memang penampilan Laura yang sangat lusuh dengan peluh yang membasahi wajahnya bahkan tubuhnya, sangat persis seperti seorang pengemis.
Namun segera Laura menggelengkan kepalanya.
"Tapi saya tidak ingin meminta makanan anda. Niat saya kesini untuk membeli ayam goreng disini. Ta---tapi untuk saat ini saya belum memiliki uang. Saya berniat hutang terlebih dahulu, nanti jika saya sudah memilki uang akan saya bayar," jelas Laura, berharap kedua pedagang itu memiliki rasa iba kepada dirinya sehingga keduanya mau menghutangi dirinya. Namun sepertinya harapannya harus terpatahkan ketika salah satu pedagang kembali bersuara.
"Ck, sama saja itu namanya kamu mau makan gratis. Dan saya tegaskan jika di kedai ini tidak melayani orang yang ingin melakukan hutang piutang. Jadi kamu pergi saja sana, jangan ganggu kita yang lagi sibuk, jika tidak mau pergi, maka saya sendiri yang menyeret kamu untuk menjauh dari kedai ini." Laura dengan cepat menggelengkan kepalanya.
"Tidak, tidak perlu, saya bisa pergi sendiri. Kalau begitu maaf karena saya sudah mengganggu kalian. Permisi," pamit Laura masih saja dengan nada lembut padahal dirinya telah diperlakukan kurang mengenakan oleh para pedagang itu.
Luara kembali berjalan loyo menyusuri jalan menuju rumah keluarga Kail. Tak ada pilihan lain selain menyerah toh semua usaha telah ia lakukan tapi hasilnya tak sesuai dengan apa yang ia inginkan. Tak apa jika tubuhnya nanti menjadi samsak hidup bagi ibu mertuanya, ia akan terima karena memang dirinya tidak becus melakukan perintah dari ibu mertuanya serta suaminya.
Disisi lain, tepatnya di dalam sebuah mobil BMW, terlihat seorang laki-laki tengah duduk di kursi penumpang sembari menikmati secangkir kopi di tangannya. Laki-laki itu terlihat sangat gagah dan tampan walaupun usianya telah memasuki kepala empat. Mata tajamnya pun mengedar, menatap deretan bangunan gedung tinggi yang menghiasi pinggir jalan ibu kota. Awalnya didalam mobil itu hanya ada kesunyian, sampai suara sopir pribadinya terdengar, sangat kecil memang namun telinga tajam milik laki-laki itu mampu menangkap suara tersebut.
"Bukannya itu nona Laura? Iya tidak sih? Apa hanya mataku saja yang salah lihat." Gumaman itu seketika mengambil seluruh atensi pria berusia 43 tahun itu. Matanya kembali ia edarkan mencari sosok yang telah disebutkan namanya oleh sang sopir. Seketika matanya memincing saat melihat seorang perempuan dengan daster selututnya tengah berjalan dengan kepala yang tertunduk. Ia harus memastikan orang itu memang benar Laura atau bukan.
"Berhenti!" perintah laki-laki tersebut yang dengan seketika membuat sang sopir pribadi menghentikan mobilnya secara mendadak.
"Astaga, tu--- ehh kok sudah tidak ada," tutur sopir tersebut. Padahal baru saja ia ingin protes namun sang majikan sudah lebih dulu keluar dari mobil itu. Dan saat ia menolehkan kepalanya, ia baru tau tujuan tuannya menyuruh dirinya berhenti secara mendadak dan keluar dengan cara tergesa-gesa tadi.
"Haishhh, dasar tuan Maikel," gerutu sang sopir dengan gelengan kepalanya.
Sedangkan di tempat Laura berada saat ini, ia diam-diam menangis, meratapi nasib yang tengah terjadi kepadanya dan juga meratapi nasib yang nantinya akan terjadi. Ia bahkan sudah membayangkan bagian tubuh mana saja yang nantinya akan terluka. Saat Laura tengah berperang dengan pikirannya sendiri, dirinya di kejutkan dengan tarikan kuat di lengannya hingga membuat tubuhnya menghadap sepenuhnya ke belakang. Tak hanya sampai disitu saja, keterkejutan itu kembali terjadi saat mata Laura bertemu dengan tatapan tajam milik laki-laki paruh baya dihadapannya.
"Apa yang sedang kamu lakukan disini?!" pertanyaan penuh dengan nada tegas itu seolah mendengung di telinga Laura, hingga membuat Laura kesusahan hanya untuk sekedar menelan salivanya.
"Saya tanya sekali lagi, apa yang sedang kamu lakukan disini, Laura?! Jawab?!" Terlihat jelas dari wajah laki-laki itu jika dia tengah marah kepada Laura. Laura juga tidak tau kesalahan apa yang telah ia perbuat kepada laki-laki itu sehingga membuatnya marah seperti ini.
Laura tak kuasa lagi menatap mata tajam di hadapannya, ia memilih untuk menundukkan kepalanya.
"Laura!" geram laki-laki itu karena tak kunjung mendapatkan jawaban dari Laura.
Laura sempat terperanjat kaget, dan dengan sisa keberanian yang ia punya, Laura menjawab, "Maafkan Lau---"
"Saya tidak ingin mendengar kata maaf dari mulut kamu, Laura. Saya hanya ingin mendengar jawaban atas pertanyaan yang telah saya berikan kepadamu tadi!" tegasnya. Sungguh Laura tengah takut setengah mati saat ini. Jika ia menjawab apa yang tengah terjadi kepadanya, ia yakin beberapa jam lagi pasti kematian akan menghampiri dirinya. Tapi jika ia tak menjawab pun, pasti ia juga akan mati di tangan laki-laki di hadapannya ini.
"Tuhan, kenapa hamba selalu berhadapan dengan orang-orang menakutkan seperti ini? Dan sekarang apa yang harus hamba lakukan?! Hamba belum siap untuk mati, Tuhan. Tolong bantu hamba," batin Laura menjerit memohon pertolongan.
Maikel yang tak kunjung mendapatkan jawaban itu, terlihat urat-urat dilehernya telah keluar menandakan jika dirinya sudah benar-benar murka. Cengkraman di lengan Laura pun semakin mengencang hingga membuat Laura meringis kesakitan.
"Ikut saya sekarang juga!" Tanpa menunggu persetujuan dari Laura, Maikel menarik kasar Laura agar mau mengikuti dirinya menuju ke mobil pribadinya tanpa memperdulikan Laura yang tengah memberontak, berusaha untuk melepaskan cengkramannya. Namun usaha Laura sia-sia, terbukti mau dengan cara apapun ia ingin melepaskan cengkraman di tangannya, ia tak mampu membebaskan dirinya sendiri sehingga disinilah dia berada, di dalam mobil Maikel dengan laki-laki itu yang duduk disampingnya.
"Jalan!" perintah Maikel tanpa melepaskan cengkraman tangannya dari lengan Laura.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 141 Episodes
Comments
Aprisya
apakah maikel laki " yang akan menolong laura..?
2024-01-13
3
Yunia Afida
laura kok ketemu mikael, siapa dia jahat banget bentak bentak
2024-01-09
0
Hany
siapa Mikail,apa dia laki laki yg menyukai Laura🤔
2024-01-09
2